Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Sarah

Pagi yang cerah menyelimuti desa dengan langit biru tanpa awan setelah mereka selesai mengikuti senam pagi bersama warga. Kelompok kecil anggota BEM kemudian bersiap menuju sungai untuk melihat perkembangan proyek penyediaan air bersih.

Suasana cukup santai, meski perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Mereka harus melewati jalan setapak yang curam dan licin karena sisa hujan semalam.

Fariz berjalan paling depan dengan langkah tegas, diikuti Ihsan yang sesekali memeriksa catatan kecil di tangannya. Rafka berjalan beberapa langkah di belakang mereka sambil berbicara dengan Azka mengenai material proyek yang masih kurang.

Sementara itu, Azel berjalan bersama Sekar, Bella, dan Delia. Mereka sesekali bercanda untuk mengurangi rasa lelah.

"Jadi proyek ini udah sampai mana, Kak?" tanya Azel.

Fariz menoleh sekilas. "Pipa utama udah mulai dipasang, tapi debit airnya masih kecil. Kita mau memastikan aliran dari mata air ini cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan warga."

Azel mengangguk. "Oh..."

Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, Sekar tiba-tiba menghentikan langkah.

"Eh, tunggu!"

Semua menoleh.

Sekar menunjuk ke arah semak-semak di tepi jalan. "Itu tanaman liar yang daunnya mirip lidah buaya, ya?"

Ihsan ikut melihat. "Kenapa?"

"Kayaknya bisa dipakai buat luka, deh."

Ihsan tertawa kecil. "Kamu emang nggak pernah lepas dari peran P3K, ya, Sek? Padahal kamu masuk divisi acara."

Sekar meringis. "Kan siapa tau nanti butuh. Jaga-jaga nggak salah, kan?"

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, suara aliran sungai mulai terdengar. Beberapa menit berikutnya, mereka akhirnya tiba di tepi sungai. Aliran air yang cukup deras memantulkan sinar matahari pagi hingga permukaannya tampak berkilauan. Beberapa pekerja lokal terlihat sibuk memasang pipa di tepian sungai.

"Alhamdulillah, proyeknya udah jalan," ucap Rafka sambil mengusap peluh di dahinya.

Ia memperhatikan pipa yang baru dipasang.

"Tapi kenapa pipanya cuma satu jalur? Nggak bakal cukup buat dua RT, kan?"

Fariz mengangguk. "Makanya kita perlu evaluasi. Kalau debit airnya kurang, kita harus cari sumber mata air tambahan."

Ia menunjuk ke arah sisi sungai. "Itu yang mau kita cek hari ini."

Beberapa anggota mulai bergerak mendekati lokasi proyek.

Azel ikut melangkah ke arah sungai bersama Bella.

Namun baru beberapa langkah... "Eh—"

Kakinya tiba-tiba menginjak tanah yang licin. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

"Azel!"

Bella spontan berusaha meraih tangannya.

Namun terlambat.

Bruk!

Azel jatuh terduduk tepat di tanah berlumpur. "Aduh..."

Sekar langsung berlari menghampiri. "Zel! Lo nggak apa-apa? Ada yang sakit?"

Azel mendengus kesal sambil melihat roknya yang kini penuh noda lumpur. "Gue nggak apa-apa. Cuma kaget."

Fariz yang melihat kejadian itu langsung menghampiri. Wajahnya tampak cemas. "Kamu nggak apa-apa?"

Azel mengangguk. "Nggak apa-apa, Kak."

Fariz mengulurkan tangan. "Sini."

Azel terdiam sejenak, ia menatap tangan laki-laki itu untuk beberapa saat.

"Gak sentuhan kok, Zel. Lihat aku pakai sarung tangan."

Akhirnya Azel menerima tangannya lalu berdiri.

"Hati-hati jalannya."

"Iya, Kak. Terimakasih."

Fariz memperhatikan pakaian Azel. "Baju kamu basah dan kotor."

Azel menunduk melihat gamisnya. "Ah, iya nih."

"Udah." Fariz menunjuk ke arah jalan kembali. "Kamu balik ke posko aja."

Azel langsung menatapnya. "Hah?"

"Balik."

"Saya masih bisa ikut, Kak."

"Zel, lihat pakaian kamu."

"Saya cuma jatuh, bukan patah tulang."

Fariz menghela napas. "Bukan soal itu. Tanahnya licin. Kalau kamu jatuh lagi gimana?"

Azel mulai memasang wajah tidak terima. "Ya saya hati-hati."

"Kamu tadi juga bilang mau hati-hati."

Azel terdiam sesaat. "Ya kan tadi nggak sengaja."

"Justru karena nggak sengaja."

Fariz menatapnya serius. "Kalau kamu tetap di sini, aku malah kepikiran."

Azel mengerucutkan bibir. "Kak Fariz lebay."

Fariz mengangkat alis. "Lebay?"

"Iya."

"Saya cuma nggak mau bikin semuanya repot."

"Zel..."

"Saya bisa balik sendiri."

Fariz menghela napas panjang. "Minimal tunggu ada yang mengantar."

"Nggak perlu."

Azel mengambil tasnya yang tadi diletakkan di dekat Bella. "Saya jalan pelan-pelan. Sampai posko juga nggak jauh."

Fariz hendak membantah, tetapi Azel sudah lebih dulu melangkah.

"Azel!"

Azel menoleh. "Saya baik-baik aja, Kak. Saya balik dulu."

Ia kemudian berjalan meninggalkan mereka dengan langkah hati-hati.

Sekar hanya bisa menghela napas melihat perdebatan keduanya. "Kalau dua-duanya sama-sama keras kepala, ya begini."

Bella terkekeh kecil.

Fariz masih berdiri memandangi punggung Azel yang semakin jauh. Raut wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran.

Ihsan yang sejak tadi memperhatikan akhirnya menepuk bahu Fariz. "Udah, Riz. Dia bilang bisa sendiri."

Fariz mengembuskan napas. "Iya."

Namun matanya masih mengikuti Azel sampai gadis itu benar-benar menghilang di balik tikungan jalan.

"Semoga dia benar-benar hati-hati."

Azel berjalan sendirian menyusuri jalan setapak yang sepi. Pepohonan tinggi di kedua sisi jalan membuat suasana terasa lebih teduh, meskipun matahari masih cukup terik.

Ia berjalan hati-hati setelah kejadian tadi. Rok gamisnya masih menyisakan noda lumpur akibat terpeleset di dekat sungai.

Namun beberapa saat kemudian...

Krek... Krek...

Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Azel langsung berhenti.

Ia menoleh perlahan. Tidak ada siapa-siapa. Namun suara langkah itu kembali terdengar.

Kali ini semakin dekat. Wajah Azel berubah waspada. Tangannya refleks menggenggam tali tas yang berada di bahunya.

"Siapa itu?"

Tidak ada jawaban. Langkah kaki itu terus mendekat, menghentak tanah kering di bawah pepohonan.

Jantung Azel mulai berdetak lebih cepat. Bayangan seseorang perlahan terlihat di antara pepohonan yang menghalangi cahaya matahari.

"Azel." Suara berat itu akhirnya memecah keheningan.

"Tenang, ini saya."

Azel memicingkan mata. "Pak Ibra?"

Sosok tersebut akhirnya keluar dari balik pepohonan. Benar saja. Pak Ibra.

Azel mengembuskan napas lega. "Astaghfirullah, Pak. Saya kira siapa."

Ibra berjalan mendekat. "Kenapa jalan sendirian di tempat seperti ini?"

"Mau balik ke posko, Pak."

Tatapan Ibra turun pada pakaian Azel. Ia langsung memperhatikan rok gamis yang kotor dan sedikit basah.

"Kamu habis jatuh?"

"Iya."

"Parah?"

"Enggak."

Ibra mengangguk pelan. Namun bukannya melanjutkan perjalanan, ia justru bertanya,

"Kenapa tidak minta Fariz yang mengantar?" Nada suaranya terdengar datar, tetapi ada sedikit sindiran di dalamnya.

Azel mengernyit. "Kak Fariz kan lagi melanjutkan kegiatan yang lain, Pak. Saya bisa balik sendiri."

"Oh begitu."

Ibra berjalan di sampingnya. "Padahal tadi saya lihat dia begitu khawatir sama kamu."

Azel langsung menoleh. "Tunggu..."

Ia memperhatikan wajah Ibra dengan penuh rasa penasaran.

"Kok Bapak tahu? Bapak tadi lihat? Kapan Bapak datang ke sini? Kenapa Bapak datang lagi? Arjun sama siapa kalau Bapak kesini?"

Pertanyaan Azel keluar bertubi-tubi. Namun Ibra sama sekali tidak menjawabnya. Ia hanya terus berjalan.

Azel mengerutkan kening. "Pak?"

"Saya ingin menyusul kalian." Ibra akhirnya menjawab.

"Tapi saya malah melihat kalian di sungai."

"Oh..." Azel mengangguk pelan. "Lalu kenapa Bapak sekarang malah ngikutin saya?"

"Saya hanya menemani." Ibra meliriknya sekilas. "Untungnya kamu pulang sendiri. Bukan sama Fariz."

Azel kembali mengernyit. "Lah, emang kenapa?"

"Ya nggak apa-apa." Ibra memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Tapi kalian ke sini untuk pengabdian. Jadi jangan terlalu dekat."

Azel langsung menatapnya tidak percaya. "Apaan sih, Pak?"

"Apa?"

"Ngomong begitu kayak lagi cemburu aja."

Langkah Ibra mendadak terhenti. Azel ikut berhenti dan menoleh.Ibra menatapnya lurus.

"Saya memang cemburu."

"Eh..." Azel langsung terdiam.

Wajahnya berubah kaku. Ia sama sekali tidak menyangka Ibra akan mengatakannya tanpa ragu.

"Pak..."

"Apa?"

"Bapak jangan ngomong sembarangan."

"Saya tidak sembarangan."

"Ya terus kenapa bilang cemburu?"

"Karena memang itu yang saya rasakan."

Azel menggaruk pelan pipinya yang sebenarnya tidak gatal. "Tapi saya sama Kak Fariz nggak ada apa-apa."

"Saya tau."

"Terus?"

"Saya tetap cemburu."

Azel menghela napas panjang. "Pak Ibra..."

"Hm?"

"Bapak kenapa jadi begini?"

"Gini bagaimana?"

"Ya..." Azel menggerakkan tangannya dengan bingung. "...aneh."

Ibra mengangkat alis. "Kenapa aneh?"

"Bapak bilang cemburu."

"Ya emang iya."

"Itu..." Azel menatapnya curiga. "Bapak lagi ngerjain saya, ya?"

Ibra mengernyit. "Ngerjain?"

"Iya."

"Nge-prank saya?"

Ibra menghela napas pelan. "Tidak. Saya serius."

Azel masih menatapnya tidak percaya.

"Saya sudah pernah mengatakan kepada kamu. Kalau saya memang memiliki niat serius."

Langkah Azel melambat. Ia menunduk, memperhatikan ujung gamisnya yang masih sedikit kotor.

"Bapak ngomong begini karena Arjun, kan?"

Ibra terdiam.

Azel kembali menatapnya. "Karena Arjun suka sama saya. Mungkin Bapak cuma merasa saya cocok buat Arjun."

Ibra menggeleng pelan. "Bukan."

"Terus?"

"Kalau hanya karena Arjun..." Ia berhenti sejenak. "...saya tidak akan merasa cemburu melihat kamu bersama Fariz."

Azel kembali terdiam.

"Arjun memang menyukai kamu. Saya juga senang melihat dia dekat dengan kamu. Tapi perasaan saya kepada kamu bukan karena anak saya."

Azel menelan ludah. "Kalau begitu karena apa?"

Ibra menatapnya cukup lama sebelum menjawab. "Karena kamu."

Azel mengerjapkan mata. "Karena saya?"

"Iya."

"Sejak kapan?"

Ibra tersenyum tipis. "Itu yang sedang saya cari tahu."

Azel mengernyit. "Maksudnya?"

"Saya juga tidak tau kapan tepatnya. Tapi saya tau satu hal."

"Apa?"

"Saya tidak suka ketika ada laki-laki lain yang terlalu dekat dengan kamu."

Azel menghela napas pelan. "Bapak benar-benar serius, ya?"

Ibra mengangguk. "Sangat."

Azel kembali memalingkan wajah. Entah kenapa, setelah mendengar jawaban itu, dadanya terasa semakin tidak tenang.

"Padahal..."

"Hm?"

"Saya kan masih kecil Pak."

"Saya tau."

"Dan Bapak dosen saya."

"Saya juga tau."

"Terus kenapa masih..." Azel tidak melanjutkan kalimatnya.

Ibra justru tersenyum tipis. "Karena perasaan tidak selalu datang setelah kita siap."

Azel terdiam. Untuk beberapa saat, tidak ada lagi yang berbicara. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar menyusuri jalan setapak.

Kemudian Ibra berkata pelan, "Tenang saja. Saya tidak akan memaksa kamu."

Azel menatapnya.

Ibra memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Saya tau posisi saya. Saya dosen kamu. Dan kamu masih delapan belas tahun. Jadi saya tidak meminta jawaban apa pun dari kamu sekarang."

Ibra menatap lurus ke depan. "Saya hanya ingin kamu tau satu hal."

Azel menelan ludah. "Apa?"

Ibra menoleh. "Saya serius."

Langkah Azel mendadak melambat. Untuk pertama kalinya, ia tidak tau harus menjawab apa.

Di balik beberapa pohon yang tumbuh di sisi jalan setapak, seseorang berdiri diam.

Sarah.

Matanya mengikuti dua sosok yang berjalan berdampingan di kejauhan.

Azel. Dan Pak Ibra.

Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

Lagi-lagi Azel. Gadis itu seolah selalu berhasil mendapatkan perhatian semua orang.

Awalnya Fariz. Sekarang bahkan Pak Ibra. Dosen yang selama ini dikenal kaku, dingin, dan nyaris tidak pernah menunjukkan perhatian khusus kepada mahasiswa pun terlihat berjalan berdua dengannya.

Sarah mendengus pelan. "Kenapa sih selalu dia?"

Tatapannya semakin tajam. "Kenapa semua perhatian selalu tertuju sama dia?"

Di matanya, Azel bukanlah gadis polos seperti yang selama ini dilihat orang-orang. Ia justru menganggap Azel pandai memainkan peran.

Selalu berpakaian tertutup. Selalu berbicara lembut. Selalu menjaga sikap di depan orang lain. Tapi menurut Sarah, semua itu hanyalah cara agar orang-orang mudah menyukainya.

"Munafik." Sarah berbisik lirih. "Katanya selalu menjaga batas dan adab. Tapi sekarang?"

Tatapannya kembali tertuju kepada Azel. "Diam-diam dekat juga sama laki-laki."

Ia teringat bagaimana Fariz selalu memperhatikan Azel.

Bagaimana ibu-ibu desa memuji keramahan Azel.

Bagaimana teman-temannya selalu membela gadis itu. Dan sekarang... Ibra.

Sarah mengepalkan tangannya semakin erat. "Pertama Fariz sekarang Pak Ibra."

Ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Namun pemandangan itu cukup untuk membuat pikirannya dipenuhi prasangka. Apalagi beberapa hari terakhir, ia merasa sikap Ibra kepada Azel memang berbeda.

Tatapan itu. Cara Ibra berbicara kepada Azel. Dan sekarang mereka berjalan berdua di jalan yang sepi.

Sarah menarik napas panjang. "Hebat banget kamu, Zel."

Senyumnya tipis, tetapi sama sekali tidak menunjukkan keramahan. "Semua laki-laki bisa kamu buat perhatian sama kamu."

Ia menatap punggung Azel yang perlahan semakin jauh.

"Jangan kira semua orang bakal terus percaya sama wajah polosmu."

Sarah akhirnya berbalik. Namun sebelum pergi, ia kembali melirik ke arah Azel dan Ibra. Ada sesuatu yang mulai tumbuh dalam pikirannya.

Sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar rasa iri. Jika Azel terus mendapatkan perhatian semua orang. Mungkin Sarah harus melakukan sesuatu agar perhatian itu berhenti.

"Kalau kamu bisa membuat semua orang percaya kamu baik..." Sarah tersenyum sinis. "...aku juga bisa membuat mereka melihat sisi lain dari dirimu."

Ia pun melangkah pergi meninggalkan tempat itu, tanpa menyadari bahwa keputusan yang lahir dari rasa iri tersebut perlahan akan menyeretnya ke dalam masalah yang jauh lebih besar.

1
Aidil Kenzie Zie
aih si pak duda ternyata nggak sabar mau unboxing Azel 🤭🤭🤭
tor Ibra jangan manggil saya lagi sama Azel
Fegajon: pelan pelan panggilannya nanti berubah hehe
total 1 replies
Syti Sarah
jun ,kamu jngan jdi satpam dulu daah.ayak kamu udh lpar sama haus bnget tuh,udh trllu lama puasa nya 🤣🤣🤣
Syti Sarah: aduuuh ksian pak duda 🤣🤣🤣
total 2 replies
syora
alhamdulillah ya allah😍😍😍😍😍😍
Fegajon: yuhuuu🥰😋
total 1 replies
cutegirl
pak duda udah lama berpuasa🤣
cutegirl
celamat pak duda😋
syora
alhamdulillah somaga samawa till jannah
Syti Sarah
Alhamdulillah 😍😍😍aku mau siap2 dulu Thor,mau kondangan tempat azel dan Ibra 🤣🤣🤣
Syti Sarah: shuuut 🤫🤫 , 🤣🤣🤣
total 4 replies
Aidil Kenzie Zie
si pak duda udah nggak sabaran 🤭🤭🤭🤭
Syti Sarah
smoga lancar smuanya smpai hari H 😊
Fegajon: tadinya mau buat gitu tapi gak ah nanti aja cobaan mereka pas setelah nikah 🤣
total 3 replies
Syti Sarah
pak duda udh mulai mngluarkn jurus gomblan maut nya 🤣🤣🤣🤣
syora
alhamdulillah ya allah😍😍😍😍😍
Syti Sarah
Alhamdulillah 😊😊
Syti Sarah
jawab aja sesuai kata hati kamu zel 😊
Syti Sarah: itu juga jawaban author yg atur 🤣🤣
total 2 replies
cutegirl
ibra asbun bgt🤣
Fegajon: wkwk🤣
total 1 replies
Syti Sarah
BDAN nya yg bsar mksud nya 🤣🤣🤣Oalah anak nya ken trnyta .tdi aku slah lgi 😆😆
Syti Sarah: hahahaha ngakak brjamaah Thor 🤣🤣🤣psti pkiran udh traveling kmna2 kn 😆😆
total 2 replies
just a grandma
bgus❤️
Anak manis
Aku slalu suka karya kk author ini/Casual/
Anak manis
Kia terjangkit virus Aryan /Curse/
anakkeren
yuhyyy
cutegirl
Cerita soal Ibra dan Azel ini,buat saya lebih lucu dan bagus yg ini ketimbang yg pernah kakak hapus. Sebab, yg sebelumnya tdk mencerminkan prilaku dosen dan seorang ning aja.
yg sebelumnya lebih ke mes*m aja sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!