Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Dari Pak Tua Suryo

Matahari pagi baru saja mengintip dari balik puncak bukit batu Gunung Api Purba Nglanggeran, menyinari lembah dengan cahaya keemasan yang lembut dan hangat. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan di lereng bukit, membuat suasana pagi itu terasa begitu damai damai yang kontras dengan apa yang baru saja mereka alami semalam. Tujuh hari hilangnya Raka, tujuh hari kecemasan, dan kini pagi itu mereka berjalan bersama-sama menuju rumah Pak Tua Suryo, di bagian paling atas kawasan Kampung Pitu.

Raka berjalan di depan, langkahnya sudah lebih tegap meski wajahnya masih tampak lelah. Di sebelahnya Laras, diikuti Dimas dan beberapa anggota kru yang ikut serta. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang menanjak, melewati tujuh rumah yang berdiri berjauhan di lereng bukit itu rumah-rumah kayu dan batu yang tampak sederhana namun kokoh, masing-masing berhalaman luas, dikelilingi pepohonan rindang. Tidak ada yang keluar rumah, tidak ada yang beraktivitas di halaman. Sejak pagi itu, suasana tujuh rumah itu terasa sunyi, seakan warga di sana tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi.

Rumah Pak Tua Suryo adalah rumah paling ujung, di posisi tertinggi, menghadap ke lembah di bawahnya. Rumahnya sederhana, dinding anyaman bambu yang sudah tua namun tetap rapi, lantai semen yang bersih, dan di beranda depan terlihat kursi kayu tua yang sudah berpuluh tahun digunakan. Saat mereka tiba, Pak Tua Suryo sudah duduk di sana, menunggu mereka. Beliau mengenakan pakaian sederhana, rambut dan janggutnya sudah memutih seluruhnya, namun tatapan matanya masih tajam dan jernih seakan beliau telah melihat segala sesuatu sejak puluhan tahun silam.

"Silakan duduk," kata Pak Tua Suryo pelan namun tegas, tangannya menunjuk kursi kayu di hadapannya. Suaranya berat dan dalam, seakan berasal dari kedalaman tanah tempat mereka berdiri.

Mereka duduk dengan sopan, tidak berani bersuara terlalu keras. Raka duduk paling depan, meletakkan buku harian Ardita di atas meja kayu kecil di antara mereka. Pak Tua Suryo menatap buku itu, lalu menatap Raka tatapan yang penuh arti, seakan beliau sudah tahu apa yang ada di dalam buku itu.

"Kau kembali," kata Pak Tua Suryo pelan. "Kau hilang selama tujuh hari. Dan bagimu... hanya sebentar, bukan?"

Semua orang terkejut mendengar itu. Beliau tahu. Beliau sudah menduga.

"Benar, Bapak," jawab Raka dengan tulus. "Saya masuk ke rumah kedelapan itu sebentar, bertemu dengan mereka, menerima buku ini, lalu keluar. Tapi ternyata... tujuh hari telah berlalu di dunia ini. Bagaimana Bapak bisa tahu?"

Pak Tua Suryo menghela napas panjang, menatap ke arah lembah dan tujuh rumah yang tersebar di sana. "Karena bukan kau yang pertama mengalami hal itu, Nak. Dan bukan pula keluarga Candra Wijaya yang pertama melanggar batas itu. Kampung Pitu ini... tempatnya bukan sekadar tanah dan batu. Tempat ini punya aturan sendiri, aturan yang diturunkan leluhur sejak ratusan tahun lalu. Aturan yang tidak boleh dilanggar siapa pun sekalipun orang itu membawa uang banyak, sekalipun orang itu merasa paling modern dan paling benar."

Beliau terdiam sejenak, menatap tujuh rumah itu satu per satu, seakan menghitungnya dengan hati. Lalu beliau mulai bercerita, suaranya rendah namun jelas, setiap kata terasa berat dan penuh makna.

 

"Kampung Pitu — Tujuh Rumah, Tujuh Keluarga"

"Dahulu kala, ratusan tahun silam, tujuh bersaudara datang ke tempat ini. Mereka lari dari perang, dari penderitaan, mencari tempat yang damai untuk hidup. Mereka berjanji satu sama lain di tempat ini, hanya akan ada tujuh rumah, tujuh keluarga. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang. Karena tanah ini, bukit ini, hutan ini hanya sanggup menampung tujuh keluarga. Jika lebih, keseimbangan akan rusak. Alam akan marah. Dan siapa pun yang membangun rumah kedelapan... akan terjebak di antara dua dunia. Bukan mati, bukan hidup. Terjebak selamanya."

"Aturan itu dijaga turun-temurun. Selama ratusan tahun, tidak ada yang berani melanggar. Tujuh rumah, tujuh keluarga. Jika ada yang meninggal, digantikan keturunannya. Jika ada yang pindah, digantikan kerabatnya. Tetap tujuh, tidak lebih."

"Hingga tahun 1996. Datanglah keluarga dari Jakarta. Bapaknya bernama Candra Wijaya. Orangnya sopan, bicara halus, tapi hatinya keras. Dia membeli tanah di sini, di tempat yang paling tinggi, paling indah. Saya sendiri yang mendatanginya hari itu. Saya bilang Bapak, jangan bangun rumah di sini. Hanya boleh tujuh rumah. Rumah kedelapan tidak boleh ada di sini."

"Dia tertawa. Katanya zaman sudah maju. Katanya itu takhayul orang tua. Katanya dia manusia modern, tidak percaya hal seperti itu. Dia tetap membangun. Rumahnya besar, dua lantai, lebih megah dari tujuh rumah kami. Semua warga melihat. Kami tidak bisa melarang tanah itu miliknya secara sah. Kami hanya bisa memperingatkan. Tapi peringatan kami dianggap angin lalu."

"Rumah itu selesai dibangun. Mereka pindah Pak Candra, istrinya Bu Isma, dan dua anak mereka Arlan yang sulung, dan Ardita yang masih remaja. Hari pertama mereka pindah, mereka tampak senang. Tersenyum, melambaikan tangan. Kami berharap semoga mereka benar, semoga kami yang salah."

"Tapi seminggu kemudian... hal-hal aneh mulai terjadi."

"Pertama mereka tidak pernah keluar rumah di siang hari. Jika keluar, selalu di waktu sore. Kami pikir mereka orang kota yang tidak biasa bangun pagi. Tapi lama-kelamaan... semakin jarang terlihat. Pintu rumah itu selalu tertutup. Jendela-jendela selalu tertutup tirai."

"Kedua suara. Sering terdengar suara orang berjalan di lantai atas, padahal tidak ada siapa-siapa di luar. Kadang terdengar suara anak-anak tertawa, padahal anak-anak mereka tidak pernah keluar bermain. Kadang terdengar suara orang memanggil nama, tapi tidak ada yang muncul."

"Ketiga yang paling membuat kami takut. Kadang kami melihat mereka berdiri di jendela lantai atas, menatap ke luar. Tapi tatapan mereka... kosong. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Seakan mereka melihat sesuatu yang kami tidak bisa lihat."

"Satu bulan berlalu. Dua bulan. Mereka tidak pernah berkunjung ke rumah warga. Tidak pernah berbicara lebih dari dua tiga kata. Suatu hari saya beranikan diri pergi ke rumah itu, mengetuk pintu. Yang membuka adalah Ardita. Wajahnya pucat, matanya bengkak. Saya bertanya Nak, apa semua baik-baik saja? Dia hanya menatap saya, lalu menangis pelan. Katanya Pak, Ayah sakit. Ibu tidak keluar kamar. Kak Arlan tidak bicara. Saya ingin pulang. Saya ingin kembali ke Jakarta."

"Saya hendak masuk, hendak membantu. Tapi tiba-tiba Pak Candra muncul di belakangnya. Wajahnya berbeda dingin, tajam, tidak seperti orang yang saya kenal. Dia bilang terima kasih, Pak. Kami tidak butuh bantuan. Silakan pulang. Pintu itu ditutup tepat di depan wajah saya. Itu kali terakhir saya melihat mereka."

"Malam harinya... hujan turun sangat deras. Petir menyambar berkali-kali. Pagi harinya... rumah itu sunyi. Sepi. Tidak ada asap dari cerobong. Tidak ada suara. Kami semua berkumpul di depan pintu rumah itu. Mengetuk, memanggil tidak ada jawaban. Kami tidak berani masuk. Itu rumah mereka, kami tidak berhak masuk tanpa izin."

"Sejak hari itu... mereka tidak pernah terlihat lagi. Rumah itu berdiri kokoh, pintu tertutup, jendela tertutup. Kadang di sore hari terlihat bayangan bergerak di balik tirai. Tapi tidak ada yang keluar. Tidak ada yang masuk. Mereka... hilang. Padahal rumahnya masih ada. Mereka ada di dalam sana, tapi tidak bisa keluar. Terjebak. Seperti yang leluhur kami katakan siapa pun yang membangun rumah kedelapan... akan terjebak di antara dua dunia."

 

Pak Tua Suryo berhenti bercerita. Keheningan menyelimuti mereka, hanya terdengar suara angin yang berhembus pelan di antara pepohonan. Raka menatap buku harian Ardita di atas meja kini setiap kata yang tertulis di halaman pertama itu terasa jauh lebih berat, jauh lebih menyedihkan. Gadis itu menulis dengan penuh harapan, tidak tahu bahwa rumah impian itu justru menjadi penjara bagi keluarganya selamanya.

"Jadi... mereka tidak pergi," kata Laras pelan, matanya berkaca-kaca. "Mereka masih ada di dalam sana. Selama puluhan tahun."

"Mereka ada," jawab Pak Tua Suryo lembut namun tegas. "Tapi bukan seperti kita. Mereka terjebak. Waktu berjalan berbeda bagi mereka. Bagi mereka mungkin baru kemarin mereka pindah. Padahal di dunia ini, sudah puluhan tahun berlalu. Dan siapa pun yang masuk ke rumah itu... ikut terjebak dalam waktu yang sama. Itulah sebabnya kau hilang tujuh hari, Nak Raka. Bukan karena kau lama di sana. Tapi karena waktu di sana berjalan dengan aturannya sendiri."

Raka menggenggam buku harian Ardita itu erat. "Ardita memberikan ini kepadaku. Dia berpesan agar orang lain tahu. Agar kisah mereka diketahui."

Pak Tua Suryo menatap buku itu dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. "Itu tandanya dia memilihmu, Nak. Dia percaya padamu. Buku itu bukan sekadar catatan. Itu jejak mereka. Satu-satunya bukti bahwa mereka pernah ada, pernah hidup, pernah berharap. Dan sekarang... tanggung jawab itu ada di tanganmu."

Beliau berdiri perlahan, menatap ke arah rumah kedelapan yang tersembunyi di balik pepohonan di kejauhan.

"Masih banyak halaman lagi di buku itu, bukan?" tanya beliau pelan.

"Masih banyak," jawab Raka. "Cerita mereka baru saja dimulai."

"Maka bacalah. Pelan-pelan. Dan pahamilah sebelum kau bisa membantu mereka, kau harus tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu, hari demi hari, sejak hari pertama hingga hari di mana semuanya berakhir."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!