Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Hari yang Ditunggu dan Ditakuti
Pagi hari operasi tiba dengan cara yang aneh—langit justru cerah tanpa setitik pun awan mendung, seolah alam sengaja mengejek kecemasan yang membebani setiap anggota keluarga yang berkumpul di rumah sakit sejak subuh.
Kirana tidak bisa tidur semalaman. Ia menghabiskan waktu duduk di kursi plastik ruang tunggu, bergantian dengan Sari yang juga tampak kelelahan namun enggan beristirahat. Ibu bahkan lebih parah—wajahnya pucat pasi, matanya bengkak menahan tangis yang terus-menerus datang dan pergi sepanjang malam.
Denis datang lebih pagi dari yang dijanjikan, membawa beberapa bungkus roti dan kopi untuk mereka semua, meski tak satu pun yang benar-benar berselera makan.
"Kalian harus makan sesuatu," ujarnya, meletakkan bungkusan itu di meja kecil ruang tunggu. "Hari ini akan panjang, dan kalian butuh tenaga."
Sari menerima secangkir kopi dengan senyum lelah. "Terima kasih, Denis."
Kirana memperhatikan interaksi kecil itu, menyadari betapa jauh mereka telah melangkah hanya dalam beberapa hari. Dari kecurigaan dan amarah, kini mereka mulai belajar menerima kehadiran satu sama lain, meski proses itu masih jauh dari sempurna.
Pukul tujuh pagi, tim medis mulai bersiap. Raka muncul dari balik pintu ruang perawatan, mengenakan seragam bedah hijau yang membuatnya tampak lebih serius dari biasanya.
"Kami akan segera memindahkan Pak Hartono ke ruang operasi," ujarnya, menghampiri keluarga yang langsung berdiri serentak mendengar kabar itu. "Prosedurnya akan memakan waktu sekitar empat hingga enam jam, tergantung kompleksitas yang kami temukan saat operasi berlangsung."
"Apa risikonya besar, Dok?" tanya Ibu, suaranya bergetar hebat.
Raka menghela napas, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Setiap operasi jantung punya risiko, Bu. Tapi tim kami adalah yang terbaik, dan kondisi Pak Hartono sudah cukup stabil untuk menjalani prosedur ini. Saya akan memastikan semuanya dilakukan dengan sangat hati-hati."
Kata-kata itu tidak sepenuhnya menenangkan, tapi setidaknya memberi secercah harapan yang bisa mereka pegang.
Beberapa saat kemudian, ranjang dorong membawa Bapak keluar dari ruang perawatan, menuju lorong panjang menuju ruang operasi. Wajahnya masih terlihat pucat dan lemah, matanya tertutup dalam pengaruh obat penenang pra-operasi, tapi untuk sesaat, ia sempat membuka mata, mengarahkan pandangannya pada keluarga yang berjejer di sisi lorong.
"Bapak..." Kirana melangkah mendekat, menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin. "Kami semua di sini. Bertahanlah, Pak."
Bapak tidak bisa bicara banyak, hanya mengeluarkan suara lirih yang nyaris tak terdengar, namun matanya menatap Kirana dengan sesuatu yang menyerupai kelegaan—seolah mengetahui bahwa putrinya, meski sempat pergi selama delapan tahun, kini berdiri di sisinya saat ia paling membutuhkan.
Pandangannya kemudian beralih pada Denis, yang berdiri agak menjauh, ragu untuk mendekat. Bapak mengangkat tangannya sedikit, isyarat kecil yang membuat Denis akhirnya melangkah maju, menggenggam tangan yang satunya.
"Bapak," bisik Denis, suaranya bergetar menahan emosi. "Aku di sini juga."
Untuk pertama kalinya, Kirana menyaksikan momen itu—ayahnya, yang selama bertahun-tahun terpecah antara dua keluarga yang tak pernah bisa ia satukan secara terbuka, kini menggenggam tangan kedua anaknya sekaligus, di tengah situasi yang paling genting dalam hidupnya.
Ranjang dorong itu kemudian bergerak lagi, memasuki pintu ganda ruang operasi yang tertutup rapat begitu Bapak masuk ke dalamnya. Keluarga yang tersisa di luar hanya bisa menunggu, dengan segala doa dan harapan yang bisa mereka kumpulkan.
Jam-jam berikutnya berjalan dengan kecepatan yang menyiksa. Sari mencoba menyibukkan diri dengan membaca majalah lama di ruang tunggu, meski matanya jelas tidak benar-benar fokus pada kata-kata di halamannya. Ibu duduk diam, jari-jarinya sesekali memainkan tasbih kecil yang selalu ia bawa, bibirnya bergerak dalam doa yang tak terdengar.
Denis dan Kirana duduk berdampingan, sebuah kedekatan yang beberapa hari lalu mustahil terbayangkan.
"Kamu tahu," Denis membuka percakapan setelah keheningan panjang, "aku selalu membayangkan seperti apa rasanya punya saudara. Ibuku selalu bilang aku anak tunggal, dan untuk waktu yang lama aku percaya itu."
Kirana menoleh, mendengarkan dengan seksama.
"Waktu aku akhirnya tahu soal kalian—soal kamu dan Kak Sari—rasanya aneh," lanjut Denis. "Aku senang tahu aku bukan anak tunggal, tapi juga sedih karena aku tidak pernah bisa benar-benar jadi bagian dari kalian. Bapak selalu datang diam-diam, seperti tamu yang harus pergi sebelum ada yang melihatnya."
"Itu pasti berat," Kirana berkata pelan, merasakan empati yang tulus untuk pertama kalinya sejak mengetahui keberadaan Denis. "Aku marah waktu tahu soal kamu, tapi aku sadar kamu juga korban dari situasi ini, sama sepertiku."
"Mungkin lebih tepatnya," Denis tersenyum tipis, meski matanya menyimpan kesedihan yang dalam, "kita berdua korban dari kebohongan yang sama, hanya dari sisi yang berbeda."
Kirana mengangguk, merasakan sesuatu yang mendekati persaudaraan tumbuh perlahan di antara mereka—bukan karena kewajiban darah semata, tapi karena pengertian yang tulus atas luka yang sama-sama mereka pikul.
Menjelang siang, ponsel Sari berbunyi. Ia melihat layarnya, dan wajahnya langsung berubah tegang.
"Ini dari Bimo," bisiknya, menunjukkan layar ponsel pada Kirana. "Kuasa hukum Bu Ratna."
"Angkat saja," kata Kirana, meski dadanya berdegup tidak nyaman.
Sari mengangkat telepon, menempelkannya ke telinga dengan tangan gemetar. "Halo?"
Percakapan itu singkat, tapi cukup untuk membuat wajah Sari semakin pucat. Setelah menutup telepon, ia menoleh pada Kirana dan Ibu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Bu Ratna ingin memastikan pertemuan minggu depan tetap berjalan," jelas Sari. "Dan dia juga menyampaikan... belasungkawa awal, seolah-olah sudah menganggap Bapak tidak akan selamat dari operasi ini."
Kata-kata itu menghantam seperti pukulan. Ibu langsung menutup mulutnya, menahan isak yang nyaris pecah.
"Wanita itu benar-benar tidak punya hati," geram Kirana, kemarahan membakar dadanya menggantikan rasa takut yang sejak tadi mendominasi. "Bagaimana bisa dia bicara seperti itu di saat seperti ini?"
"Kita tidak boleh terpancing," Denis mencoba menenangkan, meski rahangnya juga mengeras menahan amarah yang sama. "Dia mungkin sengaja memancing reaksi kita. Yang penting sekarang adalah Bapak selamat dari operasi ini. Urusan perusahaan bisa kita hadapi nanti, bersama-sama."
Kirana menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Denis benar—prioritas mereka sekarang adalah doa dan harapan untuk keselamatan Bapak, bukan terjebak dalam permainan licik yang sedang dimainkan Ratna dari kejauhan.
Jam terus berputar, empat jam berubah menjadi lima, lalu mendekati enam jam sejak operasi dimulai. Ketegangan di ruang tunggu semakin memuncak seiring waktu yang terus berlalu tanpa kabar apa pun.
Akhirnya, menjelang pukul dua siang, pintu ganda ruang operasi terbuka. Raka melangkah keluar, wajahnya masih mengenakan masker bedah yang belum sempat dilepas, matanya terlihat lelah namun ada sesuatu di sana yang membuat jantung Kirana berdegup kencang—entah pertanda baik atau buruk.
Seluruh keluarga berdiri serentak, menatap Raka dengan napas tertahan, menunggu kata-kata yang akan menentukan arah hidup mereka selanjutnya.