Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Pukul 02.00 dini hari.
Suara gerimis hujan di luar jendela beradu dengan napas teratur Dominic yang telah terlelap di samping tempat tidur.
Pria itu tertidur lelap dengan tangan kirinya masih mengunci pergelangan tangan Eva dalam genggaman yang protektif, sebuah gestur refleks bawah sadar dari seorang pria yang takut kehilangan wanitanya.
Di dalam kegelapan kamar, mata hazel Evangeline terbuka perlahan.
Dengan gerakan yang sangat halus dan teruji, Eva memutar pergelangan tangannya tanpa membangunkan Dominic. Ia melepaskan genggaman pria itu secara perlahan, lalu menaikkan tubuhnya duduk di tepi tempat tidur.
Bahu masih berdenyut nyeri, namun konsentrasi mengalahkan rasa sakit fisik tersebut.
Eva meraih stempel logam mawar berduri tiga yang diletakkannya di meja samping tempat tidur. Pendar cahaya bulan yang menerobos dari balik tirai membiaskan kilau perak stempel tersebut di dalam genggamannya.
"Dominic tidur karena rasa lelah fisik yang luar biasa setelah konfrontasi di Zona Netral. Ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk memeriksa jalan masuk menuju ruang rahasia bawah tanah sebelum Dominic membawaku besok pagi," batin Eva, melirik pria yang terbaring kaku di sampingnya.
Eva melangkah turun dari tempat tidur tanpa suara sepatu. Mengenakan gaun malam sutra merah tebal dan kain penyangga bahu, ia melangkah mendekati perapian batu besar yang berada di sudut kamar utama.
Menurut informasi intelijen dasar kelompok The Crow's Veil dan catatan tua yang pernah dibacanya, pilar kanan perapian kamar utama ini adalah salah satu akses mekanisme tersembunyi yang terhubung langsung dengan sistem ruang rahasia bawah tanah.
Eva meraba ukiran batu granit di pilar perapian. Tangannya menyusuri celah-celah batu yang dingin hingga menemukan sebuah celah sempit berlingkar logam, tempat yang cocok untuk memasukkan stempel otorisasi.
Eva menekan stempel logam mawar berduri tiga itu ke dalam celah tersebut.
Klak.
Suara mekanisme roda gigi kuno yang bergeser halus bergaung sangat tipis dari balik dinding batu. Sebuah panel rahasia selebar satu meter bergeser terbuka beberapa sentimeter, menyingkapkan tangga batu melingkar yang menukik turun ke dalam kegelapan bawah tanah yang pekat dan berbau udara lembap yang telah terkurung selama bertahun-tahun.
Mata Eva berbinar dalam kegelapan. Tangga menuju Brankas Besi Kelabu.
Di dasar tangga batu itulah tersimpan dokumen pendaftaran Dewan Pendiri Pendahulu Konsorsium, arsip yang memuat nama asli dari sosok pemilik inisial G.B., orang yang menandatangani otorisasi eksekusi ibunya, Clara Cross.
Eva memajukan langkahnya satu tapak menuju ambang tangga batu tersebut.
Namun, sebelum kakinya sempat menyentuh anak tangga pertama, sebuah bayangan tinggi mendadak berdiri kaku di balik kegelapan lorong tangga bawah tanah tersebut.
Eva membeku di tempat. Tangannya secara refleks bergerak menuju belati sembunyi yang terselip di balik kain penyangga bahunya!
Dari kegelapan lorong bawah tanah, sosok bergaun hitam kaku melangkah keluar secara perlahan ke dalam pendar cahaya bulan kamar.
Madam Vane.
Kepala pengurus rumah tangga manor itu berdiri kaku di atas anak tangga batu, memegang tongkat kayunya dengan kedua tangan. Wajah batu karangnya menatap Eva yang berdiri di ambang pintu rahasia. Tidak ada kejutan, tidak ada kepanikan pada wajah tua yang dingin itu.
"Nyonya Evie," suara Madam Vane meluncur sangat pelan, berbisik bagaikan gesekan daun kering di kuburan. "Bahkan dengan darah yang masih membasahi bahumu... rasa ingin tahumu terlalu besar untuk seorang istri penguasa Blackwood."
Eva tidak menarik tangannya dari belati tersembunyi. Iris hazelnya memicing tajam menatap wanita tua di hadapannya.
"Madam Vane," sahut Eva dengan intonasi rendah yang sangat tenang. "Apa yang Anda lakukan di dalam lorong rahasia ini pada jam dua dini hari?"
Madam Vane menyunggingkan senyum yang amat tipis, sebuah senyuman dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Aku adalah penjaga pintu ini sejak sebelum kau dilahirkan, Nyonya," bisik Madam Vane, langkahnya maju satu tapak menutup akses menuju tangga bawah tanah. "Aku yang membersihkan darah ibunya Dominic dari tangga ini empat belas tahun lalu. Dan aku tahu... apa yang sedang kau cari di dalam Brankas Besi Kelabu."
Jantung Eva berdetak kencang, namun raut wajahnya tetap terkunci rapat tanpa cela. "Aku hanya ingin mencari kebenaran tentang sosok berinisial G.B. yang membunuh Don Sergio malam ini."
Madam Vane menatap Eva dengan pandangan mata tua yang seolah mampu menembus seluruh topeng penyamaran wanita muda di hadapannya.
"Inisial G.B. adalah nama yang dikutuk di tanah ini, Nyonya Evie," kata Madam Vane lambat-lambat.
"Jika kau melangkah turun ke tangga ini malam ini tanpa Dominic di sisimu... kau hanya akan menemukan kematian yang sama seperti yang menimpa wanita bernama Clara Cross."
Nama Clara Cross yang diucapkan oleh Madam Vane di dalam kegelapan malam ini menggantung tebal di udara, menciptakan ketegangan yang begitu dahsyat hingga mampu menghentikan detak jantung.
Eva mengepalkan jemari kirinya kencang-kencang di balik kain gaunnya. "Apakah Madam Vane curiga tentang asal usulku? Atau dia hanya gertakan seorang penjaga rahasia?"
"Dominic yang memberikanku stempel otorisas ini," jawab Eva tegas, menunjukkan stempel logam mawar di tangannya. "Aku berhak mengetahui siapa musuh yang mengincar nyawa suamiku."
Madam Vane mengamati stempel di tangan Eva, lalu perlahan menundukkan kepalanya dalam gestur hormat yang kaku.
"Jika demikian..." kata Madam Vane, "kembalilah ke tempat tidurmu, Nyonya. Biarkan Dominic sendiri yang membukakan pintu itu untukmu besok pagi. Jangan biarkan darah yang telah kau tumpahkan di villa... menjadi sia-sia hanya karena langkah gabah di tengah malam."
Tanpa menunggu jawaban Eva, Madam Vane berbalik mundur ke dalam kegelapan tangga batu, lalu menggerakkan tuas internal dari dalam.
Klak. Slam.
Panel dinding perapian batu bergeser menutup kembali secara otomatis, menyisakan kamar utama kembali sunyi dan hangat oleh pendar api perapian.
Eva berdiri membeku di depan dinding batu yang rapat kembali. Napasnya teratur lambat, matanya menatap tajam ke arah dinding tersebut.
Madam Vane tahu lebih banyak daripada yang diperlihatkannya di meja persidangan Zona Netral. Wanita tua itu adalah kunci hidup dari seluruh rahasia kelam St. Jude 2012.
Namun satu hal yang pasti, Dominic masih terlelap tenang di atas tempat tidur, sama sekali tidak menyadari konfrontasi singkat di depan pintu rahasia tersebut. Dominic masih percaya sepenuhnya bahwa 'Evie Thorne' adalah wanita suci yang siap mati demi cintanya.
Eva melangkah kembali ke samping tempat tidur secara perlahan. Ia menyimpan stempel otorisas logam itu di bawah bantalnya, lalu merebahkan tubuhnya kembali di samping Dominic.
Saat Eva menarik selimut wolnya, lengan kokoh Dominic secara refleks bergerak melingkari pinggang Eva kembali, menarik tubuh wanita itu lebih dekat ke dalam kehangatan dadanya dalam lelap tidurnya.
Eva menyandarkan kepalanya di dada Dominic, menatap pendar api perapian yang menari-nari di langit-langit kamar.
"Esok pagi, esok pagi di dalam Brankas Besi Kelabu... aku akan membongkar siapa pemilik asli inisial G.B. itu, tanpa membiarkan Dominic pernah tahu siapa aku yang sebenarnya," batin Evangeline Cross dengan tekad murni yang membakar di dalam dadanya.
...Bersambung... ...