Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Tanpa Cinta
Berita pernikahan mendadak CEO muda Wirawan Group dengan seorang dokter "tak dikenal" menghebohkan linimasa media sosial dan portal berita bisnis dalam semalam. Judul-judul artikel berlomba mencari sudut pandang paling sensasional "Siapa Wanita Misterius di Balik CEO Dingin Wirawan Group?", "Pernikahan Kilat yang Mengejutkan Publik" lengkap dengan foto pernikahan sederhana mereka yang entah bagaimana bocor ke media, hanya dihadiri segelintir keluarga inti dan beberapa saksi resmi.
Alya sendiri hampir tidak percaya betapa cepatnya semua ini berlangsung. Hanya tiga hari sejak penandatanganan kontrak di Wirawan Tower, dan sekarang dia berdiri mengenakan gaun putih sederhana di sebuah ruangan kecil di kediaman keluarga Wirawan, mengucapkan janji pernikahan kepada seorang pria yang baru dia kenal kurang dari seminggu.
Tidak ada kembang api emosi, tidak ada air mata bahagia seperti pernikahan pada umumnya. Hanya formalitas tanda tangan di hadapan penghulu, pertukaran cincin yang terasa dingin di jarinya, dan senyum tipis yang dipaksakan untuk kamera keluarga.
Setelahnya, mobil membawa mereka ke rumah besar milik Raka sebuah kediaman modern minimalis di kawasan elite kota, jauh lebih megah dari apa pun yang pernah Alya bayangkan akan dia tinggali seumur hidupnya.
"Kamarmu di sini," kata Raka, menunjuk sebuah pintu kayu besar di ujung lorong lantai dua, suaranya datar seperti biasa, tanpa nada canggung sedikit pun meskipun mereka baru saja resmi menjadi suami istri di atas kertas. "Kamarku di sisi lain, di ujung sana. Kita hanya perlu tampil bersama di acara-acara tertentu pertemuan keluarga, acara perusahaan, mungkin sesekali makan malam formal jika ada tamu penting. Di luar itu, hidup kita berjalan masing-masing, tidak saling mengganggu."
"Sesimpel itu?" Alya mengangkat alis, setengah tidak percaya betapa transaksionalnya semua ini terdengar, meskipun memang begitulah kesepakatan yang sudah dia tanda tangani sendiri.
"Sesimpel itu," jawab Raka singkat, lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa penjelasan lebih lanjut, meninggalkan Alya sendirian berdiri di tengah lorong rumah asing dengan status baru yang masih terasa aneh untuk dia sebut: istri kontrak seorang CEO.
Alya menghela napas panjang, membawa satu-satunya koper miliknya masuk ke kamar yang ditunjukkan. Kamar itu jauh lebih besar dari apartemen mungilnya dulu tempat tidur king size, jendela besar menghadap taman belakang, kamar mandi pribadi dengan perlengkapan mewah yang bahkan belum pernah dia sentuh sebelumnya. Tapi kemewahan itu terasa hampa, seperti dia sedang menginap di hotel bintang lima, bukan tinggal di rumah sendiri.
Malam itu, meskipun tubuhnya lelah luar biasa setelah hari yang begitu panjang dan melelahkan secara emosional, Alya tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya berputar soal Bimo dan Vania, soal karier yang hancur, soal keputusan gila yang baru saja dia ambil dengan menandatangani kontrak pernikahan bersama pria asing yang bahkan tidak dia kenal kepribadiannya sama sekali.
Dia berbaring menatap langit-langit kamar dalam gelap, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini semua keputusan yang tepat bahwa uang kompensasi itu akan memberinya kebebasan untuk membangun ulang hidupnya, bahwa satu tahun bukan waktu yang terlalu lama untuk ditahan.
Sekitar pukul satu dini hari, dia mendengarnya suara langkah kaki tergesa-gesa di lantai bawah, disusul suara-suara panik yang bercampur aduk, terdengar samar namun jelas cukup mengganggu keheningan malam.
Alya bangkit, mengenakan cardigan tipis di atas piyama tidurnya, dan berjalan turun mengikuti sumber suara. Di depan sebuah kamar di lantai bawah, dia mendapati beberapa staf rumah tangga berkerumun dengan wajah panik, salah satu dari mereka sedang menelepon seseorang dengan suara bergetar.
"Beliau demam tinggi sejak tadi malam, dan barusan tiba-tiba kejang!" seru salah satu asisten wanita paruh baya, suaranya nyaris menangis. "Dokter keluarga sedang dalam perjalanan, tapi jalanan macet parah karena hujan deras dari sore tadi entah berapa lama lagi beliau sampai!"
Insting medis yang sudah tertanam bertahun-tahun dalam diri Alya langsung menyala, mengalahkan rasa canggung dan statusnya sebagai "orang baru" di rumah ini. Tanpa berpikir dua kali, dia melangkah cepat mendekati kerumunan itu.
"Saya dokter," katanya tegas, suaranya jauh lebih mantap dibanding beberapa jam sebelumnya saat mengucapkan janji pernikahan tanpa perasaan di ruangan formal tadi siang. "Biar saya periksa kondisinya sekarang, sebelum terlambat."
Para staf saling berpandangan sejenak, ragu bagaimana pun, dia baru saja menjadi bagian dari keluarga ini beberapa jam lalu, dan mereka bahkan belum tahu bahwa "istri baru Tuan Raka" ternyata seorang dokter. Tapi keraguan itu segera pudar melihat ketegasan dan ketenangan yang terpancar dari sikap Alya — sesuatu yang jauh berbeda dari kegugupan dan kecanggungan yang dia tunjukkan sepanjang hari.
"Tolong bawa saya ke kamarnya sekarang," ucap Alya lagi, lebih tegas kali ini, dan salah satu asisten segera membuka pintu lebar-lebar, mempersilakannya masuk.