Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Daughter of Green
Matahari pagi baru saja mengintip di balik pegunungan perbatasan Fushi, memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan atap-atap rumah kayu di desa. Di dalam sebuah rumah sederhana yang dikelilingi ladang gandum, Jesslyn perlahan membuka matanya. Ia terbangun dari tidur yang nyenyak, meregangkan tubuhnya sejenak, lalu segera bangkit untuk memulai hari seperti biasanya.
Tanpa membuang waktu, Jesslyn melangkah menuju dapur kecilnya. Dengan cekatan, ia menyalakan tungku api kayu bakar, menyiapkan sepanci air hangat, dan mulai memasak sarapan sederhana berupa sup sayur segar serta roti gandum panggang untuk kedua orang tuanya. Aroma masakan yang harum langsung menguar ke seluruh ruangan, membangunkan suasana pagi yang menenangkan.
Tak lama kemudian, ayah dan ibunya memasuki ruang makan. Sang Ibu tersenyum hangat melihat putrinya sudah menyiapkan semuanya di atas meja.
"Pagi, Ibu, Ayah. Silakan duduk, sarapannya sudah siap," sambut Jesslyn ramah sambil meletakkan mangkuk sup terakhir ke atas meja kayu.
Ayah Jesslyn menarik kursi dan duduk sambil tersenyum bangga kepada putrinya. "Pagi, anakku. Kau selalu bangun paling pagi dan menyiapkan segalanya dengan baik. Bau masakanmu selalu menjadi penyemangat hari-hari Ayah."
"Terima kasih, Ayah. Biar nanti setelah makan, aku langsung menyusul ke ladang untuk membantu pekerjaan Ayah dan Ibu," jawab Jesslyn sambil menuangkan teh hangat ke cangkir orang tuanya.
Ibu Jesslyn mengelus lembut pundak putrinya dengan penuh kasih sayang. "Jangan terlalu memaksakan diri, Jesslyn. Pekerjaan di ladang cukup melelahkan untuk gadis sepertimu."
"Tidak apa-apa, Ibu. Justru aku senang bisa membantu meringankan beban Ayah dan Ibu," balas Jesslyn mantap.
Benar saja, beberapa jam setelah sarapan, Jesslyn sudah mengenakan pakaian kerjanya yang sederhana namun rapi, lengkap dengan rambut hijau panjangnya yang diikat rapi ke belakang. Ia berjalan menuju ladang gandum bersama kedua orang tuanya, membawa cangkul kecil dan keranjang penampung hasil panen. Di bawah terik matahari pagi yang bersahabat, ia membungkuk, membantu mencabut rumput liar, menggemburkan tanah, dan memanen sayuran segar bersama keluarganya. Suasana kerja di ladang diisi dengan percakapan ringan dan gelak tawa kecil yang membuat lelah seakan tak terasa.
Menjelang sore hari, ketika pekerjaan di ladang telah selesai dan matahari mulai condong ke barat, Jesslyn meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi sejenak ke alun-alun kota Fushi.
Sesampainya di alun-alun yang mulai ramai oleh para warga desa dan pedagang yang membereskan dagangan, Jesslyn berdiri di dekat air mancur batu di tengah alun-alun. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai melantunkan sebuah lagu rakyat yang merdu dan menenangkan. Suaranya yang jernih dan manis langsung mengalun indah, memecah kesibukan sore itu dan menarik perhatian setiap orang yang lewat.
Para warga yang tadinya lelah bekerja mendadak menghentikan langkah mereka. Mereka tersenyum mendengar suara Jesslyn yang menghidupkan suasana alun-alun menjadi begitu hangat dan bersahaja.
Seorang pedagang tua mendekati tempat Jesslyn bernyanyi sambil membawa sekantong buah segar, lalu menyapa dengan ramah begitu lagu selesai.
"Suaramu selalu berhasil membuat sore hari di desa ini terasa damai, Jesslyn," puji sang pedagang tua dengan tulus. "Kau punya bakat yang luar biasa, nak."
Jesslyn tersenyum manis sambil membungkuk sopan menerima pujian itu. "Terima kasih banyak, Pak. Aku hanya ingin bernyanyi untuk membuat hari semua orang menjadi lebih ceria setelah lelah bekerja."
Setelah bernyanyi beberapa lagu lagi untuk meramaikan suasana alun-alun, Jesslyn melambaikan tangan kepada para tetangga dan warga desa, lalu berjalan pulang ke rumah saat senja mulai turun, menikmati kesederhanaan hidupnya yang jauh dari intrik dan kemegahan dinding istana Hikari.
Beberapa hari berlalu setelah titah rahasia itu diberikan, sore itu suasana di alun-alun kota Fushi tampak cukup sibuk oleh para warga yang berlalu-lalang. Jesslyn berjalan santai sambil membawa keranjang kecil berisi hasil kebun, menikmati semilir angin sore. Namun, karena kurang berhati-hati saat berjalan, ia tidak sengaja berpapasan dan bertabrakan dengan seorang pria berjas rapi yang baru saja keluar dari toko roti sambil membawa bungkusan kertas cokelat.
Bruuk!
Jesslyn kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke atas lantai batu alun-alun, sementara bungkusan roti di tangan pria itu nyaris terjatuh sebelum berhasil ia tangkap dengan sigap. Pria itu—yang tak lain adalah Aragoto yang tengah menyamar dan menyusul ke luar istana untuk menyelidiki—langsung menaruh bungkusannya sejenak lalu bergegas membungkuk untuk membantu Jesslyn berdiri.
"Ah, maafkan saya. Saya tidak sengaja menabrak Anda. Apakah Anda baik-baik saja?" ucap Aragoto dengan suara tenang seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Jesslyn bangkit.
Jesslyn menyambut uluran tangan itu, lalu berdiri sambil menepuk-nepuk sedikit roknya yang kotor. Begitu ia berdiri tegak, ia langsung tersenyum ramah dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Justru saya yang harusnya meminta maaf dan berterima kasih karena sudah ditolong," jawab Jesslyn dengan nada manis. "Saya yang berjalan sambil melamun dan tidak melihat arah jalan, jadi ini sepenuhnya kesalahan saya."
Mendengar suara itu dan melihat wajah wanita di hadapannya secara dekat, Aragoto mendadak terdiam kaku. Di balik kacamata dan topi flat cap yang dipakainya untuk menyamar, ia menatap lurus ke arah Jesslyn—wanita berambut hijau panjang dengan mata hijau zamrud yang sangat menenangkan. Meski ia belum tahu bahwa wanita inilah sosok yang dicemburui dan ingin diawasi oleh Putri Miyura, ada sesuatu dari aura wanita di depannya yang membuatnya terpaku sejenak.
Namun, kesadaran Aragoto segera kembali. Mengingat tugasnya di luar istana, ia lekas mengangguk singkat untuk menutupi keterdiamannya.
"Saya juga minta maaf. Saya pun sedang terburu-buru," ucap Aragoto datar namun sopan.
Tanpa membuang waktu lagi atau menunggu percakapan itu berlanjut, Aragoto langsung memungut bungkusannya dan berbalik pergi begitu saja, meninggalkan langkah tergesa-gesa di tengah kerumunan orang.
Jesslyn terheran-heran di tempatnya berdiri, menatap punggung pria berjas rapi yang berjalan menjauh itu dengan sebelah alis terangkat. Ia sempat berniat membuka mulut untuk menanyakan nama pria misterius tersebut, namun urung karena pria itu langsung pergi meninggalkannya.
Jesslyn mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.
"Padahal aku baru saja mau menanyakan namanya..." gumam Jesslyn pelan pada dirinya sendiri, menatap arah kepergian Aragoto. "Tapi ya sudahlah, mungkin nanti kami akan tak sengaja bertemu lagi di lain waktu, dan saat itu aku bisa berkenalan dengannya. Punya banyak teman baru di desa ini tentu bukan hal yang buruk juga, kan?"
Setelah bergumam pelan, Jesslyn kembali melanjutkan langkahnya dengan perasaan ringan, sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang baru saja ia tabrak adalah pelayan bayangan dari ratu tiran yang kelak akan mengubah jalan hidup mereka semua.