Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Andriana yang mendengar berita kematian kakak iparnya segera datang ke rumah sakit untuk memastikan kebenaran berita tersebut.
Semua wartawan dari beberapa media masa sudah berada di sana untuk meliput.
Terlihat Adit yang lusuh dan hancur berada di samping jenasah Saskia. Andriana datang untuk menguatkan hati kakak iparnya yang sudah seperti kakak kandung sendiri baginya.
"Mas Adit" Ucap Andriana menepuk pundak Adit.
Adit pun menoleh, kedua matanya nampak merah seperti baru saja menangis.
"An, meskipun saat ini aku dan Saskia sedang tidak harmonis tapi kehilangan dia dengan cara seperti ini sangat membuatmu sedih"
"Iya mas Adit, aku paham. Sebaiknya kita pulang ke rumah dan memikirkan cara agar mama tidak mendengar berita ini, Andriana takut jantung mama tidak kuat dan akan berakibat fatal"
"Iya An, kamu benar, tapi sebelum kita pulang ke rumah kita datangi dulu kantor polisi untuk mengetahui perkembangan penyelidikan kasus pembunuhan ini"
"Iya mas"
Keduanya pun segera pergi ke kantor polisi untuk melihat sejauh mana penyelidikan kasus ini.
Dan tidak butuh waktu lama, mereka berdua pun tiba di kantor polisi.
"Selamat pagi bapak Adit, kebetulan anda datang kemari, kami butuh keterangan dari anda sebagai suami korban" Ucap seorang perwira polisi pada Adit dan Andriana yang baru saja melangkah di ruang penyidikan.
Adit pun mengangguk dan duduk di bangku yang sudah disediakan.
Pertayaan demi pertanyaan pun mereka lontarkan, hingga sebuah pertanyaan yang sangat susah untuk diutarakan tapi harus disampaikan demi memudahkan penyelidikan.
"Apakah ada orang ketiga di dalam rumah tangga anda dan korban?" Tanya petugas penyelidikan tegas.
Adit menoleh sebentar pada Andriana yang duduk di sudut bangku sebelum kembali mengalihkan pandangan pada petugas penyelidikan itu.
"Iya pak, hubungan kami saat ini kurang harmonis karena Saskia ternyata telah berselingkuh dengan adik kandungku sendiri"
Deg
Semua orang tercengang, menatap ke arah Adit yang tertunduk.
Tiba tiba seorang anggota penyidik memberikan sebuah barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian.
Mata Adit membelalak tidak percaya setelah tahu barang bukti yang ditunjukkan adalah sebuah jam tangan mewah miliknya yang diberikan oleh Saskia saat ulang tahun pernikahan tahun lalu.
"Apa ini maksudnya?" Tanya Adit lirih.
"Maaf pak Wijaya, untuk sementara anda ditetapkan sebagai tersangka, karena semua bukti dan saksi mengarah pada anda, jadi kami harus menangkap anda untuk penyelidikan lebih jauh".
Andriana pun terkejut dan berlari ke arah Adit yang sudah diborgol di kedua tangannya.
"Mas, mas Adit, pak tolong selidiki lagi aku yakin mas Adit tidak bersalah!" Teriak Andriana pada petugas kepolisian.
"Maaf bu, sebaiknya anda pergi dari sini sekarang juga!" Ucap salah satu petugas kepolisian dengan tegas.
Andriana tidak menyerah dan tetap menolak pergi, ia hendak menarik lengan Adit namun didorong oleh petugas hingga terhempas.
Beruntung Devan sigap menarik tubuh Andriana dan menjatuhkannya di dalam pelukannya.
Andriana menangis di dalam dekapan Devan yang datang tanpa diduga.
"Hiks hiks hiks Van, selamatkan mas Adit, aku yakin dia tidak bersalah"
Devan membawa tubuh Andriana keluar dari kantor polisi dan masuk ke dalam mobil. Ia mengusap lembut pucuk kepala wanita itu.
"An, kamu tenang saja, aku sudah meminta Leo untuk menyelidikinya. cctv rusak itu bukanlah kebetulan, kamu tenang saja aku akan bawa penjahat itu ke hadapanmu"
Andriana mengusap wajahnya dan berhambur memeluk kekasih gelapnya itu.
Beberapa hari setelah kematian tragis Saskia, suasana rumah sangat lah dingin.
Baik Diego atau pun Daniar seakan mengerti mamanya telah tiada, mereka menjadi sedikit pendiam dan sering menangis tanpa sebab.
Keadaan itu sangat membuat Andriana tidak tega, dengan sepenuh hati dan kasih sayang ia ikut membantu Lena merawat Diego dan Daniar.
Apalagi Andriana sendiri tahu Lena sedang hamil muda anaknya Adit orang yang ia sayangi seperti kakak kandungnya sendiri.
Sejak kecil Andriana, Arnold dan Adit tumbuh bersama, tapi Adit lah yang sangat dekat dengan Andriana nyaris tak ada satupun rahasia di antara mereka. Hingga dewasa semua yang Adit alami selalu diceritakan pada Andriana termasuk malam saat Adit memaksa Lena melayani hasratnya hingga hamil.
"Len, kamu istirahat saja biar aku yang menjaga Diego dan Daniar" Ucap Andriana sambil memegangi kedua tangan Lena.
"Nona Andriana, saya tidak apa apa, nona sendiri sudah beberapa hari tidak tidur dengan baik juga tidak makan dengan baik, bagaimana kalau nanti sakit?"
Andriana tersenyum tipis " Aku tidak apa apa Len, tapi kamu kan hamil, anak yang kamu kandung adalah penerus keluarga Wijaya ".
"Tidak non, anda salah, saya"
"Sudahlah Len, aku tahu semuanya, maafkan aku malam itu aku yang memintamu untuk menemani Diego hingga mas Adit berbuat itu padamu, tapi percaya padaku mas Adit orang yang baik dan bertanggung jawab"
Keduanya pun sama sama tersenyum tipis sebelum akhirnya sama sama beristirahat.
Malam mulai berganti dengan fajar yang menyingsing di ufuk timur, suara ayam bersahutan menggema di pagi yang mulai meremang.
Arnold pulang ke rumah diam diam dengan langkah yang hati hati berharap tidak ada yang melihatnya.
Tapi Andriana berdiri di sudut ruangan sambil melipat kedua tangannya di dadanya melihat dengan jelas apa yang dilakukan suaminya itu.Ia pun menyalakan lampu di ruangan itu .
Arnold yang dari tadi memunggunginya kemudian membalikkan badannya dan tersenyum tipis sambil menggaruk garuk kepalanya.
Betapa ia sangat terkejut melihat suaminya yang berantakan, Jaz terbuka, dasi tak terpakai, bekas cupang memenuhi lehernya.
Andriana ternganga melihatnya kemudian bergidik jijik.
' Ih, mas, apa yang baru kamu lakukan? Dua hari tidak pulang ke rumah sudah berapa wanita yang kamu tiduri?'
Andriana tersenyum miring " Tapi aku bukan wanita bodoh yang akan diam saja kamu selingkuhi, hhh....kau selingkuh aku balas selingkuh, impas kan!" Gumamnya lirih.
Sesaat suasana menjadi hening, Arnold terdiam sejenak lalu berjalan ke arah Andriana, mengusap lembut pipinya "Sayang, maafkan aku, dua hari ini tidak bisa pulang, bahkan saat pemakaman kak Saskia aku tidak bisa menghadirinya".
Andriana menarik nafas panjang lalu mencoba untuk tenang " Oke mas gak apa apa, kamu bersihkan dirimu, aku akan siapkan sarapan".
Andriana pun berjalan ke dapur untuk membuatkan suaminya sarapan bersama para asisten rumah tangganya yang sudah lebih dulu berjibaku di dapur.
***
"Bagaimana perkembangan kasus Aditama Wijaya?" Tanya Devan pada Leo sambil memainkan pena di jemari tangannya, tatapan malas ke depan, kepala bersandar di sandaran kursi kebesarannya.
"Cukup bagus tuan, anak buahku menemukan beberapa bukti baru yang bisa menguatkan kalau tuan Adit bukanlah pembunuh Saskia " Jawab Leo tegas sambil menyerahkan sebuah benda pada Devan untuk diperiksa.
Devan pun tersenyum miring" Bagus, sepertinya aku mengerti, situasi seperti ini sudah direncanakan secara matang jauh jauh hari. Kamu terus awasi dan pantau perkembangan penyelidikan kasus ini, dan pastikan Andriana baik baik saja, kamu lindungi dia, karena sebenarnya dialah target utama".
"Baik tuan" Jawab Leo kemudian pergi meninggalkan ruangan atasannya.