[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Terpojok
Elisa mendongakkan kepalanya dengan cepat. Bukannya merasa tenang, ia justru melepaskan tawa sarkas yang getir di tengah sisa isak tangisnya yang sesak.
"Apa kau bilang? Elf Hutan?"
Elisa menyeka air matanya dengan kasar, memancarkan binar mata yang menyiratkan rasa penolakan dan kebencian yang mendalam terhadap dunia supranatural.
"Dongeng mistis macam apa lagi yang sedang kau bualkan padaku?! Di saat seluruh kehidupanku hancur berantakan seperti ini, kau justru malah berdiri di sini, mendongeng dan tertawa di atas penderitaanku! Pergi kau dari hadapanku! Aku tidak butuh belas kasihan atau bantuan dari monster sepertimu!"
Elisa bangkit berdiri secara paksa menggunakan sepasang kaki manusianya yang masih agak gemetar. Ia menghentakkan kakinya ke atas aspal, berbalik arah memunggungi Josiah, dan mulai berjalan menjauh menyusuri jalanan distrik lama yang sepi.
"Aku akan mencari keberadaan mereka sendirian!" teriak Elisa dengan suara lantang tanpa menolehkan kepalanya lagi ke belakang.
Ia tidak memedulikan lagi jika ia mengambil arah jalan yang salah, atau jika telapak kakinya akan lecet karena berjalan berkilo-kilo meter. Yang tertanam di dalam otaknya saat ini hanyalah satu tujuan mutlak: menjauh sejauh mungkin dari eksistensi vampir menyebalkan itu sebelum ia benar-benar kehilangan kewarasannya.
Namun, tanpa disadari oleh Elisa maupun Josiah, dari kejauhan Jonas Salvatore telah memantau seluruh pergerakan mereka. Si Sulung itu bersandar dengan gaya angkuh pada bodi motor sport hitamnya, mengamati kegagalan telak Josiah dalam membujuk sang gadis fana menggunakan sepasang mata hitamnya yang dingin.
Bagi Jonas, sikap Josiah yang terlalu banyak bermain-main dan mengumbar rahasia ras telah berada di luar batas toleransi kesabarannya. Ia tidak bisa membiarkan seorang gadis manusia biasa berkeliaran bebas di kota dengan membawa rahasia besar keluarga Salvatore begitu saja.
"Josiah... kau benar-benar pion yang tidak bisa diandalkan," desis Jonas dingin penuh intimidasi.
VROOOMMM!
Jonas menyalakan mesin motor sport-nya yang seketika menderu garang, menggetarkan permukaan tanah di sekitarnya. Ia melesat cepat, sengaja memacu kendaraan besarnya dengan kecepatan tinggi tepat saat melewati tubuh Josiah yang masih berdiri mematung di tepi jalan.
Jonas menarik tuas gasnya sedalam mungkin, membiarkan kepulan asap knalpot hitam yang pekat membubung tinggi, menghantam tepat di depan wajah adiknya.
"Uhuk! Uhuk! Sialan... Kurang ajar kau, Jonas!" maki Josiah kasar sembari mengibas-ngibaskan tangannya untuk menghalau kepulan asap yang menyesakkan dada.
Jonas hanya menyeringai dingin di balik kaca helm fullface hitamnya. Fokus utamanya saat ini terkunci sepenuhnya pada bayangan tubuh Elisa yang sedang berjalan cepat di ujung jalan raya sepi depan hutan.
Dengan satu gerakan menikung yang luar biasa lincah dan berbahaya, ia memutar arah motornya, memotong jalur pelarian Elisa dan menghadang jalan gadis itu dengan ban depan motor yang jaraknya hanya terpaut beberapa sentimeter saja dari ujung sepatu Elisa.
Ckiitttt!
Elisa tersentak hebat, tubuh manusianya terdorong mundur dan hampir saja jatuh terjengkang ke belakang akibat kejutan ekstrem ini.
Jantungnya serasa melompat keluar dari rongga dada. Ia menatap nyalang penuh amarah ke arah sosok pengendara motor yang mengenakan jaket kulit hitam di depannya.
Jonas membuka kaca helmnya dengan gerakan lambat, menampakkan sepasang manik mata hitam pekat tanpa dasar yang memancarkan tekanan aura dominan dari darah murni Demon (Iblis) miliknya.
"Permainan petak umpet manusiamu sudah resmi berakhir di sini, Gadis Kecil," ucap Jonas dengan nada suara bariton yang berat dan menusuk hingga ke dalam tulang.
"Kau lagi?! Sebenarnya mau apa lagi kau menghadang jalanku, Manusia Besi?!" teriak Elisa, rasa amarahnya yang meluap-luap mencoba menutupi rasa ketakutan psikologis yang hebat di dalam dadanya.
"Josiah mungkin sempat membuatmu merasa aman karena tabiatnya yang lemah dan penuh bualan, tetapi menghadapiku adalah sebuah cerita yang sama sekali berbeda, Elisa," tutur Jonas dingin sembari melangkahkan kakinya turun dari atas motor tanpa mematikan deru mesinnya.
Ia melangkah maju dengan aura menekan yang masif, memaksa Elisa untuk terus terdesak mundur selangkah demi selangkah hingga akhirnya punggung kecil gadis itu membentur permukaan kasar batang pohon pinus di pinggir jalan.
"Kau hanya memiliki dua pilihan mutlak saat ini,"
Jonas merangsek maju, jemari kuatnya mencengkeram dagu Elisa dengan cengkeraman kokoh, memaksa wajah gadis itu terangkat untuk menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang gelap gulita.
"Kau ikut denganku menuju panti asuhan milik keluarga Pendragon secara sukarela saat ini juga, atau aku sendiri yang akan membawamu ke sana dalam keadaan tidak sadar, lalu membuang dan menghancurkan seluruh ingatan manusiamu tentang hari ini untuk selamanya."
Tubuh Elisa gemetar hebat di bawah kungkungan fisik pria itu, ia bisa merasakan hawa dingin yang mematikan dan haus darah yang menguar dari pori-pori tubuh Jonas.
"Kau... kau sama sekali tidak memiliki hak untuk mengatur atau mengancam kehidupanku!"
"Di Kota Luminara ini, seluruh eksistensi keluargaku adalah hukum yang absolut, Elisa," balas Jonas penuh keangkuhan Demon yang mutlak.
"Pilih opsi pilihanmu sekarang juga, sebelum sisa kesabaranku benar-benar habis dan aku memperlakukanmu jauh lebih kasar daripada sampah jalanan yang hampir kutabrak tadi pagi."
"Berhentilah bertindak arogan, Jonas. Jangan pernah berani memperlakukan kekasihku sekasar itu di hadapanku."
Sebuah suara bariton yang teramat tenang namun memancarkan aura ketajaman yang membekukan darah tiba-tiba mengalun dari balik rimbunnya vegetasi Hutan Luminara.
Elisa tersentak hebat di tempatnya. Jiwanya terguncang. Sosok pria jangkung dengan sepasang manik mata biru safir yang sedingin es kini melangkah keluar dari balik bayangan pohon—Jonah Salvatore.
Elisa merasa seluruh dunianya kini benar-benar telah menjadi gila. Sekarang, ia terkepung secara total dalam sebuah lingkaran predator malam yang mematikan.
Di depannya ada Jonas yang mengancam dengan aura Demon-nya yang pekat, di belakangnya ada Jonah yang menatapnya dengan binar ambisi yang posesif, dan dari kejauhan, ia bisa melihat Josiah sedang berlari kencang mendekat dengan ekspresi wajah yang dipenuhi kepanikan yang nyata.
Jonas perlahan melepaskan cengkeraman kuat tangannya pada dagu Elisa. Ia memutar tubuh tegapnya, menatap ke arah adik keduanya dengan seulas tawa sinis yang menghina.
"Kekasih?"
Jonas mendengus kasar, menyandarkan tubuh besarnya pada jok motor sport-nya dengan gaya angkuh yang dominan.
"Sejak kapan seorang pangeran kegelapan sepertimu memiliki selera rendahan dengan menjadikan makhluk manusia lemah yang kotor ini sebagai seorang kekasih, Jonah? Bukankah bagimu... dia tak lebih dari sekadar sepotong 'cemilan segar' untuk memuaskan rasa haus taringmu?"
Jonah mengambil beberapa langkah maju dengan anggun, memposisikan tubuhnya berdiri tepat di samping Elisa, mengunci pergerakan gadis itu di antara kedua pria bersaudara tersebut.
Jemari pucat Jonah bergerak pelan, menyentuh permukaan bahu Elisa dengan sebuah gerakan posesif yang teramat protektif, seketika membuat bulu kuduk Elisa meremang ngeri.
"Kau sepertinya sudah mulai pikun, Jonas. Aku tidak semata-mata menancapkan taringku dan menggigit lehernya hanya untuk mengisi perut fana ini," ucap Jonah pelan, sepasang manik matanya berkilat merah darah menantang langsung dominasi sang kakak sulung.
"Aku sudah memberikan 'Tanda Darah Ikatan' di vena lehernya. Secara hukum kaum kita, gadis manusia ini adalah milikku seutuhnya. Kau tidak memiliki hak apa pun untuk protes, apalagi berani mengancamnya."
"Milikmu?!"