Indonesia
NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Tujuh Lapis Bukan Apa-Apa

Zhao Feng tidak membuang waktu. Begitu aba-aba dimulai, ia melesat maju dengan kecepatan yang membuat sebagian penonton di baris depan menahan napas—jejak bayangan merah dari jubahnya nyaris tak terlihat mata biasa. Tinjunya yang diselimuti qi padat mengarah lurus ke dada Lin Mu, membawa tekanan udara yang cukup untuk meretakkan batu panggung di sekelilingnya.

Bagi kultivator seusianya, pukulan ini sudah cukup untuk mengakhiri pertarungan dalam satu gerakan.

Lin Mu tidak bergerak sampai detik terakhir.

Ia menggeser tubuhnya beberapa senti ke samping—gerakan sekecil itu, namun cukup presisi untuk membuat tinju Zhao Feng melesat kosong tepat di sisi telinganya, angin pukulan itu cukup keras hingga merobek sedikit kain di bahu jubahnya. Sebelum Zhao Feng sempat menarik kembali tinjunya, Lin Mu sudah melangkah masuk, menyodok dua jari ke titik akupuntur di pergelangan tangan lawannya—gerakan sederhana yang tampak nyaris tidak berbahaya di mata penonton awam.

Namun Zhao Feng merasakannya berbeda. Seluruh lengannya mendadak mati rasa, seolah dialiri ribuan jarum es dalam sepersekian detik.

"Apa—" Ia melompat mundur, mengguncang lengannya yang tiba-tiba lumpuh sesaat, matanya membelalak tak percaya.

"Titik akupuntur Yangxi," Lin Mu berkata datar, berdiri tenang di posisi semula seolah tidak baru saja menghindari pukulan mematikan. "Kau menyalurkan terlalu banyak qi ke tinjumu tanpa melindungi titik lemah di pergelangan tanganmu sendiri. Kesalahan dasar yang seharusnya sudah kau perbaiki sejak lapis ketiga."

Tribun mulai berbisik-bisik, nada mengejek yang tadinya ditujukan pada Lin Mu perlahan berubah jadi kebingungan.

Zhao Feng menggeram, wajahnya memerah menahan malu. Ia menggerakkan lengannya yang mulai pulih, mengumpulkan qi lebih banyak dari sebelumnya, kali ini lebih berhati-hati. "Keberuntungan sesaat tidak mengubah kenyataan bahwa kau tujuh lapis di bawahku, sampah!"

Ia menyerang lagi, kali ini dengan rangkaian pukulan beruntun—Jurus Tinju Naga Membelah Awan, teknik andalan Klan Zhao yang diwariskan turun-temurun, masing-masing pukulan membawa gelombang tekanan yang membuat debu di panggung batu beterbangan.

Lin Mu mundur selangkah demi selangkah, membiarkan dirinya tampak terdesak di mata penonton—namun setiap gerakannya sebenarnya adalah perhitungan yang teliti, mengingat kembali ribuan pertarungan yang pernah ia jalani sebagai Ye Xuan. Tubuh barunya memang lemah, qi-nya memang jauh lebih sedikit dibanding lawannya. Tapi pemahaman tentang pertarungan itu sendiri—cara membaca pola serangan, cara memprediksi celah, cara mengubah kelemahan menjadi jebakan—tidak pernah benar-benar hilang meski jiwanya tertidur tiga abad lamanya.

Pada pukulan kesembilan, Lin Mu akhirnya menemukan celah yang ia tunggu.

Ia menangkap pergelangan tangan Zhao Feng persis di titik yang sama seperti sebelumnya—namun kali ini dengan cengkeraman penuh, menyalurkan seluruh qi yang telah ia kumpulkan selama dua bulan terakhir melalui titik akupuntur itu langsung ke jalur meridian utama Zhao Feng, membuat aliran qi lawannya kacau balau dalam sekejap.

Zhao Feng terhuyung, wajahnya pucat pasi, darah segar mengalir dari sudut bibirnya karena qi-nya sendiri berbalik menyerang organ dalamnya.

"I-ini tidak mungkin," ia terengah, jatuh berlutut di panggung batu, mencoba menstabilkan qi-nya yang kacau dengan panik. "Teknik apa yang baru saja kau—"

"Seni mengendalikan aliran qi lawan melalui titik-titik akupuntur," Lin Mu berkata tenang, melangkah mendekat, "sudah dilupakan dunia selama ratusan tahun. Kekuatan mentah sepertimu memang bisa menghancurkan gunung, Zhao Feng. Tapi tanpa pemahaman sejati tentang aliran qi tubuhmu sendiri, kekuatan sebesar apa pun hanyalah pedang bermata dua."

Ia berhenti tepat di hadapan Zhao Feng yang kini tak mampu lagi bangkit, lengannya masih gemetar menahan sisa serangan tadi.

"Menyerahlah," Lin Mu berkata, bukan sebagai ejekan, melainkan penawaran yang tulus. "Kau sudah kalah. Tidak perlu ada yang terluka lebih jauh hari ini."

Untuk sesaat, kesombongan di mata Zhao Feng bertarung dengan akal sehatnya. Namun rasa sakit yang masih menjalar di dadanya akhirnya memaksa kesombongan itu mengalah.

"Aku... menyerah," ucapnya lirih, nyaris tak terdengar, namun cukup jelas terdengar oleh juri di tepi panggung yang segera mengangkat bendera tanda pertandingan usai.

"Pemenang—Lin Mu, dari Klan Lin!"

Keheningan menyelimuti seluruh alun-alun selama beberapa detik sebelum akhirnya pecah menjadi gemuruh riuh yang jauh berbeda dari tawa mengejek sebelumnya—kali ini campuran antara takjub, tak percaya, dan kekaguman yang tumbuh perlahan.

Di tribun Klan Lin, Lin Wan berdiri sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia mulai menggenang di matanya. Lin Hao duduk terpaku, tak mampu berkata apa-apa, menatap putra bungsunya yang selama ini ia anggap aib klan kini berdiri gagah di tengah panggung sebagai pemenang. Lin Kai tersenyum tipis, mengangguk pelan seolah berkata aku sudah menduga sesuatu sepertimu tidak akan sesederhana kelihatannya.

Sementara itu, di tribun Klan Zhao, Zhao Kang berdiri dengan wajah pucat pasi, menyadari bahwa politik liciknya baru saja berbalik menjadi bumerang paling memalukan yang pernah dialami klannya. Zhao Yan menatap Lin Mu dari kejauhan dengan tatapan yang sulit dijelaskan—campuran antara penyesalan, rasa bersalah, dan sesuatu yang lain yang enggan ia akui pada dirinya sendiri.

Di tribun kehormatan, tempat para perwakilan sekte besar duduk mengamati, seorang wanita muda berjubah putih bersih dengan lambang awan di dadanya—perwakilan Sekte Awan Putih—menyipitkan matanya, mengamati Lin Mu turun dari panggung dengan tatapan penuh perhitungan.

"Menarik," gumamnya pelan pada tetua di sampingnya. "Teknik pengendalian qi lawan melalui titik akupuntur seperti itu... sudah lama sekali aku tidak melihat siapa pun menggunakannya seakurat itu. Bahkan catatan sekte kami menyebutnya sebagai teknik yang punah bersama runtuhnya Puncak Pedang Sembilan Langit, tiga abad lalu."

Tetua di sampingnya mengerutkan kening. "Kau ingin merekrutnya?"

Wanita muda itu tersenyum tipis, matanya masih terpaku pada sosok Lin Mu yang kini dikerumuni anggota klannya sendiri yang bersorak gembira.

"Aku ingin mengamatinya lebih dulu," jawabnya. "Seseorang yang membawa kembali teknik yang dianggap punah selama tiga ratus tahun... bukan sekadar bakat biasa. Ia adalah sebuah misteri yang layak dipecahkan."

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!