Indonesia
NovelToon NovelToon
Langkah Sunyi Arunika

Langkah Sunyi Arunika

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:20.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunaya

Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.

Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Strategi Arunika

Suasana di dalam ruang tengah rumah bergaya Jawa klasik di kawasan Sleman itu mendadak sunyi senyap, laksana seluruh pasokan udara terhenti dalam hitungan detik. Arunika mematung di kursinya, sepasang mata indahnya menatap lurus ke arah dokumen resmi di atas meja kayu jati. Kata-kata Pak Kevin mengenai jajaran dewan direksi dan investor perusahaan Daniswara yang secara resmi mengajukan namanya sebagai pengganti Saka untuk memimpin Daniswara Group secepatnya, bergema keras di dalam kepalanya, memicu gemuruh batin yang sangat dahsyat.

Di balik cadar panjang hitamnya, Ibu Sandra menahan napas, sementara Mas Anggoro mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengetat tegang. Mereka semua tahu, ini adalah sebuah takhta raksasa yang sarat akan intrik korporasi yang mematikan. Arunika yang sedang mengandung janin yang kini berjalan memasuki usia lima bulan, dipaksa takdir untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.

"Assalamualaikum!"

Sebuah suara lantang, ceria, dan sangat familiar tiba-tiba saja mengucap salam dari arah pintu depan, memutus paksa keheningan yang mencekam di ruang tersebut.

Arunika tersentak, menoleh cepat ke arah pintu depan. Detik berikutnya, pintu jati didorong terbuka dan sosok Dinda melangkah masuk dengan senyuman lebar, membawa sebuah tas jinjing besar dan koper dengan gaya modis khas Jakarta. Sahabat terbaik Arunika itu sengaja datang ke Yogyakarta secara mendadak karena merasa cemas setelah mendengar kabar dari Anggita mengenai kejadian di Rumah Sakit Ibu dan Anak kemarin sore. Dinda khawatir dengan trauma Arunika, dia datang untuk memberikan dukungan sebagai sahabat yang memposisikan diri akan selalu ada untuk Arunika, tanpa menduga dia justru melangkah masuk tepat di tengah atmosfer rapat korporasi yang krusial.

"Nika! Ya ampun, aku kangen banget sama kamu!" seru Dinda riang, namun langkah kakinya mendadak tertahan saat menyadari atmosfer serius di ruang itu, lengkap dengan kehadiran Pak Kevin yang sedang memegang berkas bersampul hitam. "Eh... maaf, sepertinya aku datang di waktu yang salah ya? Berat banget atmosfernya, udah kayak mau rapat kabinet presiden."

Melihat Dinda yang berdiri agak canggung sembari menenteng tas jinjing besar yang tampak sangat berat hingga membuat bahu kecilnya miring, Mas Anggoro yang sejak tadi duduk kaku langsung bergerak spontan. Pria Jogja yang bertubuh tegap dan irit bicara itu berdiri dari kursinya, melangkah lebar mendekati Dinda, lalu tanpa permisi langsung merebut lembut gagang koper dan tas jinjing besar dari tangan Dinda untuk membantunya. Anggita dan Ibu Sandra saling melempar pandang, melihat kakak dan putranya yang bersikap tidak biasa. Namun mereka memilih diam dan membiarkan saja karena suasana tegang masih terasa.

Dinda tersentak kecil, memandangi tasnya yang sudah berpindah tangan ke dalam cengkeraman lengan kekar Mas Anggoro. Dasar watak Dinda yang jenaka, ekspresif, dan suka bercanda, dia langsung mengulas senyum jail penuh godaan khas gadis ibu kota.

"Wah, Kang Mas Anggoro ternyata diam-diam peka banget ya," canda Dinda, matanya berkedip jenaka menatap wajah kaku pria di depannya. "Tahu aja kalau pundak princess Jakarta ini udah mau copot gara-gara bawa oleh-oleh sekoper, keinginan Nyonya muda kita yang lagi ngidam. Makasih lho, Kang Mas. Gantengnya langsung nambah sepuluh persen kalau lagi sigap begini."

Mendengar celetukan ceplas-ceplos Dinda yang tanpa saringan tersebut, Mas Anggoro seketika membeku. Pria yang biasanya selalu tenang dan berwibawa itu langsung berdehem canggung, memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan rona merah tipis yang mendadak terbit di ujung telinganya. Sikap kakunya yang mendadak kikuk berhadapan dengan lemparan humor Dinda, menciptakan riak tawa kecil yang instan mencairkan ketegangan di wajah Arunika, Anggita, dan Ibu Sandra.

"Sama-sama, Nona Dinda. Silakan duduk," balas Mas Anggoro pendek dengan suara baritonnya yang dibuat sedatar mungkin, meskipun gerak-geriknya saat meletakkan koper Dinda di sudut ruangan terlihat sedikit salah tingkah.

Sementara semua itu berlangsung, Kevin yang sebelumnya sesekali mencuri pandang pada Anggita, kali ini pandangan Kevin terus tertuju pada gadis muda itu, mulai dari Anggita saling pandang dengan Ibu Sandra, hingga ikut tertawa mendengar celetukan humoris Dinda. Senyum tipis menghiasi wajah tampan pengacara muda tersebut setelah sekian lama mati rasa setiap kali ada wanita yang mencoba mendekatinya.

Melihat interaksi manis dan mengalir alami di antara Dinda dan Mas Anggoro, sebuah binar kecerdasan taktis sebagai seorang pemikir hebat seketika melintas di sepasang mata Arunika. Langkah sunyinya mendadak mendapatkan kepingan aliansi yang sangat kokoh. Arunika tersenyum tulus, meminta Dinda untuk langsung duduk bergabung bersama mereka.

"Dinda, kamu datang di waktu yang sangat tepat," ucap Arunika, suara lembutnya kini memancarkan wibawa pimpinan yang murni dan dingin. Arunika menatap Pak Kevin dengan ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat. "Pak Kevin, saya sudah mengambil keputusan. Saya menolak untuk kembali ke Jakarta dan mengambil jabatan CEO itu secara langsung sekarang. Kandungan saya sudah memasuki usia lima bulan, ini adalah fase yang rentan dan fokus utama saya adalah menjaga keselamatan janin di rahim saya dari tekanan mental Jakarta. Selain itu, fokus saya saat ini adalah menempuh kuliah pascasarjana S2 di UGM."

Arunika beralih menatap Mas Anggoro yang sudah kembali duduk di seberangnya. "Dengan hak suara delapan puluh lima persen saham mayoritas yang Papa Raditya wariskan kepadaku, aku memberikan mandat hukum resmi kepada Mas Anggoro untuk menjadi CEO sementara Daniswara Group di Jakarta, menggantikan posisiku memimpin korporasi tersebut."

Mas Anggoro terperanjat, tubuh tegapnya menegang. "Nika? Tapi... Itu korporasi raksasa nasional di Jakarta. Mas takut tidak bisa mengimbangi kelicikan dewan direksi di sana."

"Mas Anggoro tidak perlu takut berjalan sendirian," sahut Arunika, pandangan matanya beralih menatap Dinda yang sedang menyimak takjub. "Dinda... Aku meminta bantuan secara khusus sore ini. Aku ingin kamu mendampingi Mas Anggoro melangkah masuk ke gedung Daniswara di Jakarta sebagai asisten pribadi sekaligus tangan kanan utamanya yang paling terpercaya. Jaringan sosialmu di Jakarta akan menjadi tameng informasi yang berharga untuk mengawal Mas Anggoro memimpin jalannya perusahaan selama aku menyelesaikan studi di Yogyakarta."

Dinda tertegun sesaat, sebelum akhirnya matanya berbinar penuh tekad dan kesetiaan seorang sahabat sejati. Dia melirik Mas Anggoro yang sedang menatapnya dengan pandangan dalam. "Mandat diterima dengan sangat terhormat, Nika! Aku bersumpah akan menjaga Mas Anggoro di Jakarta. Lagipula, kasihan kan Bos baruku ini kalau dilepas sendirian di Jakarta, bisa-bisa dikerjai sama sirkelnya Saka karena terlalu kaku," kelakar Dinda, kembali menyenggol Mas Anggoro dengan humor ringannya, membuat pria itu terpaksa menahan senyum tipis di sudut bibirnya.

Pak Kevin tersenyum takjub melihat Arunika menyusun strategi korporasi yang begitu rapi, efisien, dan mematikan tanpa perlu keluar dari persembunyiannya di Sleman. "Mandat Anda sangat luar biasa cerdas, Ibu Arunika. Saya akan segera merampungkan draf surat kuasa mutlak pembagian otoritas CEO sementara atas nama Tuan Anggoro dan menugaskan Nona Dinda sebagai asisten pribadi utamanya untuk mendampingi beliau di Jakarta."

Waktu kian merangkak larut malam ketika seluruh urusan penandatanganan berkas hukum dan draf strategi bisnis itu selesai dirapikan. Jam ruang tengah sudah menunjukkan jam sembilan malam lewat.

Pak Kevin merapikan kembali berkas-berkas hukumnya ke dalam tas jinjingnya, lalu berdiri dari duduknya untuk berpamitan. Melihat malam yang sudah teramat gelap dan udara Sleman yang mulai dingin diguyur gerimis tipis, Ibu Sandra melangkah maju dengan kelembutan seorang ibu yang bijaksana di balik cadarnya.

"Pak Kevin... ini sudah teramat malam, jalurnya kian berkabut di luar," ucap Ibu Sandra dengan nada suara yang sangat santun. "Jika tidak keberatan, silakan menginap saja di kamar paviliun samping rumah kami malam ini, demi keamanan perjalanan Anda."

Kevin tersenyum sangat sopan, menundukkan kepalanya takzim menolak tawaran tersebut dengan gestur yang sangat hormat. "Terima kasih banyak atas kebaikan hati Anda, Ibu Sandra. Namun saya terpaksa menolak dan harus kembali ke rumah saudara sepupu saya. Putri kecil saya menunggu saya di sana. Dia tidak akan bisa tidur nyenyak kalau saya belum berada di dekatnya sebelum larut malam."

Deg.

Di sudut ruangan dekat meja saji, Anggita yang sedang memegang nampan kosong seketika membeku di tempatnya berdiri. Kalimat "putri kecil saya tidak bisa tidur kalau saya belum pulang" yang keluar dari bibir Kevin menghantam batinnya dengan telak. Anggita mendadak menarik kesimpulan sepihak yang keliru.

Di dalam benak Anggita meyakini, Kevin adalah seorang pria beristri yang sudah berkeluarga dan sangat mencintai anak-istrinya. Anggita tidak mengetahui kebenarannya, bahwa Kevin adalah seorang duda yang telah dua tahun ditinggal mati oleh mendiang istrinya.

Riak kekaguman yang sempat tumbuh di hati Anggita saat pandangan mata mereka bertubrukan sore tadi seketika ia padamkan secara paksa. Anggita menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung nampannya dengan kegelisahan batin yang coba ia sembunyikan rapat-rapat, bertekad menarik diri sejauh mungkin demi menjaga marwah dirinya agar tidak menyukai pria yang ia kira memiliki wanita lain.

"Saya pamit dulu. Assalamualaikum," ucap Kevin, melayangkan satu pandangan mata terakhir yang sarat akan makna ketertarikan dewasa ke arah Anggita yang berdiri menunduk kaku, sebelum akhirnya melangkah keluar membelah malam Sleman.

1
Noey Aprilia
Kl cwoknya ky kang mas mh, msti dinda yg bnyk usahabiar dia peka....
aku gmes.....
Ade Chubi
baru mampir Thor 😄
Noey Aprilia
Biar saka tau skitnya d khianati orng yg dia prcya,blm lg kl trungkp spa bpk kndungnya....
laah...ni ga kebalik apa y....mstinya kang mas yg ngajakin dinda,tp ni sbliknya...🤣🤣🤣
Bunaya: cewek ibu kota vs mas-mas Jawa Kak. Yang berani yang perempuan 🤭🤣🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bayangkan perasaan papa Raditya yang juga dikhianati tapi tetap diam 😡😡 serta Nika yang juga kamu khianati 😡😡😡
Noey Aprilia
Gmna rsanya d khianati???sakit kn???
gtu jg yg arunika rsakan dlu...jd trima nsib aja,hkum krma udh dtang.......
Lucy
nah ketauan juga kan Valeri,ank rian kau blg ank saka untung saka pinter GK mau kejadian dirinya terulang lagi😀😀
Lucy
lanjut Thor,penasaran isi surat keterangan Test DNA nya😃😃
Sri Widiyarti
lanjut kak penasaran..
Noey Aprilia
Kevin sm anknya udh nyman sm gita,tp oma'nya msih ttp mau mnjdohkn dgn kluarga yg setara ktanya....tp tnang aja,ibunya kevin udh ngsih lmpu hjau kyanya....
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya...
Lucy
Oma Kevin seharusnya LBH mementingkan Kevin dan Keysha drpd martabat kluarga😡jgn mau di atur Oma mu kevin
Sri Widiyarti
arunika bahagia setelah lepas dari kamu saka....
Sri Widiyarti
saka...saka muak arunika liat mukamu...
Noey Aprilia
Oma'nya kevin mstinya lbh mmentingkn prsaan ccunya drpd skdr gengsi.....ngpn jg pke jdoh2an kl ga bsa bkin nyman,apa lg ada ank kcil yg btuh ssok ibu....udh nmpel gt sm anggita,msa ga ngrti.....
udh msuk rak kk,tp aku glau bcanya....sedih.....😭😭😭
Sri Widiyarti
semoga Abang mahen jodohnya sejatinya arunika ..
Sri Widiyarti
selamat hancur saka penyesalanmu ga guna ..
Noey Aprilia
Mga aja ga ada drama mnyebalkn dr kluarganya mahen,kn kl holang kaya biasanya songong....mskpn ga smua sih.....tkutnya blm apa2 udh kluar kta" tidak merestui krna prbedaan sosial"....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuuuut kak
Noey Aprilia
Jgn usik nika....
skrng pawangnya bnyak,pd galak pula...sklinya ngusik,abis d bntai....😁😁😁
Nurhartiningsih
suka sama novel yg tokoh wanitanya cerdas..kuat .dan tangguh .nggak cengeng nggak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!