Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lakukan Saja, Pengecut!
Klik.
Suara kunci otomatis pintu utama paviliun berbunyi pendek.
Sudah satu bulan penuh Aira Dhea Ananta menyandang status sebagai istri sah dari Evan Aryasatya Wirasena. Satu bulan pula Dia terpaksa berbagi atap di paviliun sayap timur yang super mewah ini.
Tapi, jangankan malam pertama yang hangat, kehidupan mereka justru lebih mirip dua musuh bebuyutan yang terpaksa dikurung dalam satu kandang emas.
"Sampai kapan kau mau membuat malu saya dengan kelakuanmu yang makin tidak tahu diri itu, hah?!" Suara Evan meledak. Menggelegar.
Pria itu rupanya sudah menahan amarah sejak melihat Aira turun dari mobil jemputan sore pagi. Sekarang, begitu pintu paviliun terkunci, topeng CEO dinginnya langsung lepas tak tersisa.
Aira menghentikan gerakannya. Dia menoleh perlahan dengan raut wajah yang jengkel. "Bikin malu apa lagi sih? Nggak usah hobi cari gara-gara bisa nggak?" tanya Aira malas.
"Tidak usah berlagak bodoh!" bentak Evan.
Langkah kakinya maju dengan cepat, memangkas jarak di antara mereka sampai tinggal beberapa senti saja.
Matanya tajam, menatap Aira dengan kilatan kejengkelan yang amat sangat. Bagi Evan, gadis di hadapannya ini tak lebih dari benalu pengganggu yang merusak tatanan hidupnya yang sempurna.
"Saya mendapat laporan dari sopir keluarga! Kau sengaja kan, memakai mobil Alphard jemputan dari Kakek untuk mengangkut ban bekas dan suku cadang mesin dari loak?!" desis Evan tepat di depan wajah Aira.
"Sadar posisimu, Aira! Kau ada di rumah ini karena kontrak, bukan karena saya cinta! Tapi kelakuanmu di luar sana benar-benar membuat nama baik saya tercoreng!"
Aira mendengus, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Evan tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Terus kenapa kalau gue angkut ban? Emangnya mobilnya langsung meledak? Lagian Kakek aja nggak masalah, kenapa lo yang sibuk kebakaran jenggot. Tuan Robot?!"
Selama satu bulan ini, keseharian Aira memang tidak berubah. Dia menolak mentah-mentah untuk menjadi nyonya yang hanya berdiam diri di rumah mewah.
Baginya, identitasnya adalah seorang montir, bukan pajangan di istana emas Wirasena.
Pada minggu pertama pernikahan, Kakek Baskara memang sempat melarangnya, meminta Aira untuk berhenti bekerja di tempat yang kotor dan panas.
Tapi, Aira yang berwatak sekeras baja tetap kekeh pada pendiriannya. Dia mengedepankan argumen bahwa bengkel itu adalah hidupnya, tempat di mana dia merasa berguna sebagai manusia.
Melihat ketulusan dan sifat keras kepala cucunya itu, Kakek Baskara akhirnya luluh dan memberikan izin.
Sayangnya, izin dari kakek justru menjadi duri di mata Evan. Bagi pria itu, setiap kali Aira pulang dengan bau oli, harga dirinya sebagai suami seolah sedang diinjak-injak.
"Jangan bawa-bawa nama Kakek untuk tamengmu!" geram Evan.
Pria itu berbalik dengan frustrasi, lalu dengan gerakan kilat, tangannya meraih sebuah gelas kristal mahal di atas meja konsol.
Pranggg!
Gelas itu melayang dan hancur berkeping-keping setelah dihantamkan ke lantai marmer tepat di samping kaki Aira. Pecahannya berhamburan, menciptakan suara pekak yang mencekam.
Aira sempat tersentak kaget karena serangan mendadak itu. Jantungnya berdegup kencang sesaat.
Tapi, rasa takutnya langsung menguap, digantikan oleh amarah yang ikut menyala.
"Lo gila, ya?!" teriak Aira murka.
"Saya bisa lebih gila dari ini kalau kau tidak tahu diri!" desis Evan.
Grep.
Tanpa aba-aba, tangan kekar Evan mencengkeram kedua lengan atas Aira dengan kasar.
Dengan satu hentakan kuat, dia mendorong tubuh Aira mundur ke belakang hingga punggung gadis itu membentur dinding dengan keras.
Jeduk!
Rasa nyeri sempat menjalar singkat di sepanjang tulang belikat Aira. Sebelum dia sempat meronta, tubuh tinggi Evan sudah bergerak maju mengurungnya.
Kedua tangan pria itu terkunci di dinding, tepat di sisi kiri dan kanan kepala Aira, menjebak gadis itu dalam ruang sempit yang sangat mengintimidasi.
Aroma parfum mahal yang maskulin bercampur dengan hawa panas dari napas Evan yang memburu akibat emosi. Jarak mereka begitu dekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Dengar ya, gadis montir," suara Evan merendah, namun getarannya terasa sangat berbahaya.
"Kau itu cuma sampah beruntung yang kebetulan dipungut Kakek dari jalanan. Kau itu cuma benalu di hidup saya! Jadi jangan pernah berlagak sok berkuasa di rumah ini cuma karena kau mendapat simpati dari Kakek!"
Kata-kata itu tajam, kejam, dan memang sengaja dirancang untuk menghancurkan harga diri Aira sampai habis tak bersisa.
Namun, alih-alih menangis terhina seperti cewek lemah, Aira justru menatap Evan dengan pandangan penuh rasa jijik.
"Gue benalu?"
Aira tertawa getir. Detik berikutnya, kedua tangan Aira yang awalnya terkunci di dada langsung bergerak.
Dengan seluruh tenaga yang dia miliki, dia mendorong dada bidang Evan. Otot-otot perutnya menegang, dan kedua kakinya mencari pijakan yang kokoh di atas lantai marmer.
"Jauh-jauh dari gue, bajingan!" teriak Aira.
Evan yang tidak siap dengan perlawanan sekuat itu terdorong mundur dua langkah hingga cengkeramannya terlepas.
"Gue nggak pernah minta sepeser pun uang dari keluarga lo buat tetap bisa napas! Gue punya pekerjaan sendiri! Gue punya keahlian! Gue punya kehidupan yang nyata!" seru Aira dengan dada yang naik turun karena emosi.
"Sedangkan lo? Lo itu kasihan! Lo cuma punya gedung pencakar langit yang kosong, karena hati lo udah membusuk jadi batu!"
Kemarahan Evan langsung mencapai puncaknya. Wajahnya memerah padam karena murka yang tak tertahankan.
Dia kembali menerjang maju, mencengkeram kedua bahu Aira jauh lebih menyakitkan daripada yang pertama.
"Jangan kurang ajar, Aira!" geram Evan di depan wajahnya. Suaranya terdengar berat dan bergetar karena menahan diri.
"Saya bisa menghancurkan bengkel kecilmu itu hanya dengan satu telepon malam ini! Saya bisa membuatmu didepak dan tidak akan pernah bisa bekerja di mana pun di kota ini!"
Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk mata Aira. Bukan karena dia takut akan ancaman itu, melainkan karena dia sangat membenci keangkuhannya.
Dia meronta keras. Kuku-kukunya mencengkeram kemeja mahal yang dikenakan Evan hingga kusut berantakan.
"Lakukan saja! Hancurin kalau lo memang berani, pengecut!" tantang Aira dengan suara melengking.
"Hancurin semua yang gue punya! Tapi ingat satu hal ini baik-baik, Evan! Kalau lo melakukan itu, lo bukan lagi seorang CEO hebat yang ditakuti semua orang di dunia bisnis!"
Aira menjeda napasnya yang memburu, matanya menatap tajam langsung ke mata Evan yang berkilat murka.
"Lo cuma cowok lemah yang ketakutan bakal kehilangan harta warisan dari kakek kalau sampai pernikahan ini gagal di tengah jalan! Makanya lo ngelampiasin semua rasa takut lo dengan cara marah-marah ke gue kayak anak manja yang gak pernah dewasa!"
Deg.
Evan mendadak membeku. Kata-kata Aira seperti sebuah belati yang menghujam tepat di titik terlemahnya.
Ketakutan terbesar dalam hidup Evan selama satu bulan ini akhirnya disuarakan dengan begitu lantang oleh gadis ini. Bahwa posisinya, statusnya, dan semua kemewahan yang dia miliki sekarang, sepenuhnya bergantung pada selembar kertas persetujuan dari sang kakek.
Jika dia gagal mempertahankan pernikahan ini, maka tamatlah riwayatnya di perusahaan Wirasena Group.
Perlahan, cengkeraman tangan Evan di bahu Aira mulai mengendur. Pria itu menatap Aira dengan tatapan yang sangat kompleks. Ada rasa benci, ada rasa frustrasi yang mendalam, dan ada sedikit kilatan rasa tidak percaya karena gadis ini sama sekali tidak bisa ditundukkan.
"Kau..." desis Evan, suaranya terdengar parau. "Kau benar-benar wanita paling keras kepala yang pernah saya temui."
"Dan lo cowok paling menyedihkan yang pernah gue kenal," balas Aira cepat.
Memanfaatkan momentum saat cengkeraman Evan melonggar, Aira kembali mendorong dada pria itu dengan sisa tenaganya hingga usahanya berhasil sepenuhnya.
Evan terhuyung mundur ke belakang. Dadanya naik turun dengan napas yang memburu tidak beraturan.
Aira segera merapikan kemejanya yang sempat kusut akibat pergulatan tadi. Napasnya masih terasa sesak karena emosi yang meluap-luap di dalam dadanya.
Dia melemparkan pandangan paling dingin ke arah pria yang berdiri di depannya itu. Sebuah senyuman sinis yang penuh kemenangan tersungging di sudut bibirnya.
"Mulai besok, lo nggak usah repot-repot nyuruh sopir buat jemput gue lagi. Gue bisa naik angkot atau ojek," ucap Aira dengan nada yang sengaja dibuat sesantai mungkin untuk memancing emosi pria itu lebih dalam.
"Gue akan tetap menjalani hidup gue sebagai Aira si anak bengkel. Dan lo? Silakan nikmati hidup lo sebagai Tuan Robot yang kesepian di dalam istana emas lo yang megah ini."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Evan untuk membalas kalimatnya, Aira langsung berbalik. Dia melangkah dengan cepat meninggalkan ruang tengah paviliun menuju kamarnya sendiri.
Brakk!
Pintu kamar itu dibanting dengan sangat keras, lalu disusul suara anak kunci yang diputar dua kali dari dalam ruangan bunyi klik yang tegas.
Di ruang tengah, Evan masih berdiri terpaku di tempatnya di antara pecahan gelas kristal yang berserakan. Kedua tangannya terkepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya menatap tajam ke arah koridor menuju kamar yang baru saja tertutup rapat itu. Napasnya masih memburu, mencoba meredakan gejolak amarah dan ego yang baru saja dihancurkan berkeping-keping oleh gadis montir yang sangat dia benci.
Perang dingin di antara mereka berdua setelah satu bulan pernikahan ini secara resmi baru saja naik ke level yang lebih ekstrem. Dan untuk pertama kalinya, Evan sadar bahwa menyingkirkan Aira tidak akan pernah semudah membalikkan telapak tangan.