Indonesia
NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 Perkara Mobil

Mobilnya aku Pakai"Kenapa Kakak kaget begitu?" tanyanya pura-pura polos.

"Kamu bilang ke Kakak, kamu punya penghasilan dari live TikTok sampai bisa bayar cicilan mobil sendiri?!" cerca Adam menahan emosi.

"S-sekarang live TikTok lagi sepi, Mas..." balas Sonia asal.

Gadis itu jelas berbohong. Selama ini, seluruh cicilan mobil itu memang ditanggung penuh oleh Amira dari uang hasil usahanya sendiri.

"Sudah! Kembalikan saja mobilnya, Sonia!" tegas Adam muak.

Mata Sonia seketika berkaca-kaca. "Tidak bisa! Aku lebih baik berhenti kuliah daripada tidak punya mobil!" rengek Sonia egois.

Adam melotot tak percaya. "Kamu jangan seperti anak kecil! Pantas saja Amira bilang kamu tidak pernah dewasa!"

"Adam! Kenapa kamu malah lebih percaya pada orang lain daripada adikmu sendiri?!" sela Mirna menengahi dengan nada membela.

Adam menghembuskan napas berat seraya memijat pelipisnya yang kian berdenyut. "Bu... Kepalaku bisa pecah kalau harus menanggung kebutuhan semua orang di rumah ini!"

"Tapi aku malu kalau ke kampus tidak naik mobil, Mas..." isak Sonia makin menjadi-jadi. "Lagipula kalau dikembalikan sekarang, bagaimana dengan cicilan 14 bulan yang sudah masuk? Padahal tinggal 32 bulan lagi! Uang DP 20 juta dulu juga bakal hangus begitu saja!"

Alya yang sedari tadi menyimak diam-diam, menyela santai. "Memangnya berapa sih cicilan setiap bulannya?"

Mata Sonia seketika berbinar mendengar pertanyaan Alya. "Murah kok, Kak! Cuma 4 juta per bulan!"

Alya menyipitkan mata, tangannya melipat di dada. "Cicilan tenor panjang, DP lumayan besar, dan mobilnya juga mobil sederhana... Masa semahal itu cicilannya?"

Sonia meringis canggung. "Y-ya... 4 juta kurang 800 ribu, Kak. Tepatnya 3,2 juta."

"Oh... Kalau begitu, nanti saya yang bayar cicilannya. Mana nomor Virtual Account-nya?" sahut Alya tanpa ragu.

"Beneran Kakak mau bayarkan?!" pekik Sonia girang.

"Iya. Mana nomor VA-nya?"

Meskipun dalam hati gigit jari karena gagal mendapatkan selisih "uang jajan" 800 ribu dari Alya, Sonia tetap buru-buru menyodorkan nomor Virtual Account tagihan mobil tersebut. Alya menyimpannya di ponsel pintar miliknya.

'Sepertinya kakak ipar baruku ini punya jauh lebih banyak uang dan jauh lebih mudah dimanfaatkan daripada Amira!' batin Sonia bersenang-senang.

Di sisi lain, Alya menyunggingkan senyum misterius. 'Aku yang bayar cicilannya, tentu saja aku yang bakal kuasai dan pakai mobil itu!'

Mirna menepuk dahinya pelan. "Adam... Ibu belum sempat masak. Kamu beli makan di luar saja, ya." Mirna lalu menoleh pada Sonia. "Sonia, belikan kakakmu nasi goreng lengkap dengan minumnya. Kerupuknya minta dua bungkus."

"Oke, Bu! Mana uangnya?" sahut Sonia semangat.

"Minta sama kakakmu," jawab Mirna cepat. "Dam, berikan uangnya."

Alya mengurut dada. 'Kira-kira mereka yang mau belikan pakai uang sendiri, ternyata benar-benar kacau keluarga ini!' batin Alya jengkel.

Adam merogoh dompetnya dan menyerahkan lembaran uang 100.000 rupiah pada Sonia. Sonia tersenyum lebar. Ia berencana membeli nasi goreng murah seharga 10.000 rupiah sebungkus, dan sisanya akan langsung ia kantongi sendiri.

Setelah Sonia pergi, Mirna kembali menatap Adam dengan raut sedih yang dibuat-buat. "Dam... Amira belum kasih Ibu uang belanja bulan ini."

Adam menarik napas dalam-dalam. "Uang Adam sudah habis, Bu... Tadi saja untuk menalangi Mbak Mila 8 juta, buat cicilan mobil Sonia... Uang simpanan Adam sekarang cuma tersisa 4 juta, Bu!"

Mata Mirna berkaca-kaca. "Padahal... lusa Ibu mau ikut acara muludan bareng ibu-ibu pengajian. Semuanya sudah beli baju gamis baru. Habis muludan rencananya mau jalan-jalan ke Masjid Istiqlal, Monas, lanjut ke Ragunan... Sepertinya Ibu tidak bisa ikut..."

Perih sekali hati Adam melihat wajah lesu ibunya. Rasa tidak tega membuat gengsinya mengalahkan logika. "Ibu ada nomor rekening, kan?"

"Ada, Dam!" jawab Mirna berbinar. Ia bergegas menuliskan nomor rekeningnya di secarik kertas.

Tanpa membuang waktu, Adam mentransfer uang sebesar 2 juta rupiah ke rekening ibunya.

Mirna yang tadinya merengut kini tersenyum lebar. "Terima kasih banyak ya, Dam! Ibu kira tidak jadi ikut... Akhirnya Ibu bisa pergi juga."

"Iya, Bu. Tapi tolong jangan dihabiskan semua, ya," pesan Adam lesu.

"Iya, tenang saja!"

Sementara itu, di sudut jalan raya yang mulai sepi, Amira berdiri di pinggir trotoar menunggu jemputan.

Sebuah mobil Honda Brio merah melintas perlahan lalu berhenti tepat di sampingnya. Dari dalam mobil, Ridwan dan Lusi menyunggingkan senyum ejekan.

"Eh, Amira! Adik ipar... eh, maksudku mantan adik ipar!" seru Ridwan tertawa mengejek. "Lagi bingung ya mau ke mana malam-malam begini?"

Lusi menyandarkan siku di jendela mobil. "Pasti bingung lah... Tidak punya keluarga, tidak punya uang... Makanya, mending kamu minta balikan lagi sama Adam. Lagipula Sonia bilang, dia mau-mau saja kok dipoligami!"

"Malas amat," sahut Amira dingin sambil bersedekap dada.

"Sudah miskin masih saja belagu!" sergah Lusi sinis. "Kamu pasti mau pulang ke panti, kan? Sini kami antar! Sekalian kami beramal mengantar anak miskin yang sombong!"

Amira menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan datar. "Jangan pusingkan hidupku... Pikirkan saja cicilan mobil kalian sendiri."

"Ih, dasar! Sudah ditawari tumpangan malah belagu! Dari pada kamu jalan kaki, mending ikut kami!" cerceca Lusi tak mau kalah.

VROOMMM!

Deru mesin bertenaga besar terdengar membahana. Sebuah mobil SUV Mitsubishi Pajero Sport warna hitam pekat mendadak melintas, menyalip mobil Brio milik Ridwan, dan berhenti tepat di depan Amira.

Pintu kemudi terbuka, Rika melangkah keluar menghampiri Amira. "Bos, aku tadi sudah ke rumah mertuamu, tapi kamu tidak ada di sana," ucap Rika hormat.

"Ayo pulang," potong Amira singkat tanpa menjawab pertanyaan Rika. Ia langsung membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam Pajero tersebut.

Tanpa membuang waktu, Pajero gagah itu melaju mulus meninggalkan mobil Brio milik Ridwan dan Lusi yang terpaku di tempat.

Ridwan dan Lusi melongo lebar. Mobil jenis SUV bongsor seperti Pajero adalah mobil impian Adam dan Ridwan selama bertahun-tahun yang belum pernah terwujud.

"Kenapa si Amira bisa naik mobil Pajero?!" gumam Ridwan syok.

"Tidak mungkin! Tukang cuci piring bagaimana bisa punya fasilitas mobil Pajero?!" celetuk Lusi tak percaya.

"Sepertinya orang yang membawa Pajero itu nurut banget sama Amira... Dia bahkan memanggil Amira dengan sebutan 'Bos' tadi!" panggil Ridwan heran.

Lusi mengibas-kibaskan tangannya. "Alah! Itu pasti cuma akting buat memanasi kita saja!"

"Masa sih akting...? Aku jadi penasaran dengan latar belakang Amira sebenarnya," gumam Ridwan lagi, matanya terus menatap arah menghilangnya mobil Pajero itu.

"Sudahlah, Mas! Jangan banyak pikiran! Sekarang kita kan punya Alya. Bulan depan kamu harus dapat uang 40 juta dari Adam, biar kita bisa liburan keluarga ke Lombok!" potong Lusi membelokkan pembicaraan.

"Benar juga," jawab Ridwan seraya kembali menginjak gas. Namun di dalam hatinya, ia tetap heran. 'Kenapa Amira sama sekali tidak terlihat sedih saat diceraikan Adam... Padahal dia cuma anak panti?'

Lusi di sampingnya diam-diam membatin hal yang sama, namun ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Setelah menyantap nasi goreng murah yang rasanya serba hambar belian Sonia, Adam dan Alya masuk ke dalam kamar utama.

Kamar itu masih tertata sangat rapi dan beraroma harum. Bukti betapa Amira adalah sosok wanita yang sangat resik dan menjaga kebersihan. Hanya ada sedikit debu di sudut lantai karena sudah lima hari tidak disapu semenjak Amira pergi.

Alya dan Adam merebahkan tubuh mereka yang lelah di atas kasur busa setelah melewati rentetan drama keluarga yang menguras emosi.

"Sayang... kamu baik sekali mau membayarkan cicilan mobil Sonia," ucap Adam mengelus lembut lengan Alya.

Alya menoleh pelan, menyunggingkan senyum penuh maksud. "Mobil itu nanti kita yang pakai, Mas."

"Apaaaa?!" Adam kaget setengah mati, mendadak bangkit dari posisinya.

1
sunaryati jarum
Semoga keluarga Amira
sunaryati jarum
Mulai jadi pemuas sang penguasa,Sonia
sunaryati jarum
O mau jadi wanita simpanan ,Sonia.Tapi Yamamoto tak akan pernah menyentuh Amira
@Mita🥰
wiiiih mungkin kakak nya Amira
@Mita🥰
pasti anak buah kakek Amira yang bikin unggah an Amira hilang
YuWie
anak siapakah kamu amir
sunaryati jarum
Mungkin kau putri pebisnis besar yang diculik dan ditinggalkan di panti asuhan
YuWie
rung sadar kan..malah tambah dodro..alias tambah kebangetan niat jahatnya
YuWie
benar kata pak polisi..bertele tele
Suanti
sonia tak pernah kapok klu kejadian lgi sm amira jgn mau pki jln damai jeblos kan aja ke penjara biar kapok 🤭
sunaryati jarum
Keluarga pak Diki tidak waras semua kecuali Pak Diki
@Mita🥰
ealah ..alah bukan nya sadar malah makin menjadi
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 nah sekarang tahu kan
Suanti
sdh lah amira jeblos kan aja sonia ke penjara byk btl cerita keluarga mantan mu yg toxin 🤣🤣
Suanti
beri hukuman setimpal amira jangan mau jln damai biar kan aja di penjara biar tau rasa mantan keluarga toxin 🤭🤣
YuWie
Luar biasa
santi damayanti: terimakasih kaka
total 1 replies
YuWie
bacottt..ciatt..tendang aja al
YuWie
ngerti anak yatim piatu malah diperas.. situ waras
Suanti
jgn2 pria tua itu bpk nya amira atau kakek nya, amira 🤣🤣
Suanti
dasar keluarga toxin selalu salah kan amira 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!