Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Pengakuan Sam
Hari-hari berikutnya menjelma menjadi labirin kepusingan tingkat tinggi bagi Samsudin. Di satu sisi, sebagai CEO baru Norman Corp, otaknya diperas habis-habisan oleh Hendra untuk memimpin rapat akuisisi, menandatangani ekspansi proyek triliunan, hingga memantau kondisi Papa Norman di rumah sakit yang kian kritis. Namun di sisi lain, begitu menginjakkan kaki di kontrakan tipe 21, Sam harus berperan penuh totalitas sebagai "suami pengangguran korban PHK" yang penuh semangat.
Tia benar-benar membuktikan ucapannya. Dengan gelora cinta dan empati yang membara, setiap pagi Tia sudah siap dengan tumpukan berkas cetak, koran bekas bagian lowongan kerja, hingga buku catatan bergaris bertuliskan "RANCANGAN USAHA BERSAMA: SAM & TIA".
"Mas Sam! Lihat ini!" seru Tia penuh antusias pada suatu pagi, menyodorkan segelas teh hangat dan selembar kertas kalkulasi. "Kalau kita belum dapat panggilan kerja minggu ini, gimana kalau kita modal nekat bikin usaha kuliner? Kita jualan Cilok Bakar Pedas Manis depan gang! Mas Sam yang meracik bumbu pakai keahlian pawang, aku yang mengurus pembukuan dan kasir! Nanti keuntungan kita bagi 50:50 buat bayar cicilan!"
Sam menelan salivanya yang terasa kelat, menatap coretan modal cilok bakar senilai tiga ratus ribu rupiah di kertas itu. Bayangkan, seorang CEO yang baru saja mengesahkan proyek real estate senilai lima triliun rupiah, kini diajak berinvestasi gerobak cilok bakar di mulut gang!
"E-eh... ide yang sangat brilian, Mbak Tia..." sahut Sam meringis canggung, memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut pening. "Tapi... apa tidak sebaiknya kita fokus cari kerja formal dulu?"
"Tidak boleh menyerah, Mas Sam! Kita ini tim korban PHK yang tangguh!" tegas Tia mengepalkan tangannya ke udara dengan mata berbinar-binar.
Melihat semangat membara Tia yang setiap hari makin melenceng jauh dari kenyataan, ditambah beban rasa bersalah karena terus membohongi wanita yang amat dicintainya, mental Samsudin akhirnya mencapai titik jenuh. Nasihat Hendra tentang "investasi hati" dan keberanian seorang pria sejati mendadak bergema nyaring di dalam dadanya.
Malam harinya, hujan deras mengguyur atap seng kontrakan sempit itu. Suara gemericik air hujan menciptakan suasana yang begitu hening dan intim.
Tia sedang duduk di atas karpet ruang tamu, fokus mencoret-coret lembaran formulir lowongan kerja di bawah remang lampu pijar. Sam yang baru saja selesai memindahkan beberapa berkas kerja rahasianya ke dalam tas, melangkah mendekat. Pria berotot tegap itu mendudukkan tubuh tingginya tepat di hadapan Tia.
"Mbak Tia..." panggil Sam dengan suara berat, dalam, dan begitu serius.
Tia menghentikan goresan pulpennya, mendongak menatap Sam. "Iya, Mas Sam? Ada apa? Perutmu mulas lagi?"
Sam menggelengkan kepala pelan. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Tia tanpa ada sedikit pun rasa ragu atau alibi canggung seperti biasanya. Tatapan tajam sang penakluk buaya itu kini memancarkan ketulusan yang begitu pekat.
Sam meraih kedua telapak tangan Tia, menggenggamnya erat-erat di atas meja lipat.
"Mas Sam...?" cicit Tia kaget, dadanya mendadak berdebar kencang melihat perubahan drastis pada raut wajah suami kreditnya.
"Mbak Tia... dengarkan aku baik-baik," ujar Sam pelan namun sangat tegas. "Soal usaha cilok bakar, soal lamaran kerja, dan soal semua rencana kita... aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku harus jujur sama Mbak Tia."
Napas Tia tertahan di tenggorokan. "Jujur soal apa, Mas Sam?"
"Soal perasaanku," jawab Sam tanpa berkedip. "Aku bertahan di rumah ini, aku menolak mengakhiri pernikahan kita, dan aku berdiri di samping Mbak Tia saat ini... bukan karena kasihan, bukan karena kita sesama korban PHK, dan bukan lagi karena kontrak sewaan lima ratus ribu itu."
Sam meremas lembut jemari Tia, menyalurkan rasa hangat yang membakar dadanya. "Aku bertahan... karena aku sudah jatuh cinta sama Mbak Tia. Aku sayang sama Mbak Tia secara tulus sebagai seorang pria kepada wanitanya."
Deg!
Ruang tamu sempit itu serasa mendadak kehilangan gravitasi. Jantung Tia berdegup begitu brutal menembus dadanya. Wajah cantiknya seketika membara panas hingga ke ujung telinga. Kata-kata polos namun sarat akan keberanian dari Samsudin menghantam relung hatinya bagaikan ledakan kembang api yang indah.
"M-Mas Sam..." bisik Tia terbata-bata, matanya berkedip kaku di balik binar keharuan. "K-kamu... beneran bicara begitu?"
"Aku serius, Mbak Tia. Demi Allah," tegas Sam menatapnya penuh kepasrahan. "Aku tahu aku cuma mantan pawang buaya, tapi aku mau menjadi suami yang sebenarnya buat Mbak Tia. Menjaga Mbak, melindungi Mbak, dan membahagiakan Mbak selamanya."
Tia membatu sejenak. Rasa senang, haru, dan kebahagiaan yang meluap-luap membuncah di dalam dadanya. Selama bertahun-tahun dihakimi sebagai wanita lajang yang tak laku, malam ini di atas karpet kontrakan sempit, seorang pria tegap berhati tulus menyatakan cinta padanya dengan begitu gagah.
Sebuah senyuman paling indah dan paling manis mengukir sempurna di bibir Tia. Air mata bahagianya menetes pelan.
"Mas Sam..." bisik Tia mengusap air matanya, menatap Sam dengan pandangan penuh rasa sayang yang tak bisa disembunyikan lagi. "Kamu tahu tidak? Kamu itu bodoh banget."
"Hah?" Sam mengerutkan dahi, mendadak panik. "A-aku ditolak ya, Mbak?"
Tia terkekeh pelan, menyatukan jemarinya di dalam genggaman Sam. "Bukan ditolak, Pawang... Tapi aku juga mau jujur. Sepertinya... aku juga sudah jatuh cinta sama kamu sejak kamu pasang badan mengusir kecoak dan melunasi rasa sepiku."
Sam membelalakkan matanya lebar-lebar, seolah tak percaya pada pendengarannya sendiri. "B-beneran, Mbak?! Mbak Tia tidak bercanda kan?!"
"Beneran, Samsudin!" sahut Tia tertawa bahagia dengan rona merah di pipinya. "Aku beneran sayang sama kamu!"
"YES!" jerit Sam refleks melompat berdiri, mengepalkan tangannya ke udara bagaikan memenangkan piala dunia.
Melihat reaksi heboh suami tegapnya, Tia tertawa terbahak-bahak. Sam kembali duduk berlutut di depan Tia, menarik wanita itu ke dalam pelukan hangatnya yang kokoh. Tia menyandarkan kepalanya di dada bidang Sam, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdebar sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.
Setelah beberapa saat menikmati momen romantis tersebut, pelukan mereka perlahan terlepas. Baik Sam maupun Tia kini saling menatap dengan raut wajah yang serba salah dan malu-malu kucing. Atmosfer di antara mereka resmi berubah, bukan lagi transaksi majikan dan penyewa, melainkan sepasang suami istri yang saling mencintai.
Sam berdehem canggung, memegang tengkuknya yang panas seraya tersenyum manis. "Mbak Tia..."
"Iya, Mas Sam?" sahut Tia lembut sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Mulai sekarang... Mbak Tia tidak usah pusing-pusing lagi memikirkan utang pinjol, cicilan, atau modal usaha cilok bakar," ujar Sam santai dengan raut wajah penuh percaya diri. "Soal uang dan masa depan kita, Mbak Tia tenang saja. Aku yang bakal menanggung semuanya."
Tia mengerutkan dahi, menatap Sam heran. "Lho? Menanggung bagaimana, Mas Sam? Kita kan sama-sama lagi pengangguran? Kamu mau cari utangan baru?"
Sam tertawa pelan, merasa inilah saatnya yang paling tepat untuk meluruskan kesalahpahaman konyol soal status penganggurannya. Pria tegap itu membusungkan dadanya tegap.
"Aku bukan pengangguran, Mbak Tia," terang Sam dengan nada polos namun mantap. "Sebenarnya... aku ini sudah dapat pekerjaan baru yang sangat menjanjikan."
Mata Tia seketika berbinar-binar penasaran. "Wah! Beneran, Mas Sam?! Pekerjaan apa?! Kamu diterima jadi kepala keamanan kebun binatang?! Atau jadi personal trainer fitnes?!"
Sam menggelengkan kepala santai, mengibaskan tangannya gaya miliarder. "Bukan, Mbak. Aku sekarang kerja jadi Direktur Utama di perusahaan properti Norman Corp."
Hening sejenak di ruang tamu.
Tia menatap wajah Sam tanpa berkedip selama tiga detik. Mata Tia berkedip lambat, memproses kalimat barusan di dalam otaknya.
Detik berikutnya...
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Tawa Tia pecah membahana memenuhi seluruh ruangan! Tia tertawa sampai memegangi perutnya yang kaku dan berguling sedikit di atas karpet.
"Aduh, Mas Sam! Aduh, perutku sakit!" gelak Tia terbahak-bahak dengan air mata geli menetes di sudut matanya. "Kamu ini ya! Baru saja menyatakan cinta secara romantis, sekarang malah melawak! Direktur Utama Norman Corp katanya?! Yang benar saja! Perusahaan triliunan itu?!"
Sam melongo melihat respon istrinya. "Lho? Aku beneran, Mbak Tia! Aku ini CEO-nya! Papa kandungku yang punya perusahaan itu!"
"Iya, iya, Mas CEO! Dan aku ini Ratu Inggris yang lagi menyamar jadi staf admin!" potong Tia makin geli, menepuk-nepuk bahu tegap Sam sambil menyeka air mata tawanya.
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄