Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 BAYANG-BAYANG YANG SEMAKIN MEMUDAR
🌄🌄🌄🌄🌄🌄🌄
🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️
Waktu terus berlalu tanpa terasa.
Sore itu, langit di ufuk barat melukiskan semburat jingga keemasan yang begitu memanjakan mata.
Zaki duduk bersandar di kursi kayu teras rumahnya, memandangi matahari yang perlahan turun ke peraduan di balik bukit.
Segelas teh tubruk panas yang mengepulkan asap tipis menemaninya, menyebarkan aroma teh dan melati yang menenangkan.
Ini adalah minggu kedelapan (2 bulan) sejak keputusannya untuk menetap di desa dan melepaskan ikatan gaibnya dengan Sekar Mayang.
Tubuh Zaki terasa sedikit lelah setelah seharian membantu Pak Doyo memupuk kebun kopi milik Zaki, namun lelah itu adalah lelah fisik yang justru membuatnya merasa sangat hidup.
Ia meregangkan kedua tangannya, menghirup udara sore sedalam mungkin, dan membiarkan ketenangan meresap hingga ke rongga dadanya yang paling dalam.
Di tengah keheningan sore itu, tanpa sengaja, memori Zaki terlempar mundur ke masa-masa sebelum ia menginjakkan kaki di desa ini.
Tepatnya...
Pada sebuah perjalanan panjang di atas Kereta Api Brantas yang membawanya dari ibu kota Jakarta menuju ke tempat asalnya di Jawa Timur ini.
Zaki memejamkan matanya, mencoba menggali kembali ingatan tentang seorang perempuan yang saat itu duduk di depannya.
Perempuan yang sempat berbagi tawa, ketakutan, dan bahkan sebungkus biskuit dengannya. Perempuan yang diramalkan oleh Sekar Mayang sebagai takdir masa depannya, tepat perempuan itu menginjak usia 31 tahun nanti.
Iya...
Perempuan itu adalah Nisa Purnamasari.
Zaki berusaha memunculkan siluet wajah perempuan itu di pelupuk matanya. Ia mencoba mengingat bentuk hidungnya, lengkung senyumnya, hingga nada suaranya saat mereka berbincang di tengah malam yang mencekam di gerbong kereta.
Namun, sesuatu yang sangat ganjil—sekaligus membebaskan—terjadi.
Wajah Nisa di dalam kepalanya terasa buram. Kabur.
Semakin keras Zaki mencoba memfokuskan ingatannya pada Nisa, semakin pudar pula bayangan perempuan itu.
Suaranya yang dulu sempat terngiang, kini terdengar bagaikan kaset rusak yang tak bisa lagi diputar.
Zaki membuka matanya perlahan.
Dadanya tak berdesir sedikit pun saat nama Nisa terlintas di pikirannya.
Tak ada kerinduan.
Tak ada rasa penasaran tentang bagaimana kabar perempuan itu sekarang di pondok pesantren Ustadz Furqon.
Hatinya benar-benar kosong dari nama Nisa, sedatar permukaan air telaga yang tak tertiup angin.
Kesadaran itu menghantam batin Zaki dengan sebuah pencerahan yang luar biasa besar.
Selama ini, ketertarikannya pada Nisa, rasa pedulinya yang berlebih, dan perasaan terikat yang selalu muncul setiap kali memikirkan perempuan itu... ternyata bukanlah murni berasal dari naluri manusiawinya.
Zaki sekarang merasa bahwa semua itu adalah ilusi dari benang merah secara gaib.
Kehadiran Sekar Mayang di dalam batinnya, yang terus-menerus merespons energi dari Dayang Putri (perewangan Nisa), telah menciptakan sebuah resonansi mistis.
Resonansi itulah yang memanipulasi batin Zaki, seolah-olah ia memiliki ikatan takdir yang tak bisa diputus dengan Nisa.
Hawa berat, telepati tanpa suara, dan rasa "harus melindungi" yang dulu ia rasakan, murni adalah efek samping dari dua entitas lelembut besar yang saling berinteraksi melalui inang manusia mereka.
Kini, setelah Sekar Mayang tak lagi mendiami ruang batinnya, setelah sumpah perlindungan itu diputus secara mutlak di sepertiga malam waktu itu... benang merah telepati itu pun ikut terputus.
Putus tanpa sisa.
Tanpa campur tangan gaib, Zaki menyadari bahwa hatinya sebagai seorang laki-laki biasa sama sekali tidak mendambakan Nisa.
Ia menghormati Nisa sebagai teman seperjalanan, ia bersimpati pada masa lalu Nisa, namun ia tidak mencintainya.
Takdir masa depan yang pernah diucapkan oleh Sekar Mayang dahulu kini kehilangan kekuatannya, runtuh tak berbekas begitu Zaki merebut kembali hak prerogatifnya sebagai seorang manusia merdeka.
Zaki tersenyum lebar. Sangat lebar hingga matanya menyipit.
Rasa lega yang tak terlukiskan dengan kata-kata membanjiri seluruh aliran darahnya. Ia merasa seperti seorang tawanan yang baru saja berhasil melepaskan borgol terakhir di pergelangan tangannya.
Ia merasa sudah bebas.
Benar-benar bebas dari bayang-bayang masa lalu, bebas dari belenggu dunia astral, dan bebas menentukan siapa yang benar-benar ingin ia cintai.
Pandangan Zaki lalu beralih ke jalan setapak di depan rumahnya. Ingatannya tak lagi mundur ke belakang, melainkan menatap lurus ke depan.
Alih-alih wajah Nisa, yang kini tergambar dengan sangat jelas dan jernih di pelupuk matanya adalah wajah seorang gadis desa dengan senyuman malu-malunya di bawah gubuk bambu.
Gadis yang mengenakan kebaya pudar namun memancarkan kecantikan natural yang tak tertandingi. Gadis yang menyodorkan secangkir kopi hitam di tengah badai hujan tempo hari, sambil menundukkan pandangannya dengan rona merah yang memabukkan.
Perempuan itulah Dek Wiwi.
Hanya dengan mengingat namanya saja, jantung Zaki langsung berdetak dengan ritme yang memompa darah lebih cepat.
Ada kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Tidak ada rasa takut, tidak ada beban gaib, murni hanya gejolak asmara seorang pemuda yang sedang jatuh cinta.
"Maafkan aku, Nisa... Maaf aku tidak pernah benar-benar mencintaimu..." gumam Zaki pelan pada angin sore.
"Semoga perlindungan Sekar Mayang dan Dayang Putri cukup untuk menjaga hidupmu. Karena mulai sekarang, hatiku sudah menemukan rumahnya sendiri." gumamnya lagi.
Zaki mengangkat gelas tehnya, menyesapnya dengan perasaan paling damai yang pernah ia miliki seumur hidupnya.
Bayang-bayang masa lalunya telah memudar, terhapus bersih oleh lembaran baru yang siap ia tulis dengan tinta kesederhanaan.
Dan juga dengan tinta rasa cinta di hatinya.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya