Indonesia
NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama yang Panas

Pernikahan mewah yang menjadi buah bibir seluruh negeri itu akhirnya selesai digelar.

Aula hotel bintang lima yang didekorasi dengan kristal gantung kini mulai sepi. Menyisakan kemegahan sisa pesta yang dihadiri oleh ratusan taipan kelas atas, pejabat negara, dan para konglomerat paling berpengaruh di bursa saham Asia.

Di antara semua kemewahan itu, sosok Aira Dhea Ananta sukses menjadi pusat perhatian.

Malam ini, bertransformasi di bawah tangan dingin perancang busana pilihan Kakek Baskara, Aira menjelma menjadi wanita yang teramat cantik. Ia mengenakan gaun pengantin sutra putih bertabur mutiara alami buatan desainer ternama Paris.

Sangat kontras dengan penampilannya yang biasa berlumuran oli di bengkel, kecantikan alaminya membuat semua mata taipan muda terpesona seolah melihat berlian mentah yang baru dipoles.

Saat seluruh keluarga inti sudah kembali berkumpul di ruang tengah mansion utama The Wirasena Compound, Kakek Baskara tersenyum puas. Ia memukul tongkat naga emasnya pelan ke lantai.

"Acara sudah sukses besar. Sekarang, kalian berdua cepat masuk kamar dan istirahat. Hari ini pasti melelahkan."

Surya tertawa renyah, merangkul bahu istrinya dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan luar biasa.

"Betul kata Papa. Akhirnya kamu menikah juga, Evan. Ingat, sekarang kamu sudah punya istri di rumah. Jangan pasang wajah kaku seperti robot terus di depan Aira. Belajarlah jadi suami yang hangat."

Evan yang berdiri kaku dengan setelan tuksedo hitamnya hanya mendengus pelan dengan tatapan mata sedingin es.

"Aku tahu tugasku, Papi. Bisnis dan formalitas hari ini sudah selesai," jawab Evan cuek, dingin, dan sama sekali tidak peduli.

Di sebelah Surya, Helena menatap Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Meskipun malam ini Aira terlihat sangat memukau, di dalam lubuk hati terdalam masih ada keraguan yang mengganjal.

Ia harus memastikan sendiri apakah gadis montir ini benar-benar tulus atau hanya pintar bersandiwara seperti wanita sosialita pada umumnya.

"Selamat datang di keluarga Wirasena, Aira," ucap Helena dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit dingin dan berjarak. "Semoga kamu bisa cepat beradaptasi dengan aturan protokoler di rumah ini."

Aira tetap berdiri tegak dengan pembawaannya yang berani. Ia menangkap sinyal dingin dari ibu mertuanya, namun reaksinya tetap tenang dan biasa saja tanpa ada rasa takut seujung kuku pun.

"Terima kasih, Tante... maksud saya, Mami Helena. Saya akan berusaha," sahut Aira dengan senyum formal yang sopan namun tegas.

Begitu pintu paviliun sayap timur tertutup rapat dan mereka hanya tinggal berdua di dalam kamar utama yang luas, suasana berubah menjadi mencekam. Lampu kristal besar menerangi ruangan dengan cahaya remang-remang yang dramatis.

Evan langsung melepaskan dasi tuksedonya secara kasar, melemparnya ke atas sofa kulit tanpa peduli. Ia membalikkan badan, lalu menatap Aira dengan pandangan yang dingin dan angkuh.

"Jangan harap perubahan penampilanmu malam ini bisa membuatku terkesan, Aira," desis Evan.

Ia melangkah mendekati Aira, aura mengancamnya memenuhi ruangan. "Pesta bodoh ini sudah selesai. Mulai detik ini, kau harus sadar diri di mana posisi tempatmu berdiri."

Aira menahan tawa geli di dalam hati melihat tingkah angkuh suaminya.

Buset, ini orang dramatis amat dah hidupnya. Berasa paling berkuasa sedunia apa gimana? ledek Aira dalam hatinya, sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan sang CEO.

Dengan gerakan santai, Aira mencopot jepit rambut mutiara berkilau di kepalanya dan meletakkannya di meja rias. Ia lalu bersedekap dada, menantang tatapan mata Evan dengan dagu diangkat tinggi.

"Oh, ya? Terus saya harus berdiri di mana, Tuan CEO?" tanya Aira tajam. Nada suaranya terdengar datar namun menusuk.

"Di pojokan kamar sambil meratapi nasib karena dinikahi robot kaku kayak Anda?"

Rahang Evan mengeras seketika. Harga dirinya tersenggol oleh ketidakhormatan gadis itu.

"Jaga ucapanmu!" bentak Evan, langkahnya semakin agresif hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter.

"Di rumah ini, saya adalah penguasa mutlaknya. Kau tidak lebih dari sekadar pajangan hukum demi memuaskan keinginan Kakek!" Evan menunjuk lantai dengan geram.

"Jangan pernah berani menyentuh fasilitas pribadiku atau mencoba bertingkah sebagai Nyonya Wirasena yang sah!"

Aira justru terkekeh sinis. Sebuah suara yang terdengar sangat menghina di telinga Evan. Ia malah melangkah maju, memperkecil jarak hingga mereka hampir bertubrukan.

Wangi segar dari parfum Aira menyergap indra penciuman Evan. Membuat pria itu sempat menahan napas sesaat karena terkejut.

"Dengar ya, Tuan Evan yang terhormat," ucap Aira. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Evan tanpa kedip.

"Gue juga terpaksa menerima semua kegilaan ini demi menyelamatkan Veloctra Motors. Jadi, stop bersikap seolah-olah lo adalah korban paling menderita di sini! Kalau lo mau kamar ini steril, silakan ambil pembatas wilayah. Gue juga ogah tidur seranjang sama kulkas berjalan!"

Mata Evan berkilat marah. Ia merasa frustrasi karena argumen dinginnya selalu dipatahkan oleh sang gadis montir. Napasnya memburu, bukan karena kelelahan, melainkan karena amarah yang memuncak.

"Kau benar-benar gadis yang keras kepala dan tidak tahu untung!" tekan Evan. Suaranya meninggi sedikit, kehilangan kontrol dinginnya.

"Kakek mungkin tertipu oleh sandiwaramu, tapi saya tidak. Saya akan memastikan hidupmu di sini tidak nyaman sampai kau menyerah."

"Dan lo cowok paling sombong, menyebalkan, dan menyedihkan yang pernah gue temui!" balas Aira tidak kalah keras. Jari telunjuknya menunjuk dada Evan dengan tegas.

"Kesombongan lo cuma nutupin fakta bahwa lo kesepian dan nggak punya teman selain uang!"

Debat dingin antara sepasang pengantin baru itu berlangsung sengit di dalam kamar pengantin yang mewah. Mereka saling melempar kalimat tajam seperti pedang tanpa ada yang mau mengalah sedikit pun. Udara di antara mereka terasa panas meski AC ruangan menyala maksimal.

Tepat ketika ketegangan mereka mencapai puncaknya, dan Evan tampak siap untuk meledak lebih jauh, sebuah ketukan keras dari luar pintu kamar mendadak memutus urat kemarahan mereka.

TOK! TOK! TOK!

"Tuan Muda Evan! Maaf menganggu malam-malam, ini saya Tama. Ada dokumen darurat dari bursa saham London yang butuh tanda tangan Anda sekarang juga terkait akuisisi properti!" seru suara Tama dari balik pintu, terdengar panik dan tergesa-gesa.

Evan menggeram kesal, suaranya tertahan di tenggorokan. Ia menatap Aira dengan pandangan kejam terakhirnya, dadanya masih naik turun karena emosi.

"Ini belum selesai, Aira," bisik Evan dingin, penuh ancaman.

Ia berbalik kasar menuju pintu, membuka kunci, dan melangkah keluar meninggalkan Aira yang berdiri sendirian di tengah kamar mewah itu, dengan napas yang masih agak tersengal-sengal karena ada mulut tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!