Indonesia
NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

‎Mobil sedan itu berhenti di gerbang kawasan proyek yang masih dalam tahap pembangunan. Debu halus beterbangan di udara, disambut oleh deru mesin derek dan suara aktivitas pekerja yang terdengar sibuk namun tertib.

‎‎Reynand turun lebih dulu. Ia kini mengenakan kemeja lapangan berwarna krem yang dipadukan dengan rompi keselamatan berwarna cerah. Anindya segera menyusul, mengenakan helm pengaman berwarna putih yang tampak sedikit kebesaran di kepalanya.

‎‎"Pak, ini adalah denah revisi untuk Blok C," ucap Anindya seraya menyodorkan map berisi dokumen itu.

‎‎Reynand menerima berkas tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari arah lokasi konstruksi di depannya. Tatapannya terfokus dan serius.

‎"Kita mulai dari bagian pondasi. Minggu lalu terindikasi adanya retak yang perlu ditinjau langsung."

‎‎Mereka melangkah berdampingan di atas permukaan tanah yang belum sepenuhnya rata dan dipadatkan.

‎‎Tiba-tiba, seorang pekerja mendorong troli berisi semen melintas cukup cepat dari arah samping. Tanpa berpikir panjang, Reynand dengan gerakan refleks menarik lengan Anindya ke belakang tubuhnya agar terhindar.

‎‎"Hati-hati," ucapnya singkat.

‎‎Dada Anindya menyentuh lengan Reynand secara pelan. Jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak sebelum kembali berpacu kencang.

‎‎"Permukaan tanah tidak rata. Perhatikan jalan di bawah kakimu," kata Reynand dengan nada datar dan kembali profesional, lalu segera melepaskan genggamannya.

‎‎Anindya mengangguk dengan cepat. "B-baik, Pak."

‎‎Sepanjang jalannya inspeksi, hal serupa terus berulang berkali-kali.

‎‎"Tangga itu licin. Pegangan pada pagar pembatas."

‎‎"Jangan berdiri terlalu dekat dengan tepi galian."

‎‎"Gunakan masker. Debu cukup tebal di sini."

‎‎Segala peringatan dan arahan itu terdengar singkat, tegas, dan sangat profesional. Namun di balik setiap kalimat perhatiannya itu, Anindya justru semakin diliputi keraguan yang membingungkan.

‎‎Apakah perlakuan seperti ini adalah standar kebiasaannya terhadap semua sekretaris yang pernah bekerja bersamanya... atau perhatian ini hanya ditujukan kepadanya saja?

‎‎Pukul dua belas siang, mereka berada di tenda istirahat sementara yang didirikan di area proyek.

‎‎Angin kencang tiba-tiba berhembus, menerbangkan lembaran-lembaran kertas dokumen presentasi yang tergeletak di meja. Anindya segera berdiri dan bergegas hendak mengejarnya.

‎‎Namun Reynand ternyata lebih cepat tanggap. Ia berhasil menangkap tiga lembar kertas sebelum jatuh ke tanah yang berlumpur.

‎‎Saat mereka hendak membungkuk hampir bersamaan untuk mengambil lembar terakhir yang tersisa, kening mereka bersentuhan secara pelan dan tidak sengaja.

‎‎Dunia seakan kembali berhenti berputar pada detik itu.

‎‎Reynand segera mundur selangkah, mengusap keningnya dengan gerakan cepat seakan ingin menghapus jejak sentuhan itu.

‎‎"Maaf," ucapnya singkat.

‎‎Anindya menunduk dalam, menahan rasa malu yang meluap.

‎‎"Saya... saya yang seharusnya meminta maaf, Pak."

‎‎Reynand menyerahkan kertas-kertas itu kepadanya dengan tangan yang tetap tenang, meskipun tidak menatap matanya.

‎‎"Lanjutkan pekerjaannya."

I‎‎a berbalik dan kembali duduk, mengambil air mineral di dalam botol, membuka tutupnya dan meneguk isinya untuk menetralisir rasa gugupnya.

‎‎-

‎-

‎-

‎Langit yang tadinya cerah mendadak berubah gelap pekat. Tak lama setelah mereka masuk ke dalam mobil, rintik hujan turun dan seketika berubah menjadi deras yang membasahi jalanan.

‎‎Arus lalu lintas menuju hotel terhenti total. Wiper kaca depan bergerak cepat ke sana kemari, berusaha mengusap air hujan yang terus membanjiri permukaan kaca. Satu-satunya suara yang terdengar di dalam kabin hanyalah bunyi deburan hujan di atap mobil dan alunan musik instrumental yang diputar pelan dari sistem audio kendaraan.

‎‎Reynand menyetir sendiri. Jas kerjanya telah dilepas dan diletakkan di kursi belakang, sementara dasi di lehernya dilonggarkan sedikit. Tatapannya terlihat fokus menatap jalanan di depan.

‎‎Anindya duduk di kursi penumpang sebelah kiri, memeluk map biru itu erat di dadanya. Ujung rambutnya sedikit basah karena tadi sempat berlari dari tenda istirahat menuju mobil di tengah guyuran hujan yang baru saja turun.

‎‎Suasana hening. Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit pun berlalu.

‎‎Akhirnya Anindya memberanikan diri untuk memecah keheningan. Suaranya terdengar pelan, hampir tertutup oleh suara hujan yang menghantam atap mobil.

‎‎"Ehm... Pak. Terima kasih... untuk hari ini."

‎‎Reynand melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali menatap jalanan yang padat di depan.

‎‎"Terima kasih untuk apa?"

‎‎"Untuk... selalu mengingatkan saya sepanjang inspeksi tadi. Soal tangga yang licin, soal debu di area konstruksi..." Anindya meremas ujung map yang ia peluk, jemarinya sedikit gemetar. "Saya jadi merasa... dijaga."

‎‎Tangan Reynand yang memegang setir mengepal pelan sejenak.

‎‎"Itu adalah tanggung jawab saya. Menjaga keselamatan seluruh anggota tim yang sedang bertugas di lapangan," jawabnya dengan nada yang terdengar datar dan profesional.

‎‎"Baiklah. Iya, Pak." Anindya segera menunduk, menyembunyikan sedikit kekecewaan yang melintas di wajahnya. Usahanya untuk menyampaikan rasa terima kasih yang lebih tulus seakan belum berhasil.

‎‎Keheningan kembali menyelimuti kabin mobil, kali ini terasa lebih canggung dari sebelumnya.

‎‎Tiba-tiba hujan turun semakin deras, disertai petir yang menyambar di kejauhan. Anindya secara refleks memejamkan mata rapat dan sedikit menarik tubuhnya mendekat ke pintu mobil.

‎‎Reynand memperlambat laju kendaraannya, lalu melirik sekilas dari ujung matanya. Ia melihat bahu wanita itu yang sedikit terguncang, seakan menggigil karena dingin maupun ketakutan.

‎‎Dua detik berlalu. Ia tampak ragu sejenak.

‎‎Namun kemudian, dengan gerakan yang terlihat sedikit kaku dan terburu, ia meraih jaket tebal miliknya yang tergeletak di kursi belakang, lalu menyampirkannya ke pangkuan Anindya.

‎‎"Pakai saja. Suhu penyejuk udara di dalam mobil cukup rendah," ucapnya singkat, tanpa menatap langsung ke arahnya.

‎‎"A-ah... terima kasih, Pak," bisik Anindya pelan. Ia memeluk jaket itu erat di dadanya. Aroma parfum Reynand yang samar namun khas langsung menguar, memenuhi indra penciumannya dan memberikan rasa hangat yang menenangkan.

‎‎Reynand tidak menjawab. Ia kembali menatap lurus ke depan, memandang jalanan yang masih padat dan basah.

‎‎Setelah perjalanan yang menempuh waktu lebih dari satu jam, mobil akhirnya memasuki area parkir hotel. Hujan belum menunjukkan tanda akan reda, justru sebaliknya, curah airnya semakin deras menghantam permukaan tanah.

‎‎Reynand mematikan mesin kendaraan. Ia turun lebih dulu, lalu segera mengambil sebuah payung besar dari kompartemen bagasi.

‎‎"Turunlah. Berlari menuju lobi agar tidak terlalu basah," perintahnya singkat namun terdengar jelas.

‎‎Anindya mengangguk patuh, tangannya masih memeluk erat jaket milik Reynand. Mereka berlari kecil bersama di bawah payung yang sama. Angin bertiup cukup kencang, sehingga bahu mereka sempat bersentuhan beberapa kali sepanjang perjalanan menuju pintu masuk.

‎‎Sesampainya di dalam kamar, keduanya tampak sama-sama terkena percikan air. Bagian bawah celana panjang Reynand terlihat basah terkena cipratan, sementara ujung rambut Anindya masih meneteskan air perlahan ke lantai.

‎‎"Segera ganti pakaian. Jangan sampai jatuh sakit karena masuk angin," ucap Reynand dengan nada datar, lalu langsung melangkah masuk ke kamar mandi.

‎‎Anindya hanya mampu mengangguk dalam diam. Ia berdiri terpaku di tengah ruang tamu, keheningan di ruangan luas itu terasa begitu menyelimuti.

‎‎ Jedarrr...!

‎‎Petir menyambar di kejauhan, membuat lampu penerangan kamar sempat berkedip sejenak.

‎‎"Aaah!" Anindya menjerit pelan secara refleks, tubuhnya langsung gemetar. Sejak kecil, ia memang memiliki ketakutan yang mendalam terhadap suara petir yang menggelegar.

‎‎Pintu kamar mandi terbuka seketika. Reynand keluar mengenakan kaos polos dan celana santai, rambutnya masih tampak lembap dan meneteskan air.

‎‎"Apa yang terjadi?" tanyanya segera.

‎‎Belum sempat Anindya memberikan jawaban, terdengar suara petir kedua yang menyambar jauh lebih dekat.

‎‎Jedarrr...!!

‎‎Lampu kamar sempat padam sesaat sebelum kembali menyala terang.

‎‎Kesadaran Anindya seakan teralih sepenuhnya oleh rasa takut. Kakinya melangkah sendiri tanpa diperintah. Dalam hitungan detik, ia sudah berdiri tepat di hadapan Reynand dan memeluknya erat-erat.

‎‎Wajahnya menempel pada dada bidang pria itu. Kedua tangannya mencengkeram kain kaos di punggung Reynand dengan erat.

‎‎"P-Pak... saya takut..." suaranya terdengar bergetar hebat.

‎‎Reynand seketika membeku di tempat. Seluruh tubuhnya menegang kaku. Kedua tangannya terangkat dan menggantung di udara, seakan bingung harus diletakkan di mana.

‎‎Hujan di luar masih menghantam permukaan jendela dengan gemuruh yang tak kunjung reda. Petir kembali menyambar di kejauhan, namun kali ini Anindya tidak melepaskan pelukannya. Sebaliknya, ia justru mempererat rangkulan di pinggang pria itu.

‎‎Reynand memejamkan matanya rapat. Ia dapat merasakan napas Anindya yang masih belum beraturan, serta kehangatan tubuh wanita itu yang merambat menembus kain kaos tipis yang dikenakannya.

‎‎"Lepaskan. Ini tidak benar," batinnya berteriak.

‎‎Namun tubuhnya seakan enggan menurut. Ia berdiri terpaku di tempatnya, tidak bergerak menjauh sedikit pun.

‎‎Perlahan, dengan gerakan yang begitu halus dan nyaris tak terlihat, salah satu tangannya terangkat turun. Telapak tangannya yang besar akhirnya mendarat di punggung Anindya. Bukan untuk mendorongnya menjauh, melainkan untuk menepuk-nepuk pelan dengan usapan yang menenangkan.

‎‎"Sudahlah... tidak apa-apa," bisik Reynand. Suaranya terdengar serak, lebih rendah dan berat dari nada bicaranya yang biasa.

‎‎Anindya mendongak karena mendengar suara itu. Pandangan mata mereka pun bertemu.

‎‎Jarak di antara mereka kini terasa begitu dekat. Terlalu dekat untuk sekedar hubungan atasan dan bawahan.

‎‎Wajah Reynand terlihat jelas di hadapannya. Rahangnya mengeras menahan diri. Napas hangat pria itu menyapu lembut dahi Anindya. Dan sepasang mata itu... mata yang biasanya tampak dingin dan jauh, kini terlihat gelap, pekat, dan sulit dibaca maknanya.

‎‎Tanpa disadari, kepala Reynand perlahan menunduk mendekat.

‎‎Jantung Anindya seakan berhenti berdetak sejenak. Bibirnya sedikit terbuka, terperangkap antara rasa kaget dan kebingungan yang bercampur menjadi satu.

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!