Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monster Hutan Larangan dan Ujian Pertama
Suara tetesan air hujan yang jatuh dari ujung daun-daun raksasa masih terdengar bersahut-sahutan di luar gua, menandakan badai besar telah benar-benar berlalu dan digantikan oleh kelembapan pekat yang menyelimuti seluruh isi Hutan Larangan. Di dalam gua yang remang-remang, Gu Yan-Zhi perlahan menghembuskan napas panjang. Kepulan uap putih tipis keluar dari bibirnya, membawa serta sisa-sisa racun dan kotoran hitam yang dipaksa keluar dari pori-pori kulitnya selama proses penghancuran segel Dantian tadi.
Ia mengepalkan tangan kanannya. Sensasi yang ia rasakan sekarang jauh berbeda dibandingkan beberapa jam lalu ketika ia baru pertama kali merasaka raga ini. Aliran energi spiritual atau Qi kini mengalir lancar di dalam jalur meridiannya, menghangatkan setiap jengkal otot dan memulihkan luka-luka robek di tubuhnya dengan kecepatan yang luar biasa. Meskipun baru berada di tahap awal kultivasi, kekuatan fisik dan persepsi pancaindranya telah meningkat berkali-kali lipat.
"Jadi, inilah kekuatan seorang kultivator..." gumam Gu Yan-Zhi pelan, diiringi seulas senyum tipis di sudut bibirnya. Di kehidupan lamanya di bumi, ia hanya bisa melihat efek visual spesial dari film-film laga. Namun sekarang, kekuatan itu nyata, mengalir di dalam darahnya sendiri dan berada di bawah kendali penuh kesadarannya.
Namun, Gu Yan-Zhi tahu betul bahwa ia tidak boleh tinggal lebih lama di tempat persembunyian ini. Gua kecil itu hanyalah tempat berteduh sementara. Bau darah bercampur keringat yang sempat tertinggal di sekitar pintu masuk lambat laun akan memudar, tetapi jejak spiritual yang ia tinggalkan saat memecahkan paku energi tadi bisa jadi telah menarik perhatian makhluk-makhluk berbahaya di dalam Hutan Larangan.
Hutan Larangan bukanlah tempat peristirahatan yang ramah. Semakin dalam seseorang melangkah ke dalam kawasan ini, semakin tinggi pula tingkat bahaya yang mengintai, baik dari segi medan yang ekstrem maupun keberadaan binatang buas berenergi spiritual tinggi yang menguasai wilayah tersebut.
Dengan gerakan sigap, ia mengenakan kembali jubah bagian atasnya yang robek, merapikan posisi belati kecil yang ia ambil dari Gu Tianlang di balik ikat pinggangnya, lalu melangkah keluar dari rongga gua.
Suasana di luar terasa sangat sepi dan mencekam. Kabut tebal berwarna putih kebiruan merayap di permukaan tanah, membatasi jarak pandang hingga tidak lebih dari sepuluh meter ke depan. Pohon-pohon raksasa berakar purba menjulang tinggi menembus kanopi langit, menutupi hampir seluruh cahaya matahari pagi yang mencoba menyusup masuk.
Gu Yan-Zhi berjalan berjingkat-jingkat, memanfaatkan insting tempurnya untuk melangkah tanpa menimbulkan suara gesekan daun yang berarti. Ia menyusuri celah-celah tebing batu, mencari jalur yang mengarah ke luar batas hutan menuju pegunungan terdekat tempat ia bisa berlatih dengan lebih tenang dan menyusun rencana pembalasan dendam terhadap Klan Gu.
Namun, baru sekitar setengah jam ia berjalan menembus kabut tebal, bulu kuduk di tengkuknya mendadak berdiri tegak.
Deg!
Sebuah alarm insting di dalam kepalanya berteriak keras. Tanpa berpikir dua kali, ia melompat ke samping, menjatuhkan tubuhnya ke balik batang pohon raksasa yang berdiameter selebar pelukan tiga orang dewasa.
Bum!
Tepat di detik berikutnya, tempat ia berdiri tadi hancur berkeping-keping disertai suara hantaman keras yang memecah keheningan hutan. Tanah tempat ia menapak sebelumnya kini berlubang dalam dengan serpihan batu dan tanah berterbangan ke udara.
Gu Yan-Zhi mengatur napasnya yang mendadak memburu, lalu mengintip perlahan dari balik perlindungan batang pohon. Di tengah kabut putih yang bergeser pelan, siluet seekor makhluk raksasa perlahan-lahan menampakkan diri.
Makhluk itu adalah Harimau Tanduk Satu Berekor Lima—salah satu jenis binatang buas tingkat menengah yang terkenal sangat buas, keji, dan memiliki teritori perburuan yang luas di dalam Hutan Larangan. Ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari harimau biasa pada umumnya. Bulunya berwarna hitam legam dengan corak garis-garis keemasan yang berpendar samar di bawah kulitnya. Di atas kepalanya, tumbuh sebuah tanduk tunggal melengkung tajam menyerupai tombak kristal yang memancarkan aura dingin, sementara di bagian belakang tubuhnya, lima ekor panjang berbulu lebat bergerak-gerak lincah seperti cambuk maut yang siap mencabik-cabik mangsa kapan saja.
Sepasang mata harimau itu menyala terang dalam gelapnya kabut, menatap tajam ke arah tempat persembunyian Gu Yan-Zhi dengan penuh rasa haus darah. Makhluk itu jelas mencium aroma darah dan sisa-sisa energi Qi murni yang baru saja bangkit dari tubuh Gu Yan-Zhi.
"Sial... Binatang tingkat menengah? Sialan, keberuntunganku hari ini benar-benar luar biasa," umpat Gu Yan-Zhi dalam hati, namun otaknya langsung berputar cepat merumuskan strategi.
Di dunia kultivasi, kekuatan seekor Harimau Tanduk Satu Berekor Lima setara dengan kultivator manusia yang berada di Pemusatan Qi Tingkat Empat atau bahkan lebih tinggi. Dari segi kekuatan fisik dan ketahanan tubuh, makhluk itu jauh melampaui Gu Yan-Zhi yang baru saja menginjak tahap awal kultivasi setelah memecahkan segelnya. Melawannya secara langsung dengan adu tenaga murni adalah bentuk kebodohan yang sama dengan bunuh diri.
Harimau itu mendengus pelan, mengeluarkan uap panas dari lubang hidungnya yang mencairkan dedaunan di sekitarnya akibat suhu panas ekstrem. Makhluk itu merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menerjang sekali lagi dengan kecepatan kilat.
Gu Yan-Zhi tahu ia tidak memiliki waktu untuk ragu. Saat harimau itu melompat ke udara, membelah kabut dengan kelima ekornya yang mengibas liar membentuk jaring angin beracun, Gu Yan-Zhi tidak melarikan diri mundur. Sebaliknya, ia justru memanfaatkan kecepatan refleksnya untuk menyambut serangan tersebut.
Ia menunggu hingga detik terakhir sebelum bayangan cakar raksasa itu mencabik tubuhnya, lalu menjatuhkan diri, meluncur meluncur di atas tanah berlumpur tepat di bawah perut sang harimau buas. Sambil meluncur lewat di bawah tubuh makhluk itu, tangan kanannya menghunus belati kecil dan mengarahkannya dengan presisi tinggi ke titik sambung otot di kaki belakang harimau tersebut—satu-satunya area dengan pertahanan kulit yang paling tipis.
Sreeet!
Belati itu menancap dalam, diiringi raungan amarah yang menggema dahsyat ke seluruh sudut Hutan Larangan. Harimau Tanduk Satu Berekor Lima itu kehilangan keseimbangan sesaat, memberikan Gu Yan-Zhi celah emas untuk bangkit dan melesat lebih cepat ke dalam lebatnya hutan, menjadikan pertarungan hidup-mati ini sebagai ujian pertama bagi kebangkitan sang Jenderal Langit di Benua Dewa.