Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Nama Wegan Group yang selalu menjadi tameng kehebatannya kini hanya dianggap bualan gembel gila oleh orang lain.
"Kenapa Papa tidak menjemputku? Ini tidak lucu sama sekali," gumam Bianca duduk meringkuk di depan sebuah minimarket.
Perutnya kembali berbunyi sangat nyaring meminta diisi makanan.
Dia melihat beberapa orang keluar dari minimarket membawa es krim dan roti cokelat.
Rasa lapar yang luar biasa akhirnya mengalahkan sisa-sisa harga diri anak kecil pemarah itu.
Bianca memberanikan diri menengadahkan tangannya ke arah seorang pria kantoran yang baru keluar dari minimarket.
"Tolong, Om. Aku belum makan, tolong belikan aku roti satu saja," mohon Bianca dengan suara bergetar menahan malu.
Pria kantoran itu melihat sekilas ke arah Bianca dan melemparkan selembar uang dua ribu rupiah kucel ke tanah.
"Nih buat jajan, jangan pakai buat beli lem ya dek," ucap pria itu lalu berjalan pergi begitu saja.
Bianca menatap uang dua ribu perak di tanah kotor itu dengan pandangan tidak percaya.
Biasanya dia membuang uang ratusan ribu untuk beli mainan yang ujung-ujungnya hanya dia rusak lima menit kemudian.
Tapi hari ini, selembar uang dua ribu perak adalah satu-satunya penyambung nyawanya untuk bisa membeli sebungkus roti tawar murah.
Air mata penyesalan mulai menetes membasahi pipi kotor Bianca.
"Maafkan aku, Mama... aku janji tidak akan memukul Mama lagi kalau Mama mau menjemputku pulang," isaknya mengusap uang kotor itu.
Tapi tangisan penyesalan itu sudah sangat terlambat untuk diucapkan sekarang.
Karma yang dia terima sudah terlalu dalam dan hukuman dari ayah angkatnya tidak akan pernah bisa dicabut.
Kembali ke rumah sakit Wegan, Luna sedang tertawa riang bermain dokter-dokteran bersama Nabila.
"Sekarang giliran Mama yang disuntik ya, Dok?" ucap Nabila menyodorkan lengannya.
"Tidak boleh disuntik sungguhan, nanti Mama sakit! Pakai suntikan mainan saja," jawab Luna mengambil suntikan plastiknya.
Leon duduk di sofa mengamati interaksi ibu dan anak itu dengan perasaan yang sangat lega.
"Tuan Besar, mobil jemputan sudah siap. Kita bisa membawa Nona Luna pulang ke kediaman utama hari ini juga," lapor Asisten Budi pelan.
"Bagus. Beritahu semua pelayan untuk membuang semua barang milik anak penipu itu tanpa sisa," perintah Leon tegas.
"Jangan biarkan ada satu pun debu dari barang lama di kamar baru putriku," lanjutnya memberi peringatan pada asistennya.
"Semuanya sudah dibakar tadi pagi, Tuan. Kamar putri sudah didekorasi ulang sepenuhnya sesuai instruksi Nyonya," jawab Asisten Budi.
"Pekerjaan yang bagus. Ayo kita pulang sekarang, istana kita akhirnya kedatangan putri mahkotanya yang asli," ucap Leon berdiri dan merapikan jasnya.
Leon berjalan mendekati ranjang dan menggendong Luna dengan sangat mudah.
"Kita pulang ke rumah ya sayang? Rumahmu sangat besar, ada taman bermain sendiri di belakangnya," bisik Leon mengecup pipi putrinya.
"Rumahnya lebih besar dari gubuk Ibu Siska?" tanya Luna polos membandingkan memori lamanya.
Leon tertawa pelan mendengar perbandingan yang sangat jauh itu.
"Rumahmu lebih besar dari mall tempat kita bertemu kemarin, Nak," jawab Leon membuat mata Luna terbelalak kaget.
"Wah! Berarti kita bisa main kejar-kejaran di dalam rumah tanpa takut nabrak dinding ya Papa?!" seru gadis kecil itu kegirangan.
"Tentu saja bisa sayang, kamu bebas berlarian di mana pun yang kamu mau," balas Nabila ikut tersenyum.
Ketiga anggota keluarga inti Wegan itu berjalan keluar dari rumah sakit dengan senyum mengembang di wajah mereka.
Puluhan pengawal berseragam hitam membuka jalan dan menunduk sangat hormat saat mereka lewat.
Mereka semua tahu bahwa gadis kecil di gendongan bos besar mereka adalah pewaris sah seluruh kekayaan Wegan Group.
Saat tiba di gerbang kediaman utama keluarga Wegan, mobil SUV mewah mereka berjalan pelan memasuki pelataran.
Ratusan pelayan sudah berbaris rapi di depan pintu utama untuk menyambut kedatangan tuan putri mereka yang asli.
"Selamat datang kembali ke rumah, Nona Muda Luna!" ucap seluruh pelayan serempak sambil membungkuk sembilan puluh derajat.
Luna tersentak kaget dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Leon karena tidak terbiasa disapa seheboh itu.
"Jangan takut sayang, mereka semua adalah pelayanmu yang akan menuruti semua perintahmu," bujuk Nabila mengelus punggung putrinya.
Leon menurunkan Luna di depan pintu utama yang terbuat dari kayu jati berukir emas.
"Ayo masuk, ini rumahmu," ucap Leon menuntun tangan kanan Luna.
Nabila memegang tangan kiri Luna dan mereka bertiga melangkah beriringan memasuki rumah super mewah tersebut.
Mata Luna tidak henti-hentinya menatap kagum ke sekeliling ruangan yang dipenuhi lampu kristal dan perabotan berlapis emas.
"Semuanya mengkilat sekali, Papa! Seperti istana di buku cerita!" seru Luna memegang ujung gaun birunya kegirangan.
"Mulai sekarang ini semua milikmu. Kamu adalah satu-satunya pewaris Wegan," ucap Leon tersenyum penuh kebanggaan.
"Terima kasih, Papa, Mama," balas Luna memeluk kedua orang tuanya dengan sangat erat.
Hari itu menandai awal mula kehidupan baru Luna Wegan sebagai putri mahkota yang sesungguhnya.
Penderitaannya di jalanan sudah sepenuhnya berakhir digantikan dengan kasih sayang dan kemewahan tanpa batas.
Tapi di balik kebahagiaan itu, badai kehancuran yang sangat besar sedang dipersiapkan oleh ayah kandungnya.
Leon Wegan tidak akan membiarkan satu pun orang yang terlibat dalam penyiksaan putrinya lolos dari hukuman mati.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget