Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Clarissa Datang Sendiri
Malam beranjak kian larut ketika sebuah mobil taksi berhenti pelan di pelataran parkir penthouse eksklusif di kawasan teratas kota. Langkah kaki Clarissa bergetar saat ia menyusuri lorong marmer menuju pintu unit paling ujung di lantai lima puluh lima.
Kabar tentang Dion yang diseret keluar dari kantor Pradipta Group dan ancaman penjara yang membayang telah meruntuhkan sisa keberanian keluarganya. Ibu Rosma meratapi nasibnya sambil terbaring lemas, sementara Hendra hanya bisa terduduk pasrah. Tanpa ada pilihan lain, Clarissa memutuskan untuk datang sendiri—menemui pria yang pernah membagikan seluruh hidupnya di bawah atap kontrakan kusam.
TING!
Pintu lift khusus penghuni terbuka halus. Clarissa berdiri di depan pintu tinggi berbahan kayu mahoni gelap dengan ukiran emas. Dengan jemari yang teramat dingin dan napas yang memburu pelan, ia menekan tombol bel.
Tak sampai satu menit, pintu kayu tebal itu bergeser secara otomatis.
Suasana di dalam penthouse itu begitu redup dan tenang. Hanya ada pijaran lampu dinding bernuansa keemasan yang menerangi ruangan luas berlapis marmer hitam dan furnitur minimalis nan megah. Di dekat dinding kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota, Rendy berdiri membelakangi pintu. Pria tegap itu telah melepas jas mewahnya, hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bagian sikunya digulung rapi, memperlihatkan lengan kokoh bercelah urat yang amat memikat.
Clarissa melangkah masuk secara perlahan, pintu di belakangnya menutup otomatis dengan dentuman halus yang memotong riuk-pikuk dunia luar.
"Mas... Mas Rendy..." bisik Clarissa, suaranya serak ditelan keheningan penthouse.
Rendy memutar tubuh tegapnya secara anggun. Di dalam keremangan cahaya keemasan, manik matanya yang gelap mengunci sosok Clarissa. Malam ini, Clarissa masih mengenakan gaun backless merah marun dari acara pesta—gaun yang memamerkan punggung mulusnya yang putih bersih dan leher jenjangnya yang halus.
"Kamu datang sendirian, Clarissa?" suara Rendy mengudara—berat, rendah, dan bergetar penuh dominasi mutlak. "Di mana ibumu yang biasanya paling nyaring berteriak? Atau adikmu yang gemar berlutut memohon ampun?"
Clarissa menundukkan kepalanya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia melangkah mendekat dua pijakan, mencoba memotong jarak yang terasa amat membentang.
"Aku datang tidak untuk membela Dion atau Ibu, Mas..." tangis Clarissa pecah perlahan, tangannya meremas kain gaun di depan dadanya. "Aku datang untuk meminta penjelasan jujur darimu. Kenapa, Mas? Kenapa kamu menyembunyikan identitasmu selama tiga tahun pernikahan kita? Kenapa kamu membiarkan dirimu dihina dan diinjak-injak oleh keluargaku kalau kamu punya kekuasaan sejauh ini?"
Rendy tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah maju dengan gerakan yang sangat tenang namun membahayakan. Setiap pijakan sepatu kulitnya di atas lantai marmer seolah menekan detak jantung Clarissa.
"Penjelasan jujur?" ulang Rendy dengan senyum tipis berhias kejam di sudut bibirnya. "Apakah penjelasan itu akan mengubah kenyataan bahwa kamu membiarkan ibumu mencaci almarhum ibuku? Apakah itu akan mengubah fakta bahwa tanganmu melepaskan genggamanku saat surat cerai itu disodorkan?"
Clarissa menggeleng cepat, air matanya meluncur deras membasahi pipinya yang halus. "Aku takut, Mas! Aku bingung dan tertekan! Aku mencintaimu... aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Mas Rendy!"
Rendy menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di hadapan Clarissa. Hawa panas dari tubuh tegap Rendy seketika menyergap Clarissa, berbaur rapat dengan aroma parfum maskulinnya yang mahal dan memabukkan.
"Kamu menyebut itu cinta?" bisik Rendy rendah, jemari tegapnya terulur menangkup rahang lembut Clarissa, memaksa wanita itu untuk mendongak dan menatap lurus ke dalam manik matanya yang membeku. "Cinta yang kamu miliki terlalu murah, Clarissa. Kamu hanya mencintai bayangan pria penurut yang bisa kamu kasihaninya."
Sebelum Clarissa sempat membalas, Rendy mencengkeram pinggang mulus wanita itu dengan pergerakan yang cepat dan tegas.
SRET!
Rendy mendorong tubuh Clarissa secara perlahan ke arah sofa kulit hitam berukuran besar di dekat dinding kaca. Clarissa terhenyak terduduk di atas sofa empuk tersebut. Belum sempat ia memperbaiki posisinya, Rendy memajukan tubuh tegapnya, naik ke atas sofa dan mengunci pergerakan Clarissa tepat di bawah kungkungannya.
Suasana ruangan yang redup kian memanas seketika.
Kedua lengan tegap Rendy mengunci di sisi kepala Clarissa, sementara dada bidangnya yang keras menekan rapat dada Clarissa yang membusung halus di balik gaun marunnya. Jarak di antara mereka mendadak tak bersisa. Napas hangat dan terengah dari bibir Rendy berembus langsung mengusap leher dan dada atas Clarissa yang terbuka, menyebarkan gelombang getaran panas yang membakar seluruh persendian tubuh wanita itu.
"Mas..." desah Clarissa lirih, tenggorokannya mendadak terasa amat kering.
Dalam kungkungan erat itu, gaun backless merah marun yang dikenakan Clarissa tersingkap pelan di bagian belahan bawahnya, membiarkan paha mulusnya yang mulus dan hangat terpapar nyata di balik keremangan cahaya keemasan ruangan. Paha mulus Clarissa bergeser rapat menempel pada celana bahan kustom yang membungkus paha tegap Rendy.
Sentuhan fisik yang begitu intim dan meremukkan itu menyalakan kembali seluruh memori malam-malam penuh gairah yang pernah mereka lewati. Desir panas yang membakar meluap dari perut bawah Clarissa, membuat dadanya naik turun dengan ritme cepat saat ketegasan dan dominasi Rendy menguasai seluruh indranya.
Jemari tegap Rendy merayap naik dari pinggang mulus Clarissa, mengusap lembut kulit punggung terbuka wanita itu dengan tekanan yang amat menuntut kepatuhan. Usapan hangat itu menyebarkan rasa merinding hebat di sepanjang tulang belakang Clarissa, melenturkan seluruh sisa perlawanan batinnya hingga ia hanya bisa pasrah menatap wajah tegap pria yang amat dirindukannya.
Rendy menundukkan kepalanya, memajukan bibirnya hingga berjarak satu mili dari lipatan leher sensitif Clarissa.
"Keluargamu meminta bantuan seratus miliar..." bisik Rendy dengan suara berat yang bernada perintah mutlak, desah napas hangatnya membuat tubuh Clarissa bergetar hebat. "Lalu bagaimana denganmu, Clarissa? Pembayaran emosional apa yang akan kamu berikan padaku atas tiga tahun luka yang kamu biarkan menyiksaku?"
Clarissa memejamkan matanya erat-erat, jemarinya yang gemetaran meremas kain kemeja putih di dada Rendy, menyalurkan kepatuhan dan keputusasaan yang memabukkan. "Apa pun, Mas... lakukan apa pun padaku... asalkan kamu tidak meninggalkanku lagi..."
Sentuhan bibir Rendy mendadak menempel rapat di leher mulus Clarissa, menyesap kehangatan kulit mantan istrinya dengan kepemilikan liar yang membakar seluruh atmosfer di atas sofa tersebut. Suasana di dalam penthouse redup itu kian memuncak oleh aura gairah dan dominasi yang tak tertahan.
Namun, tepat saat suasana intim itu makin memanas dan tak terkendali—
DIIIING! DOOOONG!
Suara bel pintu penthouse membumbung nyaring dan bergema keras memecah keheningan ruangan.
Sambungan Bab 23
Suara bel pintu penthouse yang nyaring memecah keheningan yang membakar di atas sofa kulit tersebut.
Rendy menghentikan gerakannya seketika. Sentuhan bibirnya yang intens di leher mulus Clarissa terhenti, berganti dengan helaan napas berat yang berembus hangat di permukaan kulit mantan istrinya.
Clarissa membuka matanya yang sayu seraya terengah-engah halus. Dadanya yang membusung di balik gaun backless merah masih naik turun tak beraturan, merasakan kekosongan yang mendadak menyeruak saat Rendy perlahan mengikis jarak di antara mereka dan menegakkan kembali tubuh tegapnya.
Dengan gerakan yang amat tenang dan elegan, Rendy merapikan kerah kemeja putihnya yang sedikit kusut. Manik matanya yang gelap menatap Clarissa yang masih terbaring lemas di atas sofa dengan paha mulus yang tersingkap dan bibir yang memerah basah.
"Rapikan gaunmu, Clarissa," perintah Rendy pendek, suaranya kembali dingin dan membeku seperti biasa.
Clarissa duduk perlahan dengan jemari yang gemetaran hebat, menarik belahan gaun marunnya untuk menutupi pahanya seraya mengusap lehernya yang masih meninggalkan rasa panas akibat resapan bibir Rendy. Hatinya berdesir nyeri—ia tahu, gangguan di pintu depan telah merenggut satu-satunya momen di mana ia bisa merasakan kembali kehangatan pria itu.
Rendy melangkah tegap menuju pintu utama mahoni gelap. Pintu bergeser otomatis begitu sistem pemindai mendeteksi kedatangan tamunya.
Di ambang pintu, berdiri Siska dalam balutan gaun malam elegan berwarna perak. Di tangannya, Siska memegang sebuah map dokumen tebal berlapis kulit hitam dengan stempel hukum darurat. Namun, raut wajah sekretaris cantik itu seketika berubah saat matanya menangkap sosok Clarissa yang terduduk di sofa dengan rambut yang sedikit berantakan dan raut wajah basah oleh air mata.
Siska menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi, lalu menatap Rendy dengan pandangan penuh kepatuhan.
"Maaf mengganggu malam Anda, Tuan Presdir," tutur Siska dengan suara halus yang memikat. "Laporan penyelidikan mendesak mengenai aset rahasia Pak Hendra dan Ibu Rosma baru saja selesai dinilai oleh tim eksekusi."