Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Wanita misterius
KLAK!
Pintu ruangan rahasia terbuka saat derap langkah kaki teratur mendekati mereka. Pria bersetelan jas rapi memasuki ruangan dengan pembawaan tenang dan anggun. Kumis tebal kecoklatannya tampak familier, namun kedelapan Aetherist muda dibuat penasaran setengah mati oleh sosok pria berambut klimis yang kini berdiri tegap di hadapan mereka.
"Selamat siang, Anak-Anak," sapa pria itu dengan suara yang sangat berwibawa, kalem, dan terkontrol.
"Siang, Profesor!" sahut Airyn, William, dan Emery bersahutan paling keras.
"Oh? Kalian tidak mengenali saya?" tanya sang profesor seraya menyunggingkan senyum misterius. Kedelapan Aetherist menggeleng kompak; mereka merasa yakin ini adalah kali pertama berhadapan dengan pria bersetelan jas necis ini.
Pria itu terkekeh pelan. "Oh... kalau begini bagaimana? SELAMAT PAGI, ANAK-ANAK!"
Suaranya seketika berubah melengking keras, benderang, dan membakar semangat—persis seperti toa latihan pagi! Para murid tersentak kaget, terutama Andrew yang spontan duduk tegap mendengar bentakan familier itu.
Dialah Profesor Ignatius!
Airyn pun didera syok berat. Jika pria ini tidak mengeluarkan nada suara khas Profesor Ignatius, ia tak akan pernah menyangka bahwa instruktur latihan fisik berkaos oblong tadi pagi adalah orang yang sama dengan pria flamboyan di depan mereka saat ini. Namun jika diamati lebih mendalam, struktur wajah dan kumis tebal kecoklatan itu memang tidak dapat menipu.
"Profesor... jangan bilang kita akan disuruh latihan fisik lagi jam segini," pangkas William menduga-duga.
"Oh, tentu saja tidak! Latihan fisik itu hanya menu khusus fajar. Sekarang adalah porsi kita untuk mendalami taktik dan strategi perang," pangkas Ignatius terkekeh nyaring.
Murid-murid menghembuskan napas lega dan mengangguk-angguk. Fisik mereka tidak akan sanggup jika harus dipaksa maraton untuk kedua kalinya hari ini.
"Baiklah! Sebelum memulai materi, ada satu pengumuman krusial yang wajib kalian ketahui," ujar Ignatius menjeda penjelasannya. Ia melangkah menuju meja balok hologram, menekan beberapa tombol, hingga sebuah layar proyeksi raksasa membumbung naik di atas mimbar.
‘Pertandingan Persahabatan antar Aetherist’—tajuk besar di layar hologram itu terpampang benderang.
Para murid saling bertukar pandang dengan dahi berkerut, berusaha memproses maksud di balik judul tersebut.
"Satu minggu dari sekarang, kita akan menggelar duel persahabatan antar-Aetherist. Ini murni pertarungan ketahanan fisik dan teknik bertarung tanpa boleh mengerahkan Aether sedikit pun!" terang Ignatius mendasar.
"Baik, mari kita undi bagannya sekarang! Bagaimana?" tawar Ignatius. Para murid hanya bisa mengangguk pasrah mengiyakan.
Ignatius memasukkan nama kedelapan penguasa elemen ke dalam sistem acak hologram. Mengingat adanya ketimpangan kekuatan fisik antara murid laki-laki dan perempuan, duel disepakati menggunakan format terpisah: Kategori Putra vs Putra, dan Kategori Putri vs Putri.
"Silakan maju satu per satu untuk mengundi lawan kalian."
Stella menjadi yang pertama melangkah maju ke depan mimbar. Jemarinya menekan ikon tombol pada layar hologram, mengacak nama para Aetherist perempuan.
Tring!
Nama Flora muncul sebagai lawannya.
"Sayang sekali... padahal aku mengincar si bocah biru itu," gerutu Stella melirik sinis ke arah Airyn. Dengan keluarnya nama Flora untuk Stella, secara otomatis Airyn dipasangkan dengan Emery.
Proyeksi hologram memperbarui skema bagan pertandingan putri.
"Wah, Airyn! Ayo bertarung dengan penuh semangat ya!" seru Emery berbinar-binar dari bangkunya.
Airyn yang mendengarnya hanya bisa menyunggingkan senyum canggung. Bagaimana bisa aku menang melawan gadis berotot yang tiap hari kerjaannya melatih fisik ini? batin Airyn meringis.
"Selanjutnya untuk kategori putra!"
William melangkah maju memutar roda acak. Begitu roda spin berhenti berputar... nama Andrew keluar sebagai lawannya.
"Cih! Padahal aku berniat membantai Teira sampai babak belur di arena," cetus Andrew dari bangkunya dengan raut kecewa karena harus berhadapan dengan William.
Namun di sisi lain, senyuman puas justru terukir di wajah Snow. Pemuda bersurai putih itu secara otomatis dipasangkan dengan Teira. Sementara Teira yang duduk di belakang Airyn hanya menatap layar dengan pandangan datar tanpa minat sedikit pun, seolah tak peduli siapa pun lawannya.
"Baiklah, Anak-Anak! Bagan resmi sudah terbentuk. Minggu depan kalian akan berduel di pelataran halaman tengah, disaksikan langsung oleh seluruh murid dan profesor akademi!" tegas Ignatius usai bagan duel terpampang sempurna.
Kedelapan Aetherist mengangguk paham atas arahan sang instruktur.
"Pelajaran hari ini tidak perlu terlalu berat. Tugas kalian hanya membaca naskah kuno mengenai Perang Pertama di perpustakaan. Sesi selanjutnya akan kita isi dengan tanya-jawab bebas mengenai strategi pertempuran," pangkas Ignatius menerangkan tugas. Airyn manggut-manggut mengutarakan kesanggupan.
"Sekian untuk sesi saya. Kelas berikutnya akan diambil alih oleh Profesor Seraphina," pamit Ignatius sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan rahasia.
Tak butuh waktu lama, pintu besi kembali berderit membuka dan meloloskan sosok wanita bersurai hitam panjang—Seraphina.
"Selamat siang, Anak-Anak. Kalian sudah mendengar detail Turnamen Persahabatan dari Profesor Ignatius, bukan?" sapa wanita itu anggun.
Airyn, Flora, dan William mengangguk serempak.
"Bagus. Persiapkan diri kalian dengan matang. Ingat pesannya: murni pertarungan teknik fisik tanpa mengandalkan kekuatan elemen," pangkas Seraphina menegaskan aturan main.
Ia melangkah ke depan papan tulis dan mulai menggoreskan kapur. ‘Apakah Aether Itu?’—tulisan raksasa terukir di sana.
"Ada yang bisa menjelaskan definisinya?" tanya Seraphina berbalik menatap murid-muridnya.
William mengangkat tangannya. "Bentuk energi sihir dari dalam tubuh?"
Seraphina mengangguk setuju. "Tepat sekali. Ada yang ingin menambahkan?"
Flora mengangkat tangannya canggung. "Sihir pengendalian elemen?"
"Sempurna. Jawaban kalian berdua sangat benar," puji Seraphina. "Aether umumnya kita pahami sebagai pendar sihir atau manifestasi energi intrinsik dari dalam tubuh untuk memicu fenomena sihir. Bagi kalian para Aetherist murni, Aether mewujud dalam bentuk penguasaan spesifik atas elemen-elemen alami yang berbeda."
Seraphina melangkah mendekati mimbar. "Namun, cakupan Aether sebenarnya tidak sesempit sekadar mengendalikan elemen fisik seperti air, api, atau tanah."
Mendengar penjelasan itu, rasa penasaran Airyn terpantik. Gadis itu menaikkan tangannya. "Profesor... apakah yang seperti ini juga termasuk bentuk Aether?"
Airyn memfokuskan pendar pikirannya, memusatkan sorot mata emasnya menembus iris mata biru milik Seraphina, lalu memancarkan sebuah pesan melalui gelombang kesadarannya.
Seraphina menyunggingkan senyum hangat saat pesan Airyn berhasil hinggap di benaknya.
"Luar biasa, Airyn. Ya, itu adalah salah satu bentuk manipulasi Aether tingkat lanjut. Kau sudah menguasai fondasinya dengan sangat baik," puji Seraphina tulus.
Para Aetherist muda lainnya menoleh bingung, penasaran dengan apa yang baru saja terjadi di antara Airyn dan sang profesor.
"Ini adalah teknik telepati yang baru saja diluncurkan Airyn padaku," suara Seraphina mendadak bergema jernih di dalam pikiran setiap Aetherist di ruangan itu secara bersamaan!
Airyn tersentak kecil di tempat duduknya. Semula ia mengira telepati Aether adalah kemampuan langka yang hanya bisa terjalin antar sesama penguasa garis keturunan Aetherist—seperti yang biasa ia lakukan bersama Paman Kaelen. Namun, ia sama sekali belum pernah mencobanya pada orang luar.
"Profesor... apakah manusia biasa tanpa garis keturunan Aetherist juga sanggup melakukan dan menerima telepati Aether?" tanya Airyn polos saat kesadaran itu menyergapnya.
Seraphina tidak langsung menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum hangat yang sarat akan teka-teki misterius. Ada tabir rahasia yang tampak disembunyikannya rapat-rapat di balik binar matanya yang tenang—seolah wanita bersurai hitam di hadapan mereka ini menyimpan identitas dan kekuatan terselubung yang jauh melampaui pemahaman mereka saat ini.