Indonesia
NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Hana dan Min-ji langsung menghambur ke kubikel Alesia begitu punggung Dante benar-benar menghilang. Wajah mereka berdua dipenuhi ekspresi heboh bercampur ngeri yang luar biasa.

"Gila, Al! Gila! Pak Dante tadi protektif banget!" pekik Hana setengah berbisik sambil mengguncang-guncang bahu Alesia.

"Kamu lihat tidak tatapan matanya ke Park So-joon tadi? Kayak mau memotong-motong orang di tempat!"

"Iya, Al! Itu bukan cuma tatapan bos ke bawahan, itu jelas-jelas tatapan singa jantan yang sedang menjaga wilayah kekuasaannya dari serigala lain!" timpal Min-ji dengan mata berbinar-binar, jiwa pencinta gosip romantisnya langsung membumbung tinggi.

"Dan apa tadi? Evaluasi jangka panjang di supermarket? Al, fiks... Pak Dante benar-benar naksir kamu!"

Alesia yang sedang memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas dengan kasar langsung mengembus napas pendek yang lesu. Wajahnya merona merah akibat ucapan Min-ji, namun ia berusaha keras menyangkalnya.

"Naksir apanya, Min-ji! Dia itu cuma hobi menjahiliku karena tahu aku tidak bisa berkutik gara-gara masalah utang jas ratusan juta itu! Sudah ah, aku harus buru-buru turun sebelum Pak Singa itu menghitung mundur detiknya dan memotong gajiku!"

Alesia menyampirkan tasnya ke bahu, lalu berlari kecil menuju deretan lift karyawan, mengabaikan sorakan jahil dari Hana dan Min-ji yang mengantarkan keberangkatannya dengan tawa renyah.

Sesuai dengan 'protokol basemen', Alesia menunggu sampai area lift lantai bawah tanah benar-benar sepi sebelum ia menyelinap masuk ke dalam mobil sedan mewah milik Dante yang pintunya sudah dibukakan oleh Rey.

Begitu pintu tertutup rapat dengan suara kedap yang khas, mobil langsung melaju membelah jalanan kota Seoul yang mulai dipadati oleh kendaraan jam pulang kerja.

Di kursi belakang, keheningan canggung kembali melanda. Dante fokus menatap tablet digitalnya dengan kacamata yang masih bertengger di hidungnya, sementara Alesia memilih untuk membuang pandangannya ke luar jendela, memperhatikan deretan toko yang dilewati.

Namun, rasa penasaran di dada Alesia akhirnya tidak bisa ditahan lagi. Ia menoleh sedikit ke arah samping.

"Pak Dante... kalau boleh tahu, kenapa Bapak harus repot-repot mengajak saya ke supermarket? Bukankah di rumah Bapak sudah ada kepala pelayan atau Pak Rey yang bisa membelikan semua kebutuhan dapur?"

Dante tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet, namun sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis yang dingin namun manis.

"Kepala pelayan saya tidak tahu takaran tepung serbaguna yang pas untuk membuat tahu goreng buatanmu, Fiore. Dan Rey... dia hanya tahu cara membelikan kopi instan untuk merawat orang mabuk di apartemen."

Pfft!

Rey yang sedang menyetir di depan langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar sindiran tajam dari bosnya. Wajah Rey mendadak kikuk, teringat kembali pada insiden Min-ji.

Sementara itu, Alesia langsung menahan tawanya sekuat tenaga dengan menggigit bibir bawahnya, merasa sangat terhibur karena ternyata bukan hanya dirinya yang menjadi korban sindiran sarkasme sang CEO.

"Baiklah, Pak... terserah Bapak saja," gumam Alesia pasrah, memilih untuk mengalah daripada harus memicu perdebatan panjang yang melelahkan dengan pria perfeksionis di sebelahnya.

Beberapa belas menit kemudian, mobil mewah itu berhenti di area parkir sebuah hypermarket modern.

Sesuai kesepakatan rahasia mereka, Dante mengenakan sebuah topi bisbol hitam dan masker kain untuk sedikit menyamarkan identitasnya dari publik, meskipun postur tubuhnya yang tegap dan setelan kemejanya yang mahal tetap saja berhasil menarik perhatian beberapa ibu rumah tangga yang sedang berbelanja di sana.

Alesia mendorong kereta belanjaan besi dengan langkah kaki yang sudah sepenuhnya normal. Di sebelahnya, Dante berjalan dengan santai, kedua tangannya tersimpan di dalam saku celana bahan hitamnya.

Momen belanja itu berubah menjadi petualangan komedi baru bagi Alesia. Dante Luca Alessio, sang CEO jenius yang sanggup menganalisis valuasi perusahaan bernilai triliunan won dalam waktu lima menit, ternyata benar-benar buta dan payah dalam urusan belanja bahan makanan mentah di supermarket biasa.

"Fiore, kenapa sayuran hijau ini warnanya berbeda dengan yang ada di kulkas rumah saya? Apakah ini sudah busuk?" tanya Dante dengan nada suara serius, menunjuk seikat sawi hijau organik dengan kening berkerut dalam seolah sedang memeriksa dokumen eror sistem.

Alesia menengok, lalu menghela napas panjang menahan tawa.

"Sajangnim... yang di rumah Bapak itu namanya kale impor. Kalau yang ini sawi hijau lokal. Ini tidak busuk, warnanya memang hijau segar begini. Ini bagus untuk membuat sup."

"Begitu?" Dante manggut-manggut dengan wajah datar tanpa dosa, lalu menjatuhkan seikat sawi itu ke dalam keranjang besi dengan gerakan kaku.

Tak berselang lama, mereka sampai di lorong bumbu dapur dan makanan instan. Mata Alesia berbinar saat melihat deretan rak khusus yang menjual berbagai macam produk makanan instan dari Asia Tenggara, termasuk mi instan goreng andalan dari negara asalnya, Indonesia.

Tanpa berpikir panjang, Alesia langsung mengambil lima bungkus mi instan tersebut dengan wajah riang.

Namun, gerakan tangannya mendadak tertahan saat sebuah tangan besar dengan jemari panjang yang kokoh merebut bungkus-bungkus mi instan itu dari tangannya. Dante menatap produk tersebut dengan pandangan skeptis dari balik maskernya.

"Saya sudah bilang, makanan instan seperti ini tidak sehat untuk tubuhmu yang kurus itu, Fiore," ucap Dante tegas, bersiap mengembalikan lima bungkus mi instan tersebut ke atas rak pajangan.

Alesia langsung memprotes, menolak melepaskan belanjaannya. Ia memegang ujung bungkus mi instan itu, menariknya kembali dengan wajah memelas yang dibuat-buat namun menggemaskan.

"Pak Dante! Ini bukan cuma mi instan biasa, ini adalah asupan kebahagiaan terbesar bagi anak rantau seperti saya! Tolonglah, Pak... seminggu sekali saya butuh makan ini agar waras menghadapi tugas eksklusif dari Bapak di kantor!"

Dante menghentikan gerakannya. Ia menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata bulat Alesia yang kini sedang menatapnya dengan binar memohon yang sangat intens dari jarak dekat.

Kerumunan ibu-ibu di lorong sebelah sempat melirik mereka, mengira sepasang muda-mudi itu adalah sepasang suami istri baru yang sedang meributkan urusan belanja bulanan rumah tangga.

Melihat ekspresi wajah Alesia yang begitu keras kepala namun tampak sangat imut saat mempertahankan makanan kesukaannya, pertahanan dingin di dada Dante lagi-lagi mencair tanpa syarat. Ia mengembuskan napas pendek penuh kekalahan.

"Dua bungkus saja. Tidak boleh lebih," putus Dante tegas, melepaskan cengkeramannya.

"Tiga bungkus, Pak! Tolong, angka ganjil itu membawa keberuntungan!" tawar Alesia cepat, menaikkan tiga jarinya ke udara dengan cengiran lebar yang tulus.

Dante hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, tidak habis pikir dengan logika ajaib karyawan adminnya ini.

"Terserah kamu, Fiore. Masukkan ke dalam keranjang sebelum saya berubah pikiran dan membeli seluruh isi rak ini untuk saya buang ke tempat sampah."

"Siap, Sajangnim yang baik hati!" seru Alesia riang, dengan cepat memasukkan tiga bungkus mi instan itu ke dalam keranjang besi dengan senyuman kemenangan yang merekah indah di wajah manisnya.

Di balik masker hitamnya, Dante ikut menyunggingkan sebuah senyuman lebar yang teramat hangat. Tindakan protektifnya sore ini mulai dari menghadang Park So-joon di kantor hingga berdebat konyol tentang jumlah mi instan di supermarket membuat Dante menyadari satu hal yang mutlak: waktu tiga bulan yang diberikan oleh ayahnya untuk mempersiapkan sandiwara bersama Bianca Victoria tampaknya akan menjadi masa-masa yang paling sulit ia jalani.

Karena di dalam hatinya yang paling dalam, ruang kosong itu kini telah sepenuhnya dikuasai oleh eksistensi seorang gadis ceroboh bernama Alesia Fiore, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun baik itu Park So-joon ataupun rencana bisnis keluarganya merebut kebahagiaan kecil yang baru saja ia temukan di bawah lampu-lampu neon supermarket malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!