Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Tujuh Tahun yang Berakhir Dengan Satu Kalimat
Di depan cermin kamarnya, Cynthia merapikan rambut sambil tersenyum sendiri membayangkan akan mendapatkan kejutan istimewa di hari ulang tahun hubungan ketujuhnya bersama YB. Jika tahun lalu ia baru mendapat janji, semoga tahun ini janji itu ditepati — Reza Oktovian akan melamarnya.
Namun saat mereka bertemu, bukan lamaran yang Cynthia terima. Wajah YB tampak serius, tatapannya tegas dan lugas tanpa basa-basi.
"Cynthia," suaranya jernih namun berat. "Kita akhiri saja hubungan kita."
Senyum di wajah Cynthia seketika membeku. "Apa maksudmu, YB? Hari ini..."
"Aku tahu hari ini hari ketujuh tahun kita," potongnya tenang. "Tapi aku sudah mengambil keputusan. Kita tak sepadan. Dan... ada perempuan lain yang sudah kupilih untuk kujadikan istri."
Jantung Cynthia berdegup kencang. "Perempuan lain? Siapa dia?"
YB menggeleng pelan. "Belum waktunya kau tahu. Yang perlu kau ketahui... wanita itu bukan kamu."
Hati Cynthia hancur, namun ia tak pernah menyangka siapa wanita itu. Ia masih berusaha berpikir positif. Mungkin memang ada orang lain, pikirnya. Tapi Karen? Adik kandungnya sendiri? Mustahil.
Sejak hari itu, Cynthia perlahan menyadari sesuatu yang ganjil. YB kerap datang ke rumahnya, namun tak lagi menemuinya — ia justru lebih sering terlihat berbicara dengan Karen. Sesekali Cynthia memergoki mereka berdua tersenyum satu sama lain, berbisik pelan seakan menyembunyikan sesuatu.
Namun Cynthia tetap memaksakan pikirannya tetap tenang. Tidak mungkin. Karen itu adikku. YB tahu itu. Mereka pasti hanya berbincang hal keluarga saja. Bahkan saat ia melihat mereka berjalan beriringan keluar rumah bersama, Cynthia masih meyakini dirinya sendiri: Tidak ada apa-apa. Aku jangan berburuk sangka pada adik sendiri.
Di dalam hatinya, Cynthia bahkan masih menyisakan harapan kecil. Mungkin YB hanya sedang marah. Mungkin suatu hari nanti, ia akan kembali padanya. Cynthia tetap berusaha mendekati YB, berusaha menunjukkan bahwa dirinya layak diperjuangkan, walau YB seakan semakin menjauh.
Hingga suatu siang, kebenaran itu akhirnya terungkap.
YB datang ke rumahnya dengan pakaian rapi, membawa buah tangan, dan menemui kedua orang tua Cynthia. Cynthia berdiri di balik pintu ruang tamu, hatinya berdebar penuh harap. Mungkin... mungkin YB datang memohon maaf dan kembali padanya.
Namun kalimat yang meluncur dari bibir YB menghancurkan seluruh dunianya dalam sekejap. Dengan tenang dan lugas, ia berkata kepada ayah dan ibunya:
"Ibu, Ayah... saya datang ke sini untuk meminang putri kedua kalian, Karen Octovia. Saya ingin menjadikannya istri saya."
Dunia seakan runtuh di depan mata Cynthia. Kakinya melemah, napasnya tertahan. Selama ini... selama ini ia berpikir positif, ia masih berharap, ia masih mendekati YB... padahal wanita yang dipilih YB selama ini bukan orang lain. Melainkan adik kandungnya sendiri. Dan mereka berdua telah menjalin hubungan diam-diam di belakang punggungnya.
Rasa malu, sakit, dan dikhianati menyatu menjadi satu. Cynthia tak sanggup lagi berdiri di sana. Perlahan ia mundur, lalu berbalik dan berlari keluar rumah menerobos hujan yang mulai turun deras. Tak tahu harus ke mana, ia terus melangkah membiarkan air hujan bercampur air matanya, tak peduli seberapa basah dan kedinginan dirinya.
Hingga sebuah suara ceria tiba-tiba terdengar memecah tangisnya.
"Wah, cantik sekali orangnya sampai basah kuyup begitu! Kalau hujan-hujanan sambil menangis nanti sakit lho, Mbak!"
Cynthia mendongak buru-buru, matanya bengkak sembab. Di sampingnya berdiri seorang pemuda di atas sepeda motor, tersenyum ramah sambil menyodorkan jaket tebal.
"Siapa kau?" tanyanya pelan, bingung ada orang asing yang justru menegur dengan nada bercanda di saat ia sedang hancur berantakan begini.
Pemuda itu tersenyum lebar, matanya berbinar hangat.
"Saya cuma orang kebetulan lewat yang tak tega melihat bidadari kedinginan. Panggil saja saya Aloy. Aldy Reynaldi."
Cynthia terpaku menatapnya. Di saat semua orang menyembunyikan kebohongan di belakang punggungnya... justru pria asing inilah yang muncul dengan ketulusan tanpa kepura-puraan. Tanpa diminta, Aloy sudah membantunya meneduhkan diri, memberikan perlindungan kecil yang entah mengapa terasa jauh lebih berharga daripada tujuh tahun bersama seseorang yang penuh rahasia.
Dan pertemuan sederhana di tengah hujan inilah... yang perlahan mulai mengubah seluruh jalan hidup Cynthia.