Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bukan air keran bukan pula air hangat dipakai kedua anak kembar itu untuk mandi melainkan air kemasan yang masih di segel.
Orang kaya mah bebas mau mandi pakai air apa juga selama ada.
Asalkan Sean dan Sena mandi sebelum belajar bersama Guru privat yang dipanggil ke rumah. Kedua anak itu sudah rapi dan bersiap menerima pelajaran baru.
"Aku dengar mereka bikin ulah," Arfan berdiri di samping Zuraida yang memperhatikan anak-anaknya belajar.
"Seperti itu lah, Pak." Zuraida memutuskan untuk memanggil pak saja pada suaminya yang lebih tua kemungkinannya 10 sampai 12 tahun darinya.
"Tapi aku salut kamu kepikiran buat menggunakan air kemasan untuk mandi mereka. Selama ini memang ada Wilona yang menemani mereka. Jadi tidak ada masalah."
"Saya juga itu putar otak, Pak." Tersenyum masih memperhatikan anak-anaknya. Tak sengaja ia melihat Guru privat itu tersenyum lebar tapi bukan ke arahnya. Lantas ia menoleh ke arah suaminya, mereka berbalas senyum.
"Baiklah, aku ke kantor."
"Iya, Pak, hati-hati."
Zuraida tak beranjak dari tempatnya, ia tetap berdiri di situ. Ikut belajar menyimak dan memperhatikan materi pelajaran Sean dan Sena yang dulu di dapatnya sewaktu duduk di bangku SMP. Ini anak-anak usia 6 tahun sudah harus menguasainya.
Jam belajar sudah selesai. Guru privat keluar dari ruangan kaca itu. Berhenti tepat di depan Zuraida.
"Aku kira sainganku siapa, ternyata upik abu." Sinisnya.
"Apa maksud Anda Ibu Guru?." Zuraida tak mengerti.
"Arfan dan aku berencana menikah setelah Arfan cerai dari Wilona. Namun rupanya ada sedikit masalah karena kehadiranmu. Tapi aku bisa pastikan kalau itu tidak akan lama, kamu akan segera dicerai Arfan. Apalagi anak-anak tidak menyukaimu."
"Oh, itu maksud Ibu Guru. Lakukan saja, saya tidak takut. Malah senang bisa kembali ke desa."
"Upik abu memang lebih pantas hidup di desa." Lalu Guru privat itu berjalan melewati tubuh Zuraida dengan angkuhnya.
Ia tidak menganggap hal itu menyakitinya sebab pernikahan seperti itu mana bisa disebut pernikahan karena sama-sama diliputi rasa takut. Zuraida berjalan ke dalam ruangan kaca di mana anak-anak berada. Patuh mengerjakan beberapa tugas.
"Kamu bisa nggak kerjain soal-soal ini?," Sean menyodorkan lembar soal pada Zuraida. Zuraida menatap satu persatu soal-soalnya. Sejujurnya ada yang bisa dan tidak. Lebih banyak tidak bisanya.
"Coba kerjain tuh," Sena melempar pensil ke arah Zuraida. Perempuan itu menatapnya.
"Itu tugas buat kalian, saya cuma menemani kalian belajar saja." Elak Zuraida sambil tersenyum.
"Halah, paling kamu tidak bisa." Sena mengambil pensilnya dan juga Sean menarik lembaran soal-soalnya. Mereka kembali mengerjakannya sampai selesai. Kemudian lanjut dengan ponsel masing-masing sebelum makan siang.
Zuraida sendiri ke dapur, melihat apa yang bisa dikerjakannya. Ternyata tidak ada, semua sudah dikerjakan pelayan. Ia hanya duduk manis saja.
"Bu, maaf, ini ada kiriman dari bapak." Seorang supir memberinya sebuah kotak.
"Apa ini?," tanyanya.
"Saya kurang tahu, Bu, saya hanya diminta memberikannya pada ibu."
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Bu."
Zuraida segera membukanya, handphone.
"Buat apa aku punya ini? Mau menelepon siapa?." Karena memang keluarganya di desa tidak ada yang memiliki handphone.
Kring Kring
Handphone di tangannya berdering nyaring.
"Mbak, cara angkatnya gimana?." Tanya Zuraida pada pelayan yang menghidangkan makanan.
Pelayan tersenyum lalu membantu Zuraida, mengarahkan tangan Zuraida mengusap layar pada bagian warna hijau untuk menjawab panggilan.
"Zuraida," panggil Arfan.
"Iya, Pak."
"Kamu suka handphonenya?."
"Suka, tapi saya bingung mau telepon siapa?."
Terdengar tawa Arfan dari seberang sana. Zuraida pun ikut tertawa pelan.
"Kamu bisa meneleponku kapan saja."
"Kita kan satu rumah, pasti bisa bicara juga di rumah."
"Iya, tapi mungkin ada hal mendesak yang memerlukan bantuanku. Kamu bisa langsung telepon aku. Atau mungkin kamu dikerjai anak-anak, bisa langsung lapor padaku tanpa harus menunggu aku sampai rumah."
"Iya juga ya."
"Iya."
"Terima kasih, Pak."
"Bisa nggak panggil aku, Mas?."
"Iya, Mas, bisa."
"Oke, aku lanjut kerja lagi. Kalau ada apa-apa jangan sungkan telepon aku."
"Baik, Pak, eh.. Mas."
Kembali terdengar suara tawa Arfan sebelum pria itu mematikan sambungan teleponnya.
Sean dan Sena yang sejak tadi di sana tersenyum misterius. Mereka sudah memiliki ide untuk mengerjai Zuraida. Mereka memang tak menyukai Zuraida jadi bagaimana juga mereka akan mengusir ibu tirinya itu dari rumah mereka.
Setelah selesai makan mereka langsung masuk ke kamar untuk tidur siang. Tetapi mereka justru merencanakan sesuatu yang akan mereka lakukan pada ibu tirinya.
Sepakat, mereka langsung keluar kamar dan berlarian ke kamar Daddy mereka.
"Kalian perlu sesuatu?," tanya Zuraida yang berada di kamar itu.
"Emmm, nggak," kedua anak itu geleng-geleng kepala. "cuma mau ke sini aja. Ini kamar Daddy kami." Sena duduk di tepi tempat tidur dekat meja rias sedangkan Sean berdiri di depan Zuraida.
Zuraida ke kamar mandi menaruh handuk yang baru dipakainya. Saat kembali ke kamar kedua anaknya sudah tidak ada. Zuraida mencari ke ruangan kerja Arfan tapi mereka tidak ada di sana juga.
Karena banyak pekerjaan hari ini jadi sudah terbiasa jika Arfan pulang ke rumah selarut ini. Tubuh lelahnya meneguk air dingin dari kulkas yang dilewatinya lanjut lagi jalan ke kamar. Jas sudah di tangannya, dasi sudah longgar di lehernya, ia membuka pintu pelan. Melangkah mendekati sosok yang tidur di sofa panjang.
Dalam posisi tidur yang miring pulas pula Zuraida sangat cantik dengan rambut panjangnya yang lurus. Arfan tidak menyangka tubuh lelahnya seketika sirna hanya karena pemandangan di depannya. Wajah alami tanpa polesan.
"Bukan wajahmu saja yang cantik tetapi hatimu juga." Pujinya lalu berjongkok tepat di depan wajah Zuraida setelah menaruh jasnya di meja.
Arfan memandang tak bosan wajah cantik itu yang sekarang tanpa hijab. Dua hari Zuraida merawatnya dengan sangat tulus ia pun melirik perempuan itu dan sangat pantas menjadi teman hidupnya. Cinta memang belum hadir, tapi Arfan butuh sosok perempuan yang baik untuknya dan anak-anaknya.
Tangan Arfan yang merapikan rambut Zuraida tak menggangu sedikit pun tidurnya perempuan itu. Lantas Arfan membawa tubuh itu ke dalam gendongannya untuk dipindahkan ke atas kasur. Arfan segera ke kamar mandi membersihkan tubuhnya lalu tidur di sebelah Zuraida.
*
Sean, Sena, Arfan dan Zuraida di meja makan. Menikmati sarapan bersama. Kedua anak itu saling tatap lalu Sena buka suara.
"Daddy beli handphone baru?."
"Tidak, itu daddy beli buat ibu kalian."
"Zuraida maksud daddy?."
"Iya."
"Mana Zuraida? Aku mau lihat?."
"Sena!," suara Arfan cukup tinggi.
"Bicara yang sopan pada ibumu." Perintahnya.
"Zuraida bukan ibuku, Dad. Mommy Wilona ibuku." Bantahnya dengan suara tinggi juga.
"Daddy bentak Sena karena perempuan kampung ini." Lalu Sean mengajak Sena untuk meninggalkan meja makan.
Bersambung