Ann hanyalah mahasiswi seni biasa di Kota Meksiko—sampai satu malam yang salah mengubah segalanya. Diculik, dilelang, dan dijual kepada dunia hitam, ia terbangun sebagai milik seorang pria yang namanya saja mampu membuat seantero dunia bawah tanah bergidik: salah satu dari empat bos Mafia Rusia.
Mereka berempat berbagi lebih dari sekadar kerajaan bisnis gelap—sang Singa, sang Serigala, sang Beruang Hitam, dan sang Elang adalah sahabat sejak kecil. Dan kini keempatnya mengincar gadis yang sama.
Terkurung dalam sangkar emas seorang pria berbahaya, Ann bersumpah takkan menyerah. Tapi di balik tatapan dingin sang penguasa tersembunyi sesuatu yang tak ia duga—dan garis antara tawanan dan yang dipuja mulai kabur. Di dunia tempa cinta ditempa dengan darah, kesetiaan bisa berujung maut, dan masa lalu tak pernah benar-benar terkubur, satu pertanyaan menggantung: mungkinkah menemukan cinta sejati di tangan orang yang membelimu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin C, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelang
Setelah setengah jam di laut, kami tiba di sebuah platform. Ukurannya luar biasa besar. Aku bisa melihat lebih dari lima belas kapal di sekitarnya, dan tampak semacam gedung pertemuan yang dibangun di atasnya. Kapal berhenti di sisinya dan kami disuruh turun. Rick dan Joan berjalan di depan kami. Ketika masuk, kami melihat tempat itu semacam bar—tertata sangat rapi. Ada beberapa pria berjas, sebagian muda dan sebagian lagi tua serta menjijikkan, yang tersenyum saat kami lewat.
Kami digiring ke sebuah ruangan besar dan dinaikkan ke semacam panggung berundak. Di sana sudah ada beberapa gadis lain yang belum pernah kami lihat, dan kami ditempatkan di bagian belakang. Kuangkat wajahku dan kulihat ruangan itu penuh sesak, sebagian besar oleh para pria. Ada beberapa perempuan yang sibuk bicara di telepon, tapi mayoritas adalah pria dari segala usia dan rupa.
Kami dibagi menjadi dua kelompok. Yang masih perawan dikirim ke sebelah kanan, yang tidak lagi perawan ke sebelah kiri.
Di depan kami berdiri seorang wanita bertampang keras, memakai celana hitam. Ia membawa mikrofon dan sebuah daftar. Sementara kami para gadis saling berpandangan, rasa takut mencekamku.
"Selamat malam, Tuan-tuan," ujar sang pembawa acara. "Suatu kehormatan menyambut orang-orang penting bersama kami. Selamat datang di lelang emas malam ini. Namaku Luan, dan aku yang akan mempersembahkan harta-harta cantik yang telah kami bawakan untuk kalian."
Ia memulai dengan gadis-gadis yang tak lagi perawan. Yang pertama adalah salah satu gadis dari kelompokku, gadis manis berambut pirang. Setahuku namanya Lila.
"Gadis pertama bernama Lila," ujar Luan. "Usianya 21 tahun, orang Meksiko, bertubuh indah, dan wajahnya sangat cantik. Mari kita mulai lelang dari 35.000 dolar."
Aku menyaksikan tawaran naik dan terus naik. Gadis malang itu terjual pada seorang pria berusia sekitar 50 tahun, bertampang tua, nyaris botak, dan tampak seperti orang cabul. Tapi ia membayar 220.000 dolar untuk gadis itu, lalu Lila diseret ke sisinya. Pria itu menciumnya, dan aku bisa melihat wajah jijik gadis malang itu. Pria itu menyadarinya, lalu memukulnya hingga terjatuh ke lantai. Salah satu anak buahnya membawanya pergi, mungkin ke kapal si pria.
Begitulah, satu per satu mereka terjual, masing-masing pada pria yang berbeda. Beberapa gadis dibeli oleh sepasang perempuan, tapi menurut yang kudengar, itu justru lebih buruk. Mereka adalah pemilik rumah bordil atau tempat prostitusi kelas rendah, dan akan menjual para gadis itu sebagai pelacur. Beberapa gadis bilang lebih baik menderita bersama satu pria daripada diperkosa banyak orang. Tapi bagiku, semuanya sama-sama busuk.
Ketika giliranku tiba, sang pembawa acara berbicara dengan hati-hati sambil tersenyum.
"Perkenalkan, ini Ann," ujar Luan. "Dia salah satu perawan cantik kami. Usianya 22 tahun, mahasiswi seni di universitas, selain cantik ia juga terpelajar. Karena itu lelang untuknya akan dimulai dari 250.000 dolar. Siapa yang menawar lebih?"
Aku begitu ketakutan saat itu hingga memejamkan mata. Kudengar suara para binatang itu menaikkan angkanya. Kubuka mataku ketika mendengar suara beberapa pria muda.
"Aku menawar 550.000," kata pria pertama.
"Aku menawar 580.000," kata pria kedua.
"Aku menawar 600.000," kata pria ketiga.
"Aku menawar 620.000," kata pria keempat.
Keempatnya saling pandang dengan tatapan menantang. Tawaran naik jauh lebih tinggi dari yang kubayangkan, sampai salah satu dari mereka berkata dengan nada penuh keunggulan.
"Aku menawar 1.750.000 untuknya," ujar pria ketiga.
Ketiga pria lain terkejut. Mereka masih berpikir, tapi sebelum sempat bicara, Luan menutup lelang.
"Terjual kepada tuan muda Rusia, seharga 1.750.000," ujar Luan.
Seorang pria menurunkanku dari panggung dan membawaku ke pembeliku. Di sisinya, ketiga pria lain tersenyum, tapi kepalaku begitu pening hingga aku nyaris tak memperhatikan mereka. Pria itu berkata padaku dalam bahasa Spanyol yang fasih.
"Aku datang mencari tembaga, tapi malah menemukan emas," ujarnya. "Jangan khawatir, kau akan senang menjadi milikku." Ia menjentikkan jari, dan seorang pria—tampaknya pengawal—menghampiri. "Bawa dia ke kapalku. Pastikan dia tak berbuat konyol. Begitu lelang selesai, kita berangkat."
Pria itu praktis menyeretku ke kapal. Kapal itu indah, tampak sangat mahal—belum pernah kulihat yang seperti itu. Sang pengawal membawaku ke sebuah kamar yang mirip suite. Ia mendudukkanku di ranjang dan menyuruhku diam, bahkan tak boleh terpikir untuk kabur. Tak ada jalan keluar, dan kapal itu dijaga ketat. Ia pergi meninggalkanku terkunci di dalam suite.
Aku menangis beberapa saat. Bagaimana mungkin ini terjadi. Aku telah dijual kepada seorang pria Rusia. Ia memang muda dan tampan, tapi apa peduliku. Ia telah membeliku, dan entah apa yang akan ia perbuat padaku nanti. Rasa takut mencekamku, dan aku tak sanggup melakukan apa-apa selain mengurung diri di kamar mandi sambil menangis.
Di arena lelang.
"Bagaimana bisa kau menawar setinggi itu untuknya?" tanya pria pertama.
"Kau tahu aku tak suka kalah," jawab pria ketiga. "Lagi pula dia sangat cantik."
"Kau akan menjualnya padaku setelah kau renggut keperawanannya?" tanya pria kedua.
"Entahlah, mungkin," sahut pria ketiga. "Kau tahu aku cepat bosan pada mereka. Setidaknya kau harus menawarkan setengah dari harga yang kubayar untuknya."
"Baiklah, hanya karena menurutku dia cantik," kata pria kedua.
"Aku menawarkan dua kali lipat dari yang kaubayar kalau kau serahkan dia padaku sekarang," ujar pria keempat.
"Kenapa, apa kau begitu menyukainya?" tanya pria ketiga.
"Ya, dia cantik. Sepakat?" balas pria keempat.
"Entahlah, aku ingin bisa memilikinya di ranjangku setidaknya sekali," ujar pria ketiga.
"Baik, tapi aku yang akan merenggut keperawanannya. Setelah itu kau boleh memilikinya sekali," kata pria keempat.
"Baiklah, tapi untuk saat ini mari kita lanjutkan urusan kita," ujar pria ketiga.
Dalam benak pria keempat, hanya gadis itu yang memenuhi pikirannya. Gadis itu telah mencuri hatinya. Ia tak bisa membiarkan pria lain menyentuhnya; gadis itu harus menjadi miliknya, apa pun caranya. Ia tak peduli membayar dua atau tiga kali lipat, uang bukan soal baginya. Tapi bagaimana caranya menjauhkan gadis itu dari ketiga pria lain? Bagaimana mungkin mereka berempat mengingini gadis yang sama.