Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8 — Punggung yang Berhadapan
Adrian menyalakan lampu meja.
Maya mengerjap, lalu menarik selimut sampai ke dada. Beberapa saat lalu mereka masih saling memeluk. Sekarang Adrian duduk tegak, tampak seperti baru mendengar kabar buruk.
“Aku bilang pengin punya anak,” kata Maya. “Kenapa mukamu begitu?”
“Aku kaget. Terakhir kita bicara, kamu masih mau ambil proyek luar kota.”
“Sekarang aku mulai kepikiran. Kita sudah tiga tahun menikah.”
Adrian melihat kalender proyek di dekat lemari. Enam bulan lalu Maya sendiri yang mengatakan ia belum mau mengubah jadwalnya demi seorang bayi, dan Adrian setuju. Ia mengira kesepakatan itu masih berlaku.
“Aku belum siap, May.”
Maya menunduk. Ketika Adrian meraih tangannya, ia menariknya ke bawah selimut.
“Belum siap jadi ayah, atau nggak mau punya anak sama aku?”
Adrian menghela napas. Itu justru membuat Maya mendongak lagi.
“Jangan begitu. Aku belum marah. Aku sedang tanya.”
“Kamu baru bilang malam ini. Aku perlu waktu mikir, dan kamu langsung menganggap aku nggak mau sama kamu. Aku harus jawab apa supaya kamu mau dengar?”
Maya duduk, menyingkirkan rambut dari wajah dengan kesal.
“Sekali saja aku ingin kamu kelihatan senang. Bilang kita bisa pikirkan, tanya aku kenapa sekarang ingin. Bukannya langsung menyalakan lampu seperti mau rapat.”
Adrian melirik lampu yang baru dinyalakannya. Ia memang ingin membicarakannya dengan serius. Ia tidak menyangka gerakan itu pun bisa melukai Maya.
“Proyek hotelmu mulai tiga bulan lagi. Kalau hamil, perjalanan dan jadwal lapangannya bagaimana? Kamu sudah pikirkan siapa yang bisa menggantikan? Kantorku juga baru—”
“Nah. Daftar alasan.” Maya menyingkap selimut dari lututnya. “Belum apa-apa sudah kamu susun semuanya.”
“Aku nanya karena dulu kamu sendiri nggak mau kehamilan mengganggu pekerjaan. Aku ingat kamu bilang apa. Sekarang aku mengingatkan, malah dianggap cari alasan?”
“Karena kamu lebih semangat menghitung repotnya daripada membayangkan punya anak denganku!”
Adrian terdiam sesaat. Maya menyeka matanya, malu karena sejak tadi ia terus menunggu suaminya mengatakan bahwa membayangkan hal itu juga membuatnya senang.
Ia malah mendengar, “Kita masih punya waktu. Kenapa harus sekarang?”
“Buat kamu selalu masih ada waktu.”
“Enam bulan lalu kamu yang minta menunda, May.” Suara Adrian meninggi. “Waktu itu aku ikut. Sekarang kamu berubah pikiran, aku harus langsung ikut juga? Kalau aku minta waktu, berarti aku nggak sayang?”
Maya tersentak. Ia menarik selimut lagi, menutup lututnya.
“Dulu gampang, ya, sepakat sama aku. Karena kebetulan aku minta hal yang kamu mau.”
Adrian ingin membantah, tetapi ia tahu istrinya sedang menunggu lebih dari rencana kerja. Setelah pertengkaran soal video, Maya masih ingin diyakinkan bahwa ia memilih pernikahan mereka. Adrian bersalah karena tidak bisa menjawab waktu itu. Tetap saja ia marah karena sekarang keinginan punya anak seolah menuntut jawaban yang sama malam ini juga.
“Aku ingin keputusan ini kita pikirkan baik-baik,” katanya lebih pelan. “Bukan karena aku takut kamu menangis kalau jawabanku belum.”
Wajah Maya berubah.
“Oh. Jadi sekarang aku menangis buat memaksamu?”
“May, aku…”
Adrian berhenti. Ia mendengar sendiri betapa buruk kalimat tadi kedengarannya.
Maya mengusap air matanya dengan ujung selimut, keras-keras sampai pipinya memerah.
“Tenang. Aku nggak akan tanya lagi malam ini. Kamu nggak perlu merasa terpaksa apa-apa.”
Ia berbaring membelakanginya.
Adrian duduk di tepi ranjang, menyesal sudah meninggikan suara dan menyebut tangisnya seperti itu. Tetapi mengatakan iya sekarang hanya agar mereka berhenti bertengkar akan lebih buruk.
“May, aku tadi keterlaluan. Aku cuma—”
“Aku mau tidur.”
Tangannya berhenti di atas selimut, belum menyentuh bahu Maya. Setelah beberapa menit, ia mematikan lampu.
* * *
Maya tetap terjaga.
Ia memang ingin anak. Keinginan itu bukan muncul hanya karena nama Nara. Ia pernah membayangkan kamar kecil di samping kamar mereka, Adrian memasang rak, dirinya memilih warna dinding.
Tetapi selama beberapa hari terakhir, bayangan itu terasa mendesak.
Ia ingin sesuatu yang tidak bisa diambil hanya karena seorang perempuan datang menangis dan membuat suaminya bingung menjawab.
Maya malu kepada pikirannya sendiri. Seorang anak seharusnya tidak perlu diberi tugas membuat ayahnya tinggal.
Di belakangnya, kasur bergerak. Adrian berbaring menghadap sisi lain.
Maya menekan bibir agar tidak mengeluarkan suara.
* * *
Adrian melihat garis cahaya dari bawah pintu.
Ia tidak ingin punya anak dengan cara begini, di tengah pertanyaan yang setiap jawabannya berpotensi menjadi bukti ia kurang mencintai istrinya.
Ia juga tahu ada alasan Maya bertanya dengan takut.
Pertanyaan di depan meja rias itu masih belum ia jawab.
Adrian memejamkan mata. Yang datang justru Nara di halte, berusaha meminta maaf karena menangis.
Ia membalik tubuh sedikit, menghadap langit-langit. Ia menarik napas perlahan, mencoba memikirkan hal lain.
Wajah itu tetap ada.
Sudah lebih dari seminggu ia tidak melihat perempuan itu. Ia ingin tahu apakah lukisan yang dibawanya pulang mendapat tempat di studio, apakah ia tidur cukup, apakah Dimas masih memeriksa panggilan kurir.
Ia hampir meraih ponsel.
Lalu mendengar Maya bergerak di sebelahnya.
Adrian meletakkan tangannya kembali di atas selimut.
Ia tidak berhak menuntut istrinya berhenti merasa takut sementara pikirannya sendiri berjalan sejauh ini.
Lama kemudian ia tertidur, masih mengingat Nara menunduk di halte, dengan tisu basah di tangan.
* * *
Di rumah lain, Nara berbaring menghadap jendela.
Dimas tidur membelakanginya. Malam ini mereka tidak bertengkar. Suaminya bahkan mengisi botol air di meja Nara dan mengingatkan agar jangan terlalu lama melukis besok.
Tetap saja Nara tidak ingin membalik badan.
Tangan Dimas sempat mencarinya sebelum tidur. Ia pura-pura tidak sadar sampai laki-laki itu berhenti.
Ia teringat Adrian memberikan tisu.
Seandainya ia tidak mengaku soal video itu, mungkin mereka masih bisa saling mengirim foto kopi. Ia masih bisa mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa mereka hanya berteman.
Tetapi pikiran itu licik. Nara mengetahuinya bahkan dalam gelap. Ia sudah menginginkan lebih sebelum ada siapa pun yang melarang.
Ia mengambil bantal, menariknya sedikit lebih dekat ke wajah, lalu memeluk ujungnya.
Ponselnya ada di meja. Tidak berbunyi.
Ia membayangkan tangan Adrian yang sempat terangkat dan turun lagi. Lama sekali ia bertanya-tanya apa yang hampir dikatakan laki-laki itu.
Menjelang dini hari, Nara akhirnya tertidur, masih berharap waktu itu Adrian memintanya tinggal sebentar lagi.
Di sisi ranjang yang lain, Dimas mendengkur pelan.