Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Bel pulang sekolah SMA Harapan Warga berbunyi nyaring, memicu euforia massal layaknya narapidana yang baru saja mendapat pengampunan.
Dalam hitungan detik, koridor sekolah dipenuhi lautan siswa yang berlarian menuju gerbang. Namun, di antara ratusan siswa tersebut, tidak ada yang memiliki kecepatan berkemas menyaingi Alea.
Hanya butuh waktu tiga detik bagi gadis itu untuk meraup seluruh alat tulisnya, memasukkan laptop jadulnya ke dalam tas ransel, dan berdiri tegak dengan mata berbinar-binar.
"Ayo, Bos! Waktu adalah uang, dan cacing di perut gue udah pada demo minta jatah!" seru Alea sambil menepuk meja Arka.
Arka, yang baru saja menutup ritsleting tasnya dengan gerakan lambat dan elegan, hanya merespons dengan sebelah alis terangkat. Pemuda itu berdiri, merapikan kerah kemejanya, dan berjalan mengekor di belakang Alea.
Di luar gerbang, SUV hitam legam Arka sudah bersiap, namun kali ini sang sopir mendapat instruksi khusus melalui earpiece-nya: 'Parkir di radius lima puluh meter. Jangan mendekat kecuali ada ancaman darurat.
Sebab sore ini, pewaris takhta Adiwangsa itu akan melakukan sebuah ekspedisi ekstrem yang belum pernah tercatat dalam sejarah keluarganya: mentraktir seseorang makan di gerobak kaki lima.
Terik matahari sore Jakarta masih terasa menyengat saat mereka tiba di perempatan jalan. Di bawah pohon rindang yang dahan-dahannya dipenuhi kabel listrik semrawut, berdirilah gerobak biru kusam bertuliskan "BAKSO URAT MANG DADANG - 100% DAGING SAPI KECUALI KALAU LAGI MAHAL". Kepulan asap dari panci kaldu beraroma gurih langsung menyergap indra penciuman.
"Mang Dadang! VIP datang!" teriak Alea heboh, langsung menarik kursi plastik merah yang salah satu kakinya sedikit bengkok.
"Pesan dua porsi kuli! Bakso uratnya yang gede, tetelannya dibikin melimpah ruah kayak harta karun, bihunnya dikit aja ya Mang, terus kuahnya yang panas mendidih biar kuman-kuman jahatnya pada mati kepanasan!"
"Siap, Neng Alea! Tumben bawa cowok ganteng, pacarnya?" goda Mang Dadang sambil tertawa, tangannya dengan lincah meracik bumbu di mangkuk ayam jago.
"Bukan lah Mang! Ini donatur utama lambung gue hari ini, Mang! Tuan Muda Arka!" balas Alea santai.
Arka berdiri kaku di sebelah meja kayu yang permukaannya lengket oleh tumpahan kecap masa lalu. Matanya yang tajam memindai lingkungan sekitar dengan insting pemburu mencatat tiga jalur evakuasi, mengidentifikasi preman terminal di seberang jalan, dan terakhir... menatap ngeri pada ember plastik di bawah gerobak.
"Alea," panggil Arka dengan nada berat, menunduk menatap gadis itu.
"Apakah pria tua itu baru saja membilas mangkuk yang akan kita gunakan di dalam ember berisi air keruh yang tidak mengalir?"
Alea mendongak, mengikuti arah pandang Arka, lalu mengibaskan tangannya tak peduli.
"Oh, itu? Santai aja, Bos. Di dunia kaki lima, itu namanya seasoning alami. Kekebalan tubuh lo nggak bakal berevolusi kalau lo cuma makan di restoran bintang lima yang piringnya disterilisasi pakai sinar UV. Anggap aja ini simulasi bertahan hidup di alam liar."
Arka memijat pangkal hidungnya. Demi Tuhan, perutnya yang terbiasa mencerna Wagyu A5 dan truffle kini harus bersiap menghadapi uji klinis bakteri jalanan.
Namun, melihat senyum Alea yang begitu lebar saat Mang Dadang meletakkan dua mangkuk penuh asap di atas meja, Arka menarik napas pasrah. Ia membersihkan kursi plastik itu dengan saputangannya sebelum duduk berhadapan dengan gadis itu.
"Makan, Bos! Jangan cuma di plototi doang, nanti baksonya minder loh!" seru Alea yang sudah meracik kuahnya dengan lima sendok sambal, saus tomat, dan kecap manis hingga warnanya menyerupai lahar gunung berapi.
Arka mengambil sendoknya perlahan. Ia menyeruput kuah bening itu dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Detik berikutnya, mata obsidian itu sedikit melebar. Rasa gurih kaldu tulang sapi yang berpadu dengan lada dan bawang putih itu menghantam lidahnya dengan cara yang kasar namun sangat otentik.
"Gimana? Enak, kan? Lidah sultan lo pasti kaget nerima asupan MSG kualitas super, kan!" kekeh Alea, mulutnya penuh dengan tetelan daging.
"Cukup bisa ditoleransi," jawab Arka diplomatis, meski tangannya terus menyendok bakso tersebut.
Untuk sesaat, dunia terasa normal. Arka bisa melupakan ancaman keluarganya, dan Alea bisa melupakan tagihan listriknya. Mereka hanya dua remaja yang menikmati sore di bawah pohon rindang.
Namun, realitas jalanan Jakarta tidak pernah membiarkan kedamaian bertahan lama.
BRAAK!
Sebuah tendangan kasar menghantam kaki gerobak. Tiga pria berwajah sangar, berjaket lusuh dan berbau tuak, mengelilingi mereka.
"Woi, Dadang! Tanggal berapa sekarang?!" bentak yang paling depan yang berkepala plontos dengan bekas luka sayatan di pipi. "Uang keamanan minggu ini mana?! Jangan pura-pura lupa!"
Mang Dadang gemetar, wajahnya pucat pasi.
"B-Bang Jali... s-saya baru buka, Bang. Penglaris baru Neng Alea dan Aden tampan ini aja. Kasih saya waktu sampai magrib, ya, Bang..."
"Banyak bacot!" Jali menggebrak meja Alea dan Arka yang lagi makan.
Guncangan dahsyat itu membuat mangkuk Alea bergeser. Sedetik kemudian, sebuah tragedi besar terjadi. Satu potong tetelan urat paling besar, paling kenyal, dan paling berharga yang sudah Alea simpan untuk suapan terakhir... tergelincir dari sendoknya, meluncur bebas, dan mendarat tragis di atas tanah berdebu.
Hening.
Arka meletakkan sendoknya. Matanya menggelap. Hawa dingin mematikan seketika memancar, membuat udara sore yang panas terasa seperti musim dingin. Pikirannya mulai menghitung titik mana yang harus ditekan agar suara mereka tak terdengar lagi.
Namun, sebelum Arka sempat mencabut nyawa mereka, Alea sudah lebih dulu berdiri dengan mata membelalak horor menatap tanah.
"Astaga! TETELAN GUE?!" jerit Alea histeris, suaranya melengking hingga mengalahkan suara klakson metromini.
Jali dan dua anak buahnya tersentak kaget. Mereka menatap siswi berseragam SMA yang kini menuding mereka dengan garpu layaknya trisula Poseidon.
"Eh, bocah! Berani lo—"
"LO TAHU NGGAK HARGA TETELAN ITU BERAPA?!" potong Alea mengamuk, wajahnya memerah.
"Lo preman atau perusak perekonomian?! Datang-datang malak pedagang yang omzetnya belum tentu cukup beli BBM! Kalau mau minta uang, pakai otak! Hitung ROI-nya! Malak pedagang kecil cuma bikin daya beli turun, inflasi naik, dan wilayah lo ikutan miskin!"
Ketiga preman itu saling pandang, otak yang pas-pasan kesulitan mencerna istilah ekonomi makro yang dilontarkan Alea dengan kecepatan lirik lagu rap.
"Bacot lo, bocah!" Jali yang merasa dipermalukan langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat menampar Alea.
Namun, tangan kotor itu menabrak kekosongan.
Arka bergerak begitu cepat nyaris tak terlihat. Dalam sekejap ia berdiri di samping Alea, mencengkeram pergelangan Jali dengan kuncian yang presisi. Menekan satu titik saraf.
KRAK!
"AAARRRGGHH!!" Jali menjerit melengking, berlutut ke tanah saat rasa sakit yang luar biasa membakar urat sarafnya hingga ke bahu.
Dua preman lainnya langsung panik dan mencabut pisau lipat karatan dari saku mereka. Namun Arka hanya menatap mereka dengan sorot mata kosong, sedingin es, dan segelap malam tanpa bintang.
"Maju selangkah lagi," bisiknya rendah namun menembus tulang, "Gue nggak akan sengan masukkan kepala kalian ke panci mendidih itu."
Aura mematikan yang menguar dari Arka bukanlah sesuatu yang bisa dihadapi oleh preman kampung. Kaki kedua anak buah Jali bergetar hebat. Tanpa aba-aba, mereka berbalik dan lari terbirit-birit, meninggalkan bos mereka yang masih meringis kesakitan di bawah cengkeraman Arka.
"Tuan Muda, Lepasin!" tegur Alea sambil menepuk lengan Arka. Bukannya kasihan, Alea justru punya perhitungan lain. Ia berjongkok, menatap Jali yang menangis tersedu-sedu.
"Heh, Bang Jali! Sebagai ganti rugi karena lo udah ngebuang tetelan gue dan bikin jantungan Mang Dadang, lo bayar bakso kita berdua sekarang! Totalnya empat puluh ribu! Bayar, atau gue suruh bodyguard gue matahin tangan lo yang satu lagi!"
Dengan tangan gemetar, Jali merogoh dompet bututnya, mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu, dan menyerahkannya pada Mang Dadang. Begitu Arka melepaskan kunciannya, preman itu langsung lari terbirit-birit sambil memegangi tangannya yang nyaris lumpuh.
"Kembaliannya ambil aja, Mang! Anggap aja kompensasi trauma healing!" seru Alea riang, kembali duduk di kursinya dengan wajah puas luar biasa. Uang aman, perut kenyang, ancaman lenyap.
Arka menghela napas panjang, merapikan kemejanya, lalu kembali duduk di hadapan Alea. Sang Tuan Muda itu menatap takjub pada gadis di depannya. Di saat orang normal akan trauma setelah ditodong preman, Alea justru berhasil memanipulasi keadaan untuk mendapatkan makan gratis.
"Lo benar-benar monster kapitalis berwujud manusia, Alea," gumam Arka tak percaya, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang langka.
"Hidup itu keras, Bos. Kalau nggak lebih keras dari keadaan, kita yang diinjak," jawabnya santai sambil memanggul tas.
"Ayo cabut! Shift gue di kafe bentar lagi mulai! Berhubung lo udah berhasil mengamankan traktir bakso gratis, argo lo sebagai bodyguard hari ini gue kasih rating bintang lima!"
Arka hanya bisa menggelengkan kepala dengan senyum tipis, mengikuti langkah riang gadis itu menyusuri trotoar. Ia menyadari satu hal: seluruh kekayaan dan kekuasaan Adiwangsa tak sebanding dengan suara cerewet dan senyum gadis ini.
___________
Sementara itu, di lantai tertinggi gedung pencakar langit pusat kota, Hartawan Adiwangsa membanting laporan ke meja. Pria paruh baya itu menatap foto Alea yang tertampil di layar tablet dengan kilat mata penuh kebencian.
"Gadis pelayan ini sudah terlalu lama menjadi parasit buat Arka," desis Hartawan dingin.
"Hubungi Kepala Sekolah Harapan Warga. Jika Arka begitu menyukai tempat itu, mari kita lihat bagaimana perasaannya jika esok pagi sekolah kumuh itu rata dengan tanah."
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂