Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 "SUDAH WAKTUNYA AKU INGIN MENGUJI HATIMU, NISA..."
(Sedikit informasi untuk para pembaca setia seri novel TIRAKAT)
(Mulai dari BAB 9 ini, sampai BAB 12 ke depan, akan terungkap sebuah "secret plot hole" (rahasia plot cerita) yang sengaja penulis susun serapi mungkin.)
(Apakah kalian masih ingat dengan kejadian Nisa yang terbangun dari tidurnya di dalam kamar pengurus pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon, di seri TIRAKAT 3 - BAB 13 sampai BAB 16?)
(Benar! Apa yang direncanakan oleh Sekar Mayang bersama Dayang Putri di BAB 8 - TIRAKAT 6 ini, adalah awal mula dari rentetan penglihatan gaib yang dialami Nisa di BAB 13 sampai BAB 16 - TIRAKAT 3 itu!)
(Semua teror psikologis yang dialami Nisa itu nyatanya adalah hasil campur tangan Dayang Putri yang bersedia membantu Sekar Mayang menguji kekuatan batin Nisa, setelah mendapat persetujuan dari Zaki.)
(Dan di BAB 9 sampai BAB 12 ke depan, gaya bahasanya sengaja penulis tulis dengan lebih baik lagi. Sehingga agak sedikit berbeda "feel"nya jika dibandingkan dengan BAB 13 sampai BAB 16 - TIRAKAT 3.)
(Selamat merangkai teka-teki lintas seri novel TIRAKAT! ☺️☺️☺️)
.....
.....
.....
"Nisa...."
"Nisaaa...."
"Nisaaa... Bangunlah...."
Sebuah bisikan lembut mengalun mendayu, mengusik pendengaran Nisa yang tengah tertidur pulas. Gadis itu memang terlelap begitu dalam, kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang menuju ke pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon.
"Eeemmmhhh... Siapa?" racau Nisa pelan, kesadarannya mulai meronta dari alam mimpi.
Nisa mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat dan buram.
Tangannya terangkat, mengusap wajahnya yang masih dikuasai kantuk. Tubuhnya masih berbaring telentang. Dari celah matanya yang setengah terbuka, ia bisa melihat samar-samar langit-langit kamar pengurus pondok putri tersebut.
Lalu, bisikan itu terdengar lagi. Kali ini, tak sekadar suara.
Nisa merasakan hembusan hawa dingin, disusul sentuhan telapak tangan sedingin es yang membelai lembut pipi kanannya.
Nisa tersentak pelan. Matanya seketika terbuka lebar.
Begitu pandangannya fokus, ia mendapati Dayang Putri sudah berada di sampingnya. Sosok perewangan-nya itu duduk bersimpuh di tepi kasur, menatapnya dengan sorot tajam namun dihiasi senyuman anggun yang sangat Nisa kenal.
"Nisa... Bangunlah...."
"Eeemmmhhh... Dayang Putri?" gumam Nisa seraya memaksa tubuhnya untuk duduk di atas kasurnya yang terasa amat sejuk dan nyaman.
"Kenapa Dayang Putri ada di sini? Aku kan lagi tidur... Masih ngantuk, tahu," protes Nisa dengan suara serak.
"Hihihi... Sudah waktunya kamu bangun, Nisa..." ucap Dayang Putri.
Nisa menyadari ada yang berbeda. Nada suara lelembut itu terdengar jauh lebih lembut dan berwibawa dari biasanya.
Perlahan, tangan kanan Dayang Putri kembali terulur, membelai pipi kanan Nisa. Jemarinya yang lentik menyentuh dagu gadis itu, mengangkat wajahnya sedikit hingga posisi mereka sejajar.
Kedua mata mereka bertatapan lurus. Senyuman Dayang Putri tampak semakin menawan.
Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Dayang Putri beranjak bangkit dari kasur. Ia melangkah gemulai menuju pintu kamar Nisa, dan dalam sekejap mata, tubuh gaibnya menembus daun pintu yang tertutup rapat itu.
Nisa yang kini kesadarannya sudah kembali penuh, berteriak bingung dari atas kasur.
"Loh, Dayang Putri mau ke mana? Kenapa aku dibangunin kalau malah ditinggal?!"
Suara perewangannya menyahut langsung dari balik pintu.
"Ikutlah denganku, Nisa... Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu...."
Nisa mendengus pelan, merasa enggan beranjak. Dengan raut wajah sedikit kesal karena waktu istirahatnya diganggu, ia menggerutu di dalam hati. "Mau ngapain, sih? Ganggu aja, Dayang Putri."
Namun, seolah bisa membaca pikiran Nisa, suara Dayang Putri kembali menggema di telinganya.
"Maaf jika aku mengganggu waktu istirahatmu, Nisa... Tapi kemarilah, keluarlah dari kamarmu sebentar... Ada sesuatu yang sangat penting untuk kutunjukkan padamu."
"Hmmm... Iya-iya... Aku bangun," sungut Nisa pasrah.
Tanpa menaruh curiga, tanpa rasa penasaran yang berlebih, apalagi rasa takut, Nisa menggerakkan tubuhnya. Ia bangkit berdiri dan berjalan sedikit gontai menuju pintu kamarnya.
Krieeeeeet....
Engsel pintu berderit panjang saat Nisa menariknya terbuka.
Dan... saat pintu itu terbuka sepenuhnya...
Seketika itu pula, seluruh rasa kantuk Nisa menguap tak bersisa. Ia mematung.
"Da... Da... Dayang... Pu-Putri?"
Lidahnya seketika kelu. Mulutnya terbata-bata. Seluruh sendi di tubuhnya seolah membeku, terpaku pada pemandangan tak masuk akal di hadapannya.
Tepat di balik pintu itu, berdiri sosok Dayang Putri. Namun, penampilannya sama sekali berbeda!
Dayang Putri yang Nisa kenal selama ini selalu mengenakan baju kemben berwarna hijau cerah, dengan selendang kuning keemasan yang menjuntai di pundak, serta kain jarik cokelat bermotif batik.
Namun kini... sosok itu telah berubah total.
Dayang Putri kini berdiri dalam balutan busana kebesaran layaknya seorang ratu dari kerajaan kuno.
Pakaiannya didominasi warna emas yang memancarkan cahaya menyilaukan. Kain jarik cokelat yang membalut tubuh bagian bawahnya dipenuhi motif batik yang sulamannya seolah ditenun langsung dari benang-benang emas murni.
Seluruh perhiasannya—mulai dari anting, kalung, hingga gelang yang melingkari lengannya—terbuat dari emas yang berkilauan.
Rambut hitam lurusnya menjuntai panjang hingga menutupi punggung.
Dan di atas kepalanya... bertengger sebuah mahkota emas yang memancarkan keagungan absolut.
Tak hanya itu, aroma yang menguar dari sosoknya terasa sangat memabukkan. Harum, seolah ia baru saja bermandikan kelopak-kelopak bunga surgawi yang baunya belum pernah Nisa kenal seumur hidupnya.
Nisa masih takjub, nyaris lupa cara bernapas melihat perubahan drastis perewangan-nya itu.
Perlahan, Dayang Putri membalikkan tubuhnya.
Saat wajah itu menghadapnya, Nisa kembali tersentak. Sepasang bola mata Dayang Putri tak lagi memancarkan pendar hijau cerah seperti biasanya.
Matanya telah berubah sepenuhnya, menyamar dengan sempurna layaknya mata manusia biasa—putih bersih dengan pupil hitam yang tajam.
Dayang Putri tersenyum keibuan, lalu bertanya,
"Ada apa, Nisa?"
Nisa masih mematung, tak mampu merangkai kata.
Energi luar biasa yang memancar dari sosok di hadapannya itu begitu menekan, membuat Nisa merasa seolah terhipnotis oleh pesona gaib yang tak terbantahkan.
Setelah beberapa detik terdiam dalam kekaguman, Nisa akhirnya berhasil menguasai pita suaranya kembali.
"Da... Dayang Putri? Kenapa... kamu... berubah jadi secantik ini?"
Dayang Putri tak menjawab pertanyaan itu. Ia terus saja tersenyum manis nan anggun, menatap lekat Nisa yang mematung di depannya.
Sedetik kemudian, sosok perewangannya yang kini berpenampilan layaknya ratu gaib itu melangkah mendekat. Ia mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan lambat, sebuah gestur ajakan yang tak bisa ditolak.
Saking terpesonanya, tanpa sadar Nisa mengangkat tangannya sendiri dan menyambut uluran tangan dingin itu.
ZRAASH!
Seketika, gelombang energi menghantam kesadaran Nisa. Matanya terbelalak ngeri.
Sebuah pemahaman mengerikan baru saja menyetrum otaknya.
Ia baru sadar, bahwa Dayang Putri tidak membangunkannya di dunia nyata!
Ia telah diseret secara paksa... masuk ke dalam dimensi gaib!
Sebelum kepanikannya sempat meledak, Nisa menyadari dirinya sudah mulai dituntun berjalan oleh Dayang Putri. Pemandangan di sekelilingnya seketika berubah, membuatnya nyaris tersandung kakinya sendiri.
Ia tak lagi berada di koridor gedung pengurus pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon.
Kini, ia sedang berdiri di atas jalanan tanah liat yang anehnya terlihat sangat bersih. Dan yang lebih gila lagi, ia berada di tengah-tengah sebuah tempat yang sangat menyerupai... pasar tradisional!
"Da... Dayang Putri... i-ini... kita a-ada di m-mana?" tanya Nisa terbata-bata. Langkah kakinya gemetar, namun tangannya terus dituntun oleh sosok agung di depannya.
"Jangan takut, Nisa... Kau akan selalu aman selama bersamaku di alam ini...."
Jawaban itu sama sekali tak memberikan ketenangan. Nisa terus saja dipaksa melangkah, mengikuti ritme pelan Dayang Putri. Kepalanya menoleh patah-patah ke kanan dan ke kiri.
Pemandangan di sekitarnya begitu riuh dan ramai. Layaknya sebuah pasar sungguhan, banyak aktivitas transaksi, orang-orang lalu lalang, hingga suara dengungan percakapan.
Akan tetapi... Nisa tahu pasti, meski wujud makhluk-makhluk di sekelilingnya ini 100% menyerupai manusia, MEREKA BUKANLAH MANUSIA!
"Dayang Putri... Kenapa kamu membawaku ke tempat ini?" tanya Nisa, suaranya mulai bergetar menahan rasa takut.
"Tak apa-apa, Nisa... Aku hanya sengaja ingin menunjukkan bangsaku dari dekat padamu...."
"Untuk apa? Bukankah selama ini aku sudah terbiasa melihat perwujudan bangsamu?" Nisa mencoba membantah.
"Hihihi... Jangan terlalu percaya diri. Kamu masih sangat jauh dari kemampuan itu, Nisa...."
"Ma-maksudnya apa?" tanya Nisa. Jantungnya kini mulai memompa darah dengan liar. Ia berjalan bersama perewangan-nya, dikelilingi oleh ratusan, atau mungkin ribuan entitas lelembut yang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Tiba-tiba, langkah Dayang Putri berhenti, membuat langkah Nisa otomatis ikut terhenti.
Sosok perewangannya itu memutar tubuhnya, menatap Nisa dalam-dalam.
Namun kali ini... tak ada lagi senyuman anggun di wajahnya. Ekspresi Dayang Putri sedingin es.
Dan tanpa peringatan apa pun...
WUUUSH!
Dayang Putri menghilang begitu saja dari pandangan Nisa!
Hilang, layaknya debu yang tersapu angin puting beliung.
Genggaman tangan Nisa seketika kosong.
"Loh?! Da-Dayang Putri?! Kamu di mana?! Dayang Putri, jangan tinggalkan aku sendirian di sini!!"
Kepanikan absolut langsung merenggut kewarasan Nisa. Ia berteriak histeris, persis seperti anak kecil yang kehilangan genggaman ibunya di tengah keramaian pasar yang asing.
"Dayang Putri?! Dayang Putri?! Kamu di mana?! Apa maksud semua ini?!"
Nisa memutar tubuhnya ke segala arah dengan kalap. Matanya nanar mencari sosok yang mengenakan mahkota emas tadi.
Tapi nihil!
Ia benar-benar sendirian di tengah tempat asing tersebut.
Rasa takut, panik, dan bingung bercampur aduk, menyesakkan dadanya.
Kenapa Dayang Putri berbuat senekat ini?
Apa sebenarnya tujuan perewangan-nya itu?
Tiba-tiba, suara Dayang Putri kembali terdengar. Bukan dari sampingnya, bukan dari belakangnya, melainkan menggema dari seluruh penjuru arah, seolah menekan ruang hampa di dimensi tersebut.
"Sudah waktunya aku ingin menguji hatimu, Nisa..."
"A-apa?! Apa maksudmu, Dayang Putri?!" Nisa menjerit, meremas ujung bajunya sendiri.
Dan di detik yang sama... darah di sekujur tubuh Nisa terasa membeku.
Nisa baru menyadari sebuah kenyataan yang jauh lebih mengerikan.
Keheningan mendadak melanda pasar gaib tersebut.
Seluruh aktivitas terhenti seketika.
Dan... ratusan sosok lelembut di sekelilingnya itu... kini telah memutar kepala mereka...
MENATAP LURUS KE ARAH NISA... DENGAN SOROT MATA YANG SANGAT MENEKAN DAN MENGERIKAN.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya