Indonesia
NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9. Desain yang Membuat Mikael Terdiam

Pagi itu, Naira datang ke Arsen Group membawa sebuah koper kecil. Koper berisi beberapa contoh kain, sketsa, aksesori, dan satu gaun yang ia kerjakan hampir semalaman.

Ia berjalan melewati lobi dengan langkah cepat. Hari ini adalah hari presentasi desain terbaru. Dan untuk pertama kalinya, Naira tidak hanya membawa gambar. Ia membawa hasil yang benar-benar bisa dilihat dan disentuh.

"Semoga mereka suka." Naira menarik napas. "Harus suka."

Pintu lift terbuka. Naira masuk. Namun baru beberapa detik kemudian, seorang pria ikut masuk dari pintu yang hampir tertutup.

Mikael.

Naira langsung memejamkan mata. "Tentu saja dia ada di sini."

Mikael menoleh. "Hai, selamat pagi."

Naira membuka mata. "Selamat pagi."

Mikael melirik koper di tangan Naira. "Beratkah?"

"Sedikit."

"Mau dibantu?"

Naira langsung menggeleng. "Tidak perlu."

Mikael tersenyum. "Aku cuma menawarkan."

"Iya, aku tahu."

"Ok." Mikael bersandar di dinding lift. "Galak sekali pagi-pagi."

Naira menatapnya. "Kalau kamu tidak mulai mengganggu, aku juga tidak akan galak."

Mikael tertawa. "Berarti aku penyebabnya?"

"Betul sekali."

Pintu lift terbuka. Naira langsung keluar. Mikael mengikuti dari belakang.

"Kamu sadar nggak sih?"

"Tentang apa?"

"Kita selalu bertemu."

Naira terus berjalan. "Iya pasti. Karena urusan pekerjaan kita sama."

"Kalau bukan karena pekerjaan?"

Naira berhenti. Ia menoleh. "Jangan berharap untuk selalu bertemu."

Mikael tertawa. "Aku belum bilang berharap."

Naira memutar mata. Pria ini benar-benar tidak ada habisnya.

------ 

Ruang presentasi sudah dipersiapkan. Beberapa orang dari tim Arsen Group telah duduk di tempat masing-masing. Dinda juga hadir. Naira meletakkan koper di atas meja. Mikael duduk di seberangnya.

"Silakan mulai."

Naira mengangguk. Ia membuka koper. Satu per satu contoh kain dikeluarkan.

"Konsep yang saya buat kali ini adalah perpaduan antara elegan dan sederhana." Naira meletakkan beberapa lembar sketsa. "Targetnya adalah perempuan yang ingin terlihat mewah tanpa harus menggunakan desain yang terlalu rumit."

Mikael mengambil salah satu sketsa. Ia memperhatikannya.

Naira melanjutkan penjelasan. "Untuk bahan utama, saya memilih kain yang jatuh dan ringan. Bagian ini menggunakan potongan sederhana agar siluet tubuh tetap terlihat."

Salah satu anggota tim bertanya: "Kenapa tidak menggunakan detail yang lebih banyak?"

Naira tersenyum. "Karena saya ingin desainnya berbicara sendiri."

Ruangan menjadi hening. Mikael kembali melihat sketsa di tangannya. Ada sesuatu dalam desain tersebut. Tidak berlebihan. Tidak mencoba terlihat mahal. Tetapi tetap memiliki karakter.

Ia membalik halaman berikutnya. Desain lain. Kemudian satu lagi. Semakin lama, ekspresi Mikael berubah. Tidak ada senyum usil. Tidak ada komentar menggoda. Ia benar-benar memperhatikan.

Naira menyadarinya. Entah kenapa ia menjadi sedikit gugup. "Pak Mikael?"

Mikael mengangkat wajah. "Ya?"

"Bagaimana menurut Anda?"

Mikael tidak langsung menjawab. Ia melihat kembali sketsa itu. "Cukup bagus."

Naira menunggu. Hanya itu? Biasanya pria ini selalu punya komentar.

Mikael berdiri. "Mana contoh aslinya?"

Naira menunjuk koper. "Di sini, pak."

Ia mengambil sebuah gaun. Gaun itu berwarna lembut dengan potongan yang sederhana. Naira membawanya ke depan.

Mikael mendekat. Tangannya menyentuh bahan gaun itu. Ia mengamati jahitan. Kemudian bagian pinggang. Lalu bagian lengan.

"Siapa yang membuat ini?"

"Saya, pak."

Mikael menatap Naira. "Kamu sendiri yang membuat?"

"Iya, Pak."

"Kapan?"

"Semalam."

Mikael mengangkat alis. "Semalam?"

Naira mengangguk. "Aku harus memperbaiki beberapa bagian."

Mikael kembali memperhatikan gaun itu. "Kenapa memilih warna ini?"

Naira menjawab tanpa ragu. "Karena warna ini tidak mudah terlihat berlebihan. Bisa dipakai untuk acara resmi, tapi masih bisa terlihat lembut."

Mikael mengangguk. "Dan kalau warnanya diganti?"

"Karakter gaunnya akan berubah."

"Kalau dibuat hitam?"

"Bisa lebih elegan."

"Merah?"

"Lebih berani."

"Putih?"

"Lebih ringan."

Mikael menatapnya. "Kamu sudah memikirkan semuanya?"

Naira tersenyum. "Namanya juga desain."

Mikael terdiam. Ia kembali melihat gaun itu. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Naira, ia tidak melihat perempuan yang suka membantah.

Ia melihat seorang perempuan yang tahu apa yang sedang ia kerjakan. Seorang perempuan yang memiliki keyakinan terhadap hasil karyanya.

Dan yang paling mengejutkan...

Naira tidak membutuhkan seseorang untuk memberitahunya bahwa ia berbakat. Ia sudah tahu dirinya mampu.

Mikael kembali duduk. "Berapa lama kamu belajar desain?"

Naira terdiam sebentar. "Sejak kecil, Pak. Sejak kecil, saya suka membuat pakaian."

"Sesederhana itu?"

"Iya."

Mikael tersenyum. "Bagus."

Naira menatapnya. "Tadi anda sudah bilang itu."

"Iya, aku tahu."

"Biasanya Anda banyak komentar."

Mikael tertawa kecil. "Karena kali ini aku tidak punya banyak komentar."

Naira terdiam.

Mikael melanjutkan: "Desainmu sudah menjelaskan semuanya."

Kalimat itu membuat Naira sedikit tersipu. Ia menunduk. "Terima kasih."

Dinda yang duduk di sampingnya tersenyum. Ia sudah mengenal Naira cukup lama. Ia tahu betapa pentingnya apresiasi itu bagi gadis tersebut.

---------

Setelah presentasi selesai, semua orang keluar satu per satu. Naira masih membereskan contoh kain. Mikael berdiri di dekat jendela. Ia memperhatikan perempuan itu diam-diam.

"Kamu selalu seperti ini, Nai?"

Naira menoleh. "Seperti apa maksudnya?"

"Kalau bekerja."

"Memangnya kenapa?"

"Serius."

Naira tersenyum. "Karena saya menikmati pekerjaan saya."

Mikael mengangguk. "Ya, sangat kelihatan."

Naira memasukkan sketsa ke dalam map. Mikael tiba-tiba berkata: "Aku minta maaf."

Naira berhenti. Ia menatap Mikael. "Untuk apa?"

"Selama ini aku menganggap kamu hanya perempuan galak yang kutemui di bus."

Naira mengangkat alis. "Selama ini?"

Mikael tersenyum. "Iya."

"Lalu sekarang?"

Mikael memandangnya. "Sekarang aku tahu kamu memang galak."

Naira langsung memelototinya. Mikael tertawa.

"Tapi..." Ia berhenti sejenak. "Kamu juga berbakat."

Naira terdiam. Pujian itu terdengar berbeda. Mungkin karena datang dari seseorang yang sejak awal tidak pernah segan mengkritiknya.

"Terima kasih."

Mikael mengangguk. "Aku serius."

Naira tersenyum.

---------

Sore harinya, Naira kembali ke butik. Ia masih memikirkan perkataan Mikael. Kamu juga berbakat. Entah kenapa, kalimat itu terus terngiang.

Bukan karena Mikael adalah pria yang penting. Bukan. Naira hanya senang karena seseorang yang sangat kritis terhadap pekerjaannya mengakui hasil kerja kerasnya.

Saat sedang merapikan meja, ponselnya berbunyi. Pesan dari Ravian: "Aku dengar presentasimu bagus. Selamat."

Naira tersenyum. Ia membalas: "Terima kasih, Rav."

Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk: "Aku memang tahu kamu berbakat sejak dulu."

Naira menatap pesan itu. Dulu, kalimat seperti itu pasti akan membuat hatinya berdebar.

Sekarang...

Ia hanya tersenyum. Ia memasukkan ponsel ke dalam tas. Kemudian kembali bekerja.

 --------

Malam itu, Mikael duduk di ruang kerjanya. Di atas meja ada beberapa dokumen proyek. Tetapi pandangannya justru tertuju pada satu lembar sketsa. Desain Naira. Ia mengambilnya. Mengamatinya sekali lagi. Kemudian tersenyum kecil.

"Perempuan itu..." Ia menggeleng.

Awalnya ia mengira Naira hanya gadis keras kepala yang kebetulan ia temui di bus. Gadis yang merebut tempat duduk. Gadis yang mudah marah. Gadis yang selalu membantah perkataannya. Tetapi hari ini ia melihat sesuatu yang berbeda. Naira punya mimpi. Dan ia benar-benar bekerja keras untuk mendapatkannya.

Mikael bersandar di kursinya. Entah kenapa, ia mulai penasaran dengan kehidupan perempuan itu di luar pekerjaan. Apa yang membuatnya begitu keras kepala? Kenapa ia selalu terlihat baik-baik saja meskipun matanya kadang menyimpan kesedihan? Dan apa sebenarnya hubungannya dengan Ravian?

Mikael menatap sketsa itu lagi. Senyumnya perlahan muncul. "Sepertinya aku salah menilaimu, Naira Alesha."

Ia meletakkan kembali sketsa tersebut. Namun sebelum kembali bekerja, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada sekretarisnya: "Besok minta Naira datang lagi. Aku ingin membahas konsep berikutnya langsung dengannya."

Sekretaris membalas beberapa detik kemudian: "Baik, Pak."

Mikael meletakkan ponsel. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin bertemu Naira lagi. Padahal masih ada banyak orang lain yang bisa menangani proyek tersebut. Mungkin karena desainnya. Mungkin karena bakatnya.

Atau mungkin...

karena perempuan itu ternyata jauh lebih menarik daripada yang ia kira.

--------

Sementara di rumah, Naira sedang menyiapkan pakaian untuk bekerja esok pagi. Ia melihat jadwalnya. Kemudian menghela napas ketika melihat nama perusahaan yang harus kembali ia datangi.

Arsen Group.

Naira menggeleng. "Bakal ketemu dia lagi."

Anehnya, kali ini ia tidak merasa sebal seperti biasanya. Ia malah tersenyum kecil. Kemudian segera menghapus senyum itu dari wajahnya.

"Kenapa aku malah senyum?" Naira menggeleng cepat. "Jangan aneh-aneh, Naira."

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!