Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Kembaran yang Hilang dan Kembalinya Sang Bayangan
Kamar bernuansa abu-abu gelap itu mendadak terasa hampa udara.
Hanya terdengar suara napas Diana yang tersengal, menatap putranya dengan bola mata bergetar hebat.
Kantong plastik putih berisi obat-obatan tergeletak begitu saja di atas lantai marmer.
"F-Fian... kamu... dengar nama itu dari mana?" suara Diana nyaris seperti bisikan putus asa.
Wanita elegan itu memundurkan langkahnya satu tindak, seolah kata 'Sky' adalah mantra terlarang yang bisa menghancurkan dunia mereka.
Alfian menatap mamanya dengan rahang mengeras.
Kepalanya masih berdenyut nyeri, tapi rasa ingin tahunya jauh lebih kuat mengalahkan rasa sakit itu.
"Jawab pertanyaanku, Ma," desak Alfian dengan suara berat yang menuntut.
"Tiap kali aku dengar cewek itu nyebut nama Sky, kepalaku rasanya mau pecah. Siapa Sky, Ma? Siapa anak kecil yang nangis di ingatanku?!"
Diana menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Air mata yang selama bertahun-tahun ia bendung akhirnya jatuh membasahi pipinya yang ber- makeup tipis.
Melihat mamanya menangis, benteng kemarahan Alfian sedikit runtuh.
Ia berusaha bangkit untuk duduk bersandar pada kepala ranjang, menahan pening yang luar biasa.
"Ma... tolong," mohon Alfian, kali ini suaranya terdengar jauh lebih rapuh.
"Aku ngerasa kayak orang gila karena punya memori yang setengah-setengah."
Diana menarik napas panjang dengan susah payah.
Wanita itu memungut kantong obatnya, lalu kembali duduk di tepi kasur.
Tangan gemetarnya terulur, menggenggam erat tangan Alfian yang terasa sangat panas.
"Kamu nggak gila, Sayang. Mama yang salah... kami semua yang salah karena nyembunyiin ini dari kamu," isak Diana pelan.
Alfian mengerutkan kening. "Nyembunyiin apa?"
Diana menatap mata hitam legam putranya lekat-lekat.
"Sky... itu bukan kamu, Fian. Itu bukan teman masa kecilmu," ucap Tante Diana lirih.
"Sky... adalah panggilan sayang dari seorang anak perempuan untuk saudara kembarmu. Alfino."
Deg.
Jantung Alfian seakan berhenti berdetak.
Matanya membelalak lebar, otaknya menolak memproses kalimat yang baru saja diucapkan mamanya.
"Saudara... kembar?" ulang Alfian dengan suara hampa.
"Aku... punya kembaran?"
Diana mengangguk pelan, air matanya semakin deras mengalir.
"Waktu kalian umur sembilan tahun, Fino harus tinggal sama Nenek di desa karena asma bawaannya kumat parah di kota. Di sana, Fino punya sahabat perempuan yang selalu manggil dia Sky."
Alfian mematung.
Pohon mangga. Bandul bintang. Suara anak kecil.
Semua memori yang terus-menerus diteriakkan Amira kini menemukan kepingan puzzle-nya.
Amira tidak gila. Amira tidak berhalusinasi.
Gadis itu hanya sedang mencari Alfino di dalam diri Alfian, karena wajah mereka pasti sama persis.
"Terus... Fino sekarang di mana, Ma? Kenapa aku sama sekali nggak ingat dia?" tanya Alfian dengan dada sesak.
"Kecelakaan itu, Fian," bisik Tante Diana pilu.
"Waktu kita sekeluarga jemput Fino di desa, mobil kita ditabrak truk dari arah berlawanan. Kamu duduk di kursi belakang sama Fino."
Diana menunduk, tak sanggup menatap wajah putranya.
"Fino luka parah, koma berminggu-minggu. Sedangkan kamu... benturan di kepala kamu bikin kamu trauma berat."
"Dokter bilang memori kamu tentang Fino dan kejadian di desa itu terblokir secara psikologis. Kalau kami paksa kamu ingat, saraf otakmu bisa rusak."
Alfian menekan pelipisnya kuat-kuat.
Rasa sakit itu datang lagi, tapi kali ini bersamaan dengan memori yang berkelebat sangat cepat.
Wajah seorang anak laki-laki yang tersenyum hangat memegang sebutir biji mangga. Anak laki-laki yang memiliki wajah sama persis dengannya.
"Fino... masih hidup?" tanya Alfian, suaranya nyaris hilang.
Diana mendongak, menyeka air matanya sambil mengukir senyum tipis yang luar biasa lega.
"Dia berhasil selamat, Fian. Setelah bertahun-tahun berobat di Singapura, dia akhirnya sembuh total."
Wanita itu meremas tangan Alfian dengan lembut.
"Dan besok... Fino akan pulang ke Indonesia. Dia akan mulai sekolah di SMA Dirgantara bareng kamu."
Boom!
Pernyataan itu menghantam dada Alfian telak.
Kelegaan karena memiliki saudara kembar yang selamat seketika berbaur dengan sebuah ketakutan baru yang jauh lebih mengerikan.
Fino adalah Sky.
Dan Sky adalah alasan utama Amira selalu menatapnya dengan penuh harap.
Jika Fino kembali... apakah Amira akan pergi meninggalkannya?
...***...
Keesokan paginya, langit SMA Dirgantara sangat cerah, berbanding terbalik dengan perasaan Amira yang kacau balau.
Gadis itu berjalan menyusuri koridor dengan langkah gontai.
Di dalam tasnya, ada hoodie hitam kebesaran milik Alfian yang sudah ia cuci bersih dan ia setrika sampai wangi semalaman.
"Kira-kira dia masuk nggak ya hari ini?" gumam Amira pelan.
Begitu sampai di kelas, Rara dan Maya langsung menyambutnya dengan wajah super heboh.
"Mir! Gila, Mir! Lo harus lihat ke depan ruang guru sekarang!" seru Maya sambil mengguncang-guncang bahu Amira.
"Hah? Ada apa sih? Alfian pingsan lagi?!" panik Amira refleks.
"Bukan! Ada anak baru! Pindahan dari luar negeri, tapi sumpah, mukanya bikin satu sekolah geger!" timpal Rara tak kalah antusias.
Amira mengerutkan keningnya. Anak baru?
Didorong rasa penasaran (dan tarikan paksa dari kedua temannya), Amira akhirnya ikut berlari keluar kelas menuju koridor depan ruang guru yang sudah disesaki murid-murid.
Suasana di sana sangat bising. Anak-anak cewek berbisik-bisik histeris sambil memegang ponsel mereka.
"Sumpah, itu Kak Alfian potong rambut kah?"
"Bukan! Seragamnya beda! Terus dia senyum, gila! Kapten kita mana pernah senyum seramah itu!"
Mendengar kasak-kusuk itu, jantung Amira mendadak berdegup kencang.
Dengan susah payah, ia menerobos kerumunan murid hingga berada di barisan paling depan.
Deg.
Langkah Amira terhenti total. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Di depan pintu ruang guru, berdiri seorang cowok jangkung mengenakan seragam SMA Dirgantara yang masih baru dan rapi.
Rambutnya tidak ditata berantakan seperti Alfian, melainkan sedikit lebih rapi dengan poni yang jatuh membingkai wajahnya.
Dan yang paling membedakan... cowok itu sedang tersenyum.
Senyum yang sangat hangat, ramah, dan memancarkan aura green flag yang menyilaukan.
Namun, wajahnya... wajahnya sama persis dengan Alfian Pratama bagai pinang dibelah dua.
Cowok itu sedang memegang selembar kertas formulir, pandangannya menyapu kerumunan murid dengan ramah.
Hingga akhirnya, tatapan cowok itu tak sengaja bertemu dengan mata bulat Amira.
Gerakan cowok itu terhenti.
Senyum di wajah tampannya memudar sesaat, digantikan oleh raut terkejut yang luar biasa nyata.
Mata cowok itu terpaku pada bandul bintang keemasan yang mengintip dari balik kerah seragam Amira.
Tanpa mempedulikan bisik-bisik murid lain, cowok itu melangkah maju membelah kerumunan, berjalan lurus tepat ke arah Amira.
Aroma yang menguar dari cowok itu bukanlah mint maskulin yang kuat, melainkan aroma vanilla dan kayu manis yang sangat lembut.
Cowok itu berhenti tepat satu langkah di depan Amira.
Matanya yang teduh menatap lekat ke dalam mata Amira yang sudah berkaca-kaca.
"Lily...?" panggil cowok itu dengan suara bariton yang tak kalah berat dari Alfian, namun nadanya terdengar luar biasa hangat.
Air mata Amira langsung menetes tanpa bisa ia cegah.
Satu kata itu. Panggilan itu. Nada bicara itu.
"S-Sky...?" balas Amira dengan bibir bergetar hebat.
Cowok itu mengukir senyum yang paling indah yang pernah Amira lihat. Senyum yang selama ini selalu menghantui mimpinya.
Cowok itu mengangkat tangannya perlahan, lalu mengusap ujung kepala Amira dengan gerakan yang sangat familiar.
"Biji mangga di belakang rumah Nenek... udah tumbuh belum, Lily?" tanya cowok itu lembut.
Pertahanan Amira hancur lebur.
Itu dia. Alfino. Sang Sky yang asli akhirnya berdiri di hadapannya.
Amira nyaris saja menghambur memeluk cowok itu, menuntaskan kerinduan masa kecilnya yang tersiksa bertahun-tahun.
Namun, sebelum hal itu terjadi, sebuah lengan kekar melingkar kuat di pinggang Amira dari arah belakang, menarik gadis itu mundur dengan posesif.
Grep.
Aroma mint yang tajam dan familiar langsung menyerbu penciuman Amira, mengalahkan aroma vanilla di sekitarnya.
Amira mendongak kaget.
Alfian berdiri di belakangnya. Wajah kapten basket itu masih sedikit pucat, namun rahangnya mengeras dengan kilatan amarah murni.
Tatapan tajam bak elang milik Alfian beradu langsung dengan tatapan teduh namun tak gentar milik Alfino.
Dua saudara kembar itu akhirnya bertatap muka, mengapit Amira di tengah-tengah badai yang baru saja dimulai.
"Jangan sentuh cewek gue, Fino," desis Alfian rendah, mempererat pelukannya di pinggang Amira.
Fino tidak mundur. Cowok itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap saudara kembarnya dengan senyum yang tak pudar, namun auranya perlahan berubah menantang.
"Cewek lo?" ulang Fino tenang.
Mata Fino beralih menatap Amira dengan penuh keyakinan.
"Maaf, Fian. Tapi Lily udah jadi milik gue jauh sebelum lo kenal siapa dia."