Indonesia
NovelToon NovelToon
THE DAY YOU WENT AWAY

THE DAY YOU WENT AWAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Pria yang Mengincar Milik Orang Lain

Hari-hari setelah insiden di pantry terasa berjalan lambat dan menyesakkan bagi Raisha. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun hidupnya, Raisha merasakan apa yang orang-orang sebut sebagai rasa sakit hati.

Itu bukan rasa sedih yang dramatis seperti di sinetron, melainkan sebuah kehampaan menganga di dada yang membuat selera makannya hilang dan tidurnya tidak pernah nyenyak.

Raisha merasa terluka. Dia merasa ditolak dengan cara yang paling brutal bukan lewat kata-kata penolakan yang tegas, melainkan lewat perubahan sikap yang sangat drastis dan tidak masuk akal.

"Kenapa, sih?" gumam Raisha pelan suatu malam, menatap langit-langit kamarnya yang sepi.

Pikirannya terus memutar ulang semua potongan interaksi mereka dari awal. Dan semakin dia mengingatnya, semakin kuat rasa aneh yang mengganjal di hatinya. Ada pola yang sangat tidak wajar dari cara Aldo menunjukkan ketertarikan.

Sewaktu Aldo berasumsi bahwa Raisha sudah memiliki pacar mulai dari tebakan di pantry, melihatnya tertawa bersama Reno, hingga saat makan malam di kafe, pria itu justru menunjukkan minat yang sangat besar.

Binar matanya hangat, godaannya intens, dan dia tak ragu mengajak Raisha menonton berdua. Namun, di detik yang sama saat Raisha menegaskan bahwa dirinya single murni dan tidak sedang berhubungan dengan siapa pun, rasa tertarik di mata Aldo lenyap seketika bagaikan ditiup angin. Pria itu mendadak menjadi sosok yang sangat dingin dan tidak peduli.

Kenapa dia cuma tertarik saat menyangka gue punya pasangan? tanya Raisha pada dirinya sendiri.

Sebuah asumsi mendadak terlintas di kepalanya: Apa Aldo cuma tertarik sama wanita yang sudah berpasangan?

Raisha menggelengkan kepalanya cepat-cepat, menepis pikiran itu.

"Nggak, nggak. Pikiran gue konyol banget. Masa ada cowok aneh kayak gitu?" bisiknya berusaha merasionalkan keadaan. Mungkin Aldo memang hanya tipe pria playboy biasa yang cepat bosan, atau mungkin reputasi playgirl Raisha yang sebenarnya membuat pria itu mundur.

Namun, meskipun Raisha berusaha abai, matanya tidak bisa dibohongi. Secara tidak sadar, perhatian Raisha kini selalu tertuju pada gerak-gerik Aldo di kantor. Bukan karena dia sengaja ingin memata-matai, melainkan karena radar di dalam dirinya mendadak menjadi sangat sensitif setiap kali nama atau sosok Aldo melintas.

Dan di situlah Raisha mulai melihat pola-pola baru.

Selama seminggu terakhir, Raisha memperhatikan bahwa Aldo terlihat sangat dekat dengan salah satu karyawan wanita dari divisi Marketing bernama Mita. Setahu Raisha dari gosip-gosip pantry, Mita adalah seorang cewek populer yang sudah menjalin hubungan pacaran cukup lama dengan seorang pria dari luar kantor.

Namun belakangan, Aldo dan Mita sering terlihat mengobrol akrab, tertawa bersama di koridor, bahkan sesekali menyantap makan siang berdua. Binar mata hangat yang dulu pernah diperlihatkan Aldo pada Raisha... kini sepenuhnya ditujukan untuk Mita.

Hingga pada suatu sore jam lima, saat suasana kantor mulai sepi karena sebagian besar karyawan sudah bersiap pulang, Raisha berjalan menyusuri koridor belakang lantai lima untuk mengembalikan kunci loker ke ruang arsip.

Koridor belakang itu berada di dekat tangga darurat area yang sangat jarang dilalui orang di jam-jam keluar kantor.

Saat Raisha hendak melewati belokan dinding dekat pintu tangga darurat, suara sayup-sayup perdebatan menahannya. Raisha menghentikan langkah secara refleks. Dia mengintip dari balik celah tembok yang membatasi koridor, dan pemandangan di depannya sukses membuat napas Raisha tertahan di tenggorokan.

Di sana, di balik remang lampu koridor darurat, berdiri Aldo dan Mita.

Seketika itu juga, Raisha bersembunyi dengan merapatkan tubuhnya ke dinding cat krem, berusaha menahan napas agar keberadaannya tidak disadari. Dari posisi sembunyinya, Raisha bisa mendengar dengan sangat jelas nada suara Mita yang bergetar menahan tangis.

"Apa maksud kamu jadi bersikap dingin begini, Al?" Protes Mita terdengar memecah keheningan koridor. Wajah wanita itu tampak sangat frustrasi dan penuh rasa kecewa.

Aldo berdiri di depannya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana kerjanya. Wajah manis yang biasanya memikat itu kini sepenuhnya datar, sama persis dengan ekspresi dingin yang diperlihatkannya pada Raisha di pantry waktu itu.

"Dingin gimana?" sahut Aldo santai, nadanya sangat datar tanpa beban emosi. "Sikapku sama aja dari kemarin-kemarin."

"Nggak! Kamu beda!" seru Mita dengan suara yang ditahan agar tidak mengundang perhatian, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Aku sengaja mutusin pacarku kemarin malam, Al! Aku mutusin dia agar aku bisa bareng sama kamu seorang! Aku pilih kamu!"

Suara Mita yang gemetar menyampaikan pengorbanan besar itu seharusnya meluluhkan hati pria mana pun. Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat bulu kuduk Raisha berdiri.

Aldo tidak terkejut, tidak juga tersentuh. Pria itu justru menghela napas panjang, menatap Mita dengan pandangan malas dan meremehkan.

"Aku nggak pernah nyuruh kamu putus dengan pacarmu, Mita," ujar Aldo dengan suara yang sangat dingin dan menusuk.

"Itu kan keputusan sepihak kamu. Kenapa kamu malah menuntut lebih padaku sekarang?"

Mita melongo tidak percaya. Air matanya menetes membasahi pipinya.

"Al... kamu yang bikin aku yakin! Kamu yang selama ini ngedeketin aku, perhatian sama aku, bikin aku merasa kamu mau kita serius!"

"Aku cuma menikmati obrolan kita," balas Aldo tanpa sedikit pun rasa bersalah.

"Tapi kalau kamu udah jomblo dan sikap kamu jadi nuntut kayak begini... jujur, aku udah nggak tertarik lagi padamu."

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kanan Aldo. Suara tamparan itu memantul di lorong sepi tersebut. Kepala Aldo sedikit terlempar ke samping akibat dorongan tangan Mita.

Namun, bukannya marah atau mengaduh kesakitan, Aldo perlahan menegakkan kepalanya kembali. Sebuah seringai tipis yang mengerikan terkembang di bibirnya. Dia menyapu sudut bibirnya dengan jempol secara santai, menatap Mita yang sedang gemetar hebat oleh kemarahan.

"Dari awal kan kita nggak ada hubungan serius, Mita," bisik Aldo halus namun sangat kejam. "Kamu aja yang terlalu berharap."

Mita menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Matanya memancarkan rasa benci yang teramat sangat pada pria di depannya.

"Brengsek," umpat Mita serak, sebelum akhirnya dia berbalik dan berlari pergi meninggalkan lorong tangga darurat dengan langkah kaki yang bergaung keras.

Pintu tangga darurat tertutup rapat. Aldo tetap berdiri di sana selama beberapa detik, merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut, lalu bersiul kecil secara santai seolah-olah baru saja menyelesaikan tugas harian biasa. Pria itu kemudian melangkah pergi menuju arah berlawanan.

Di balik dinding penutupnya, Raisha berdiri terpaku kaku.

Jantungnya berdegup sangat kencang, tubuhnya gemetar pelan karena ketakutan dan rasa tak percaya atas apa yang baru saja dia saksikan secara langsung. Raisha menahan napasnya rapat-rapat sampai dipastikan langkah kaki Aldo benar-benar menghilang jauh dari koridor.

Setelah suasana benar-benar aman, Raisha perlahan menyandarkan punggungnya ke tembok dingin, mencoba mencerna adegan mengerikan tadi.

Potongan-potongan teka-teki tentang sosok Aldo Otavian kini terpasang sempurna di dalam kepalanya.

Asumsi konyol yang sempat ditepisnya semalam ternyata adalah kenyataan yang pahit dan mengerikan. Aldo bukanlah pria yang mencari cinta, bukan pula pria playboy biasa yang sekadar suka berganti pasangan. Aldo adalah seorang manipulator emosional yang memiliki penyimpangan psikologis: dia hanya bergairah dan merasakan sensasi berburu ketika mendekati wanita yang sudah berpasangan.

Bagi Aldo, menaklukkan cewek yang milik orang lain adalah sebuah trofi. Dan begitu wanita itu menjadi single atau menyerahkan hatinya secara utuh, sensasi permainan itu lenyap, dan Aldo akan membuang wanita tersebut tanpa belas kasihan.

Raisha menatap lurus ke arah lorong yang kosong dengan mata yang melebar.

Rasa sakit hati dan penolakan yang dia rasakan selama seminggu ini seketika berubah menjadi rasa syok yang teramat dalam, bercampur dengan rasa lega yang membuncah.

Hatinya yang baru saja belajar mencintai memang sempat tergores, namun malam ini dia sadar: dirinya baru saja lolos dari jeratan seorang pria yang jauh lebih berbahaya dari apa yang pernah dia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!