Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Kebutuhan Dan Ketulusan Hati

Langkah kaki Mawar beradu cepat dengan tanah jalanan desa yang berdebu, meninggalkan jejak samar yang segera tertutup kembali oleh angin yang berhembus pelan. Ia berjalan tergesa‑gesa, kepala senantiasa tertunduk dalam, seolah takut pandangan siapa pun yang lewat akan mampu menembus pakaian tebal yang ia kenakan, menguliti tubuhnya sampai ke tulang, dan melihat segala noda serta luka yang tersembunyi di baliknya.

Setiap kali ada penduduk desa yang lewat, menoleh sekilas, atau menyapanya dengan ramah, jantung Mawar berdegup makin kencang dan liar, berpacu cepat hingga hampir melompat keluar dari rongga dadanya.

"Apakah mereka tahu? Apakah mereka bisa mencium bau noda yang melekat padaku? Apakah mereka bisa melihat jejak sakit dan malu yang masih tertinggal di tubuhku?" batin Mawar, keringat dingin mulai bercucuran di pelipis meski udara sedang tidak terlalu panas.

Dalam kekalutan dan kepanikan yang menguasai seluruh pikirannya, Mawar sama sekali lupa memperhatikan arah di depannya, matanya hanya menatap tanah, pikirannya hanya terisi satu tujuan, untuk secepatnya mencari perlindungan, apa pun caranya.

BRUK!

Benturan keras terdengar nyaring saat kedua tubuh saling beradu. Mawar terhuyung ke belakang, kakinya hampir terjerat kain panjangnya sendiri hingga ia hampir jatuh tersungkur ke tanah berdebu. Begitu pula sosok yang ia tabrak, terkejut hebat hingga melangkah mundur beberapa langkah, namun segera berusaha menyeimbangkan diri agar tidak jatuh.

"Maaf… aku tidak sengaja. Maafkan aku," ucap Mawar, suaranya bergetar, kepalanya tertunduk makin dalam, tangan kanannya menekan dada yang berdegup kencang, tak berani menatap wajah orang di hadapannya.

"Mawar? Kamu baik‑baik saja? Kenapa berjalan terburu‑buru sekali sampai tidak melihat ke depan?"

Suara itu terdengar lembut, rendah, penuh perhatian, dan sangat akrab di telinga Mawar. Perlahan, gadis itu mengangkat wajah, matanya yang semula cemas dan bingung perlahan melebar, dan napasnya sedikit terasa lega saat mengenali sosok yang berdiri di hadapannya.

"Gala… untung kamu ada di sini," ucap Mawar, suaranya masih bergetar hebat menahan segala kegelisahan dan air mata yang hampir tumpah kembali.

"Aku mau minta tolong sesuatu padamu, hal yang sangat penting sekali, hal yang menyangkut seluruh sisa hidupku."

Gala menatap Mawar lekat‑lekat, pandangannya teliti dan tajam. Ia segera menyadari ada sesuatu yang sangat berbeda dari sorot mata gadis itu, matanya yang dulu selalu berbinar cerah dan penuh harapan kini tampak kosong, rapuh, penuh ketakutan, dan dilingkupi kegelisahan yang mendalam. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering dan pecah‑pecah, serta seluruh sikapnya menunjukkan bahwa ia sedang dikejar oleh sesuatu yang mengerikan.

"Katakan saja apa itu. Aku akan membantumu selama aku mampu." jawab Gala sigap dan tegas, tanpa keraguan sedikit pun.

"Antar aku ke rumah Rangga," ucap Mawar mantap, tegas, dan cepat, seolah kalimat itu sudah lama ia hafal dan siapkan di dalam kepalanya.

Dahi Gala langsung berkerut kuat karena kebingungan, matanya membelalak tak percaya. Ia bahkan mundur selangkah ke belakang, seolah belum yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Ke rumah Rangga? Kenapa tiba‑tiba kamu mencarinya dengan wajah seberat ini?" tanya Gala penasaran.

"Tentu saja untuk meminta dinikahi. Memangnya ada alasan lain yang membuatku datang ke sana sendirian?" Tatapan Mawar tajam namun penuh kepedihan, seolah jawabannya sudah jelas namun sangat berat untuk diucapkan.

Mendengar ucapan itu, Gala tersentak hebat hingga terbatuk‑batuk menahan keterkejutan yang luar biasa. Wajahnya berubah pucat. Namun pria itu segera mendekat lagi, langkahnya cepat dan cemas, lalu ia meletakkan punggung tangannya perlahan ke dahi Mawar, lalu beralih ke pipi gadis itu.

"Apa? Menikah? Dengan Rangga? Apa kamu sadar apa yang kamu katakan?" tanya Gala cemas, matanya menatap lekat‑lekat ke wajah Mawar.

Mawar dengan lembut namun tegas menepis tangan pria itu dari wajahnya, matanya memandang lurus ke manik mata Gala, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Aku sadar… aku tahu Rangga orang yang sangat baik, tulus, dan tak pernah menolak untuk menolongku. Itulah sebabnya aku terpikir kepadanya… karena aku tahu dia akan mau menolongku. Tapi semakin aku berpikir, semakin aku merasa tidak tega. Dia tidak pernah berbuat salah padaku, dia selalu baik kepadaku sejak kita kecil. Kalau aku menikah dengannya hanya demi berlindung, berarti aku memanfaatkan kebaikannya, membebani hidupnya dengan rahasia kelam dan beban yang seharusnya tidak perlu ia tanggung. Dia berhak mendapatkan pasangan yang mencintainya sepenuh hati, bukan gadis yang sudah hancur seperti aku."

Nama Bima yang selama ini menjadi sumber ketakutan itu kembali terbayang, membuat ekspresi Gala berubah drastis, dari bingung menjadi sangat serius, tegang, dan waspada. Matanya menyipit tajam, rahangnya mengeras.

"Bima… kakak iparmu itu? Dia yang membuatmu sampai berpikir seperti ini? Dia yang mengganggumu? Sejak kapan hal ini terjadi? Ceritakan semuanya padaku, jangan sembunyikan apa pun."

Mawar menelan ludah dengan susah payah, kerongkongannya terasa kering dan perih. Ia menoleh ke kanan dan kiri dengan cemas, memastikan tidak ada orang lain yang lewat atau mendengarkan pembicaraan mereka. Kemudian dengan suara rendah dan bergetar, ia mulai bercerita, tentang tatapan Bima yang selalu tak wajar dan menyelidik, ucapan‑ucapan yang meresahkan dan bermakna ganda, kehadiran pria itu yang selalu membuatnya terkurung dan merasa terancam, hingga ancaman‑ancaman yang pernah terucap dari mulut Bima. Namun Mawar tetap menyembunyikan bagian paling kelam dan menyakitkan, bagaimana kehormatannya telah direnggut paksa, dihancurkan, dan diinjak‑injak oleh orang yang seharusnya menjaganya. Itu adalah rahasia kelam yang terlalu berat untuk diucapkan, terlalu memalukan, dan terlalu menyakitkan untuk dibagi dengan siapa pun.

"Kamu yakin… tidak ada hal lain yang terjadi? Hal yang lebih buruk lagi?" tanya Gala memastikan setelah mendengar cerita Mawar, suaranya makin rendah dan berat, matanya menyiratkan bahwa ia sudah menebak sesuatu yang tak terucap.

Mawar hanya membalas dengan tatapan tajam namun penuh kepedihan dan keputusasaan, tatapan yang cukup menjawab segala keraguan.

"Sudah cukup bagiku untuk merasa tidak aman di rumah sendiri, Gala. Selama aku masih tinggal di sana, setiap kali Kak Jingga pulang berkunjung, pria itu pasti akan ikut datang. Dan selama dia datang, aku tidak akan pernah merasa aman. Aku butuh perlindungan dan tempat berlindung… tapi aku tidak tega meminta Rangga melakukan pengorbanan sebesar itu. Dia terlalu baik, dan aku tidak ingin merusak masa depannya hanya demi menyelamatkan diriku."

Gala diam sejenak, napasnya terasa berat dan panjang. Ia menggeleng pelan, wajahnya tampak lembut namun penuh ketegasan.

"Kamu benar, Mawar. Kamu tidak boleh membebani orang lain hanya karena dia baik hati. Tapi kamu juga tidak perlu takut, tidak perlu merasa sendirian. Ada jalan keluar yang jauh lebih baik, jauh lebih tulus, dan tidak akan merugikan siapa pun."

Dahi Mawar semakin berkerut dalam kebingungan, namun secercah harapan mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya yang sudah hancur lebur.

"Apa itu? Apa yang bisa kulakukan? Aku sudah tidak punya pilihan lain lagi, Gala."

Gala menatap lurus ke manik mata Mawar, menggenggam kedua bahunya dengan kuat namun penuh kelembutan, seolah ingin menanamkan kekuatan, ketegasan, dan ketulusan ke dalam diri gadis itu.

"Menikahlah denganku."

Kali ini giliran Mawar yang terbatuk hebat, terkejut tak terkira hingga tubuhnya mundur selangkah ke belakang, matanya membelalak lebar tak percaya.

"Kamu… apa maksudmu, Gala? Kita… kita berdua sudah lama bersahabat. Bagaimana mungkin kita menikah? Dan kamu… kamu belum tahu semua beban dan luka yang ada di diriku. Aku… aku tidak pantas untukmu."

"Aku tidak bercanda, Mawar. Aku sungguh‑sungguh," potong Gala cepat, matanya tak berkedip sedikit pun, tatapannya tajam namun lembut dan tulus.

"Aku sudah lama menyukaimu, menyimpan rasa ini bertahun‑tahun, hanya saja aku tidak berani mengatakannya. Aku tahu aku mungkin tidak sebaik atau setulus Rangga di matamu, tapi aku mencintaimu apa adanya, dengan segala luka, ketakutan, dan rahasia yang kau simpan. Aku sudah tahu betul siapa yang menyakitimu, dan aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku, melindungimu dari segala bahaya, terutama dari Bima. Aku tidak memandangmu sebagai orang yang hancur, aku memandangmu sebagai wanita yang paling berani dan kuat yang pernah aku kenal. Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakiti atau mengganggumu lagi."

Mawar menatap wajah Gala yang penuh ketulusan, perlahan air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Di tengah rasa sakit dan ketakutan yang mendalam, untuk pertama kalinya ia merasakan kehangatan yang sejati, kehangatan yang tidak datang karena rasa kasihan, melainkan karena cinta yang tulus.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!