Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Don dan Perawatnya

Sang Don dan Perawatnya

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vah Peres

Dante Marcondes adalah Don mafia Italia yang ditakuti semua orang. Hidupnya dipenuhi kekuasaan, darah, dan aturan keluarga yang tidak bisa ia abaikan, sampai sebuah pengkhianatan membuatnya berada di ambang kematian.
Camile Fontana hanyalah perawat yang ingin menjalani hidup tenang setelah meninggalkan masa lalu kelam di negeri asalnya. Namun ketika ia menyelamatkan Dante dan mendengar rahasia yang seharusnya terkubur, hidupnya ikut terseret ke dunia pria itu: dunia penuh bahaya, kekuasaan, perlindungan, dan cinta yang tak mengenal setengah hati.
Di antara ancaman keluarga, pernikahan yang dipaksakan, dendam lama, dan rahasia yang menghancurkan, Dante dan Camile harus memilih: lari dari takdir, atau bertahan bersama di sisi paling gelap cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Kami tiba di kamar, dan begitu pintu tertutup di belakang kami, aku sudah merasakan jantungku berdetak keras, kacau, dengan hasrat yang membakar setiap bagian tubuhku. Ia berhenti tepat di depanku, matanya tertuju pada mataku, berkilau dengan campuran kelembutan dan keberanian yang hanya dimiliki dirinya. Ada kesepakatan, taruhan yang telah kumenangkan, dan ia tahu betul apa yang harus ia lakukan. Kami mandi bersama, membersihkan kotoran dan keringat, lalu ketika ia mulai bergerak pelan, turun berlutut di lantai yang empuk, tepat di antara kedua kakiku, napasku terasa hilang dari paru-paru.

Ia ada di sana, mungil, cantik, dengan rambut basah, napas sedikit memburu, wajah terangkat ke arahku, dan pada saat itu, ia tampak seperti hal paling berharga, paling suci sekaligus paling berdosa yang pernah kulihat seumur hidup. Aku memegang kepalanya dengan sayang, menyisirkan jemariku di antara helaian rambutnya yang halus, lalu berkata pelan, suaraku sudah serak oleh keinginan:

"Kamu tidak harus melakukan ini kalau belum siap, sayang. Kalau kamu tidak tahu caranya, kalau malu, kalau ingin berhenti, bilang saja. Aku mengerti."

Ia tersenyum, penuh percaya diri, lalu menggeleng pelan, menggesekkan wajahnya ke tanganku seolah ia menyukai sentuhanku.

"Aku tidak tahu dari pengalaman, Dante..." jawabnya lirih, dengan kilau nakal di matanya. "Tapi aku tahu cara memperhatikan, aku tahu cara membayangkan, dan aku tahu persis apa yang membuatmu merasakan nikmat. Lagi pula, aku ingin melakukannya. Aku ingin memberimu semua yang pantas kamu dapatkan. Semua yang sudah kamu berikan padaku tadi malam."

Lalu, dengan itu, ia membawa kedua tangannya pelan ke penisku. Ia mendapatiku di sana, bebas, keras, besar, berdenyut tepat di depan wajahnya. Aku sempat mengira ia akan takut, ragu, bergerak pelan atau tidak yakin, seperti yang wajar terjadi pada perempuan yang belum pernah menyentuh pria dengan cara seperti itu. Namun Camile mengejutkanku lagi.

Ia tidak takut. Tidak malu. Dengan kedua tangan yang lembut dan hangat, ia memegangku mantap, tetapi dengan seluruh kehati-hatian di dunia, seolah aku sesuatu yang rapuh, sesuatu yang harus diperlakukan dengan cinta. Ia menatapku sesaat, seperti meminta izin, lalu membuka bibir dan membungkus kepalanya dengan mulut, pelan, menerimaku utuh, dengan kemahiran, kelembutan, dan kepasrahan yang membuatku memejamkan mata dan melepaskan erangan keras yang tak bisa kutahan.

Ia jelas tahu cara melakukannya.

Meski ini pertama kalinya, tidak ada kesalahan, tidak ada gerakan canggung, tidak ada sesuatu pun yang tidak sempurna. Ia memakai mulutnya dengan teknik yang tampak seperti milik seseorang yang sudah melakukannya bertahun-tahun: bibirnya bergerak dengan tekanan yang tepat, tidak terlalu kuat, tidak terlalu lemah; lidahnya menyusuri seluruh panjangku, menjelajahi setiap bagian, setiap titik sensitif; ia meluncur naik turun dalam ritme yang membuatku gila, membuatku menggenggam rambutnya kuat, tetapi tetap dengan sayang, membimbingnya tanpa memaksa, hanya merasakan.

Ia intens. Ia kuat. Ia menyerahkan diri sepenuhnya pada setiap gerakan, menekan wajahnya kepadaku, membiarkanku masuk sejauh yang ia mampu, tanpa mengeluh, tanpa berhenti, menggerakkan kepalanya dengan cara yang membuatku kehilangan kendali. Sesekali, ia melihatku dari balik bulu matanya, dengan mata besar yang berkilau, penuh hasrat, penuh cinta, dan pemandangan itu, wanita yang kucintai berlutut untukku, menampungku di mulutnya, memberiku kenikmatan paling intens di dunia, cukup untuk membuat kewarasanku runtuh.

Ia merawatku seperti belum pernah ada yang merawatku. Caranya menyentuh dengan tangan, menekan lembut pangkalnya, membelai kulitku, mengikuti setiap gerakan mulutnya, membuat segalanya terasa seratus kali lebih baik. Ia memperhatikan setiap eranganku, setiap getaran tubuhku, setiap kali genggamanku pada rambutnya menguat, dan ia tahu persis artinya: kapan harus bergerak lebih cepat, kapan harus lebih dalam, kapan harus berhenti sebentar untuk menggoda, kapan harus lebih banyak memakai lidah.

Ia melakukan semuanya dengan begitu tekun, dengan begitu banyak cinta, hingga itu tidak terasa seperti tindakan dari taruhan yang kalah. Rasanya seperti bentuk pemujaan. Ia melahapku, mencicipiku, merasakanku, seolah ingin menyimpan rasaku selamanya. Suara teredam dari gerakan itu, napas panasnya di kulitku, cara ia menerimaku... semuanya sempurna. Semuanya persis seperti yang selalu kuinginkan, tetapi tak pernah kusangka mungkin terjadi.

Aku memandangnya, wanita manisku, polosku, gadisku yang belum pernah bersama siapa pun sebelumnya, dan melihatnya di sana, berubah menjadi perempuan paling berpengalaman, paling berani, paling sempurna yang bisa ada. Lalu aku sadar: ia tidak membutuhkan latihan dengan pria lain. Ia hanya membutuhkan aku. Karena bersamaku, ia tahu segalanya. Bersamaku, ia memberikan segalanya.

Sensasinya begitu kuat, begitu intens, hingga aku merasakan kenikmatan itu naik, membesar, mengambil alih seluruh tubuhku, sampai tiba di batasnya. Dan ketika aku tidak sanggup lagi, ketika aku memegang wajahnya dengan kedua tangan, mencoba memperingatkan, mencoba mengendalikan diri... ia tidak berhenti. Sebaliknya, ia terus melanjutkan, lebih mantap, tanpa mengalihkan pandangan, menerima semua yang kumiliki untuk diberikan, menerima setiap tetes, setiap bagian diriku, seolah itu hadiah terbesar di dunia.

Aku mengerang menyebut namanya, keras, tersesat, menumpahkan seluruh kenikmatanku ke dalam mulutnya. Aku merasakannya menelan semuanya, merasakannya menikmati semuanya, sampai aku benar-benar kosong, sampai seluruh tubuhku bergetar, sampai aku harus bertumpu pada dinding agar tidak jatuh, lemah, puas, sepenuhnya menyerah.

Ia menjauh pelan, menyeka bibir dengan punggung tangan, lalu mengangkat wajah ke arahku dengan senyum kemenangan yang nakal, tetapi sekaligus begitu manis, begitu penuh cinta. Berlutut di sana, dengan rasaku masih di mulutnya, ia tampak lebih cantik, lebih milikku, lebih sempurna daripada sebelumnya.

Aku menariknya berdiri, memeluknya kuat, menciumnya dengan garang, dengan gairah, mencicipi rasaku sendiri di bibirnya, merasakan ia tertawa pelan dalam pelukanku.

"Aku sudah bilang..." bisiknya di sela ciuman, "...bahwa meski kalah dalam pertarungan, aku tetap akan menguasai kenikmatanmu."

Aku tersenyum, mendekapnya ke tubuhku, merasakan jantungnya berdetak bersama jantungku.

"Kamu menang, sayang," jawabku, suaraku masih berat oleh emosi dan kenikmatan. "Kamu menang dalam segala cara. Karena tidak ada siapa pun, siapa pun, yang akan melakukan apa yang kamu lakukan. Tidak ada yang akan mencintaiku, mengenalku, dan membuatku merasakan hal seperti kamu. Kamu sempurna. Dalam segala hal. Untukku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!