Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 : KEPUTUSAN DI LANTAI EKSEKUTIF
Nama itu masih menggantung di udara lembap ruang bawah tanah, berat dan mematikan.
Direktur Wang.
Shen Mo tidak langsung berteriak. Ia tidak memukul meja atau melepaskan tembakan peringatan ke udara seperti bos mafia murahan di film-film jalanan. Pria itu justru terdiam kaku, menatap lurus ke depan dengan tatapan yang semakin gelap. Otot di rahangnya berkedut sekali, dua kali, menandakan badai amarah yang ditekan rapat-rapat di balik dada bidangnya.
Wang adalah orang tua angkatan pertama. Pria paruh baya itu berdiri di sisi ayah angkatnya saat Crown Tower masih berupa barak kumuh di pelabuhan selatan, jauh sebelum sindikat ini menjelma menjadi benteng raksasa berlantai enam puluh. Mengkhianati organisasi adalah satu hal; tetapi mengkhianati kepercayaan yang telah dibangun selama puluhan tahun adalah dosa yang tidak bisa diampuni dengan kematian biasa.
"Bawa dia ke sel isolasi," perintah Shen Mo akhirnya, suaranya rendah, nyaris seperti desisan angin dingin. "Jangan biarkan siapa pun mendekatinya, apalagi memberinya kesempatan bunuh diri."
"Baik, Tuan!"
Dua pengawal langsung bergerak sigap. Mereka mencengkeram lengan Zhang Wei yang sudah lemas tak berdaya, menyeret pria itu keluar dari ruangan melalui pintu besi berat. Tangisan dan permohonan ampun Zhang Wei perlahan memudar di sepanjang lorong semen, ditelan kesunyian lantai minus tiga.
Kini, di dalam ruangan interogasi yang hanya diterangi satu lampu gantung itu, tinggal Shen Mo dan Luo Chen.
Chen tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Tangannya masih berada di dalam saku jaket hoodie hitamnya. Matanya yang jernih menatap Shen Mo lekat-lekat, membaca setiap perubahan ekspresi di wajah pria dewasa itu.
"Kamu terkejut?" suara Chen terdengar datar, memecah kesunyian.
Shen Mo mendongak. Ia menatap bocah sepuluh tahun di hadapannya, lalu menghela napas kasar—suara napas berat seorang pemimpin yang baru saja mendapati fondasi kerajaannya mulai keropos dari dalam.
"Wang bukan orang sembarangan, Chen," jawab Shen Mo jujur, nada suaranya menyiratkan beban masa lalu. "Dia memegang kendali atas seluruh arus kas legal dan ilegal Crown Tower selama dua puluh tahun. Kalau kita bergerak gegabah menangkapnya sekarang, seluruh sistem keuangan kita bisa lumpuh dalam semalam sebelum kita sempat membekukan aset-asetnya."
"Dia butuh waktu untuk mencuci uang itu lewat rekening luar negeri," potong Chen cepat, nada bicaranya menunjukkan kalkulasi dingin yang tidak kenal takut. "Orang tua seperti Direktur Wang tidak akan menyimpan bukti transaksi penyelewengan di server kantor. Dia pasti menyimpannya di brankas pribadi atau membaginya ke beberapa perusahaan cangkang (shell company) atas nama keluarganya."
Shen Mo menyipitkan mata, kembali dibuat kagum oleh cara kerja otak bocah di depannya. "Dan bagaimana cara kita menemukannya sebelum dia sadar kalau Zhang Wei sudah bernyanyi?"
Chen menarik tangannya dari saku jaket. Ia melangkah mendekati meja besi, menatap pistol hitam yang tadi diletakkan Shen Mo, lalu mendongak menatap lurus ke mata sang penguasa mafia.
"Kita tidak menyerangnya secara fisik," ucap Chen dingin. "Kita potong jalur oksigennya."
Shen Mo terdiam. "Maksudmu?"
"Kirim tim audit independen ke seluruh anak perusahaan yang dipegang oleh keluarga Wang sore ini juga," jelas Chen tanpa ragu. "Bukan untuk menangkapnya, tapi untuk membekukan seluruh akses transaksinya dengan alasan audit darurat pajak. Kalau dia merasa terpojok, dia pasti akan mencoba menghubungi seseorang di luar Crown Tower untuk melarikan diri."
Chen berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan senyuman tipis yang sinis:
"Dan di saat itulah, kita tangkap dia basah-basah."
Shen Mo menatap bocah sepuluh tahun itu lama sekali. Di bawah cahaya lampu temaram ruangan bawah tanah, bayangan masa lalu dan masa depan seolah bergesekan. Bocah ini tidak hanya menuntut keadilan untuk ibunya; ia sedang menyiapkan strategi perang kelas para petinggi sindikat.
Pria dewasa itu akhirnya berdiri. Ia merapikan ujung kemejanya, lalu mengulurkan tangan kanannya yang kokoh, mendaratkan telapak tangannya di atas kepala Chen—mengusap rambut hitam bocah itu dengan gerakan yang tidak pernah ia lakukan kepada siapa pun semasa hidupnya.
"Baik," ucap Shen Mo tegas, sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis penuh keyakinan. "Kita mainkan permainan orang dewasa ini."