Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Nenek Veronica menatap Ivy lembut.
"Kalau begitu, lakukanlah," ujar Veronika akhirnya. "Namun, berjanjilah kepada granma bahwa kau akan tetap menjaga dirimu sendiri. Jangan sampai kau mengorbankan kesehatanmu hanya karena ingin menjadi kuat." Nasehat nenek Veronika.
Dia tau latihan yang akan di jalani oleh Ivy nantinya akan berat, apalagi jika orang yang akan melatih gadis itu adalah suami sendiri.
Ivy mengangguk.
"Aku berjanji, Nek." Ucap Ivy sambil menggenggam tangan nenek Veronica lembut.
Sementara itu, di kediaman Falcon. Suasana pagi berlangsung seperti biasanya.
Kakek James duduk di ruang kerjanya sambil membaca beberapa dokumen, tapi pikirannya sesekali kembali kepada Ivy.
Ia telah berjanji untuk melatih gadis itu, dan ia tidak berniat mengingkari janjinya.
Akan tetapi, kakek James juga memahami bahwa melatih seseorang yang sama sekali belum memiliki pengalaman bela diri membutuhkan kesabaran.
Terlebih lagi, Ivy sedang berada dalam kondisi emosional yang belum sepenuhnya pulih.
Keinginannya untuk menjadi kuat patut dihargai, tetapi kakek James tidak ingin gadis itu menjadikan latihan sebagai cara untuk menghukum dirinya sendiri.
"Sepertinya aku harus memulainya dari dasar," gumamnya.
Ia menutup dokumen yang sedang dibacanya, kemudian mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Siapkan tempat latihan untukku," perintahnya setelah panggilan tersambung. "Aku akan mulai melatih seseorang dalam waktu dekat."
"Baik, Tuan James. Apakah ada persiapan khusus yang perlu kami lakukan?"
"Siapkan area latihan fisik dan bela diri. Untuk latihan senjata, pastikan semuanya dilakukan di tempat yang aman dengan pengawasan instruktur yang kompeten."
"Baik, Tuan."
Setelah mengakhiri panggilan, kakek James menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Ivy, semoga kau benar-benar siap menghadapi apa yang akan datang."
Ia tidak tahu seberapa jauh gadis itu akan berkembang.
Namun, jika Ivy memiliki tekad yang kuat dan bersedia belajar dengan sungguh-sungguh, James yakin ia bisa membantunya membangun kemampuan yang dibutuhkan.
Tentu saja, perubahan itu tidak akan terjadi dalam semalam.
Ivy harus melewati proses panjang sebelum mampu berdiri tegak menghadapi orang-orang yang berniat menyakitinya.
Dan kakek James akan memastikan gadis itu memahami satu hal sejak awal.
Kekuatan sejati bukan hanya tentang kemampuan untuk menyerang, melainkan juga tentang mengetahui kapan harus bertahan, kapan harus menghindar, dan kapan harus meminta bantuan.
Sore harinya, Ivy kembali ke rumah bersama Kakek James dan Nenek Veronika setelah menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit.
Sebenarnya, ia masih ingin tinggal di sana, tetapi dokter meyakinkannya bahwa Edgar membutuhkan waktu untuk beristirahat dan bahwa ia dapat kembali menjenguknya keesokan hari.
Dengan berat hati, Ivy akhirnya menyetujui permintaan tersebut.
Begitu tiba di rumah, ia langsung membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Setelah itu, ia berdiri di depan cermin kamar.
Untuk waktu yang cukup lama, Ivy hanya menatap pantulan dirinya sendiri.
Wajahnya masih tampak pucat, matanya sedikit sembap, dan tubuhnya terlihat lebih kurus dibandingkan sebelumnya akibat tekanan emosional yang dialaminya.
Ia mengangkat kedua tangannya, memperhatikan jari-jarinya yang tampak begitu biasa.
Tangan yang sama yang selama ini hanya mampu menggenggam tangan Edgar ketika merasa takut.
Tangan yang sama yang tidak bisa melakukan apa pun ketika Edgar menghadapi para penjahat itu.
Ivy mengepalkan kedua tangannya perlahan.
"Aku tidak ingin terus menjadi seperti ini."
Tatapannya berubah serius.
"Aku memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi aku masih bisa mengubah diriku sendiri."
Ia mengangkat dagunya.
"Mulai sekarang, aku akan berusaha."
Setelah mengatakan itu, Ivy mengambil pakaian olahraga yang telah disiapkannya, lalu menggantinya.
Ia kemudian menuju halaman belakang rumah.
Meskipun latihan resmi bersama James belum dimulai, Ivy tidak ingin hanya duduk menunggu. Ia ingin mempersiapkan dirinya, setidaknya dengan membangun kembali stamina dan kebugaran tubuhnya.
Ia memulai dengan berjalan cepat mengelilingi halaman, kemudian beralih ke gerakan pemanasan sederhana.
Awalnya, semuanya terasa mudah.
Namunnsetelah beberapa saat, napas Ivy mulai memburu. Tubuhnya yang belum terbiasa berolahraga secara teratur mulai terasa lelah.
Ia berhenti sejenak, menopang kedua tangannya pada lutut sambil mengatur napas.
"Kenapa... sesulit ini?"
Ivy mengusap keringat di dahinya.
Selama ini, ia tidak pernah menyadari betapa banyak usaha yang diperlukan untuk membangun kekuatan fisik.
Ia bahkan belum memulai latihan bela diri, tetapi tubuhnya sudah terasa lelah.
Untuk sesaat, ia teringat perkataan kakek James bahwa perjalanan ini tidak akan mudah.
Mungkin pria tua itu benar.
Namun, Ivy tidak ingin menyerah hanya karena merasa kesulitan pada hari pertama.
Ia kembali berdiri tegak, kemudian melanjutkan latihan dengan kecepatan yang lebih sesuai dengan kemampuannya.
Satu putaran.
Dua putaran.
Tiga putaran.
Ketika akhirnya berhenti, napasnya masih terengah-engah. Kakinya terasa lemas, dan keringat membasahi pelipisnya.
Namun, kali ini Ivy tidak menangis.
Sebaliknya, ia tersenyum kecil.
Meskipun hanya latihan sederhana, setidaknya ia telah melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.
"Aku akan menjadi lebih kuat, Edgar."
Ia menatap langit sore yang mulai berubah jingga.
"Tunggu aku."
Tanpa disadari Ivy, Kakek James telah berdiri di dekat pintu belakang dan menyaksikan latihan kecil tersebut.
Pria tua itu tidak mengganggunya, Ia hanya memperhatikan dari kejauhan, kemudian mengangguk pelan ketika melihat Ivy kembali menyelesaikan gerakannya meskipun tampak kelelahan.
"Setidaknya, dia memiliki kemauan," gumamnya.
kakek James kemudian berbalik dan meninggalkan halaman.
Besok, latihan yang sebenarnya akan dimulai.
Dan mulai saat itu, Ivy akan mengetahui bahwa jalan untuk menjadi kuat jauh lebih berat daripada yang pernah dibayangkannya.
Malam semakin larut.
Di sebuah kamar rumah sakit, Edgar masih terbaring dengan mata tertutup.
Ruangan itu tenang, cahaya lampu yang redup menyinari wajahnya yang pucat, sementara suara alat pemantau terus terdengar teratur.
Namun beberapa saat kemudian, jari-jari tangan Edgar bergerak sedikit.
Gerakan itu begitu kecil hingga nyaris tidak terlihat.
Alisnya berkerut tipis, seolah ia sedang berusaha keluar dari kegelapan yang menyelimutinya.
Dalam kesadarannya yang samar, ia mendengar sebuah suara.
Suara seorang perempuan yang memanggil namanya.
"Edgar...."
Ia tidak bisa melihat siapa pemilik suara itu.
Namun, entah mengapa, suara tersebut terasa begitu akrab.
"Jangan tinggalkan aku...."
Kening Edgar semakin berkerut.
Ia berusaha membuka matanya, tetapi tubuhnya terasa begitu berat. Rasa sakit menjalar di beberapa bagian tubuhnya, membuatnya kesulitan bergerak.
Namun, suara itu kembali terdengar.
"Edgar, tolong bangun...."
Untuk sesaat, sebuah bayangan melintas dalam pikirannya.
Wajah Ivy.
Perempuan yang berusaha dilindunginya ketika para penjahat itu menyerang mereka.
Edgar mencoba menggerakkan tangannya sekali lagi.
Kali ini, jari-jarinya bergerak sedikit lebih jelas.
Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang berhasil keluar.
"I... vy...."
Nama itu hanya berupa bisikan yang nyaris tidak terdengar.
Setelah itu, kesadarannya kembali tenggelam.
Edgar belum sepenuhnya terbangun.
Namun, di tengah kegelapan yang menyelimutinya, ada satu hal yang terus terlintas dalam pikirannya.
Ia harus kembali.
Ia masih memiliki seseorang yang menunggunya.
Seseorang yang tidak ingin ia tinggalkan sendirian.
Dan tanpa diketahui siapa pun, perjuangan Edgar untuk kembali ke sisi Ivy akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda harapan.
Bersambung...