Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:496
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Menatap Lingkaran Baru

Udara dingin dari pendingin ruangan di Ruang Rapat B berembus pelan, membawa aroma kopi hitam dan wangi kertas yang baru dicetak.

Di balik meja rapat, Ardiansyah Putra bersandar santai pada kursi kulitnya. Wajahnya menyunggingkan senyum percaya diri—sebuah senyuman yang dulu selalu sanggup melumpuhkan kewaspadaan Intan Saputri lewat layar ponselnya.

Namun kini, duduk di hadapan pria itu sebagai seorang perwakilan pemasaran, Intan justru menatap senyuman itu dengan dorongan batin yang dingin dan terukur.

"Penawaran dari Katering Barokah ini sangat menarik, Mbak Intan."

Ujar Ardiansyah sambil membolak-balik lembaran proposal merah di tangannya.

Matanya sesekali menatap wajah Intan, mencoba menilai kelemahan atau cela yang bisa ia manfaatkan.

"Margin harga yang Mbak ajukan sangat bersahabat."

"Tapi, seperti yang Mbak tahu, proyek sebesar Pandawa ini punya hirarki pengadaan yang ketat."

"Tentu, Pak Ardiansyah."

Sahut Intan cepat. Suaranya halus, teratur, dan sarat akan profesionalisme.

"Kami sangat memahami bahwa sebagai Konsultan Pengadaan Mandiri, Pak Ardiansyah butuh kepastian arus kas dan kualitas."

"Kami tidak hanya menjual makanan, kami menawarkan kemudahan untuk kelancaran operasional Anda di Zona Empat."

Ardiansyah terkekeh pelan. Ia mengetukkan jemarinya di atas meja kayu, tampak sangat puas dengan respons Intan.

Di mata Ardiansyah, Intan adalah gambaran sempurna dari seorang profesional muda di kota besar: ambisius, cerdas, tetapi cukup fleksibel untuk diajak 'bekerja sama'.

Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa di balik blazer hitam dan riasan dingin Intan, ada seorang gadis desa yang sedang membedah setiap gestur serta kebohongan yang keluar dari mulutnya.

"Saya suka gaya bicaramu, Mbak Intan"

Kata Ardiansyah, memajukan tubuhnya ke depan.

"Bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama beberapa rekan bisnis saya?"

"Ada beberapa kepala sub-kontraktor dari area barat yang juga sedang mencari vendor."

"Saya bisa kenalkan Mbak Intan ke lingkaran baru ini."

"Siapa tahu, Katering Barokah bisa pegang seluruh pasokan di kawasan industri ini."

Jantung Intan berdesir pelan. Umpan yang dilemparnya justru langsung ditangkap.

Malam malam bersama rekan bisnis Ardiansyah berarti satu hal: ia akan diajak masuk ke dalam jaringan relasi sang penipu—tempat di mana Ardiansyah biasa mencari mangsa baru atau memutar uang hasil penggelapannya.

Ini adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan bukti dan mengidentifikasi siapa saja yang berada di sekeliling pria ini.

Namun, Intan menahan rasa bergelora di dadanya. Ia tidak boleh menunjukkan kesan terlalu bersemangat.

Intan pura-pura memeriksa agenda harian di ponsel pintarnya selama beberapa detik, menciptakan jeda yang elegan.

"Makan malam bisnis?"

Tanya Intan seraya mendongak dengan senyuman tipis yang terukur.

"Penawaran yang sangat menggiurkan, Pak Ardiansyah."

"Rekomendasi dari Anda tentu sangat berharga bagi perkembangan Katering Barokah."

"Di mana dan jam berapa kita akan bertemu?"

"Restoran Grand Mahakam di pusat kota, jam tujuh malam."

Jawab Ardiansyah mantap.

"Saya akan pesan meja khusus untuk jaringan vendor inti."

"Baik. Saya akan hadir tepat waktu."

Ujar Intan seraya merapikan dokumen di mejanya dan berdiri. Ia mengulurkan tangannya kembali.

"Terima kasih atas kesempatannya hari ini, Pak Ardiansyah."

"Sampai bertemu nanti malam."

Ardiansyah menyambut genggaman tangan Intan dengan senyum lebar yang penuh kemenangan.

"Sampai bertemu nanti malam, Mbak Intan."

Intan melangkah keluar dari ruang rapat, menuruni anak tangga kantor direksi, dan berjalan menuju van katering yang terparkir di luar.

Begitu pintu mobil ditutup dan ia duduk di kursi kemudi, Intan menghembuskan napas panjang yang meluruhkan ketegangan di pundaknya.

Ia segera mengambil ponselnya dan menekan tombol panggil cepat ke nomor Maya.

"Bagaimana?"

Suara Maya langsung menyapa di seberang telepon.

"Umpannya dimakan tuntas, Mbak Maya."

Sahut Intan dengan nada dingin yang mantap.

"Dia mengundang saya makan malam nanti jam tujuh di Restoran Grand Mahakam."

"Dia mau mengenalkan saya ke lingkaran rekan bisnis dan kontraktornya."

Di seberang telepon, Maya terdengar bersiul pelan.

"Luar biasa."

" Ardiansyah mulai merasa nyaman di dekatmu."

"Tapi ingat, Intan, Restoran Grand Mahakam itu wilayah kekuasaannya."

"Pria-pria di lingkaran barunya itu bisa jadi adalah rekan sesama penipu atau justru korban-korban baru yang sedang dia jerat."

"Saya paham, Mbak."

"Saya tidak akan bertindak sendiri."

Sahut Intan.

"Bagus."

"Saya akan berada di sana sebelum jam tujuh, menyamar sebagai pengunjung biasa untuk mengawasi dari kejauhan."

"Tugasmu malam ini hanya satu: dengarkan percakapan mereka, catat nama-nama yang terlibat, dan cari tahu dari mana Ardiansyah mendapatkan dana operasionalnya selama ini."

"Dimengerti, Mbak Maya."

Panggilan terputus. Intan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil.

Matanya menatap keluar jendela, menembus debu tanah merah dan megahnya derek konstruksi di Zona Empat.

Malam nanti, ia bukan lagi sekadar gadis yang mengamati target dari kejauhan.

Ia akan berdiri tepat di tengah-tengah lingkaran baru—lingkaran orang-orang perkotaan yang penuh dengan tipu daya dan topeng kemewahan.

Intan merogoh saku blazernya, mengambil buku catatan hitam kecilnya.

Dengan jemari yang mantap, ia menorehkan beberapa baris kalimat baru:

> Langkah pertama selesai. Pintu menuju lingkarannya sudah terbuka. Malam ini, aku akan melihat seberapa dalam kebohongan yang sudah kamu bangun, Ardiansyah.

>

Ia menutup buku itu dengan ketukan pelan. Rasa takut, canggung, dan minder yang dulu mengurung jiwanya kini telah luluh tanpa sisa.

Berganti menjadi ketenangan seorang pemburu yang siap menatap langsung ke dalam mata sang serigala di tengah pesta mereka.

*

*

*Jangan lupa like, komen dan subscribe 😉

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!