Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Jawaban Rahasia
Vanya berdiri di ambang pintu, memegang amplop cokelat tebal dengan raut agak canggung pas nyadar acara keluarga besar lagi berlangsung.
"Eh, Vanya! Masuk, Van!" Om Heru langsung berdiri dari kursinya, memecah kecanggungan yang sempat mampir semenit. "Wah, makasih ya udah dianterin malam-malam gini. Papa kamu gak ikut?"
"Nggak, Om. Papa lagi ada tamu di rumah," jawab Vanya sopan sambil menyerahkan amplop itu. Matanya sempat melirik ke arah gue dan Kian sekilas, tapi kali ini gak ada binar-binar godaan atau tatapan permusuhan. Murni cuma tatapan segan.
Gue yang tadinya sempat tegang dan mau memasang mode defense, mendadak teringat penjelasan Kian di warung bubur waktu itu, Vanya ini sepupunya Bima yang lagi ada masalah sama mantannya yang toksik.
"Vanya udah makan belum? Sini gabung sekalian," tawar Tante Maya ramah banget, tipikal ibu-ibu kompleks yang gak bakal membiarkan tamu pulang dengan perut kosong.
"Gak usah, Tante. Vanya langsung pulang aja, tadi diantar Bima di depan," tolak Vanya halus. Sebelum berbalik, dia nengok ke Kian. "Kian, makasih ya soal yang kemarin lusa."
Kian mengangguk singkat, ekspresinya tenang banget. "Sip. Santai aja, Van. Kalau mantannya masih ganggu, suruh Bima kontak gue lagi."
"Oke. Gue pamit ya. Mari Tante, Om... Elora," Vanya tersenyum manis banget ke arah gue sebelum berbalik pergi.
Gue kedip-kedip mata. Tunggu, dia nyebut nama gue?
Begitu sosok Vanya menghilang di balik pintu depan, Tante Maya langsung nyenggol lengan Om Heru sambil berbisik yang sayangnya kedengaran ke seluruh penjuru ruangan. "Tuh kan, Pa! Apa Mama bilang? Kian tuh anak baik-baik, bantu temennya doang. Elora gak usah cemburu ya, Nak!"
UHUK!
Gue yang baru mau minum air putih langsung tersedak untuk kedua kalinya dalam minggu ini.
"Ma, apaan sih," potong Kian cepat. Mukanya yang biasa tenang mendadak menyembulkan warna merah di area pipi. "Elora gak cemburu kok!"
"Lah, siapa yang bilang Elora cemburu? Mama kan cuma bilang biar Elora gak kepikiran," goda Tante Maya sambil tertawa renyah. "Tapi kok kamu yang panik, Ki? Muka kamu merah tuh sampai ke telinga!"
"Ciee! Kian salting dicemburuin! Cieee!" Danang dan para sepupu langsung bersorak berjamaah sambil menepuk-nepuk meja.
Gue menoleh ke samping. Dan benar aja, telinga Kian beneran merah padam! Cowok yang biasanya punya benteng gengsi setebal tembok Berlin itu sekarang lagi mengusap leher belakangnya dengan raut serba salah.
Melihat pemandangan langka itu, rasa cemas dan gelisah di dada gue perlahan luluh, berganti jadi rasa gemas yang bikin bibir gue reflek tersenyum.
Gue memiringkan tubuh sedikit ke arah Kian, menopang dagu pakai tangan kanan, lalu berbisik dengan nada paling tengil yang gue punya. "Ciee... Calon Suami kok mukanya merah gitu? Beneran salting nih dicemburuin sama gue?"
Kian menoleh lambat ke arah gue. Matanya menyempit, menatap gue tajam tapi gak ada hawa dingin lagi di sana. Cuma ada rasa gemas yang tertahan.
Dia mendekatkan wajahnya ke telinga gue, berbisik halus sampai hembusan napas hangatnya menyapu kulit leher gue, "lu mau gue bikin salting juga? Mau tiba-tiba gue cium di depan semua orang?."
Gue langsung menegakkan punggung, menarik tubuh gue menjauh, dan kembali sibuk menunduk menatap piring nasi gue yang mendadak kelihatan sangat menarik. Omongan Kian barusan gue tau dia pasti berani ngelakuin beneran.
Tawa puas Kian terdengar meluncur pelan di sebelah gue.
Acara makan malam selesai sekitar jam sembilan malam. Setelah berpamitan sama seluruh keluarga besar yang tak henti-hentinya mendoakan kelancaran "masa 6 bulan" kami, Kian mengantar gue pulang.
Di dalam mobil, suasananya jauh lebih hangat dibanding pas berangkat tadi. Lagu jazz pelan mengalun dari audio mobil, beradu sama suara hujan gerimis yang baru turun membasahi kaca depan.
"Gimana tadi?" tanya Kian membuka percakapan, matanya fokus menatap jalanan yang agak basah. "Capek gak diceng-cengin?"
"Capek," jawab gue jujur sambil bersandar di jok. "Gue tadi udah hampir pura-pura pingsan biar gak ada yang ngajak ngobrol."
Kian terkekeh pelan.
Gue menoleh, memperhatikan profil samping wajah Kian dari remang-remang lampu jalanan. Garis rahangnya, hidungnya yang mancung, dan cara tangannya memegang setir mobil dengan santai.
"Ki," panggil gue pelan.
"Yup?"
"Kenapa lu seniat ini?" tanya gue, akhirnya menyuarakan pertanyaan yang mengganjal di kepala gue sepanjang malam. "Maksud gue... kalau ini cuma gara-gara lu tersinggung pas gue tolak di awal, lu bisa aja kan pura-pura pacaran ala kadarnya? Nggak perlu sampai beliin baju, perhatian di depan keluarga, terus meladenin godaan-godaan Tante Maya sejauh ini."
Kian menghentikan laju mobilnya karena lampu merah. Dia mengoper transmisi ke posisi netral, lalu memutar tubuhnya menghadap gue sepenuhnya.
Suasana di dalam mobil mendadak hening. Cuma ada suara rintik hujan dan ritme pembersih kaca yang bergerak ke kiri dan ke kanan.
Kian menatap mata gue lekat-lekat. Gak ada cengiran tengil, gak ada raut jahil. Cuma ada tatapan dalam dan jujur yang bikin dada gue berdesir hebat.
"Menurut lu, gue seniat ini cuma demi gengsi, Ra?" tanya Kian balik, suaranya tenang dan berat.
Gue menelan ludah. "Ya... kata lu gitu kemarin..."
Kian menghela napas panjang. Tangan kanannya terangkat, mengusap tengkuknya sendiri sebelum akhirnya bergerak mendekati wajah gue. Jarinya menyapu lembut beberapa helai rambut yang menutupi dahi gue.
"Gue emang kesal waktu lu langsung nolak gue di depan orang tua kita," kata Kian pelan, menatap lurus ke dalam bola mata gue. "Tapi alasannya bukan cuma karena gengsi gue jatuh, Elora."
"Terus?" bisik gue hampir tak terdengar.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil di belakang kami membunyikan klakson singkat.
Kian menarik tangannya kembali ke setir, menginjak pedal gas pelan, memutus tatapan magis itu.
"Nanti lu tahu sendiri," kata Kian dengan senyum tipis yang penuh rahasia. "Masih ada lima bulan tiga minggu lagi kan? Jangan buru-buru menyimpulkan, Calon."
Gue memalingkan wajah ke kaca samping, menyembunyikan senyuman dan wajah gue yang dipastikan udah semerah tomat. Kian sialan. Dia beneran tahu gimana caranya bikin benteng pertahanan gue hancur berkeping-keping.