Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Sinar matahari sore memancarkan warna jingga keemasan yang menenangkan di atas atap rumah kecil pinggiran kota.
Arya sedang duduk bersantai di teras sambil menikmati secangkir teh herbal hangat buatan tangan sendiri.
Vanya duduk di kursi rotan di sampingnya, membaca buku tua yang dipinjam dari tetangga sebelah rumah.
"Tidak disangka hidup di tempat manusia biasa bisa terasa begitu damai dan membosankan," komentar Vanya pelan.
Arya tersenyum tipis mendengar ucapan santai dari sang Ratu Iblis yang mulai terbiasa dengan ritme hidup baru.
"Bukannya damai itu yang selama ini kamu cari setelah kabur dari intrik politik istana iblis?" balas Arya.
Vanya menutup buku di tangannya lalu melirik ke arah Arya dengan tatapan mata merah yang lembut.
"Benar juga, kedamaian ini terasa asing tapi menyenangkan setelah bertahun-tahun hidup dalam darah dan perang," aku Vanya jujur.
Tiba-tiba, udara di sekitar halaman rumah kecil itu mendadak berubah menjadi dingin secara drastis tanpa sebab.
[Peringatan Keras Sistem: Mendeteksi kehadiran energi spiritual musuh tingkat tinggi memasuki radius pulau!]
[Peringatan: Pasukan pemburu elit istana kerajaan asal telah menemukan lokasi persembunyian Host!]
Suara dengungan khas sistem berputar kencang di kepala Arya, membuat cangkir di tangannya hampir terlepas.
Arya langsung berdiri tegak dari kursinya dengan mata melotot lebar penuh keterkejutan.
"Sialan! Bagaimana bisa mereka melacak kita sampai menyeberang pulau sejauh ini?!" geram Arya panik.
Vanya ikut berdiri dari kursi rotannya, aura hitam pekat langsung meluap keluar dari telapak tangannya.
"Sudah kuduga, anjing-anjing istana itu tidak akan pernah menyerah sebelum mencincang kita berdua," ucap Vanya dingin.
Tap... tap... tap...
Suara derap sepatu bot berat bergemuruh mendekati area pagar rumah kecil mereka.
Empat orang pria berpakaian jubah hitam pekat dengan topeng perak muncul mengepung halaman mungil tersebut.
"Ketemu juga sarang tikus pengkhianat dan ratu iblis peliharaannya!" seru pimpinan pembunuh bayaran itu tajam.
Arya menarik napas panjang, lalu memasang kuda-kuda bertarung sambil memegang botol minyak pijitnya.
"Wah, bertamu malam-malam tidak bawa oleh-oleh malah bawa pedang tajam," sindir Arya sengaja memancing emosi.
Pimpinan pembunuh istana itu murka mendengarkan ejekan santai dari sang tukang pijit.
"Habisi mereka berdua sekarang juga! Bawa kepala tukang pijit itu ke hadapan Tabib Agung!" perintah pembunuh itu.
Mereka berempat melompat serempak menerjang maju secara bersamaan dengan tebasan pedang mematikan.
Ssh...
Desisan angin tajam meluncur deras mengarah langsung ke dada Arya.
Vanya mendengus penuh amarah, ia melesat cepat seperti kilat hitam menghadang para penyerang.
Bum...
Hantaman gelombang energi iblis langsung menghantam dua pembunuh terdepan hingga terpental jauh.
Dua orang pembunuh tersisa tetap nekat menerobos maju menyerang ke arah posisi Arya berdiri.
Arya tidak panik, ia mengandalkan refleks tubuh dan dorongan energi sistem untuk melumpuhkan musuh.
Ia menepis bilah pedang musuh menggunakan tas usangnya lalu menekan titik akupuntur leher pembunuh tersebut.
Krek...
Sendi leher pembunuh itu bergeser, membuatnya langsung pingsan tak sadarkan diri seketika.
Pembunuh terakhir terbelalak kaget melihat rekan-rekannya tumbang dalam waktu kurang dari satu menit.
"Iblis... kekuatan mereka berdua tidak bisa diremehkan!" teriak pembunuh itu gemetar ketakutan hendak kabur.
Sebelum ia sempat membalikkan badan, Vanya sudah berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan membunuh.
Brak...
Satu pukulan telak mendarat di dada pembunuh itu hingga membuatnya ambruk mencium tanah.
Suasana di halaman rumah kecil itu kembali senyap dalam hitungan detik tanpa suara perlawanan tersisa.
Arya menghempaskan napas panjang, menyeka keringat dingin yang membasahi keningnya.
"Hah... untung saja latihan fisik sistem kemarin tidak sia-sia buat jaga diri," keluh Arya lemas.
Vanya mendarat anggun di dekat Arya, merapikan jubah hitamnya tanpa ada noda sedikit pun.
"Gerakanmu tadi lumayan bagus untuk ukuran manusia biasa," puji Vanya mengakui kehebatan Arya.
"Berkat sering latihan lari dari kejaran pasukan istana," balas Arya tersenyum cengengesan.
Mereka menatap empat orang pembunuh istana yang tergeletak pingsan di halaman rumah sewaan mereka.
"Kalau mereka sadar, mereka pasti bakal datang lagi membawa pasukan yang lebih banyak," analisis Arya serius.
Vanya menatap lurus ke arah Arya dengan senyuman tipis penuh arti di bibirnya.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya? Mau pindah pulau lagi?" tanya Vanya menyelidik.
Arya menggelengkan kepalanya mantap, menatap mata merah Vanya dengan penuh keyakinan.
"Nggak perlu pindah lagi, kita hadapi mereka di sini sampai istana tahu kalau kita bukan buronan yang gampang ditangkap," jawab Arya tegas.
Vanya tertegun sejenak mendengarkan jawaban penuh keberanian dari sang tukang pijit.
Ia merasa bahwa di sisi pemuda manusia inilah ia akhirnya menemukan rumah yang sebenarnya setelah sekian lama.
[Peringatan Sistem: Menyelesaikan Arc Pertama Pelarian dengan sukses besar!]
[Mendapatkan bonus poin kedekatan maksimal: +50 poin sistem total menjadi 250 poin!]
[Membuka fitur spesial akhir bab - Ikatan Jiwa Abadi antara Host dan Target!]
Suara dengungan khas sistem berputar kencang di kepala Arya memberikan notifikasi akhir yang sangat memuaskan.
Arya tersenyum lebar, merangkul pelan bahu Vanya di bawah sinar matahari sore yang mulai tenggelam.
"Yuk masuk ke dalam, teh hangatnya tadi belum sempat kita habiskan," ajak Arya ramah.
Vanya mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Arya sambil tersenyum tulus.
"Baiklah, mari kita habiskan malam ini dengan tenang bersama tukang pijitku," balas Vanya lembut.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah kecil, menutup pintu rapat-rapat meninggalkan bayangan istana di luar.