Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesanan Nomor 101

Pukul 20.03.

Reyhan masih berada di atas motor.

Angin malam menerpa wajahnya, membawa sisa panas jalanan yang sejak pagi tidak pernah benar-benar berhenti. Tubuhnya terasa berat. Kedua tangannya pegal, punggungnya nyeri, dan betisnya seperti ditarik berkali-kali.

Namun yang paling membuatnya tidak bisa pulang adalah sebuah angka yang terus muncul di hadapannya.

**[100/100.]**

Misi utama selesai.

Seharusnya dia sudah bisa mengembalikan motor sewaan, tidur, dan menunggu minggu berikutnya.

Sayangnya, sistem baru saja memberikan sesuatu yang tidak pernah Reyhan duga.

**[Misi Tambahan Level 2.]**

**[Target: 50 pengantaran tambahan.]**

**[Batas waktu: 5 hari.]**

**[Reward Tambahan: ???]**

Reyhan menatap panel itu. “Lima puluh?”

**[Benar.]**

“Dalam lima hari?”

**[Benar.]**

Reyhan menghela napas. “Jadi gue sekarang bukan cuma kurir. Gue budak sistem?”

Tidak ada jawaban.

“Minimal kasih bonus bensin kek.”

Panel menghilang.

Reyhan menggeleng. “Peliiiit.”

Ponselnya berbunyi. Pesanan baru masuk, dia melihat lokasi pengambilan.

Sebuah restoran kecil di kawasan pusat kota, jaraknya sekitar tiga kilometer.

Reyhan menatap layar beberapa detik. “Pesanan nomor 101.”

Dia menyalakan mesin. “Sekalian.”

Restoran itu berada di sebuah gang yang cukup ramai.

Ketika Reyhan tiba, dia melihat banyak orang duduk di depan sebuah bangunan dua lantai.

Nama restorannya cukup sederhana.

**Dapur Rasa.**

Reyhan masuk. “Pesanan atas nama Nanda.”

Seorang pegawai menyerahkan satu kantong makanan. “Ini, Mas.”

“Terima kasih.”

Reyhan memeriksa alamat. Ternyata mengarah ke sebuah Apartemen, tidak terlalu jauh.

Dia kembali ke motor, namun baru hendak pergi, seseorang memanggil.

“Mas!”

Reyhan menoleh. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berjalan keluar dari restoran.

“Mas kurir?”

“Iya, Pak.”

“Boleh tanya sesuatu?”

Reyhan mematikan mesin. “Boleh.”

Pria itu menunjuk beberapa motor kurir yang terparkir. “Mas sering ambil pesanan dari sini?”

“Baru dua kali.”

“Oh.” Pria itu mengangguk. “Mas namanya siapa?”

“Reyhan.”

“Saya Surya.”

Mereka berjabat tangan.

Pak Surya tersenyum. “Kalau nanti sering dapat pesanan dari sini, mampir saja.”

“Baik, Pak.”

Reyhan hendak pergi, namun Pak Surya kembali memanggil.

“Mas Reyhan.”

“Iya?”

“Menurut Mas, kenapa restoran saya sepi?”

Reyhan terdiam. Pertanyaan itu tidak dia duga, dia melihat sekitar. Memang benar, restoran tersebut cukup bagus, tempatnya bersih, makanannya terlihat menarik, namun hanya beberapa meja yang terisi.

Reyhan sebenarnya tidak punya pengalaman bisnis, tetapi sejak sistem muncul, dia mulai lebih memperhatikan hal-hal kecil.

Dia melihat menu, harga, lokasi, pelanggan.

Kemudian berkata, “Boleh saya jujur?”

Pak Surya tertawa. “Justru saya mau dengar kejujuran.”

“Menurut saya masalahnya bukan makanan.”

Pak Surya mengangkat alis. “Lalu?”

“Orang tidak tahu restoran ini ada.”

Pria itu diam.

Reyhan menunjuk jalan. “Lokasinya masuk gang. Dari jalan besar tidak terlalu kelihatan. Kalau orang tidak tahu, mereka tidak akan datang.”

Pak Surya mengangguk perlahan. “Benar juga.”

“Kalau boleh saran, coba fokus ke layanan pesan antar.” ucap Reyhan

“Sudah.” jawab pak Surya singkat

“Sudah?”

“Iya. Tapi pesanan online sedikit.”

Reyhan melihat papan menu. “Foto makanannya bagus?”

Pak Surya diam.

Reyhan membuka aplikasi, dia mencari restoran tersebut, kemudian menemukan halaman Dapur Rasa.

Foto makanannya memang ada, namun terlihat biasa.

Pencahayaannya buruk. Salah satu foto bahkan memperlihatkan meja yang berantakan di belakang makanan.

Reyhan menunjukkan layar. “Kalau saya lihat foto seperti ini, saya mungkin tidak pesan.”

Pak Surya tertawa. “Wah, Mas ini kurir atau konsultan?”

Reyhan ikut tertawa. “Kurir, Pak.”

“Sayang sekali.” Pak Surya mengambil kartu nama dari sakunya. “Kalau suatu hari Mas berubah pikiran, hubungi saya.”

Reyhan menerima kartu itu, dia melihat nama lengkapnya.

**Surya Wijaya — Pemilik Dapur Rasa.**

“Terima kasih, Pak.” Reyhan memasukkan kartu tersebut ke dompet.

Dia tidak menyangka bahwa obrolan kurang dari lima menit itu akan menjadi sesuatu yang penting.

Pukul 20.47.

Reyhan sampai di apartemen, pelanggan menerima pesanannya.

“Terima kasih, Mas.”

“Sama-sama.”

Dia kembali ke motor.

Panel muncul.

**[Pengantaran 101/150.]**

Reyhan mengangguk. “49 lagi.”

Dia membuka aplikasi dan yap pesanan baru muncul.

Namun sebelum mengambilnya, dia melihat kartu nama Pak Surya.

Entah kenapa dia kembali memikirkan restoran itu.

Mungkin karena perkataan Pak Surya. Atau mungkin karena dia mulai tertarik pada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia pikirkan.

Bisnis.

Reyhan menyalakan motor. “Ah, nanti saja.”

Hari ketiga berjalan jauh lebih cepat.

Reyhan sudah memahami ritme pekerjaan, dia tahu kapan restoran ramai, dia tahu jalan alternatif, dia tahu wilayah mana yang biasanya memiliki pesanan tinggi, dan dia bahkan mulai mengenali beberapa pelanggan.

Seorang bapak yang selalu memesan kopi setiap pagi, seorang mahasiswa yang hampir selalu memesan ayam geprek, seorang ibu yang rutin mengirim makanan kepada anaknya.

Dulu Reyhan mungkin tidak akan memperhatikan hal-hal tersebut tapi sekarang dia memperhatikan semuanya.

Karena menjadi kurir membuatnya melihat sesuatu yang tidak pernah terlihat dari balik meja kantor.

Orang-orang punya kebutuhan, orang-orang punya kebiasaan, dan orang-orang bersedia membayar untuk sesuatu yang membuat hidup mereka lebih mudah.

Sebuah pemikiran kecil mulai tumbuh di kepalanya.

Pukul 15.20.

Reyhan berhenti di sebuah warung, dia membuka ponsel.

Jumlah pengantaran: 127/150.

Masih kurang 23.

Hari ketiga belum selesai, kalau terus begini, target tambahan akan selesai sebelum lima hari.

Reyhan tersenyum. “Lumayan.”

Dia memesan nasi goreng. Ketika makanan datang, dia makan sambil melihat beberapa data pesanan di aplikasi.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk. Bukan pesanan.

Nomor tidak dikenal.

**Pak Surya: Mas Reyhan, kalau nanti ada waktu, saya mau ngobrol lagi.**

Reyhan mengerutkan kening.

D,ia membalas.

**Reyhan: Tentang restoran, Pak?**

Beberapa detik kemudian.

**Pak Surya: Iya. Saya tertarik dengan pendapat Mas kemarin.**

Reyhan menatap pesan tersebut, kemudian tersenyum.

**Reyhan: Besok sore saya bisa mampir.**

Dia kembali makan, namun sebuah panel kecil muncul.

**[Interaksi dengan NPC penting terdeteksi.]**

Reyhan berhenti mengunyah. “NPC?”

Panel berubah.

**[Karakter potensial terdeteksi.]**

**[Surya Wijaya.]**

**[Status: Pengusaha kuliner.]**

**[Potensi hubungan: Mitra.]**

Reyhan hampir tersedak. “MITRA?”

Panel menghilang.

Reyhan menatap udara kosong. “Jadi sistem bisa membaca orang?”

Tidak ada jawaban.

Dia kembali makan, tetapi pikirannya sudah tidak tenang.

Kalau sistem bisa menunjukkan potensi seseorang... Berarti setiap orang yang dia temui mungkin memiliki peran.

Pukul 22.11.

Hari ketiga selesai. Reyhan memarkir motor.

Panel muncul.

**[Pengantaran hari ini: 34.]**

**[Total: 134/150.]**

**[Komplain: 0.]**

**[Performa: 97%.]**

Reyhan tertawa. “Besok selesai.”

Dia naik ke kamar. Setelah mandi, dia duduk di depan laptop.

Kartu nama Pak Surya diletakkan di atas meja.

Reyhan membuka internet, dia mencari informasi tentang Dapur Rasa. Ternyata restoran tersebut sudah berdiri hampir enam tahun, namun tidak pernah berkembang.

Reyhan membaca beberapa ulasan. Makanannya bagus, pelayanannya lumayan, harga bersahabat. Masalah terbesar memang visibilitas.

Reyhan mulai berpikir. Kalau foto makanan diperbaiki, kalau media sosialnya aktif, kalau ada promo, kalau sistem pesan antar dimaksimalkan... Mungkin restoran itu bisa berkembang.

Reyhan terdiam. “Kenapa gue mikirin bisnis orang lain?”

Dia tertawa sendiri, kemudian laptop ditutup.

“Besok aja.”

Dia berbaring, namun sebelum tidur, panel muncul.

**[Host memperoleh Skill baru.]**

Reyhan langsung duduk. “Hah?”

**[Skill: Membaca Peluang Lv.1.]**

**[Efek: Meningkatkan kemampuan Host dalam mengenali kebutuhan, pola, dan peluang sederhana di lingkungan sekitar.]**

Reyhan terdiam. “Skill ini...”

Dia mengingat semua kejadian selama tiga hari.

Cara dia mengatur rute, memahami pelanggan, melihat masalah restoran, menganalisis kebiasaan orang. Ternyata semua itu bukan kebetulan.

Sistem sedang mengajarinya bukan dengan teori. Melainkan dengan pengalaman.

Reyhan tersenyum. “Jadi ini maksudmu.”

Panel muncul sekali lagi.

**[Benar.]**

“Berarti setiap pekerjaan punya tujuan?”

**[Benar.]**

“Dan kurir adalah langkah pertama?”

**[Benar.]**

Reyhan mengangguk perlahan.

Untuk pertama kalinya, dia tidak lagi melihat pekerjaannya sebagai sekadar cara mendapatkan reward. Dia mulai melihatnya sebagai pelajaran.

Pelajaran tentang manusia, tentang waktu, tentang kebutuhan, tentang bisnis, tentang kehidupan, dan kalau sistem benar-benar merencanakan semua ini...

Reyhan ingin tahu seberapa jauh rencana tersebut berjalan.

Keesokan paginya, Reyhan menerima pesan dari Pak Surya.

**Pak Surya: Mas Reyhan, jangan lupa sore nanti. Saya tunggu di restoran.**

Reyhan tersenyum. Dia belum tahu apa yang akan dibicarakan, namun dia tahu satu hal.

Pertemuan itu mungkin akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar. Karena di dunia yang penuh dengan peluang...

Kadang-kadang, kesempatan terbesar tidak datang dalam bentuk uang.

Kadang... Kesempatan itu datang sebagai **pesanan makanan senilai tiga puluh ribu rupiah.**

1
Wega Luna
next update nya Thor,,,💪
Wega Luna: amin , semoga kak author juga dilancarkan rejeki nya dan sehat sehat selalu
total 4 replies
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!