Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keabsurdan Dua Pangeran
Suasana malam di kediaman sederhana Qinglan yang tadinya tenang seketika berubah menjadi arena pertarungan verbal yang melelahkan jiwa. Semenjak luka-luka mereka berangsur pulih, sifat asli Feng Huang dan Xiao Mingye yang kekanak-kanakan justru semakin menjadi-jadi. Setiap hari selalu diwarnai dengan perdebatan remeh yang sukses membuat kepala Qinglan berdenyut nyeri.
Malam itu, meja makan kayu di tengah ruangan dipenuhi oleh mangkuk-mangkuk berisi hidangan sederhana buatan Qinglan. Namun, alih-alih menikmati makanan dengan tenang, kedua pangeran istana yang menyamar sebagai rakyat biasa itu justru saling melirik tajam sambil memegang sumpit masing-masing.
Semua bermula ketika Mingye dengan sengaja mengambil potongan daging ayam terakhir di dalam mangkuk besar menggunakan sumpitnya. Melihat hal itu, urat di pelipis Feng Huang berkedut hebat. Sebagai seorang pangeran dari Klan Feng yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan selalu mendapatkan yang terbaik, tentu saja ia tidak terima jatah makanannya diserobot begitu saja oleh mantan pangeran dari Klan Xiao yang kini bertingkah menyebalkan.
“Hei, Tuan Muda Manja! Kau punya dua tangan yang utuh, kenapa masih saja merebut potongan daging terakhir di mangkuk itu? Dasar tidak punya etika meja makan!” cerca Feng Huang sengit, menatap Mingye dengan tatapan menghina.
Mingye yang sedang mengunyah makanan dengan santai mendadak menghentikan kunyahannya. Ia menaikkan sebelah alisnya, lalu balas mendengus sinis ke arah pemuda berambut merah di hadapannya.
“Oh, lihat siapa yang bicara? Panggil aku Tuan Muda Manja? Jelas-jelas yang mulia Tuan Muda Arogan dari Klan Feng ini setiap hari selalu mengeluh punggungnya pegal-pegal, minta dipijatkan, dan rewel setiap kali ramuan obatnya terasa pahit! Dibandingkan aku, kau jauh lebih mirip bayi besar yang kelebihan hormon!” balas Mingye sengit tidak mau kalah, sengaja melambaikan sumpitnya di udara untuk memancing emosi Feng Huang.
Wajah Feng Huang langsung memerah padam menahan malu sekaligus murka. Ia membanting sumpitnya ke atas meja hingga menimbulkan suara benturan yang cukup nyaring.
“Apa kau bilang?! Beraninya kau menyebutku bayi besar, hah? Asal kau tahu, aku terluka parah di hutan demi menyelamatkan nyawamu yang tidak berguna itu! Kalau bukan karena aku, kau pasti sudah menjadi santapan empuk siluman serigala sejak bulan lalu!” seru Feng Huang dengan suara menggelegar, berdiri dari kursinya dan menuding wajah Mingye secara langsung.
Mingye ikut berdiri, menepis tangan Feng Huang dengan kasar sambil mendengus angkuh. “Menyelamatkanku? Jangan percaya diri berlebihan, Tuan Muda Arogan! Tanpa bantuanmu pun aku bisa melarikan diri dari serigala sialan itu dengan teknik meringankan tubuh milik Klan Xiao!”
“Teknik meringankan tubuh, kata mu? Yang kulihat kau malah berlari terbirit-birit sambil menangis memanggil namaku!” cerca Feng Huang semakin menjadi-jadi, melontarkan ejekan-ejekan kekanak-kanakan yang sukses membuat suasana semakin panas.
“Diam kau, Tuan Muda Arogan!”
“Kau sendiri diam, Tuan Muda Manja!”
Kedua pria dewasa dengan status bangsawan tinggi itu terus-menerus saling berteriak dan melempar ejekan konyol, melupakan fakta bahwa mereka saat ini sedang berada di dalam rumah seorang gadis yang terkenal tegas dan mematikan. Mereka saling mendekat, saling dorong dengan bahu, dan memasang wajah garang bak dua ekor ayam jantan yang siap bertarung di arena perjudian liar.
Mereka benar-benar tenggelam dalam dunia keabsurdan mereka sendiri, tidak menyadari bahwa bayangan hitam pekat telah berdiri tepat di belakang punggung mereka.
Xia Qinglan berdiri mematung di samping pintu dapur dengan mangkuk nasi di tangan kirinya. Wajahnya tertutup oleh bayangan rambut depannya, sementara kedua matanya menyipit tajam memancarkan aura pembunuh tingkat tinggi yang langsung membuat udara di dalam ruangan mendadak membeku.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Qinglan. Ia perlahan meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja dengan gerakan yang sangat pelan, namun penuh tekanan mengerikan.
Brak!
Sebuah gebrakan meja yang sangat keras mengguncang seluruh isi ruangan. Piring-piring keramik bergetar hebat, dan cipratan kuah sayur nyaris tumpah ke lantai.
Kedua pangeran yang sedari tadi sibuk berdebat itu langsung terlonjak kaget luar biasa. Tubuh mereka menegang kaku seketika, keringat dingin bercucuran di pelipis mereka, dan dengan gerakan serentak yang sangat kompak, mereka menoleh perlahan ke arah sumber suara.
Di hadapan mereka, Qinglan berdiri tegak dengan kedua tangan berkacak pinggang. Senyuman tipis tersungging di bibirnya, namun senyuman itu justru terlihat jauh lebih mengerikan daripada tatapan maut seekor harimau betina yang kelaparan.
“Wah... wah... luar biasa sekali pemandangan di hadapanku ini,” suara Qinglan terdengar sangat lembut, namun dinginnya mencengkeram hingga ke tulang sumsum. “Kalian berdua benar-benar sudah bosan hidup di dunia ini, ya? Baru saja lukanya sembuh total, sekarang sudah punya tenaga ekstra untuk saling berteriak seperti anak kecil yang berebut mainan di pasar malam?”
Feng Huang menelan ludahnya susah payah. Ia mencoba tersenyum canggung, berusaha meredakan situasi yang mendadak berubah menjadi mimpi buruk baginya. “Ah... Lanlan, kau salah paham... Kami tadi hanya... eum, sedang berdiskusi ringan mengenai strategi bertahan hidup di desa ini...” elak Feng Huang dengan suara bergetar pelan.
“Benar, Lanlan! Tuan Muda Arogan—maksudku, Tuan Muda Feng ini hanya sedang melatih pita suaranya agar tidak berkarat!” timpal Mingye cepat-cepat, berusaha membela diri sambil melangkah mundur perlahan untuk menyelamatkan nyawanya.
Qinglan sama sekali tidak terpengaruh oleh alibi konyol mereka. Ia menyipitkan mata, lalu meretakkan jari-jari tangannya hingga menimbulkan bunyi kertakan sendi yang begitu menyeramkan.
“Bagus. Karena kalian tampaknya memiliki banyak sekali energi sisa yang tidak terpakai, bagaimana kalau malam ini kalian berdua membersihkan seluruh halaman belakang, mencuci semua pakaian kotor di sumur, dan berdiri dengan satu kaki di sudut ruangan sampai fajar menyingsing?” ancam Qinglan mutlak, tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk membantah.
Mendengar hukuman super berat dan memalukan itu, Feng Huang dan Mingye langsung saling berpandangan dengan ekspresi putus asa. Harga diri mereka sebagai pangeran bangsawan seketika runtuh berkeping-keping.
“Baik, Lanlan... Kami minta maaf...” ucap mereka berdua secara bersamaan dengan kepala tertunduk lesu, menyerah sepenuhnya di bawah telapak tangan sang gadis.
Qinglan mendengus tajam, melipat tangan di dada. “Cepat habiskannya dalam diam, atau kalian benar-benar akan menjalani hukuman itu sekarang juga!”
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, dua pangeran paling sombong dan berpengaruh di daratan luas terpaksa makan malam dalam keheningan total, di bawah tatapan tajam Xia Qinglan yang berdiri mengawasi mereka bagaikan algojo istana yang siap algojo kapan saja. Keabsurdan mereka seketika lenyap seketika, menyisakan kepatuhan mutlak demi keselamatan nyawa mereka sendiri.