Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 — Penolakan Lukman
.
Malam itu juga, setelah membersihkan diri dan mengisi perutnya, Arsen berangkat ke rumah mertuanya. Ia sudah menyiapkan penjelasan lengkap soal kondisi Wijaya Group, termasuk laporan keuangan dan rencana pemulihan yang menurutnya masih memungkinkan perusahaan untuk bangkit kembali. Ia tidak ingin terlihat seperti orang yang datang hanya memohon belas kasihan.
Sesampainya di sana, seorang pelayan menyambutnya dan mempersilahkannya masuk ke ruang tengah di mana Lukman, Selina dan Clarissa sudah menunggu.
“Selamat malam, Ayah, Ibu," saoa Arsen ramah.
"Duduklah, Arsen.” Lukman mengangguk seraya menunjuk sofa yang berseberangan dengannya.
Arsen mengangguk lalu duduk dan meletakkan tas kerjanya di sofa di sampingnya dengan sedikit rasa kecewa karena Clarissa bahkan tidak menyambut kedatangannya dengan hangat. Istrinya itu hanya duduk diam di samping ibunya. Entah kemana perginya sikap hangat wanita itu yang dulu sering ia lihat saat mereka belum menikah. Namun, Arsen mencoba mengabaikan semua itu. Mungkin saja Clarissa sedang tidak mood.
"Maaf kalau kedatangan saya merepotkan, Ayah. Saya ke sini ingin membicarakan kemungkinan kerja sama investasi antara Halim Group dan Wijaya Group."
Lukman bersandar dengan menyilangkan tangan di depan dada. "Clarissa sudah menceritakan sedikit soal keadaan perusahaanmu. Tapi saya ingin mendengarnya langsung darimu."
Arsen pun menjelaskan satu per satu kendala yang sedang dihadapi. Ia jujur mengakui bahwa kekalahan tender besar itu membuat beberapa mitra mulai ragu, tapi ia juga menjelaskan bahwa perusahaan masih punya aset dan proyek yang bisa diandalkan untuk bangkit kembali.
"Yang kami butuhkan saat ini adalah dukungan modal supaya operasional tetap berjalan sambil menunggu pembayaran masuk dari beberapa proyek yang sedang berjalan," jelasnya. "Kalau Halim Group bersedia masuk sebagai investor, saya siapkan skema pengembalian yang saling menguntungkan."
Lukman mendengarkan dengan tenang, sesekali melirik dokumen yang disodorkan Arsen, tapi ekspresinya sulit dibaca.
"Berapa dana yang kamu butuhkan?" tanyanya setelah Arsen selesai berbicara.
Arsen menyebutkan jumlah yang sudah ia hitung dengan cermat. Ia sengaja tidak meminta berlebihan, berharap angkanya masih masuk akal bagi keluarga Halim.
Namun bukannya menjawab, Lukman justru menutup berkas di depannya seraya menghela nafas berat.
"Angka itu tidak kecil, Arsen."
"Saya mengerti, Ayah. Itulah sebabnya saya datang membawa rencana yang jelas. Saya tidak meminta Halim Group menanggung semua risiko. Kita bisa buat perjanjian yang melindungi kepentingan kedua belah pihak."
"Bukan soal perjanjiannya." Lukman kembali menghela napas. "Saat ini dana perusahaan sudah teralokasi untuk proyek-proyek yang sedang berjalan. Beberapa pembayaran dari mitra juga belum sepenuhnya masuk."
Arsen menatapnya lebih lekat. "Kalau begitu, apakah mungkin jika investasinya dilakukan bertahap? Kami tidak butuh semuanya sekaligus."
Lukman terdiam sejenak. Ia tahu Arsen sedang berusaha mencari celah dari setiap alasannya. Tapi ia juga tidak bisa membuka keadaan sebenarnya. Dalam hatinya ia ingin mengumpat, ingin dapat menantu kaya malah belum-belum sudah mau merepotkan. Ya walaupun dibungkus dalam bentuk investasi. Tapi siapa yang mau ambil resiko menanam modal di perusahaan yang sudah sekarat?
"Saya belum bisa ambil keputusan malam ini," katanya akhirnya. "Usulan seperti ini harus dibahas dulu dengan direksi. Saya juga perlu cek kembali posisi keuangan perusahaan kita."
Arsen berusaha tetap tenang. "Berapa lama kira-kira waktu yang dibutuhkan, Ayah?"
"Saya belum bisa pastikan."
"Tapi perusahaan kami butuh keputusan secepat mungkin."
"Saya paham keadaannya, Arsen. Tapi saya juga punya tanggung jawab kepada perusahaan dan pemegang saham. Saya tidak bisa pakai dana perusahaan hanya karena kita punya hubungan keluarga."
Kata-kata itu membuat Arsen terdiam. Alasan Lukman memang tidak salah. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia berharap ikatan keluarga akan membuat pria itu sedikit lebih lunak.
"Kalau belum bisa dalam bentuk investasi, mungkin bisa dalam bentuk pinjaman jangka pendek?" tanyanya lagi. "Kami bisa berikan jaminan aset."
Lukman menggeleng pelan. "Saat ini saya belum bisa menjanjikan apa pun. Saya tidak ingin memberi harapan yang pada akhirnya tidak bisa saya tepati."
Jawaban itu memang terdengar halus, tapi tetap saja intinya dia sudah ditolak.
Clarissa yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. "Ayah, setidaknya pertimbangkan sebagian saja. Arsen sudah siapkan rencana pemulihannya dengan matang."
Wajah Arsen yang awalnya terlihat muram kembali penuh harap. Mungkin jika istrinya yang bicara ayah mertuanya akan luluh. Tapi…
"Clarissa, Ayah tidak bilang usulannya buruk. Ayah cuma bilang keuangan kita belum memungkinkan untuk membantu."
Jawaban yang ia dengar tak sesuai harapan. Arsen menutup kembali dokumennya. Ia masih berusaha tersenyum, walau harapannya benar-benar telah pupus.
"Baik, Ayah. Saya mengerti. Kalau sudah ada keputusan, saya mohon kabari sesegera mungkin."
"Tentu.” Lukman mengangguk. "Saya akan hubungi kamu begitu ada perkembangan."
Arsen berdiri, diikuti Clarissa. Lukman ikut bangkit, menjabat tangan menantunya, lalu mengantar mereka sampai ke pintu ruangan.
Tidak ada janji, tidak ada kepastian, hanya kata-kata sopan yang membuat Arsen harus pulang dengan tangan kosong.
Di dalam mobil, Arsen tidak langsung menyalakan mesin. Ia duduk memegang kemudi, menatap keluarga Halim yang berdiri di teras melepas kepergiannya. Ia merasa dipermalukan, meskipun Lukman sama sekali tidak berkata kasar. Tak hanya itu, ia seperti orang asing di rumah mertuanya. Ibu mertuanya bahkan tidak ada basa basi sedikitpun menawarkan menginap atau setidaknya makan malam.
Akhirnya Arsen menyalakan mesin dan melaju meninggalkan kediaman itu. Ia pulang sendirian karena Clarissa mengatakan ingin menginap di rumah orang tuanya malam itu dan berjanji akan pulang keesokan harinya.
Sepanjang jalan, pikirannya kembali campur aduk. Semua orang yang ia temui punya alasan berbeda, tapi ujungnya sama. PENOLAKAN. Arsen menarik nafas guna melonggarkan dadanya yang terasa sesak. Nama besar yang dulu selalu ia banggakan kini tidak lagi bisa diandalkan.
……
"Ayah sudah lihat, kan?" tanya Clarissa setelah mobil Arsen menghilang dari pandangan.
Lukman menoleh sebentar menatap putrinya sebelum kemudian masuk ke dalam rumah diikuti oleh anak dan istrinya. Sesampainya kembali ke ruang tengah, Lukman menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Begitupun dengan Selina dan Clarissa yang ikut duduk tak jauh darinya.
"Dasar sial!” maki Lukman tertuju pada Arsen. "Kalau tahu akan begini, dulu kita terima lamaran Tuan Muda Santoso saja," ucapnya sambil memukul sofa dengan kepalan tangannya.
Selina yang semula duduk berdampingan dengan Clarissa mendekati ke arah suaminya dan memegang lengan pria itu. “Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
“Ya mau gimana lagi?" jawab Lukman kesal. “Kita lanjut rencana dua. Tapi tunggu dulu beberapa hari. Kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh Arsen."
“Aku setuju, Ayah." Clarissa tersenyum cerah. “Tuan muda Santoso Memang tidak setampan Arsen. Tapi dia jauh lebih kaya."
Soryyyy yeee......😛😛😛