Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Menjadi Istri
Aisyah saat ini berada di dalam kamar mandi, Aisyah masih menggunakan gaun pengantin pernikahannya. Aisyah saat ini terlihat cukup gugup bersandar di pintu kamar mandi dengan memegang dadanya dengan suara jantung yang berdebar kencang.
"Memang ini adalah malam pertama untukku dan juga kak Kaivan, tetapi aku tidak menolak, hanya memang waktu yang tidak tepat, lalu apa kak Kaivan tadi marah kepadaku?' Aisyah merasa bersalah karena membuat suaminya kecewa.
"Aisyah kamu harus menenangkan diri, tidak Aisyah, kamu memang tidak mungkin melaksanakan kewajiban kamu di saat kondisi kamu tidak memungkinkan, kamu harus tenang Aisyah," batin Aisyah memejamkan mata berusaha kembali untuk menenangkan diri.
Tok-tok-tok-tok-tok.
"Aisyah," suara Kaivan terdengar membuat Aisyah kaget dengan jantungnya berdebar semakin kencang saat pintu diketuk.
"Aisyah, kamu baik-baik saja?" tanya Kaivan.
"Iya. Kak," jawab Aisyah dengan gugup.
"Sebentar, Kak. Aisyah mengganti pakaian dulu," ucap Aisyah.
"Baiklah," sahut Kaivan.
"Aisyah kamu harus tenang, kamu jangan berlebihan di depan kak Kaivan, ini tidak baik Aisyah, kamu harus benar-benar bisa mengontrol diri kamu, baiklah sekarang sebaiknya kamu mengganti pakaian," Aisyah berusaha untuk mengontrol dirinya agar tidak terlalu berlebihan dan bisa menjaga imagenya di depan Kaivan.
Aisyah wajar saja gugup, tetapi bagaimanapun dia akan terbiasa dengan pernikahannya.
Setelah berganti pakaian, Aisyah saat ini sedang duduk di pinggir ranjang bersebelahan dengan Kaivan, ada jarak diantara mereka. Aisyah tampak begitu gugup, sejak tadi jantungnya tidak bisa dikontrol, wajahnya memerah, dengan perasaannya yang tidak stabil.
Aisyah mengurangi rasa kegugupannya dengan beberapa kali menyelipkan anak rambutnya di balik daun telinganya.
"Kamu tidak nyaman Aisyah?" tanya Kaivan memulai obrolan setelah beberapa menit pasangan suami istri itu hanya tampak diam.
"Sedikit, Kak. mungkin belum terbiasa dan masih tidak percaya jika sekarang Aisyah sudah menjadi istri dari Kakak," ucap Aisyah berusaha berbicara tenang.
"Kamu benar, dan mungkin ini pertama untuk kita, kita memang sudah saling mengenal, begitu juga dengan saya yang sudah mengenal kamu sejak kapan kecil, tetapi tetap saja jika kita disatukan dalam ikatan pernikahan dan berada di tempat seperti ini, bukan hanya kamu yang gugup tetapi juga saya, itu hal yang sangat wajar," ucap Kaivan.
"Tetapi bagaimanapun kita sudah menikah dan seperti apa yang kita katakan sebelum kita menikah, mari belajar untuk memulai semuanya, baik membuka hati dan saling menerima satu sama lain," ucap Kaivan.
Aisyah mengangkat kepala dan melihat ke arah Kaivan.
"Kaka menerima Aisyah dibalik semua kekurangan Aisyah dan permasalahan keluarga Aisyah yang tidak mungkin Kakak ketahui?" tanya Aisyah.
"Saya bukan manusia yang sempurna Aisyah, saya juga memiliki banyak kekurangan," jawab Kaivan.
"Kita sekarang sudah menikah, kamu sudah sah menjadi istri saya, saya sangat berharap kamu bisa menghargai saya sebagai suami dan saya juga bisa seperti itu, adanya kepercayaan dalam pernikahan dan saling menghormati untuk menjadi tembok penguat dalam pernikahan, saya mendukung karir kamu dalam dunia kedokteran, saya tahu kamu memiliki kesibukan, saya juga memiliki kesibukan, kita bisa saling mengerti satu sama lain dan mungkin akan saling memahami," sahut Kaivan.
"Saya juga tidak melarang kamu jika masih ada impian kamu yang masih tertunda karena pernikahan kita, saya menyerahkan semua kepada kamu, kamu juga pasti tahu apa yang baik dan tidak," lanjut Kaivan.
"Aisyah juga seperti itu, Aisyah juga akan berusaha untuk menerima situasi kakak apa adanya," sahut Aisyah.
Kaivan menganggukkan kepala, wajah tampannya mengeluarkan senyum tipis dan tatapannya terus sangat dalam. Wanita mana yang tidak meleyot dengan apa yang di lakukan Kaivan.
"Memang terlihat cuek dari luar, tidak banyak bicara, tetapi dia tetap sosok pria yang dewasa, saat berbicara dia selalu menatapku, dia benar-benar menghargaiku, ya Allah terus jaga pernikahan kami, jauhkan semua dari rasa ketakutan hamba dan pemikiran hamba tentang sosok pria yang memiliki kepribadian yang sama," batin Aisyah hanya berdoa kepada sang pencipta.
******
Dharma saat ini bersama Kamila berada di pemakaman, mereka menabur bunga pada pusaran makam yang ditutupi rumput yang terlihat rapi.
"Sayang, kamu memang pergi meninggalkan dunia ini, tetapi kamu masih bisa melihat semuanya, masih bisa melihat orang yang kamu cintai menggenggam tangan kamu dan menikah dengan kamu, terima kasih. Nak, sudah menjadi anak yang selalu berusaha untuk membahagiakan Mama. Maafkan Mama jika masih memiliki kekurangan, maaf," ucap Kamila terus menabur bunga.
"Kamila ayo sekarang kita pulang! ini sudah hampir larut," ajak Dharma.
Kamila berdiri dan menghadap suaminya.
"Mas, bagaimana Aisyah? Apa Aisyah sudah menghubungi. Mas?" tanya Kamila dengan ekspresi wajahnya terlihat khawatir.
"Aisyah pasti masih marah kepadaku dengan apa yang telah aku lakukan di hari pernikahannya," ucap Dharma.
"Mas seharusnya tidak mengacaukan pernikahannya dengan seperti ini. Melihatnya berada di pelaminan dan menikah dengan Kaivan sudah membuatku bahagia. Mas harus tahu Aisyah adalah pengobat rindu pada almarhum putri kita, bukan ini yang aku inginkan, aku ingin Aisyah menerimaku sebagai ibu tirinya, menganggapku sebagai ibunya juga, bukan menganggapku sebagai orang asing yang jahat kepadanya, jadi jangan terus memaksanya untuk menerimaku, biarkan waktu yang berjalan dan aku yakin suatu saat nanti Aisyah akan menerimaku," ucap Kamila.
"Aku melakukan semua itu hanya untuk menepati janjiku kepada kamu, kamu berhak berada di acara pernikahan ini, kamu miliki impian untuk melihat putri kita menikah," ucap Dharma.
Mata Kamila melihat ke arah mesan pada makam yang telah mereka ziarahi.
Cindy Ayunda Fariska, nama yang tertulis di mesan tersebut.
"Cindy memang pergi meninggalkan dunia ini, tetapi dia meninggalkan sesuatu yang berada pada diri Aisyah agar tetap hidup untuk melihat dunia ini dan mewujudkan semua impiannya, kamu berhak atas Aisyah," ucap Dharma.
"Tetapi bagaimana jika suatu saat nanti Aisyah mengetahui, bahwa apa yang berada di dalam dirinya tidak sepenuhnya miliknya?" tanya Kamila.
"Aisyah memang harus mengetahui hal itu, jika tidak, Aisyah akan terus menanam kebencian tanpa alasan, dia harus mengetahui bahwa semua yang dia dapatkan saat ini karena ada pengorbanan seseorang yang begitu besar untuknya, agar dia tetap bisa melihat dunia ini, agar Aisyah bisa mewujudkan semua impiannya," ucap Dharma.
Kamila tidak berbicara apapun, ternyata pasangan suami istri itu yang berziarah ke makam putri mereka, tanpa mereka sadari Rahma berdiri di balik pohon dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aku tidak pernah meminta kalian untuk mengorbankan sesuatu untuk putriku, tapi sekarang kalian seakan-akan menuntut untuk putriku menerima takdir ini. Ini terlalu jahat dan kejam untuk Aisyah yang tidak tahu apa-apa," batin Rahma merasa terluka.
KRAKK
Kamila tidak sengaja menginjak ranting pohon. Dharma dan Kamila melihat ke arah balik pohon tersebut dan Rahma tidak dapat berbuat apa-apa dan bahkan tidak bisa bersembunyi yang akhirnya saling melihat dengan suami dan juga madunya itu.
"Mbak...." sahut Kamila cukup kaget dengan keberadaan Kamila.
Kamila tidak mengatakan apapun dan tetap saling melihat dengan kedua orang tersebut dengan suasana yang begitu menegangkan, sepoi-sepoi di area pemakaman di sore hari, dengan jantung berdebar kencang dan ada sesuatu hal yang harus diungkapkan.
Tetapi tidak ada satupun yang memulai pembicaraan, tidak ada perkataan apapun yang terucap.
Bersambung....
suaminya loh ....pengantin baru looh