Indonesia
NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit / CEO / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pintu kayu jati berukir yang megah itu terdorong keras.

Langkah kaki Dayang menghentak mantap memasuki ruang kerja CEO Suryo Group yang teramat luas—ruangan bernuansa kemewahan modern dengan dinding-dinding kaca tembus pandang yang memperlihatkan lanskap seluruh sudut kota dari ketinggian.

Di depan meja kerja mahoni yang megah, sosok pria tegap itu sedang berdiri.

Pria yang selama ini disapanya sebagai kuli panggul bersahaja kini membelakanginya, terbalut jas mahal buatan Eropa yang begitu presisi dan sempurna.

"Pak Rimba," panggil Dio pelan dari balik punggung Dayang dengan suara bergetar.

Mendengar nama itu, pria tersebut membalikkan badannya.

Mata Rimba membelalak lebar, napasnya tertahan seketika.

Seluruh persendian sang penguasa bisnis melumpuh kaku saat mendapati Dayang—perempuan yang baru beberapa jam lalu ia tinggalkan—kini berdiri tegak di hadapannya dengan jaket berdebu dan mata yang merah membara.

"Dayang?" bisik Rimba parau, lidahnya terasa begitu kelu.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Dayang merogoh saku jaketnya.

Dengan seluruh sisa tenaga dan amarah yang membakar dadanya, ia melemparkan pin emas perak itu tepat ke dada Rimba.

Tuk!

Pin bergengsi itu mengenai jas mahal Rimba lalu jatuh berdentang di atas lantai marmer yang mengkilap.

"Jelaskan sama aku," suara Dayang bergetar hebat, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes deras membasahi pipinya.

"Jelaskan, siapa Bima yang selama ini tidur di rumah kayuku?! Siapa pria yang bantuin aku di pasar, yang makan nasi goreng sama aku, yang cium aku semalam?!"

Rimba mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa bersalah yang teramat dalam menyergap dadanya bagai hantaman batu besar, meremukkan seluruh dinding pertahanannya.

"Dayang, dengarkan aku dulu,"

Rimba melangkah maju satu langkah, hendak menyentuh jemari Dayang.

PLAK!!

Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Rimba.

Tamparan penuh keputusasaan yang memantulkan gema tajam di seluruh sudut ruangan megah itu.

Kepala Rimba tertoleh ke samping, namun ia sama sekali tidak berusaha menghindar atau membalas.

Ia hanya berdiri membisu dengan napas memburu.

"Apa semuanya cuma permainan bisnismu?!" seru Dayang meluapkan seluruh rasa sakit hati yang menyayat jiwanya.

"Apa seluruh rasa kasihanmu, perlindunganmu, dan kehangatanmu semalam cuma pura-pura? Cuma trik licik supaya aku mau tanda tangan kontrak pasokan ikan buat menyelamatkan pabrikmu?!"

Rimba tak mampu membela diri. Rasa bersalah yang begitu besar mengunci rapat tenggorokannya.

Ia tahu, apa pun alasan yang ia lontarkan tentang niat awalnya menyorot penyamaran itu tidak akan sanggup menghapus kenyataan bahwa ia telah membohongi gadis paling tulus yang pernah hadir dalam hidupnya.

Kebisuan Rimba menjadi jawaban paling membunuh bagi Dayang.

Hatinya resmi hancur berkeping-keping, meyakinkan dirinya bahwa selama ini ia hanyalah sebuah alat bisnis yang dimanfaatkan secara dingin oleh sang CEO.

Dayang menyapu air matanya dengan kasar menggunakan punggung jaketnya.

Ia menatap Rimba dengan sorot mata yang tak lagi memancarkan kehangatan—hanya ada kekecewaan yang teramat dalam.

"Jahat kamu, Bim." ucap Dayang lirih, suaranya parau dan bergetar.

"Selamat, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau."

Dayang membalikkan badannya tanpa menunggu balasan sepatah kata pun dari Rimba.

Dengan langkah tegap meski hatinya hancur membeku, Srikandi Pasar Matahari itu meninggalkan ruang kerja megah sang CEO, berjalan cepat menembus koridor tanpa memedulikan panggil pelan dari Dio.

Rimba mengejar Dayang tanpa peduli lagi pada martabat atau statusnya sebagai CEO.

Ia berlari kencang menembus koridor, melintasi area lobi, dan menerobos pintu kaca gedung Suryo Group dengan napas memburu.

"Dayang! Tunggu, Dayang!" teriak Rimba dengan suara parau.

Namun Dayang tak sudi berpaling. Dengan mata yang buram terhalang genangan air mata dan dada yang sesak luar biasa, Dayang menyambar helmnya, menyalakan mesin motor sport-nya, lalu memutar gas sejadi-jadinya meninggalkan pelataran gedung.

Motor itu melaju kencang, membelah padatnya arus lalu lintas kota.

Rimba yang baru tiba di depan pelataran hanya bisa membelalakkan mata, menyaksikan motor Dayang meluncur liar di persimpangan jalan utama.

Tiba-tiba, dari arah persimpangan samping, sebuah truk bermuatan berat melaju kencang menerobos lampu lalu lintas.

Dayang yang terselimuti emosi hebat tak sempat menginjak rem.

BRAKKK!!

Benturan dahsyat menggema hebat membelah keramaian kota.

Motor yang dikendarai Dayang terpental keras, terseret di atas aspal hingga menimbulkan percikan api sebelum akhirnya berhenti dalam kondisi hancur berantakan.

Tubuh Dayang terlempar beberapa meter dan tergeletak tak berdaya di tengah jalan.

Dunia Rimba serasa berhenti berputar seketika. Seluruh aliran darahnya membeku.

"DAYANG!!"

Jeritan histeris meluncur dari tenggorokan Rimba.

Sang CEO berlari bagai kesetanan menyeberangi jalan raya, membedah kerumunan orang yang mulai histeris, tanpa memedulikan bahaya lalu lintas di sekelilingnya.

Rimba memangku tubuh Dayang yang terkulai lemas di atas aspal dingin.

Darah segar mengalir dari pelipis gadis itu, membasahi kemeja sutra mahal yang dikenakan sang CEO.

Tangan Rimba bergetar hebat saat jemarinya menyentuh pipi Dayang yang pucat pasi, sementara napas gadis itu terasa begitu halus dan patah-patah.

"Dayang, buka matamu, Dayang! Jangan tinggalkan aku!" jerit Rimba, suaranya pecah dipenuhi rasa panik dan keputusasaan yang luar biasa.

Di tengah keriuhan kerumunan warga dan suars sirine yang memekakkan telinga, Dio datang melaju kencang menggunakan sedan hitam, memotong jalanan dan berhenti tepat di samping mereka. Dio melompat keluar dengan wajah pucat pasi.

"Pak Rimba! Cepat masukkan Mbak Dayang ke mobil! Saya sudah hubungi tim dokter spesialis di Rumah Sakit Utama Suryo!" seru Dio histeris.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rimba membopong tubuh Dayang dengan sisa sial kekuatannya, menyergap masuk ke dalam kabin belakang.

Ia merengkuh erat tubuh Dayang dalam pelukannya, menekan luka di kepala gadis itu menggunakan jas mahalnya yang kini ternoda merah pekat.

"Ngebut, Dio! Lebih cepat!" raung Rimba dari kursi belakang.

Mobil sedan itu melesat bagai kilat, membelah padatnya arus lalu lintas kota dengan klakson yang tak berhenti dibunyikan.

Setiap goncangan mobil membuat dada Rimba makin sesak.

Ia membenamkan wajahnya di rambut Dayang, membisikkan doa dan permohonan maaf berulang kali di antara isak tangisnya yang pecah.

Satu jam kemudian, mobil berhenti mendadak di depan pintu IGD VIP Rumah Sakit Utama Suryo.

Puluhan tenaga medis dan dokter spesialis yang sudah siap siaga langsung menyergap, memindahkan Dayang ke atas brankar pendorong dan mendorongnya masuk ke dalam ruang operasi darurat.

Lampu merah bertuliskan OP-IN PROGRESS menyala terang di atas pintu ruang operasi.

Rimba tersungkur di lantai koridor yang dingin. Kemeja mewahnya bersimbah darah Dayang, tangannya yang bernoda merah dipandangi dengan tatapan kosong dan bergetar hebat.

Pria yang biasanya mampu mengendalikan pergerakan saham dan bisnis triliunan rupiah itu kini tampak benar-benar hancur dan tak berdaya.

"Pak Rimba," Dio mendekat pelan, menyodorkan telepon genggamnya yang terus berdering.

"Telepon dari Bang Jaka dan bintang kalau mreka sudah mendengar kabar kecelakaan ini."

Rimba perlahan mendongak, matanya yang merah dan basah menatap layar ponsel itu dengan rasa bersalah yang makin menghujat jiwanya.

Langkah kaki yang tergesa-gesa memantul keras di sepanjang koridor rumah sakit yang dingin dan hening.

Bintang berlari dengan napas memburu, air mata tak berhenti mengalir membasahi pipi dan seragam SMA yang masih melekat di tubuhnya.

Di belakangnya, Bang Jaka menyusul dengan wajah tegang dan garis bibir yang terkatup rapat.

Begitu sampai di depan pintu ruang operasi, Bintang mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak lebar.

Pria tegap yang berdiri mematung di depan pintu ruang operasi dengan kemeja mahal bersimbah darah itu—pria yang dikawal ketat oleh Dio dan beberapa pengawal berjas hitam—sangat dikenalnya. Wajahnya, postur tubuhnya, garis rahangnya, itu adalah Mas Bima.

Namun, tidak ada lagi pakaian usang kuli panggul yang biasa melekat padanya.

Pria itu kini dikelilingi kemewahan dan rasa hormat yang mutlak dari staf rumah sakit ternama ini.

"Mas Bima?" panggil Bintang dengan suara bergetar dan parau.

Rimba perlahan memalingkan wajahnya. Matanya yang merah dan menyiratkan rasa sakit yang amat dalam menatap Bintang.

Pria itu melangkah mendekat, namun lidahnya terasa terlalu kufur untuk mengucap sepatah kata pun.

"Pak Rimba Suryo," sela Bang Jaka dengan suara berat dan dingin, menatap Rimba dengan sorot mata yang penuh amarah sekaligus ketidakpercayaan.

Bang Jaka baru menyadari kalau lelaki yang biasa Dayang ajak adalah pimpinan Suryo grup.

Bintang melangkah mundur satu tapak, dadanya naik-turun menahan guncangan hebat.

"Rimba Suryo? CEO Suryo Group?"

Tatapan Bintang beralih dari wajah Rimba ke arah Dio yang menunduk dalam, lalu kembali menatap Rimba.

Teka-teki tentang kepergian Bima yang tiba-tiba, alasan pakaian barunya dibawa pergi, hingga kehancuran hati kakaknya sebelum kecelakaan itu terjadi seketika terangkai utuh di dalam kepala Bintang.

"Jadi selama ini, Mas Bima itu bos besar?" tangis Bintang pecah, suaranya melengking menembus kesunyian koridor.

"Mas Bima cuma pura-pura jadi kuli di pasar kami?! Mas Bima bohongin Mbak Dayang?!"

"Bintang, dengarkan Mas." suara Rimba terdengar amat serak.

Ia mencoba melangkah mendekati Bintang dengan tangan gemetar.

"Mas bisa jelaskan—"

"Jangan sentuh aku!" jerit Bintang histeris seraya menepis tangan Rimba.

"Mbak Dayang bela-belain Mas Bima! Mbak Dayang nangis seharian karena nyangka Mas Bima pergi gara-gara dia! Tapi ternyata Mas cuma pembohong yang manfaatin Mbak Dayang!"

Bang Jaka langsung pasang badan, merengkuh bahu Bintang yang berguncang hebat dan menatap Rimba dengan tatapan menusuk.

"Cukup, Pak Rimba. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Dayang di dalam sana, saya sendiri yang bakal menuntut Anda."

Rimba mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih.

Ia tak membalas, tak membela diri sedikit pun. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu keras hingga membuatnya sulit untuk bernapas.

Pria itu hanya bisa berdiri membisu, menatap pintu ruang operasi yang masih menyala merah dengan hati yang hancur berkeping-keping.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!