Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan lupa belajar
"Hey! It's me, Boston! 12 August 2023. Aku baru sampe apartemant."
"Hey! It's me, Boston! 15 Agustus 2023. Kamu lagi apa di sana? Jangan lupa belajar!"
"Hey! It's me, Boston! 22 Agustus 2023. Jakarta masih sering hujan ya, Rora? Kalau sekolah bawa payung!"
"Hey! It's me, Boston! 13 September 2023. Maaf jarang balas surel, lagi banyak tugas."
"Hey! It's me, Boston! 29 September 2023. Im doing Math partice! You're enemy lol! Jangan lupa belajar, Rora!"
"Hey! It's me, Boston! 8 Oktober 2023. Jangan lupa belajar, buat ujian!"
"Hey! It's me, Boston! 30 Oktober 2023. Jangan nonton film terus, belajar!"
"Hey! It's me, Boston! 21 November 2023. Apa kabar? Masih demam? Jangan lupa minum obat!"
"Hey! It's me, Boston! 2 Desember 2023. Boston lagi turun salju."
"Hey! It's me, Boston! 14 Desember 2023. Kamu jadi liburan ke lombok?"
"Hey! It's me, Boston! 25 Desember 2023. Marry Christmas & Happy new year, Rora!"
"5 Januari 2024. Hey! It's me, Boston... again! Jangan begadang terus, besok udah mulai sekolah!"
"Hey! Its me, still here in Boston! 20 Januari 2024... it's still winter."
"Lupa tanggal. But... i miss you, Rora! Hope you here. Jangan lupa belajar!"
Klik!
Aurora Grey mematikan tape record di tangannya, gadis itu menarik earphone yang meyumpal di kedua telinganya ketika dirinya hampir sampai di depan gerbang sekolah.
"Dengerin apa sih, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Mario kepada putrinya. Bukan apa-apa, hanya saja beberapa hari ini Aurora Grey gemar sekali mendengarkan sesuatu melalui tape recordnya.
Aneh lah! Orang Aurora Grey itu jenis remaja jaman now, kayak nggak mungkin kalau tiba-tiba putri kesayangannya itu suka hal-hal kuno kayak tape record.
"Lagu," jawab Aurora Grey, lantas mengulum senyuman tipis.
Mario hanya mengangguk kecil. "Mau ayah anter sampai dalem?"
Aurora Grey menggeleng sebelum menarik tas ranselnya. "Di sini aja, ayah." Gadis bersurai sebahu itu mendekatkan wajah ke arah Mario untuk memberikan satu kecupan pada pipi sang ayah.
"Rora sekolah dulu, jangan ngebut! Nanti dibilangin bunda, lho!" ancam Aurora Grey yang membuat Mario tertawa renyah.
"Siap! Tuan putri." Ayahnya itu sampai hormat ke arahnya.
Sesaat Aurora Grey terkekeh kecil sebelum melambaikan tangannya. "Byeeeee, ayah!!!" seru Aurora Grey lantas keluar dari dalam mobil.
Gadis bersurai pendek itu lantas melangkahkan kakinya memasuki area sekolah.
Menyambut akhir bulan Maret 2026, seluruh siswa disibukkan dengan persiapan Ujian Sekolah. Kecuali murid kayak Alberto sama Rami. Mereka doang emang, yang udah tahu hasil ujian masih bisa scroll beranda tik-tok sama Instagram.
"Wih gila! Kesambet apaan lo, Rora?" decak Alberto terkagum-kagum, melihat Aurora Grey yang pagi-pagi udah buka buku pelajaran.
Di tempatnya Aurora Grey menunjukkan seulas senyum bangga. "Gue mau belajar, buat masa depan yang lebih baik. Jangan ganggu!"
"Halah! Kayak iklan Rucika aja," sanggah Alberto yang membuat teman-teman menatapnya bingung.
"Salah bego! Rucika mah di mana air mengalir sampai jauh!" seru Rami sewot sendiri. Tak lama gadis itu beranjak, berniat membuat contekan kecil-kecil di ujung kelas.
Astaghfirullah nggak ada adab emang si Rami. "Eh Rora! Dari pada lo belajar mending buat contekan kayak biasanya," ucap Rami layaknya bisikan setan.
Di tempatnya Alberto mengangguk membenarkan, ya gimana dong orang-orang males dari kelas mereka sih banyak, tapi yang udah kayak nggak niat sekolah ya cuma Gerry, Alberto, Aurora Grey, Rami, sama Putri—doi kayaknya mampir kelas gara-gara butuh tempat buat tidur.
Yang namanya Putri kalau di sekolah lemes banget, nggak ada semangat-semangatnya kayak orang tipes.
Nggak sarapan apa gimana?
Alberto nggak terima lah, kalau salah personil dari grup anti belajar club-club yang dirinya ampuh ada yang insyaf dan jadi rajin belajar.
"Ayo, Rora! Join lah bareng kita," timpal Alberto yang saat ini ikut dengan Rami membuat contekan di belakang kelas.
Langsung saja Aurora Grey menggeleng keras, pertanda menolak. Perlu kalian ketahui, jika keajaiban dunia ke delapan sudah terjadi. Ya! Seorang Aurora Grey telah memutuskan jadi anak ambis.
Mencurigakan! Mana itu anak tiba-tiba potong rambut jadi sebahu gitu, padahal setahu Rami, Aurora Grey itu suka rambut panjang—biar kayak princess-princess gitu.
Kayak habis patah hati aja.
"Serius Rora, keambisan lo bikin gue ngeri sendiri. Kenapa lo?" tanya Rami dari belakang sana. Sebagai teman yang baik nih, doi terpaksa khawatir sama kondisi mental Aurora Grey.
Nggak lucu dong kalau ternyata Aurora Grey kena penyakit mematikan, makannya dia gunain sisa hidup dia jadi orang lurus. Lah... kayak sinetron azab aja.
"Nggak apa-apa," sanggah Aurora Grey seraya menggeleng.
Emang kenapa sih, kalau dia belajar? Se-woah itu kah kalau orang malas mendadak ngambis? Bahkan sejak tadi Aurora Grey bisa merasakan tatapan Sheila tertuju kepadanya dengan sorot penuh tanya
Ya walaupun, alasannya semangat belajar tak lain dan tak bukan karena Shayen Morgan—tapi kan ini juga karena kemauannya Aurora Grey. Ingat tape record yang cowok itu kirimkan? Percaya atau tidak, Aurora Grey mendengarkannya isi suara itu setiap saat.
Seolah ada magnet yang menarik Aurora Grey untuk terus mengulang-ulangnya. Ya gimana dong, suara Shayen Morgan itu kayak candu alias nggak cukup kalau di dengar satu atau dua kali saja. Cowok itu selalu mengingatkan ini dan itu kepadanya. Sejak dulu masih sama, tidak berubah.
Shayen Morgan benar-benar tahu cara bertindak menjadi pacar yang baik. Bagaimana bisa, orang tidak tahu diri seperti Aurora Grey mendapatkan kasih sayang sebesar itu dari Shayen Morgan?
Mengingat itu, desiran nyeri merambat dalam diri Aurora Grey. Menyakitkan. Tanpa diundang pun, rasa penyesalan itu kembali datang. Mungkin dengan belajar sungguh-sungguh, Aurora Grey berpikir bisa menebus kesalahannya. Mulai menata satu-persatu hal yang tidak tertata pada tempatnya.
Mulai hari itu, dirinya bertekad untuk menjadi Aurora Grey dengan versi yang lebih baik sebelum Shayen Morgan kembali.
Suasana kelas 11 IPS 5 saat ini ricuh akan pekikan khususnya dari gadis-gadis.
Bukan! Bukan karena Ujian Nasional hari ke-4 di jam pertama itu sudah selesai, tapi karena secara mendadak Tristan and the gang mampir untuk menginjakkan kaki ke kelas mereka setelah bel istirahat berbunyi.
Oh! Minus Mahendra, soalnya dia masih marahan sama Kay Morgan. Tapi kali ini udah ada Kael William yang Alhamdulillah udah sehat walafiat.
Tahu kan, mereka dateng buat apa? Ya! Nyemangatin Kay Morgan yang lagi Ujian.
"Halah anjing! Dari pada lo belajar gini, mending buat contekan!"
"Ya Tuhan! Sesat banget, jangan dengerin si Digo, mending lo bawa HP diem-diem. Penjaga Ujian lo kan Bu Sumiati, kagak bakal ketahuan kalau dia yang jaga," usul Devandra yang diacungi jempol oleh Kael William.
"Bu Sumiati kalau jaga Ujian merem terus. Ck! Makin cinta aja gue sama dia."
Digo tertawa receh setelahnya. "Bener Cuk! Kalau gue perhatiin, mata dia kayak berkunang-kunang setiap ngajar kelas."
"Gue curiga dia darah rendah," celetuk Devandra dengan jari telunjuk di dagunya.
Sumpah! Kayaknya percuma juga Devandra dibaptis dua kali.
Lagi-lagi Kay Morgan menghela nafasnya pelan mendengar percekcokan ketiga teman bodohnya. Sumpah! Demi helmnya Devandra yang baunya kayak ikan asin—mereka bacot banget. Kay Morgan jadi nggak konsen belajarnya.
"Lo pada diem bisa diem kayak Tristan, nggak?" geram Kay Morgan yang sukses membuat ketiganya menoleh.
Devandra sendiri langsung merengut kesal. "Ih! Adik Kay Morgan galak, abang Devandra jadi takut." Tanpa berpikir panjang, Kay Morgan langsung melempar penghapus ke arah Devandra.
"Eh! Nggak kena!" ucap Devandra yang bisa menghindar dari serangan Kay Morgan.
Kay Morgan menggeram sebal ketika Devandra cekikikan bersama Digo sekarang.
Dasar, Autis!
Beralih, Kael William menepuk-nepuk bahu Kay Morgan untuk meredakan emosi cowok itu. "Udah lo belajar yang bener! Kalau nggak bisa baru bawa contekan."
"Udah yok! Kita ke kantin aja," ucap Kael William seraya menarik Digo dan Devandra keluar, agar adik kelasnya itu bisa belajar.
Keduanya yang diseret keluar mendelik kesal, tidak terima. Ceritanya masih pengen berbagi tips kecurangan ke Kay Morgan. "HEH!!! INGET WEJANGAN GUE, KAY!" seru Devandra heboh sendiri, dari luar kelas.
Ketika mereka berjalan ke arah kantin, tiba-tiba Digo menghentikan langkahnya. Merasa ada yang tertinggal, tapi bukan kenangan.
"Woi! Tristan ketinggalan, anjing!" pungkas Digo yang membuat ketiganya balik ke kelas Kay Morgan.
Kan! Jadi ricuh lagi, kelasnya.
"Kenapa balik lagi?" tuntut Kay Morgan dengan wajah terganggu yang ketara.
"Nih! Prasatinya candragupta maurya ketinggalan," herdik Digo menunjuk Tristan yang lagi main game di sebelah Kay Morgan.
Eh! Iya, saking diemnya si Tristan—Kay Morgan aja sampe nggak sadar doi duduk di sebelahnya dari tadi.
Sumpah! Kesel banget Digo sama itu orang, kayak bisu. Soalnya anteng terus. "Demi Allah, gue tuh kadang lupa kalau punya temen yang namanya Tristan," sindir Digo sekaligus berkeluh-kesah.
Merasa namanya di bawa-bawa, Tristan mengangkat pandangannya. "Kenapa?" tanya cowok itu tanpa beban.
Kan! Makin eneg aja Digo liatnya. "Kinipi?" cibir Digo dengan wajah dilebih-lebihkan. "Kantin! Makannya jangan game terus!"
Devandra yang ikut gemas dengan tingkah temannya itu, merasa tangannya gatal ingin menjambak Tristan. "Kayaknya lo perlu dibaptis deh, Tris!" usul Devandra khas anak pastor.
Langsung saja keempat temannya menoleh ke arah Devandra dengan tatapan menghakimi. "Tristan Islam, goblok!" seru semuanya.
"Yang bisa dibaptis kan cuma Lo sama Kay Morgan!" imbuh Kael William mengingatkan.
Mereka lantas tertawa keras, berhasil menggoblok-goblokkan si Devandra. Bahkan Tristan pun menyeringai puas melihat wajah Devandra yang berubah masam.
"Makannya lo pada Shalat! Gue kan jadi sering lupa, jangan Islam KTP doang!" sahut Devandra tajam, sukses membuat kicep Digo, Tristan dan Kael William.
Oke! Kalau gini, giliran Kay Morgan dan Devandra yang ketawa.
"Udah! Ayo kantin, laper gue!" relai Digo lantas berjalan mendahului mereka.
Melihat itu Kael William langsung menyusul. Sementara Devandra mengawasi Tristan. "Gerak dikit napa Tris! Ya Tuhan! Kayak penghuni peti mati aja lo!"
"Mager."
Dari pada emosi ngadepin si Tristan, Devandra memilih berjalan keluar dari kelas Kay Morgan. "Dah lah! Gue tinggal, nih!"
Tapi sebelum itu, doi beralih ke arah Kay Morgan yang masih sibuk dengan buku sejarahnya. "Heh! Inget wejangan gue! Jangan pake contekan, kelamaan! Bawa HP aja nanti cari di brainly."
Beruntung, Kay Morgan tidak menghiraukan ajaran sesat dari Devandra.
Tiba-tiba saja Kay Morgan merasakan seseorang menepuk pundaknya pelan. Menoleh, ternyata Tristan sudah berdiri di sampingnya. "Jangan!" celetuknya tiba-tiba dengan wajah sedatar dadanya Devandra.
"Hah?" Bingung dong Kay Morgan dengernya.
"Jangan nyontek, kerjain sebisanya. Jujur!" kata Tristan tanpa ekspresi.
Di tempatnya Kay Morgan sempat terkejut mendengar pencerahan itu. Gila! Ini Tristan, yang ngomong kalau ada presentasi di depan kelas doang. Di tempatnya Kay Morgan pengen ketawa, tapi nggak jadi karena masih kaget denger doi ngomong gitu.
Random banget, padahal itu bocah biasanya diem kayak batu nisan. "T-thanks, Tris!"
Itu aneh, tapi tahu apa yang aneh? Ya! Kay Morgan jadi deg-deg-an.
Mendengar itu Tristan hanya mengangguk sebelum berjalan keluar kelas. Bukan apa-apa, hanya saja Devandra sama Digo udah teriak-teriak memanggil namanya dari luar kelas. Nggak tahan Tristan dengernya, soalnya suara mereka jelek banget.
"TRISTAN!!!!"
"WOIIIIII!!!!"
"YA TUHAN!!! ENEG BANGET GUE SAMA INI ORANG!!!"
"CEPET KANTIN, BOLOT!"
"HEH!!! BATU NISAN, JANGAN DIEM TERUS!"
Kan! Bacot lagi.
****************
Parkiran sekolah, hari itu jadi tempat utama buat interogasi tersangka bernama Kay Morgan, yang baru aja keluar dari ruang kelas.
"Gimana ujiannya?"
Kay Morgan memutar bola matanya malas ketika Devandra mendekatkan tupperware ke mulutnya untuk dijadikan mic.
Mana warnanya pink! Kay Morgan jadi curiga kalau Devandra nyolong tupperwarenya mbak-mbak kantin lagi.
"B aja."
"Kayak plat Jakarta aja jawaban lo! Yang bener dong!" dengus Devandra merajuk.
"Nggak susah, tapi nggak gampang." Kay Morgan akhirnya mengalah, dengan meralat jawabannya.
"Lo jadi pake wejangan kita, kan?" kali ini Digo ikut menyahut.
"Nggak, lo pada sesat!" jawab Kay Morgan yang membuat Kael William tertawa keras.
Di tempatnya Devandra mendengus, kecewa. "Halah boong! Lo emang bisa ngerjain sendiri? Sumpah ya Kay, kalau nilai lo jelek yang malu kita," serunya super lebay.
"Kenapa?" sanggah Kay Morgan tidak mengerti dengan sikap berlebihan Devandra.
"Ya gapapa, gue nggak mau temen gue dapet nilai jelek. Nggak sinkron banget nanti sama muka," katanya sambil nyengir jelek.
Digo menggeleng kecil. "Gaya lo, Dev! Nilai SMP lo aja cuma 16."
Satu hal tentang Digo dan Devandra, mereka temen dari SMP. Jadi doi tahu kalau Devandra dulunya cuma dapet nilai 16 alias paling goblok se-angkatan.
Lo pada itung aja, nilai segitu dibagi 4 mapel pelajaran. Jangan tanya sebego apa abang Devandra ini. Beruntung doi suka menang kalau ikut lomba basket tingkat nasional. Piagam dia di mana-mana, saking banyaknya ngalahih toko emas. Pantes lah Devandra diterima di SMA Garuda Indonesia.
"Bajingan lo, buka kartu gue aja!!!" teriak Devandra tidak terima, cowok itu lantas mendekat ke arah Digo.
Nggak usah kaget kalau nanti mereka gelut sampe guling-guling di parkiran. Udah biasa soalnya.
Di sisi lain, datanglah gerombolan Rami dari arah lorong utama sekolah. Gadis itu pastinya bersama Sheila dan Aurora Grey. Yang kemana-mana bertiga terus, kayak trio macan.
Melihat itu, Kael William menyikut lengan Kay Morgan. Cowok itu pasti belum sadar akan kedatangan Aurora Grey karena sibuk melihat dua teman idiotnya baku hantam.
"Eh! Eh! Ada putri tidur, lo." Secepat itu juga Kay Morgan menoleh, cowok itu bahkan kedapatan tak berkedip ketika melihat Aurora Grey dari kejauhan.
Namun secepat itu juga, Kay Morgan langsung mengalihkan pandang ke arah lain.
"Makin cantik aja ya Rora kalau rambutnya pendek gitu?" puji Kael William yang membuat Kay Morgan mendengus.
"B aja!"
Mendengar itu, Kael William menoleh. "Kenapa lo sama dia?" bisik cowok itu yang peka sama keadaan.
Kael William ini sadar, kalau beberapa minggu terakhir—dirinya sudah jarang melihat Kay Morgan menjahili Aurora Grey. Ketika bertemu pun keduanya tidak saling tegur sapa. Seingat Kael William sebelum masuk rumah sakit, dua orang ini kayak Tom and Jerry.
Gelut terus, tapi kemana-kemana bareng.
"Nggak!"
"Nggak apaan? Gue tanya kenapa, malah jawabnya nggak!" dengus Kael William menyesal bertanya.
"Kepo lo!" balas Kay Morgan setengah tertawa melihat wajah Kael William berubah kesal.
Tapi sekali lagi Kael William menoleh ke arah Kay Morgan, kali ini tatapannya berubah menjadi serius. "Saran gue, lo minta maaf ke dia," celetuknya tiba-tiba.
"Kenapa jadi minta maaf?" dengus Kay Morgan tidak terima.
"Karena lo itu jahat sama dia. Niat lo deketin dia aja udah nggak ada baik-baiknya, terus lo pasti kemarin nyakitin dia kan?" tebak Kael William yang 100% benar.
"Jujur, lo!" desak Kael William yang sukses menyinggung perasaan Kay Morgan.
"Nggak usah sok tau! Lo aja kemarin lagi sekarat di rumah sakit," cibir Kay Morgan yang dihadiahi tatapan tajam dari Kael William.
"Mata lo, sekarat!" sambarnya emosi.
"Egois aja terus, Kay! Sampe tahun baru kucing juga lo nggak bakal dapetin dia kalau gitu terus. Semoga aja hubungan Rora sama kakak lo langgeng sampe ke pelaminan."
"Biar lo nyesel, terus galau kayak tai!" umpat Kael William yang sukses membuat Kay Morgan mengepalkan tangannya diam-diam.
Lah! Gitu doang, emosi si bapak.
"Lo juga harus minta maaf ke Mahendra!" Sumpah! Kael William udah bosen banget liat dua cacing tanah itu diem-dieman terus.
"Ogah!" tolak Kay Morgan tanpa berpikir panjang.
"Terserah lo! Suruh minta maaf aja nggak mau, jadi orang jangan batu-batu. Jatuhnya egois. Nggak semua orang bisa tahan sama sikap lo yang gini." Ucapan Kael William itu tanpa sadar mengusik sesuatu dalam diri Kay Morgan.
Di sisi lain, Digo yang juga menangkap keberadaan Sheila mendekat bersama teman-temannya langsung mendorong Devandra menjauh darinya.
"Udah woi, Anjing! Nanti lagi geludnya!" titah Digo langsung berdiri tegak, membenarkan seragamnya agar terlihat lebih rapi ketika Sheila lewat.
Pencitraan dikit lah.
"Halo, Sheila!!!" sapa Digo cengar-cengir sendiri.
Dih! Padahal itu cewek, ngelirik dia aja nggak.
Devandra yang melihat kebucinan di hadapannya, menepuk pundak Digo—prihatin. "Dia nggak suka sama lo, Digo! Ikhlasin aja!" bisik Devandra serius, tidak tega melihat temannya terus gamon dari Sheila sejak satu tahun terakhir.
Devandra akui kalau Sheila itu cantik. Bahkan jujur saja, dia gadis paling cantik di SMA Garuda Indonesia, ngelebihin Sofia. Mana Sheila itu dikenal sama sikap ramah dan kepintarannya. Perfect nggak tuh?
Tapi kalau di kejar selama setahun lebih, eh! Di respon aja kagak—ya mending mundur. Cewek banyak boss!
"Lo lebih cocok jadi playboy, nggak usah jadi sadboy," imbuh Devandra yang tidak sadar, jika saat ini Digo menatap punggung Sheila dengan tatapan kosong dan penuh harap.
"Gue kurang apa ya, Dev?" bisik Digo pelan, namun bisa didengar oleh Devandra.
Di tempatnya Devandra langsung memasang wajah serius setengah berpikir. "Manusia pasti ada kurangnya, Dig. Tapi pasti punya kelebihan." Di tempatnya Digo mengangguk membenarkan tanpa sadar.
"Tapi kalau khusus lo kurang semua. Nggak ada kelebihannya, jadi jangan kaget kalau Sheila ogah sama lo," lanjut Devandra lantas tertawa kencang.
Anjing!
Melihat Digo meliriknya dengan sorot mata berapi-api, Devandra semakin tersenyum lebar dengan wajah puas. Seolah memancing amarah Digo dengan sengaja.
"Gelut lagi, yuk!" ajak Devandra yang pastilah ditanggapi oleh Digo.
Merasa muak dengan tingkah dua gembel di hadapannya, Tristan memilih menyalakan mesin motornya. Mendingan dia pulang.
"Eh! Mau balik?" Tristan mengangguk sebelum memakai helmnya.
Secepat itu juga Kael William mendekat. "Nebeng dong, gue!"
Tristan tidak menjawab dan Kael William menganggap itu sebagai tanpa persetujuan. Setelah keluar dari rumah sakit, ceritanya Kael William nggak dibolehin mama tersayangnya naik motor, dulu. Jadi lah dia kemana-mana nebengnya sama Tristan.
Kayak tadi pagi, bisa-bisanya Kael William minta Tristan jemput di depan rumah. Kayak orang pacaran aja—hebatnya lagi, Tristan mau melakukannya. Padahal ketika Kael William mengemis-ngemis tumpangan di grup chat, tidak ada yang membalasnya.
Detik itu Kael William sadar, kalau cuma Tristan yang setia kawan alias yang lainnya kayak babi.
Sedangkan di depan gerban saat ini…
"Siapa sih, Rora?" tanya Sheila kepada Aurora Grey yang terus berkutat dengan ponselnya. Bukan apa-apa, hanya saja bisa dilihat jika gadis itu terus mendapatkan pesan-pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Nggak tau, nomor togel," ucap Aurora Grey seraya memasukkan ponselnya ke saku.
Biarin aja, deh!
"Diemin aja, nggak usah dibales!" kata Rami yang membuat Aurora Grey mengangguk.
Saat ini ketiganya tengah berdiri di depan gerbang sekolah SMA Garuda Indonesia bersama orang-orang lainnya yang tengah menunggu jemputan.
"Eh! Gojek gue udah dateng, duluan ya! Kalian hati-hati!" ucap Sheila yang membuat Rami dan Aurora Grey melambaikan tangan.
Lantas tak lama jemputan Rami juga datang. Jadilah tinggal Aurora Grey di sana. Gadis itu memang tengah menunggu ayahnya.
Mendadak, Aurora Grey merasakan ponselnya berdering. Menandakan panggilan masuk, dan betapa kesalnya gadis itu mendapati jika yang menelponnya adalah nomor yang tidak dikenal tadi.
Sumpah! Nggak sekali dua kali Aurora Grey di-chat orang nggak jelas. Biasanya sih anak cowok dari kelas lain yang mau PDKT sama dia. Dikira dia ini jomblo apa?
Merasa kesal karena tingkah orang-orang seperti itu, Aurora Grey memberanikan diri mengangkat panggilan itu. Sekali-kali orang kayak gini harus ditegasin.
Tidak ada suara dari seberang sana. Duh! Makin jengkel aja Aurora Grey.
"Halo, ini siapa ya?"
Fix! Ini sih kayak kelakuannya cowok brengsek yang suka banget nelpon-nelpon cewek, nggak jelas. Udah hafal banget Aurora Grey soalnya.
"Halo?" ucap Aurora Grey lagi.
Lagi-lagi Aurora Grey mendengus kesal.
"Jangan chat dan telpon terus ya! Saya udah punya pacar!"
"Masa?" balasan lembut dari seberang sana mendadak membuat rongga dada Aurora Grey tercekik.
Suara itu...
"Jadi nggak boleh kenalan, ya?" pertanyaan itu terdengar sebelum sebuah mobil asing mendadak berhenti di hadapannya.
Tiba-tiba saja Aurora Grey merasakan jantungnya terpacu cepat. Ribuan kemungkinan menari-nari dalam pikirannya.
Bibir kaku milik Aurora Grey perlahan terbuka. "Ha-halo... Sh--Shayen?"
Detik selanjutnya, seseorang keluar dari dalam mobil. Sosok tinggi, dengan wajah tampan itu jelas tidak asing. Tatapan itu juga masih sama lembutnya. Sama sepertinya, di sebelah tangan cowok itu terlihat menggenggam ponsel di sisi wajahnya.
Dia Shayen Morgan, benar-benar Shayen Morgan—pacarnya. Berdiri dengan jarak 3 meter darinya. Sekarang mereka terasa sangat dekat. Aurora Grey merasa waktu berhenti berputar saat itu juga.
Mimpikah, ini?
Di sisi lain, melihat gadis cantik itu tengah menatapnya dengan sorot mata penuh keterkejutan—Shayen Morgan tersenyum tulus. Akhirnya kerinduannya akan terbayar.
"Halo Indonesia, apa kabar?"