Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Pejabat Jakarta Barat
Wanita paruh baya yang tingkat keglowingannya bisa membuat lampu neon minder itu berjalan anggun menyusuri lorong rumah. Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah gayung plastik warna merah muda penuh air.
Tenang, ini bukan cuplikan syuting sekuel film Nenek Gayung yang sempat membuat geger jagat perfilman beberapa tahun lalu. Wanita itu adalah Rika, seorang ibu rumah tangga merangkap wanita karier berkekuatan super.
Rika menaiki tangga menuju lantai dua dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan, menciptakan efek suara horor bagi siapa pun yang mendengarnya. Target operasinya pagi ini cuma satu: kamar putra semata wayangnya yang punya hobi aneh, yaitu simulasi menjadi mayat.
BRAKKK!
Pintu kamar jati itu ditendang sekuat tenaga. Bukan karena engselnya minta diganti, tapi karena sang ibu sedang masuk ke dalam mode Savage level maksimal. Anggap saja itu adalah lagu pembuka dari konser penderitaan pagi hari.
BYURRR!
Air dingin dari gayung mendarat mulus dan presisi di wajah seorang pemuda yang masih asyik menjelajahi alam mimpi. Pemuda itu tidur dengan mulut mangap lebar—mungkin di dalam mimpinya, ia sedang memenangkan lomba makan sate lalat tingkat kelurahan.
"Uhukk... uhukk... Tolong! Tsunami! Tolong!"
Korban banjir bandang dadakan itu langsung tegak secepat kilat. Paru-parunya mendadak dipaksa melakukan simulasi tenggelam akibat serangan fajar dari pelaku utama yang tidak lain adalah emaknya sendiri. Rambutnya yang tadi sudah mirip sarang burung hantu, kini basah kuyup berantakan.
"RENO! Bangun kamu! Ini sudah siang bolong! Mau sampai kapan kamu jadi simulator mayat begini? Mama sudah bosan jadi alarm hidup yang tidak digaji tiap hari!" teriak Rika. Volume suaranya sukses membuat kaca jendela bergetar ria.
Bagi Rika, membangunkan anak dengan guyuran air adalah sebuah ritual sakral. Itu adalah hobi pre-work yang wajib dilakukan sebelum ia pergi ngantor di perusahaan sahabatnya. Sebuah olahraga pagi untuk melatih otot lengan dan pita suara.
Reno Alvarez, pemuda berusia 25 tahun dengan visual setingkat Yeonjun TXT tapi kelakuannya setingkat beban negara, cuma bisa mengusap wajahnya yang basah kuyup kayak cucian yang lupa diperas.
Sambil duduk lemas di pinggir ranjang, ia menutup kedua telinganya dengan bantal. Ia sudah bersiap menerima khutbah pagi yang durasinya diprediksi bakal lebih panjang dari total seluruh episode sinetron Tersanjung.
"Ck! Baru juga jam tujuh lewat sedikit, Ma. Lagian Reno nggak bakal kabur ke mana-mana. Paling setelah ini cuma pindah tempat rebahan ke sofa depan TV," gumam Reno dengan suara serak, jiwanya jelas masih ketinggalan di atas bantal.
Rika langsung berkacak pinggang. Gayung plastik di tangan kanannya sudah diangkat tinggi-tinggi, persis seperti tongkat komando seorang jenderal yang siap memerintahkan pasukannya untuk maju ke medan perang.
"Kamu itu sudah besar, Reno! Harusnya mandiri! Kerja enggak, kuliah ogah. Mau jadi apa kamu nanti? Mau jadi kolektor daster Mama?!"
Reno membuka satu matanya yang masih lengket, lalu menatap Rika dengan cengiran tanpa dosa yang sangat ingin ditabok.
"Mama tenang saja, jangan panik begitu. Reno sekarang sudah sukses kok. Reno sudah jadi pejabat sekarang."
Rika mengernyitkan dahi. Alisnya yang digambar rapi itu hampir menyatu. "Pejabat dari mana? Jangan halusinasi pagi-pagi ya! Kamu itu pengangguran abadi!"
"Nah, itu Mama tahu kalau Reno pengangguran," sahut Reno dengan santai sambil bangkit berdiri dari kasur.
"Tadi katanya pejabat, sekarang mengaku pengangguran! Mana yang benar, hah?!"
Rika mulai emosi. Hidungnya kembang-kempis mirip banteng yang baru saja ditunjukkan kain merah sutra.
"Dua-duanya benar, Ma. Reno memang seorang pejabat... PEngangguran JAkarta BARat!"
Setelah berhasil mengeluarkan lawakan garing yang bisa menurunkan suhu ruangan hingga minus lima derajat, Reno langsung mengambil langkah seribu. Ia lari sprint menuju kamar mandi.
BRAKKK!
Pintu kamar mandi ditutup kencang, tepat setengah detik sebelum sandal daster berbahan karet milik Rika meluncur indah di udara menuju ke arah kepalanya.
"RENOOO! Anak kurang asem! Kurang garam! Kurang micin!" teriak Rika frustrasi di luar pintu.
Di dalam kamar mandi, Reno tidak peduli dengan kemarahan dunia luar. Ia malah asyik menggelar konser tunggal di bawah kucuran shower, menyanyikan lagu-lagu galau dengan suara yang untungnya tertutup oleh gemercik air.
****
Beberapa menit kemudian, Reno keluar dari kamar mandi. Seperti kebiasaan buruknya yang sudah mendarah daging, handuk putihnya hanya dililitkan di leher—bukan di pinggang.
Alhasil, ia berjalan santai menuju lemari pakaian dengan kondisi birthday suit alias telanjang bulat. Di dalam kepalanya, kamar tidur itu adalah sebuah catwalk pribadi tempat ia memamerkan tubuhnya yang untungnya proporsional.
Baru saja tangannya mau mengeksekusi selembar kolor bermotif polkadot di dalam laci, tiba-tiba...
Cklek!
Pintu kamar terbuka lagi. Rika melangkah masuk tanpa mengetuk. "Reno, Mama lupa bilang kalau—ASTAGA NAGA BONAR!"
Rika langsung membalikkan badannya dengan kecepatan cahaya, mengalahkan rekor dunia lari estafet. "Kamu ngapain nggak pakai baju, hah?! Nggak punya malu apa? Itu belalai kamu gundal-gandul kayak ayunan TK?!"
Brakkk!
Rika membanting pintu dari luar dengan sangat keras. Reno seketika membeku di tempat, posisinya masih memegang kolor. Visual ala idol K-Pop yang ia banggakan mendadak hancur berkeping-keping menjadi debu kosmik.
Rasanya saat itu juga Reno ingin mengajukan surat resign sebagai manusia dan pindah dimensi ke sarang semut. Meskipun ia sadar, badan bongsornya yang mirip mamut itu mustahil bisa muat masuk ke sana.
Setelah berhasil mengubur rasa malunya sedalam Palung Mariana, Reno akhirnya turun ke ruang makan demi menjalankan misi penyelamatan perut yang sudah keroncongan.
"Tadi Mama mau ngomong apa ke kamar aku?" tanya Reno sambil mengoleskan selai cokelat ke atas selembar roti tawar. Ia mencoba berlagak amnesia total soal insiden 'belalai ayunan' yang terjadi beberapa menit lalu.
Rika menatap anaknya dengan tatapan tajam yang bisa memotong daging steak. "Mama mau mengajak kamu ke Sukabumi. Kita harus menjenguk Mimih sama Apih."
"Menginap nggak, Ma?"
"Cuma sehari semalam. Mama cuma dapat jatah cuti dua hari dari kantor," jawab Rika dengan ketus, masih agak trauma dengan pemandangan supranatural di kamar tidur tadi.
Reno bernapas lega dalam hati. Sukabumi, khususnya desa tempat tinggal kakek dan neneknya, bagi Reno adalah sebuah zona mistis bernama "Lembah Sinyal Hilang".
Tanpa adanya jaringan WiFi dan terletak jauh dari peradaban kota modern, tempat itu adalah wilayah kekuasaan kakek-neneknya yang asri, hijau, subur—tapi sangat membosankan bagi seorang pemuda fakir kuota seperti dirinya.
****
Perjalanan panjang pun dimulai. Reno kali ini bertugas sebagai supir pribadi tanpa gaji bagi sang Ibu. Setelah bergelut dengan kemacetan dan jalanan yang meliuk-liuk, sekitar jam 11 siang mereka akhirnya sampai di sebuah desa terpencil di kaki gunung daerah Sukabumi.
Udara segar yang bersih dan aroma tanah basah langsung menyambut indra penciuman mereka.
Reno memarkirkan mobil di bawah pohon mangga, turun dari pintu kemudi, lalu menurunkan koper-koper dari bagasi dengan gaya yang sengaja dibuat-buat mirip model iklan koper internasional di televisi.
Drap... Drap... Drap...
Suara langkah kaki dari dalam rumah panggung kayu tua itu terdengar semakin dekat. Namun, Reno mendadak menghentikan langkahnya di tengah pekarangan rumah yang luas.
Bukannya buru-buru masuk untuk menyalimi kakek dan neneknya, jiwa content creator penganggurannya mendadak meronta-ronta minta diberi makan. Ia ingin memamerkan foto estetik ke dalam grup WhatsApp "Para Pencari Kerja" dengan caption puitis nan senja: "Back to nature, healing sejenak dari hiruk-pikuk polusi Jakbar."
Reno membuka aplikasi Instagram. Jari jempolnya sudah siap menekan tombol post. Tapi...
"Lho? Kok cuma muter-muter doang kayak gasing?"