Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Begadang demi Anak
#32
Malam itu, rumah keluarga Azam terasa lebih tenang setelah Ghazi membuat seisi rumah gelisah dengan kondisinya.
Begitupun Dina, Setelah perjalanan panjang dan melewati hari yang melelahkan, akhirnya ia bisa beristirahat di kamar Aisha. Namun, bukannya langsung tidur, perempuan itu justru sibuk memperhatikan bayi mungil yang berbaring di sampingnya.
Ghazi masih tampak kurang nyaman, sesekali ia merengek, menggeliat, lalu kembali diam ketika merasakan telapak tangan Dina mengusap lembut kepala dan dadanya.
“Bobo, Sayang? Tante Dina disini,” bisik Dina dengan suara lembut.
Saat ini Dina benar-benar mengabaikan lelah dan penat yang mendera tubuhnya, sebab untuk pertama kalinya ia merasakan pengalaman menjadi ibu yang ikut gelisah, serta begadang demi menjaga anaknya yang demam dan rewel di malam hari.
Tapi, Tuhan tahu, bahwa Dina benar-benar ikhlas melakukannya, semua murni dari hati, tanpa mengharap balas budi.
Aisha yang berbaring di sisi lain tempat tidur ikut menoleh. “Dari tadi Ghazi memang susah tidur, Kak. Kita bergantian jaga, sebaiknya Kak Dina tidur, bila nanti Ghazi bangun dan menginginkan ASI aku akan membangunkan Kakak.”
Namun, Dina menggeleng pelan. “Aku belum ngantuk, kamu tidurlah duluan,” sahut Dina mempersilahkan Aisha tidur lebih dulu, karena Dina ingin menikmati waktu sebanyak mungkin bersama Ghazi.
Aisha tak bisa berkata-kata lagi, ia pun mencoba memejamkan mata, tapi tidak sungguh-sungguh tidur. Sebab iba melihat Dina yang raut wajahnya terlihat lelah.
Dina meraih termometer untuk memeriksa suhu tubuh Ghazi, lalu kembali menggendong bayi itu dengan hati-hati saat Ghazi kembali merengek gelisah. “Lekas membaik, ya, Nak,” gumamnya.
Ada perasaan hangat sekaligus perih yang menyusup ke dalam dada Dina. Menggendong Ghazi membuatnya kembali teringat pada Ghaza, putra kecil yang hanya sempat menemaninya selama dua hari. Kerinduan itu masih ada, sama seperti luka yang belum sepenuhnya mengering.
Namun, Dina tidak ingin menjadikan Ghazi sebagai pengganti putranya. Bayi itu memiliki tempatnya sendiri di hati Dina, dengan segala keunikan dan kebutuhannya. Ia ingin merawat Ghazi karena memang menyayanginya, bukan semata-mata sebagai pengganti karena kehilangan yang pernah dialaminya.
Pintu kamar terbuka perlahan, setelah sebelumnya di ketuk. Bunda Hilda masuk dengan wajah cemas, namun, tetap berusaha tenang. Wanita itu menghampiri Dina yang sedang menimang dan menepuk punggung Ghazi yang sedang terlelap di gendongan Dina.
“Bagaimana keadaan Ghazi sekarang, Nak?”
“Masih agak rewel, Tante. Tapi nggak papa, firasatku mengatakan Ghazi sedang ingin dimanja aja.”
Bunda Hilda menyentuh dahi cucunya dengan punggung tangan, lalu mengamati wajah mungil itu cukup lama. “Tante khawatir sekali sepanjang hari ini,” tuturnya lirih. “Rasanya Tante tak sekhawatir ini, saat anak-anak Tante dulu demam.”
Dina memahami kecemasan itu. Ia tahu betapa berharganya Ghazi bagi keluarga ini, karena kasih sayang eyang pada cucunya, pasti lebih besar ketimbang kasih sayang pada anak sendiri, Terlebih setelah mereka kehilangan Nayla yang seharusnya menjadi tempat untuk Ghazi bermanja.
“Tante istirahat saja, Biar Dina dan Aisha menemani Ghazi malam ini.”
Bunda Hilda tersenyum tipis, tetapi jelas belum sepenuhnya tenang, “Jika Bunda khawatir, tidur disini saja, biar Aisha tidur di ekstra bed.”
Namun, Bunda Hilda tetap menolak, ia lebih nyaman tidur di kamarnya sendiri. “Pastikan untuk tidur, ya,” pesan Bunda Hilda sebelum meninggalkan kamar.
“Iya, Tante,” sahut Dina.
“Bunda tenang aja, aku akan temani Kak Dina semalaman,” cetus Aisha menawarkan diri.
“Bagaimana Ghazi?” tanya Azam sesaat setelah Bunda Hilda keluar kamar.
“Lagi manja sama ibu barunya,” kata Bunda Hilda dengan nada menyindir putranya. Sambil lalu menuju kamarnya, Bunda Hilda menepuk pundak Azam pelan. Sekedar memberi kode dengan ucapan, sementara keputusan tetap ada di tangan Azam sendiri.
Malam semakin larut, sepanjang malam, Bunda Hilda beberapa kali mengintip ke kamar Aisha, dan ia mulai bisa bernafas lega saat Dina bisa menyandarkan tubuhnya di bantal, sementara Ghazi menelungkup nyaman di dadanya.
Malam itu beberapa kali Bunda Hilda berandai-andai. Seandainya Dina benar-benar ibu kandung Ghazi. Namun, Bunda Hilda tak ingin mendahului takdir yang Maha Kuasa. Biarlah Allah yang mengaturnya.
Selepas pulang dari masjid, Azam menghampiri Bunda Hilda yang baru saja keluar dari kamar Aisha. “Bunda, gimana Ghazi?”
“Kamu cuma nanya Ghazi? Nggak nanyain Dina yang menjaganya semalaman?”
Azam tak menduga pertanyaan semacam itu akan muncul dari mulut Bunda Hilda. Pria itu gelagapan sambil menggaruk pelipisnya tak jelas. “Apaan, sih, Bunda. Kok, nanyanya begitu?”
“Ya, kan, wajar kalau Bunda bertanya begitu, kamu yang membawa Dina ke rumah ini, kalau Dina sakit karena kelelahan menjaga anakmu, siapa yang harus bertanggung jawab?” sindir Bunda Hilda.
Azam terdiam, ia membenarkan ucapan sang bunda. “Iya juga, sih. Jadi, apakah Dina baik-baik saja, Bund?”
“Ciyeee yang khawatir,” ledek Aisha, gadis itu kembali dari arah belakang dengan secangkir air madu hangat, serta kudapan pagi, barangkali Dina lapar. Karena semalam, Aisha terbangun beberapa kali, dan melihat Dina sedang menyusui Ghazi.
“Mulai, deh, nggak Bunda, nggak Aisha, sama aja. Kan, aku jadi serba salah?” gerutu Azam cemberut.
Bunda Hilda dan Aisha terkekeh geli, karena berhasil menggoda Azam dengan candaan mereka
“Ghazi sudah tidak demam,” kata Bunda Hilda pada akhirnya.
“Alhamdulillah,” ucap Azam, wajahnya berubah cerah, setelah cemas semalaman.
Pagi hari itu disambut dengan tawa bahagia semua orang, setelah mendapat kabar bahwa Ghazi sudah tidak demam lagi.
•••
Di tempat lain, Sarah menjalani pagi dengan perasaan gelisah. Setelah hari sebelumnya berjumpa dengan Cakra, serta mendapat ancaman dari pria itu.
Sarah tahu Cakra bukan orang yang akan berhenti hanya karena dirinya menolak. Pria itu selalu punya cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, terlebih ketika menyangkut uang.
Selama ini, Sarah selalu berusaha menjaga citra sebagai perempuan baik-baik di mata keluarga Permana. Ia ingin Farhan serta kedua mertuanya terus percaya dan tidak pernah mengetahui rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Namun, keberadaan Cakra menjadi ancaman yang semakin sulit diabaikan.
“Aku tak bisa terus menerus memberinya uang, sedangkan aku sendiri semakin sulit mendapatkan pemasukan,” gumam Sarah dengan perasaan gelisah. Sebab jika ia berhenti membayar, pria itu bisa saja membuka rahasia yang selama ini mereka jaga.
Sarah mengepalkan tangan. Ia harus menemukan cara untuk mengendalikan keadaan sebelum semuanya terlambat.
Tiba-tiba kedua mata Sarah melihat lemari tempat penyimpanan tas-tas mewah yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.
Sarah menelan ludah, barang mewah ini jika dijual di salah satu situs jual beli tas branded resmi, harganya bisa tetap bersaing ketat. “Apakah benda mewah ini akan jadi penyelamatku?” gumam Sarah dengan wajah berseri-seri.
Namun, saat Sarah hendak menyentuh salah satu tas mewah tersebut, sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” selidik Farhan curiga.
laki pulang kerja cape malah denger anak nangis apa ya gak mumet, walau di sambut sama kutang doang juga gak jadi nafsu denger anak nangis😂
Farhan siap² wanita yang kamu bela tak sebaik yang kamu kira🤣