Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garda Terdepan
Dari balik meja kecil bersudut gelap di lantai dua kafe bernuansa industrial itu, pandangan mata Reyhan Arkananta Wijaya tidak pernah benar-benar terlepas dari satu titik di lantai bawah.
Pria itu duduk menyendiri, memegang cangkir americano dingin yang es batu di dalamnya sudah lama mencair.
Kemeja hitam berlengan panjang yang dipakainya digulung rapi hingga siku, memamerkan jam tangan kulit hitam yang berdetik konstan.
Di balik lensa kacamatanya yang tipis, sorot mata Reyhan tampak begitu tenang, sejenis ketenangan membahayakan sebelum badai besar memporak-porandakan daratan.
Sejak Nadhira melangkah keluar rumah sore tadi dengan wajah bersungut-sungut, Reyhan sudah mengambil keputusan. Gengsinya memang menahan lidahnya untuk tidak mengemis agar Nadhira membatalkan niatnya.
Namun, naluri protektif seorang pria dan suami tidak membiarkannya berdiam diri melihat istrinya yang polos berjalan masuk ke dalam perangkap Bramantyo Satria.
Reyhan kenal betul siapa Bram. Pria oportunis itu tidak pernah benar-benar menghargai bakat seseorang, ia hanya melihat celah untuk memanfaatkan desainer muda yang butuh nama. Dan ketika Nadhira menceritakan penawaran itu kemarin malam, darah Reyhan mendidih namun tertahan oleh gengsi.
Dari posisinya di lantai atas yang terhalang pilar kayu, Reyhan mengamati setiap gerak-gerik di meja sudut bawah. Ia melihat bagaimana cara Bram menatap Nadhira, tatapan menilai yang kurang ajar.
Ia melihat bagaimana Nadhira mulai tidak nyaman, menarik tangannya, dan bagaimana gestur tubuh Bram yang kian menekan serta menyudutkan mahasiswi itu.
Puncaknya adalah ketika Reyhan menangkap gerakan tangan Bram yang dengan lancang menahan folder draf milik Nadhira dan hendak menyentuh jemari istrinya untuk kedua kalinya.
Pemandangan itu sudah cukup. Batas kesabaran Reyhan hancur tak berbekas.
Tanpa suara, Reyhan meletakkan cangkirnya di meja. Ia berdiri, merapikan ujung kemeja hitamnya dengan satu gerakan tenang namun tegas, lalu melangkah turun menyusuri tangga kayu kafe.
Langkah kakinya konstan memancarkan aura dominasi yang begitu pekat hingga beberapa pengunjung di lantai bawah refleks menepi saat ia lewat.
Tepat saat jemari Bram hampir menyentuh kulit Nadhira, bayangan tinggi tegap Reyhan jatuh menutupi meja mereka. Udara di sekitar sudut ruangan itu seketika mendingin.
"Tangan anda... bisa digeser sedikit dari draf itu, Bram?"
Suara berat, kaku, dan sarat akan ancaman terselubung meluncur dari bibir Reyhan, memotong kalimat Bram yang belum selesai.
Bram tersentak kaget. Jarinya yang hampir menyentuh tangan Nadhira terhenti di udara. Ia mendongak, matanya menyipit menatap sosok pria tinggi berbadan tegap yang kini berdiri menjulang di samping mejanya.
Nadhira pun mendongak dengan napas tertahan. Matanya membelalak lebar melihat Reyhan berdiri di sana. Rasa takut dan tertekan yang sejak tadi menghimpit dadanya mendadak sirna, berganti dengan luapan rasa lega yang teramat sangat.
"Pak Reyhan..." batin Nadhira bergetar.
Bram berkedip cepat, raut wajahnya berubah drastis dari licik menjadi sangat terkejut saat mengenali sosok di depannya. "Reyhan? Reyhan Arkananta Wijaya."
Reyhan tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pendek melalui hidung, membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk. Tatapan matanya dari balik kacamata itu sangat dingin, menatap Bram lurus-lurus seolah pria di depannya tidak lebih dari sekadar tumpukan sampah yang menghalangi jalan.
"Sudah lama ya," ujar Reyhan datar, intonasi suaranya tenang namun sanggup menekan mental siapa saja yang mendengarnya.
Tanpa dipersilakan, Reyhan meraih satu kursi kosong di sebelah Nadhira, menariknya sedikit ke belakang untuk memotong jarak antara Bram dan Nadhira, lalu mendudukinya.
Kehadiran Reyhan yang mendadak membuat Bram salah tingkah. Pria itu buru-buru menarik tangannya dari meja, memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak.
"Lo... lo ngapain di sini, Rey?" tanya Bram berusaha tertawa untuk mencairkan suasana, meski dahinya mulai dibasahi keringat tipis.
"Gue lagi ada meeting bisnis sama mahasiswi ini. lo nggak usah ganggu-"
"Nadhira adalah mahasiswi bimbingan utama saya di Jurusan Desain Komunikasi Visual," potong Reyhan cepat, memangkas ucapan Bram dengan nada otoriter khas seorang dosen penguji.
Reyhan melirik ke arah folder draf kalkir milik Nadhira di atas meja, lalu kembali menatap Bram. "Sebagai dosen pendamping riset dan proyek luar kampus, saya bertugas memastikan seluruh hak cipta, etika kerja, dan keselamatan fisik mahasiswi saya terlindungi dari pihak luar yang mencoba mengambil keuntungan tidak beretika."
Nadhira menahan napasnya mendengar alibi cerdas yang keluar dari bibir Reyhan. Alasan 'pendampingan akademis' itu diucapkan dengan sangat sempurna.
Wajah Bram mendadak masam. "Tunggu dulu... sejak kapan kampus lo ikut campur urusan proyek freelance independen begini? Ini kan urusan profesional antara Vektorika sama Nadhira!"
"Sejak perusahaan kamu mencoba menggunakan pola intimidasi dan ancaman blacklist tidak berdasar pada mahasiswi saya," balas Reyhan dingin, matanya mengunci pandangan Bram tanpa berkedip sedikit pun.
Bram terperanjat. "Lo... lo denger dari mana?"
"Saya memperhatikan dari tadi, Bram," sahut Reyhan pendek. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit ke depan, menopang kedua tangannya yang tertaut di atas meja. Jaraknya dengan Bram kini sejajar, namun aura intimidasi yang dipancarkan Reyhan jauh lebih dominan.
"Dunia agensi kreatif memang sempit," lanjut Reyhan dengan suara rendah yang menakutkan.
"Tapi jaringan alumni, dekanat, dan asosiasi desainer nasional tempat saya menjabat sebagai pengurus jauh lebih luas dari sekadar brand apparel kelas menengah milik anda."
Kalimat itu menghantam Bram tepat di ulu hati. Bram tahu betul siapa Reyhan di industri kreatif. Reyhan bukan sekadar dosen kaku di kampus, pria itu adalah mantan art director kenamaan yang punya pengaruh kuat di asosiasi desain dan memiliki relasi erat dengan para pemegang modal besar.
Sekali saja Reyhan mengeluarkan kata penolakan atau membuka catatan buruk beretika milik Bram ke asosiasi, bisnis Vektorika bisa gulung tikar dalam hitungan bulan.
Keringat dingin makin deras mengucur di pelipis Bram. Rasa jumawa dan sikap kurang ajarnya yang tadi ditunjukkan kepada Nadhira kini lenyap tak berbekas.
"Rey... lo jangan berlebihan gitu lah," kata Bram dengan nada yang mendadak memohon, berusaha tersenyum ramah. "Gue cuma... cuma becanda tadi sama Nadhira. Cuma mau ngetes mental dia aja sebagai desainer muda. Nggak ada niat jahat kok."
"Bercanda anda melampaui batas etika, Bram," tegur Reyhan, suaranya menusuk tajam.
"Menyentuh fisik tanpa izin dan mengancam karir seorang mahasiswi bukan bentuk pengujian mental. Itu bentuk pelecehan kekuasaan dan saya tidak akan menoleransi hal itu terjadi pada mahasiswi saya."
Reyhan mengulurkan tangan kirinya yang tegap, meraih folder draf kertas kalkir dan tablet milik Nadhira dari atas meja.
Dengan gerakan sangat protektif, Reyhan memindahkan seluruh barang milik Nadhira ke sisi mejanya, menjajarkannya tepat di dekat tubuhnya.
Nadhira yang memperhatikan dari samping hanya bisa terpana. Tatapan matanya menatap profil samping wajah suaminya dari balik kacamata. Garis rahang Reyhan yang tegas tampak mengetat, menahan amarah yang teramat sangat.
Meski kata-kata yang keluar dari mulut Reyhan dibungkus rapi dengan alasan 'dosen dan mahasiswi', Nadhira bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa tindakan tegas Reyhan saat ini murni adalah wujud dari seorang suami yang sedang pasang badan melindungi istrinya.
"Proyek kerja sama ini... resmi ditarik kembali," putus Reyhan lugas, menatap Bram tanpa ampun.
"T-tapi Rey, kita belum tandatangan kontrak!" seru Bram panik.
"Dan tidak akan pernah ada tanda tangan kontrak," potong Reyhan dengan nada final yang tak dapat diganggu gugat.
"Saya yang akan memastikan draf karya Nadhira tidak akan pernah menyentuh perusahaan kamu. Dan jika saya mendengar kamu mencoba menghubungi Nadhira lagi, baik lewat email, media sosial, atau perantara orang lain, saya tidak akan segan membawa laporan etika ini langsung ke dewan pembina industri."
Ancaman itu diucapkan tanpa intonasi tinggi, tanpa emosi meledak-ledak, namun dampaknya membuat Bram membisu total.
Pria itu menelan ludah dengan susah payah, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari sepenuhnya bahwa ia telah membangunkan macan tidur.
"Nadhira, rapikan barang kamu," perintah Reyhan kaku, mengalihkan pandangannya pada Nadhira dengan intonasi yang seketika melunak.
"I-iya, Pak," jawab Nadhira cepat. Gadis itu meraih tas ranselnya dan memasukkan tablet serta perlengkapannya dengan jemari yang masih sedikit gemetar.
Reyhan berdiri lebih dulu, diikuti oleh Nadhira yang merapat di belakang bahu tegap suaminya. Sebelum berbalik pergi, Reyhan melemparkan satu tatapan dingin terakhir pada Bram yang masih terduduk lemas di kursinya.
"Selamat sore, Bram," kata Reyhan singkat, sebuah salam perpisahan yang terasa seperti vonis mati bagi karir bisnis pria itu.
Tanpa menunggu balasan, Reyhan berbalik dan berjalan menuntun Nadhira keluar dari kafe. Posisi berdirinya sengaja dipasang sedikit di depan Nadhira, memblokir pandangan orang-orang sekitar dan menciptakan benteng perlindungan yang sempurna untuk istrinya hingga mereka sampai di pintu kaca luar.
...****************...
Udara sore yang hangat dan hembusan angin jalanan pusat kota menyambut mereka begitu keluar dari bangunan kafe. Arus lalu lintas kendaraan mulai padat oleh para pekerja yang pulang kantor.
Nadhira berjalan mengekor di belakang Reyhan menuju area parkir. Kakinya terasa sedikit lemas setelah melewati ketegangan yang menguras emosi tadi.
Reyhan menghentikan langkahnya tepat di sebelah sedan hitamnya. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Nadhira yang menundukkan kepala dalam-dalam di hadapannya.
Suasana di antara mereka mendadak hening. Tidak ada suara selain deru mesin kendaraan di kejauhan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reyhan pelan, rasa khawatir yang sejak tadi tertahan di balik topeng kaku akhirnya menyeruak keluar melalui nadanya.
Nadhira perlahan mendongak. Matanya yang sedikit berkaca-kaca menatap wajah Reyhan. "Saya... saya nggak apa-apa, Pak Reyhan. Cuma kaget aja."
Reyhan menghembuskan napas panjang. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, tatapannya kembali berubah kaku walau tidak lagi dingin.
"Sekarang kamu mengerti kenapa kemarin malam saya melarang kamu?" tegur Reyhan, mencoba mempertahankan gengsi dan wibawanya sebagai pihak yang terbukti benar.
"Saya tidak melarang kamu berkembang, Nadhira. Saya hanya tahu betul siapa lawan bicara kamu di luar sana. Kamu terlalu polos untuk menghadapi orang-orang seperti Bram."
Nadhira menundukkan kepalanya lagi, rasa bersalah menyerbunya. Kata-kata kasar dan tuduhan emosional yang ia lontarkan kepada Reyhan tadi malam mendadak terngiang di ingatan, membuatnya merasa sangat malu.
"Maaf..." cicit Nadhira halus, suaranya hampir tenggelam oleh bisingnya jalanan.
Reyhan berkedip pelan. "Maaf untuk apa?"
"Maaf karena tadi malam saya udah ngomong sembarangan sama Bapak..." ungkap Nadhira tulus, memain-mainkan tali ranselnya.
"Saya nuduh Bapak cuma mau mengekang saya dan nggak mau lihat saya sukses. Padahal... padahal Bapak cuma mau ngelindungin saya. Makasih ya, Pak Reyhan... tadi Bapak keren banget pas pasang badan di depan Bram itu."
Mendengar pujian tulus dan permohonan maaf dari istrinya, benteng gengsi Reyhan yang biasanya kokoh seketika runtuh perlahan. Rasa jengkel yang sempat mengendap di hatinya sejak kemarin malam hilang tak berbekas.
Reyhan berdehem kaku, berusaha menutupi rasa canggung dan debaran halus di dadanya. Pria itu mengulurkan tangan kanannya, lalu dengan gerakan sangat canggung namun lembut, ia mendaratkan telapak tangannya di atas kepala Nadhira, mengusap rambut gadis itu pelan dua kali.
"Sudah, tidak usah dibahas lagi," kata Reyhan pelan, matanya memalingkan pandangan ke arah lain untuk menyembunyikan rona hangat di wajahnya. "Yang penting kamu selamat dan tidak terluka."
Nadhira mendongak kaget merasakan usapan lembut di kepalanya. Sentuhan singkat itu terasa sangat hangat, menyalurkan rasa aman. Senyuman tipis manis perlahan terukir kembali di bibir Nadhira.
"Masuk ke mobil," perintah Reyhan, buru-buru menarik tangannya kembali dan membuka pintu sedan hitamnya. "Kita pulang. Dan ingat, mulai hari ini, tidak ada lagi proyek luar kampus tanpa persetujuan langsung dari saya."
Nadhira tertawa kecil, mengangguk patuh tanpa niat membantah sedikit pun. "Siap, Pak Dosen!"
Reyhan hanya menggelengkan kepala melihat perubahan sikap istrinya yang begitu cepat. Pria itu mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi.
...Bersambung... ...