Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara di Kamar Eksklusif
Victor tersenyum miring, sebuah senyuman penuh kuasa yang membuat pesona pria itu berkali-kali lipat lebih berbahaya. Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, tangan besar Victor yang hangat terulur, menyentuh lembut rahang Freya, memiringkan wajah gadis itu sedikit ke atas agar ia bisa menikmati sepenuhnya ekspresi tak berdaya di wajah manis tersebut. Ibu jari Victor mengusap pelan bibir bawah Freya yang sedikit terbuka, merasakan kelembutan yang kontras dengan ketegasan garis wajah sang konglomerat.
"Malam ini, jangan pikirkan apa pun selain aku," bisik Victor tepat di depan bibir Freya, sebelum akhirnya ia menyambar bibir itu dalam sebuah ciuman yang langsung membakar sisa-sisa kewarasan mereka berdua.
Ciuman itu bukan lagi ciuman ragu-ragu seperti di lorong klub tadi; ciuman ini menuntut, dalam, dan sarat akan gairah yang telah tertahan begitu lama. Victor memagut bibir Freya dengan ritme yang dominan, melumat bibir atas dan bawah gadis itu bergantian sementara lidahnya memaksa masuk untuk mengeksplorasi setiap inci rongga mulut Freya yang manis. Freya terkesiap, mengeluarkan suara lenguhan tertahan—"Nghh..."—yang langsung tenggelam di dalam ciuman panas sang pria.
Tubuh Freya lemas seketika. Kedua tangan kecilnya yang tadinya mencengkram seprai kini secara tidak sadar terangkat, merambat naik dan melingkar erat di leher Victor, mencengkram kemeja pria itu dengan kuat untuk mencari pegangan di tengah dunia yang kembali terasa berputar hebat, namun kali ini bukan karena alkohol, melainkan karena ledakan sensasi asing yang membanjiri sarafnya.
Victor memperdalam ciumannya, sebelah tangannya yang bebas kini turun meraba pinggang ramping Freya, menarik tubuh gadis itu agar semakin merapat tanpa ada celah sedikit pun menempel pada dada bidangnya. Gesekan antara tubuh mereka yang berpakaian tipis menciptakan sengatan listrik yang membuat Victor mengerang tertahan di dalam ciuman mereka. Gerangan kecil dari pinggul Victor yang mendesak maju membuat Freya mendesis pelan, punggungnya melengkung ke belakang karena terkejut sekaligus terbuai oleh intensitas kontak fisik tersebut.
"Victor..." rintih Freya di sela-sela ciuman mereka saat Victor akhirnya memberi jeda bagi paru-paru mereka untuk menghirup oksigen. Bibir Freya tampak bengkak dan merah basah, matanya sayu menatap penuh permohonan ke arah sepasang mata kelam Victor yang menyala tajam.
Victor tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengecup sekilas sudut bibir Freya, lalu turun mencium rahang, menelusuri leher jenjang Freya yang berkulit putih bersih, meninggalkan jejak-jejak ciuman basah yang panas di sana. Napas Victor yang memburu menerpa kulit leher sensitif Freya, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya semakin ke belakang, membiarkan sang pria leluasa mengeksplorasi area yang membuat pertahanan dirinya runtuh seketika.
"Ah... st-hentikan... leherku..." desah Freya tertahan, jemarinya semakin erat mencengkram rambut pendek Victor, menarik helai-helai rambut itu secara refleks setiap kali bibir hangat Victor menghisap kulit lehernya dengan sedikit gigitan kecil yang mengirimkan gelombang kenikmatan luar biasa ke seluruh tubuhnya.
Gairah di dalam diri Victor sudah mencapai titik didih yang sulit dikendalikan. Tangannya yang kekar bergerak cepat membuka sisa kancing blus yang dikenakan Freya, menyingkap pakaian itu hingga terbuka lebar dan memperlihatkan pakaian dalam berenda tipis yang membalut tubuh indah Freya. Pemandangan di hadapannya membuat mata Victor menggelap seketika. Kulit putih mulus tanpa cela, lekuk tubuh yang proporsional, serta napas Freya yang naik turun dengan cepat akibat rangsangan membuat akal sehat Victor benar-benar menguap.
"Kau sangat indah, Freya... Tuhan, kau benar-benar membuatku gila," suara Victor berubah serak, nyaris berupa geraman rendah yang sarat akan nafsu murni seorang pria dewasa yang dikuasai hasrat.
Victor menangkup sebelah payudara Freya yang terbalut kain tipis, meremasnya dengan tekanan pas yang membuat Freya langsung melengkingkan suara—"Ahh! Victor..."—punggungnya terangkat dari kasur karena terkejut oleh gelombang kenikmatan yang mendadak menghantam dada bagian atasnya. Sentuhan tangan besar Victor yang kasar namun penuh keahlian membuat puting di balik kain itu mengeras seketika, memicu reaksi beruntun di sekujur tubuh Freya yang langsung meremang hebat.
Victor tidak membuang waktu lagi. Ia menyingkirkan sisa pakaian yang menghalangi tubuh mereka, membiarkan tubuh atletisnya yang panas menindih tubuh mungil Freya di atas tempat tidur. Sentuhan kulit bertemu kulit menciptakan percikan api yang membakar semakin hebat. Ruangan kamar itu kini dipenuhi oleh suara napas yang berkejaran, desahan-desahan putus asa yang lolos dari bibir Freya, serta geraman-geraman rendah penuh kepuasan dari tenggorokan Victor.
Saat mereka akhirnya menyatu dalam keintiman yang sesungguhnya, sebuah jeritan tertahan lolos dari bibir Freya. Rasa penuh dan sesak yang mendadak mendera tubuh bagian bawahnya membuat Freya mencengkeram bahu bidang Victor dengan begitu kuat hingga kuku-kukunya meninggalkan bekas kemerahan di kulit punggung pria itu. Victor berhenti sejenak, membiarkan tubuh Freya beradaptasi dengan ukuran dan kehadirannya, sementara kening Victor bersandar di kening Freya, butiran keringat halus membasahi pelipis kedua orang itu.
"Tarik napas, sweetheart... rileks, aku di sini," bisik Victor dengan suara paling lembut yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya, sementara bibirnya mengecup kelopak mata Freya yang terpejam rapat menahan gejolak rasa di tubuhnya.
Perlahan tapi pasti, Victor mulai menggerakkan pinggulnya. Ritme awal yang lambat dan penuh kehati-hatian itu lama-kelamaan berubah semakin cepat seiring dengan mulai meleburnya rasa sakit berganti dengan gelombang kenikmatan yang luar biasa dahsyat. Setiap dorongan Victor terasa begitu dalam, menghantam titik-titik sensitif di dalam diri Freya dan memaksa gadis itu mengeluarkan desahan panjang yang tidak lagi bisa ia tahan.
"Ahhh... Victor... s-sakit... tapi... ahhh..." keracunan kenikmatan membuat Freya meracau tak beraturan, kedua kakinya melingkar erat di pinggang Victor, menarik pria itu semakin dalam ke dalam dunianya.
Victor menggeram rendah, gerakannya semakin liar dan tak terbendung. Suara hantaman kulit yang bergesekan diiringi erangan berat Victor dan lenguhan tinggi Freya menggema memenuhi penjuru kamar pribadi tersebut. Victor menangkup wajah Freya, memaksa gadis itu menatap matanya saat ia memberikan dorongan-dorongan pamungkas yang bertenaga. Di dalam tatapan mata Victor, Freya melihat nyala api kepemilikan yang begitu kuat—sebuah tanda bahwa malam ini, ia bukan lagi sekadar gadis asing yang ditolong di klub malam, melainkan pusat dari seluruh gairah sang konglomerat Amsterdam.
Gelombang klimaks itu akhirnya menghantam mereka berdua secara bersamaan dengan kekuatan yang mematikan. Freya menjerit tertahan, tubuhnya melengkung ke atas dengan mata terpejam erat saat ribuan sengatan kenikmatan meledak di perut bagian bawahnya, melumpuhkan seluruh ototnya dalam seketika. Menyusul detik berikutnya, Victor menggeram keras, suara baritonnya pecah di udara kamar saat ia melepaskan seluruh gairahnya jauh di dalam diri Freya, tubuh pria itu menegang kaku sebelum akhirnya melemas di atas tubuh Freya yang basah oleh keringat.
Untuk beberapa menit lamanya, tidak ada suara lain di dalam kamar itu selain deru napas mereka berdua yang berkejaran, mencoba mengembalikan detak jantung ke ritme normal setelah badai gairah yang baru saja mereda. Victor membenamkan wajahnya di lekuk leher Freya, mengecup lembut kulit yang masih merona merah itu, sementara tangannya dengan penuh perlindungan memeluk erat tubuh mungil Freya ke dalam dekapan dadanya, memastikan bahwa gadis di dalam pelukannya itu merasa aman dan tidak akan pernah ia lepaskan ke mana pun.