Indonesia
NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Dunia kampus Universitas Nasional Seoul terasa berbeda dari hiruk-pikuk dunia korporat yang baru saja dihadapi Jin. Di sini, udaranya dipenuhi aroma kopi murah, buku-buku tebal, dan ambisi muda yang mentah. Namun, bagi Kim Taehyung, udara ini sering kali terasa sesak.

Taehyung duduk di sudut perpustakaan lantai tiga, tempat yang jarang dikunjungi mahasiswa karena AC-nya rusak dan pencahayaannya redup. Ia mengenakan hoodie hitam oversized dengan tudung ditarik rendah, menutupi sebagian wajahnya yang tampan. Di depannya terbuka buku teks Arsitektur tingkat lanjut, tetapi matanya tidak fokus pada halaman itu. Matanya menatap kosong ke arah jendela, mengamati hujan gerimis yang mulai turun.

"V! Aigo, akhirnya ketemu juga kau!"

Suara ceria memecah keheningan Taehyung. Jungkook, sahabat sekaligus rekan satu tim basket kampus, datang menghampiri dengan dua gelas kopi di tangan. Di belakangnya, Jimin dan Jihoon mengikuti dengan langkah santai. Mereka berempat-Taehyung, Jungkook, Jimin, dan Jihoon-adalah "Empat Serangkai" paling populer di fakultas seni dan olahraga. Tampan, berbakat, dan yang paling ditakuti: ahli bela diri tingkat elit.

Namun, reaksi Taehyung tidak seperti yang diharapkan orang lain. Ia tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk singkat, lalu kembali menatap bukunya.

"Kau dingin sekali hari ini, V," kata Jimin sambil duduk di seberang Taehyung, meletakkan tas desainnya di meja. "Ada masalah? Kau terlihat... lelah."

"Tidak ada apa-apa," jawab Taehyung datar. Suaranya rendah, hampir seperti gumaman. "Aku hanya ingin belajar."

Jungkook mengerutkan kening, meletakkan kopi di depan Taehyung. "Kita sudah mencoba mengajakmu makan siang selama seminggu, tapi kau selalu menolak. Kami temanmu, bukan? Kau bisa cerita jika ada yang mengganggu."

Jihoon, yang duduk di samping Jimin, menatap Taehyung dengan prihatin. Sebagai adik dari Xiumin dan Chen, Jihoon tahu persis tekanan apa yang sedang dihadapi keluarga Kim, meskipun ia tidak setuju dengan tindakan kakak-kakaknya. Ia merasa bersalah, namun ia memilih untuk berada di sisi Taehyung sebagai sahabat, bukan sebagai anggota keluarga Lee/Xiumin.

"V Hyung, " bisik Jihoon lembut. "Jika itu tentang... situasi Hyung-mu, aku di sini. Aku sudah bilang pada Hyung-hyung ku bahwa mereka salah. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lebih jauh."

Taehyung akhirnya mengangkat pandangannya. Matanya yang indah itu tampak jauh, seolah ada tembok kaca tebal yang memisahkannya dari dunia luar. Ia tahu Jihoon tulus, dan itu membuatnya semakin bingung. Bagaimana bisa adik dari musuhnya menjadi sahabat terbaiknya?

"Aku baik-baik saja, Jihoon-ah. Terima kasih," jawab Taehyung, nadanya sedikit melunak khusus untuk Jihoon. "Aku hanya perlu waktu."

Kalimat itu terdengar sopan, namun nada nya masih menutup pintu pembicaraan lebih lanjut. Jimin dan Jungkook saling bertukar pandang. Mereka tahu Taehyung sedang menyembunyikan sesuatu. Sejak insiden dengan Jin Hyung di rumah sakit minggu lalu, Taehyung menjadi semakin tertutup. Ia jarang tertawa, jarang bercanda, dan selalu menjaga jarak bahkan dengan mereka, kecuali Jihoon yang terus berusaha mendekat.

Di koridor utama fakultas, suasana berubah menjadi tegang saat Taehyung berjalan sendirian menuju kelas berikutnya. Ia tidak memakai tudung kali ini, sehingga wajah sempurna dan postur tingginya menarik puluhan pasang mata. Bisik-bisik terdengar di mana-mana.

"Itu Kim Taehyung..."

"Gila, dia makin keren saja."

"Tapi kenapa dia selalu sendirian? Arogan banget sih."

Taehyung mengabaikan semua itu. Ia terbiasa dengan pujian dan tatapan iri. Baginya, popularitas adalah beban, bukan anugerah. Ia hanya ingin menjalani kuliahnya dengan tenang, melindungi rahasia keluarganya, dan menunggu hari ia bisa benar-benar membantu Hyung-nya tanpa harus terus-menerus waspada.

Namun, ketenangan itu terusik ketika sekelompok mahasiswa laki-laki menghalangi jalannya di dekat tangga darurat. Pemimpin kelompok itu adalah Bae Yugyeom, sunbae tahun akhir dari fakultas seni pertunjukan yang dikenal arogan, kaya, dan memiliki dendam karena kalah telak dari Taehyung dalam turnamen bela diri tahun lalu. Di belakangnya, berdiri empat anteknya yang bertubuh besar.

"Hei, Raja Es," sapa Yugyeom dengan senyuman miring. Keempat pengikutnya tertawa kecil, mengepung Taehyung.

Taehyung berhenti, menatap Yugyeom dengan ekspresi datar. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa marah. Hanya kebosanan. "Minggir, Yugyeom-sunbae. Aku punya kelas."

"Buruburu sekali," ejek Yugyeom, melangkah lebih dekat hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. "Kau pikir kau siapa? Karena kau jago berkelahi sedikit dan kakakmu CEO, kau bisa bersikap sombong pada sunbae-mu?"

Taehyung menghela napas pelan. Ini bukan pertama kalinya Yugyeom mencarinya. Alasan permusuhan Yugyeom jelas: harga diri yang terluka dan kecemburuan buta terhadap popularitas alami Taehyung.

"Aku tidak merasa sombong," jawab Taehyung tenang. "Dan aku tidak meminta pujian siapa pun. Jika kau punya masalah dengan sikapku, itu masalah persepsimu, bukan tindakanku."

Yugyeom tersinggung oleh ketenangan itu. Ia memberi isyarat pada anak buahnya. "Ajari dia sopan santun! Hajar!"

Salah satu antek Yugyeom menerjang, mencoba memukul wajah Taehyung. Namun, sebelum tinju itu menyentuh, Taehyung bergerak. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang, ia menangkis serangan itu, memutar tubuh penyerang, dan menjatuhkannya ke lantai dengan teknik Hapkido yang efisien. Tidak ada kekerasan berlebihan, hanya kontrol penuh.

Ketiga antek lainnya menyerang bersamaan. Taehyung tetap diam di tempat, menghindari setiap serangan dengan gerakan minimal, membiarkan mereka saling tabrakan karena frustrasi.

"Cukup!" teriak suara tegas dari belakang.

Jihoon, Jungkook, dan Jimin datang berlari. Melihat teman mereka dikeroyok, insting bertarung mereka langsung aktif. Jungkook dan Jimin segera mengambil posisi siaga, siap melindungi Taehyung.

Yugyeom mundur selangkah, melihat kedatangan tiga ahli bela diri lainnya. Wajahnya memerah karena malu. "Kalian... kalian bermain curang! Berempat melawan lima!"

Taehyung meluruskan jaketnya yang sedikit kusut. Ia menatap lurus ke mata Yugyeom, tatapannya begitu intens dan dingin hingga Yugyeom secara refleks mundur lagi. Ada sesuatu di mata Taehyung yang bukan sekadar mahasiswa biasa. Ada ketajaman seorang pejuang yang telah melihat perang sesungguhnya di dunia korporat keluarganya.

"Kami tidak memulai perkelahian ini, Sunbae," kata Taehyung lirih. "Dan jika kau ingin melanjutkan, kami siap. Tapi ingat, CCTV di sini merekam semuanya. Dan ayahmu adalah donor universitas, bukan? Aku yakin beliau tidak akan senang mendengar anaknya terlibat skandal bullying dan penganiayaan."

Wajah Yugyeom memucat. Ancaman itu efektif. Meskipun ia benci Taehyung, ia tahu keluarga Taehyung memiliki pengaruh hukum yang kuat, apalagi dengan Jihoon yang berasal dari keluarga hukum terkemuka di sampingnya.

"Ingat kata-kataku, Kim Taehyung," geram Yugyeom sebelum memberi isyarat pada anak buahnya yang masih meringkes sakit untuk bangkit. "Ini belum selesai."

Yugyeom dan kawan-kawannya pergi dengan langkah gontai. Taehyung melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena frustrasi. Ia lelah. Lelah berpura-pura kuat, lelah menyembunyikan kecemasannya akan keselamatan Jin, dan lelah dengan permainan ego manusia di sekitarnya.

Sore harinya, Taehyung duduk di atap gedung fakultas, tempat favoritnya untuk menyendiri. Angin sore meniup rambutnya yang berwarna cokelat tua. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto. Ada satu foto terbaru: Jin tersenyum lemah di rumah sakit, dikelilingi oleh Namjoon, Yoongi, Hoseok, Chanyeol, dan Ken.

Senyuman tipis muncul di bibir Taehyung untuk pertama kalinya hari itu.

"Hyung..." bisiknya. "Aku berharap aku bisa lebih berguna bagimu. Di sini, aku hanya bisa berlari dari masalah sepele, sementara kau bertarung melawan monster sungguhan."

Tiba-tiba, pintu atap terbuka. Jungkook dan Jihoon muncul, napasnya agak terengah-engah.

"Aku tahu kau di sini," kata Jungkook, mendekat perlahan. Jihoon mengikuti di belakangnya, membawa tiga kaleng soda.

"Mengapa kalian mengikutiku?" tanya Taehyung tanpa menoleh.

"Karena kau teman kami. Dan teman tidak meninggalkan teman sendirian saat mereka sedih," jawab Jungkook tegas. "Jimin hyung juga khawatir. Kami tahu kau bukan orang yang dingin, V Hyung, Kau hanya... terluka. Atau takut."

Jihoon duduk di sebelah Taehyung, menyodorkan sebuah kaleng soda. "Dan aku... aku minta maaf untuk segala kekacauan yang dibuat keluargaku. Aku tidak bisa mengubah darahku, Hyung. Tapi aku bisa memilih loyalitasku. Dan aku memilih kamu. Aku akan mencari tahu apa rencana sebenarnya Xiumin Hyung dan Chen Hyung, dan aku akan memberitakan padamu."

Taehyung diam lama. Kata-kata Jungkook dan Jihoon menyentuh sisi rapuhnya. Ia ingin menceritakan semuanya. Tentang Jin, tentang ancaman yang masih mengintai. Tapi ia tidak boleh membahayakan Jihoon.

"Aku hanya butuh waktu," akhirnya Taehyung berbicara, suaranya serak. "Dunia di luar sana... lebih kejam daripada yang kalian bayangkan. Aku mencoba melindungi diri saya sendiri agar tidak hancur sebelum waktunya."

Jungkook menatap profil Taehyung. Ia melihat kesedihan mendalam di mata sahabatnya. "Apapun itu, kami di sini. Jangan lupa itu. Bahkan jika kau mendorong kami menjauh, kami akan tetap berdiri di belakangmu."

Taehyung menutup matanya, merasakan hangatnya persahabatan yang tulus itu. Untuk sesaat, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan.

"Terima kasih, Kookie. Terima kasih, Jihoon-ah," bisik Taehyung.

Di bawah mereka, kehidupan kampus terus berlanjut. Mahasiswa tertawa, berdebat, dan bermimpi. Taehyung tahu ia harus kembali turun ke sana, kembali memainkan peran "pria dingin dan tak tersentuh". Tapi kali ini, ia tahu ia tidak sepenuhnya sendirian.

Namun, di kerumunan mahasiswa di halaman bawah, sepasang mata tajam mengamati Taehyung dari kejauhan. Itu bukan Yugyeom. Itu seseorang yang mengenakan jaket almamater universitas, tetapi gerakannya terlalu hati-hati, terlalu terlatih. Orang itu mencatat keberadaan Jungkook dan Jihoon, lalu mengirim pesan singkat melalui aplikasi terenkripsi:

"Target teridentifikasi. Dekat dengan lingkaran dalam Kim Seokjin. Ada variabel baru: Park Jihoon (adik Chen). Pantau terus. Jangan bertindak dulu."

Bayangan musuh baru telah menyusup ke dalam kehidupan Taehyung. Dan kali ini, ancamannya mungkin tidak sepele seperti ejekan Yugyeom.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku. Di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka...
Dewi_BtsOt7: siap ka nanti aku mampir kalo lagi luang..

aku lagi ngejar up di 3 platfrom🤭
total 1 replies
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!