Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Ujian Keberanian

Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit Restoran Grand Mahakam membiaskan cahaya keemasan yang mewah.

Denting gelas kaca, alunan musik jazz ber-volume sedang, dan aroma hidangan steak berkelas memenuhi ruangan bernuansa elegan tersebut.

Intan Saputri berdiri di depan pintu masuk utama restoran, membetulkan letak gaun hitam berpotongan sederhana namun anggun yang disiapkan Maya tadi sore.

Rambut sebahunya tertata rapi, mempertegas sapuan riasan tipis di wajahnya.

Di salah satu meja makan eksklusif dekat jendela, Maya sudah duduk lebih dulu sebagai tamu pribadi, berpura-pura menikmati segelas anggur seraya membaca majalah bisnis.

Maya sempat melirik ke arah Intan, menyuntikkan dukungan melalui sorot matanya yang tajam.

Intan menarik napas panjang. Ini adalah ujian keberanian sesungguhnya.

Ia tidak lagi berada di ruang rapat yang dipisahkan oleh berkas kertas, melainkan duduk satu meja dalam suasana sosial yang cair bersama sang penipu dan relasinya.

"Mbak Intan! Di sebelah sini!"

Suara hangat Ardiansyah Putra terdengar memanggil. Pria itu berdiri dari meja bundar di sudut ruangan, mengenakan kemeja batik sutra bernuansa gelap yang membuatnya tampak seperti pengusaha sukses.

Intan mengulas senyum bisnis yang tenang, lalu melangkah menuju meja tersebut.

Di meja itu, Ardiansyah tidak sendirian. Ada dua pria setengah baya berbadan tambun mengenakan pakaian kemeja formal yang sedang menikmati minuman.

"Mari, silakan duduk, Mbak Intan."

Puji Ardiansyah seraya menarikkan satu kursi kosong untuk Intan dengan sangat sopan.

"Perkenalkan, ini Pak Hendra dan Pak Bambang."

"Beliau berdua adalah investor utama serta penyedia material batu pecah untuk proyek Zona Empat."

"Selamat malam, Pak Hendra, Pak Bambang."

"Saya Intan Saputri dari Katering Barokah."

Sapa Intan halus, mengulurkan tangannya seraya menjabat jemari kedua pria itu dengan genggaman yang terukur.

Pak Hendra menatap Intan dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang khas.

"Wah, Pak Ardiansyah ini pintar sekali cari perwakilan katering."

"Masih muda, cantik, dan kelihatannya sangat paham bisnis."

"Oh, tentu saja, Pak Hendra."

Sambung Ardiansyah seraya tertawa pelan.

"Mbak Intan ini sangat gesit."

"Rencana katering harian tiga ratus porsi untuk pekerja Zona Empat sudah dia susun dengan sangat rapi."

Intan duduk dengan anggun, membiarkan pelayan menuangkan air putih ke gelasnya.

Di balik ketenangannya, otak Intan bekerja secepat kilat.

Ia mengingat ajaran Maya tentang membaca kebohongan dari bahasa tubuh.

Ia memperhatikan Pak Hendra dan Pak Bambang.

Meskipun pakaian mereka mahal, cara Pak Hendra memegang gelas dan kecemasan di mata Pak Bambang saat Ardiansyah menyebut kata 'investor' menunjukkan ketegangan yang tersembunyi.

Mereka bukan investor kawakan. Mereka adalah calon korban baru yang sedang dibujuk Ardiansyah untuk menanamkan modal material.

"Bagaimana progres skema pencairan dana tahap pertama dari kantor pusat, Pak Ardiansyah?"

Tanya Pak Bambang mendadak, menatap Ardiansyah dengan waut wajah agak cemas.

"Pihak kami sudah mengirimkan dua truk material minggu lalu, tapi pembayaran uang mukanya belum masuk ke rekening."

Ujian pertama bagi Ardiansyah muncul. Intan memasang telinganya tajam-tajam.

Ardiansyah mengibaskan tangannya santai, tersenyum lebar dengan gestur yang sangat meyakinkan.

"Tenang saja, Pak Bambang."

"Pihak direksi pusat sedang melakukan audit rutin akhir bulan."

"Uang muka sebesar tiga ratus juta rupiah untuk proyek Anda sudah ditandatangani."

"Minggu depan pasti cair tuntas."

"Mbak Intan saja dari Katering Barokah sudah sepakat kerja sama karena tahu reputasi saya di Zona Empat."

Ardiansyah melempar bola panas itu ke arah Intan, menggunakan nama Katering Barokah sebagai alat untuk menenangkan calon korbannya.

Darah Intan sempat berdesir panas. Pria ini menggunakan reputasi perusahaannya sebagai jaminan palsu untuk membohongi Pak Bambang.

Pak Hendra dan Pak Bambang kini memalingkan pandangan mereka ke arah Intan, menanti konfirmasi.

Ini adalah ujian keberanian bagi Intan. Jika ia menunjukkan keraguan atau menolak mentah-mentah, Ardiansyah akan curiga dan membatalkan kerja sama katering.

Namun jika ia mengiyakan secara buta, ia membantu Ardiansyah menipu kedua pria itu.

Intan menyesap air putihnya pelan, mengulur waktu dua detik, lalu menatap Pak Bambang dengan senyuman anggun dan dingin.

"Katering Barokah percaya pada prosedur kerja yang profesional, Pak Bambang."

Ujar Intan dengan suara yang teratur.

"Pak Ardiansyah memang sangat cekatan menyusun draft penawaran dengan kami."

"Namun, seperti halnya pembayaran katering kami yang wajib terikat validasi dokumen resmi dari direksi pusat."

"Saya yakin Pak Ardiansyah juga akan memastikan seluruh dokumen kwitansi material Pak Bambang terverifikasi tepat waktu sebelum pencairan minggu depan."

Jawaban Intan sangat cerdik. Ia tidak mengiyakan bahwa uang itu sudah ada, melainkan menekankan pentingnya validasi dokumen resmi—sebuah teguran halus yang secara tidak langsung mengingatkan Pak Bambang agar tidak menyerahkan material tanpa kwitansi resmi, sekaligus menjaga topeng profesionalismenya di depan Ardiansyah.

Pak Bambang mengangguk-angguk paham.

"Ah, betul juga kata Mbak Intan."

"Harus ada bukti validasi tertulis dari direksi pusat."

Ardiansyah sempat menatap Intan sejenak. Ada kilatan rasa terkejut di mata pria itu atas kecerdasan jawaban Intan yang tidak bisa dibantah, namun kilatan itu segera tertutupi oleh senyuman khasnya.

"Tentu saja! Prosedur resmi selalu jadi nomor satu bagi saya."

Kelit Ardiansyah menutupi kecanggungannya.

Acara makan malam berlanjut. Sepanjang sesi makan, Intan dengan cermat mendengarkan setiap detail obrolan, mencatat nama bank yang disebutkan Ardiansyah, hingga pola komunikasi pria itu saat menerima telepon tersembunyi di luar meja.

Pukul sembilan malam, jamuan makan malam berakhir. Pak Hendra dan Pak Bambang berpamitan lebih dulu.

Ardiansyah mengantarkan Intan sampai ke lobi depan restoran.

Udara malam yang dingin menyapa kulit mereka saat mereka menunggu mobil penjemputan.

"Mbak Intan."

Panggil Ardiansyah, berdiri di samping Intan dengan tangan masuk ke saku celana.

"Kamu berbeda dari staf katering atau perwakilan bisnis yang pernah saya temui."

"Kamu tenang, cerdas, dan punya cara bicara yang sangat berbahaya."

Intan menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata pria yang pernah menghancurkan kepolosannya itu.

Rasa canggung dan takut yang dulu menghantuinya kini telah musnah sepenuhnya. Ujian keberanian malam ini telah ia lalui tanpa cela.

"Saya hanya menjalankan pekerjaan saya dengan sungguh-sungguh, Pak Ardiansyah."

Jawab Intan tenang.

"Saya suka itu."

Kata Ardiansyah, tersenyum tipis.

"Besok pagi, datanglah ke kantor direksi Zona Empat."

"Saya sendiri yang akan menandatangani kontrak katering harian itu di hadapanmu."

"Dengan senang hati, Pak Ardiansyah."

Sebuah van katering sampai di lobi. Intan pamit dengan anggukan sopan, lalu melangkah masuk ke dalam mobil.

Saat pintu mobil tertutup dan kendaraan melaju membelah malam kota, Intan menyandarkan kepalanya.

Ia melihat ke arah kaca spion; Maya sedang berjalan menuju mobilnya sendiri tak jauh di belakang, memberikan jempol singkat.

Intan merogoh saku gaunnya, menyentuh buku catatan hitam kecilnya. Ujian keberanian pertama di tengah lingkaran baru telah berhasil ia lewati.

Besok, pintu jebakan kontrak resmi akan ditandatangani, dan Ardiansyah tanpa sadar telah berjalan masuk tepat ke dalam sangkar yang sudah ia siapkan.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe 😊

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!