Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Menembak
Udara dingin sisa embun pagi masih menusuk kulit di pagi buta. Di dalam kamar utama, Serena Amaryllis yang masih bergelung nikmat di dalam selimut tebalnya tiba-tiba harus dikejutkan oleh tarikan kuat yang menyingkap selimut tersebut tanpa ampun.
"Bangun, Serena," suara berat Sergio menginterupsi kesunyian pagi.
Serena mengerjap-ngerjap lemah, mengusap matanya yang masih lengket akibat mengantuk. Dengan napas terengah-engah penuh protes, ia mendudukkan diri di tepi ranjang.
"Ih, Max... Ini kan masih pagi banget! Kenapa aku dibangunkan sepagi ini, sih? Matahari aja belum terbit," keluh Serena dengan suara serak khas bangun tidur, bibirnya mengerucut sebal.
Tanpa memedulikan protesan istrinya, Sergio yang sudah berpakaian rapi dengan setelan serba hitam dan sarung tangan kulit melangkah mendekati lemari, lalu melemparkan sebuah jaket tebal dan celana latihan ke pangkuan Serena.
"Ganti baju dan cepat turun. Kita tidak punya waktu banyak."
Lima belas menit kemudian, Serena sudah digiring paksa oleh sang suami menuju sebuah lapangan tembak indoor bawah tanah yang luas, tertutup, dan kedap suara di bagian paling dalam dari kompleks mansion. Di tempat itu, bau mesiu tipis dan dinginnya beton mendominasi ruangan.
Serena menguap lebar sambil memeluk tubuhnya sendiri karena udara dingin pagi itu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi target papan sasaran berjarak puluhan meter.
"Kita mau ngapain dibawa ke tempat menyeramkan begini sepagi buta, Sergio?" tanya Serena dengan nada menguap, matanya setengah terpejam karena masih mengantuk berat.
Sergio berdiri tegap di samping sebuah meja besi panjang yang dipenuhi berbagai jenis senjata api, mulai dari pistol hingga senapan laras panjang. Pria itu mengambil sebuah pistol jenis Glock berukuran sedang, memasang pelurunya dengan gerakan tangan yang sangat terampil dan cepat.
"Belajar menembak," balas Sergio singkat, dingin, dan penuh penekanan.
Serena sontak terperanjat. Rasa mengantuknya langsung menguap seketika, tergantikan oleh gelombang rasa terkejut yang luar biasa. Matanya membelalak lebar menatap benda hitam legam di tangan suaminya.
"A... apa? T... tapi buat apa aku belajar menembak?!" tanya Serena dengan suara bergetar panik, melangkah mundur selangkah.
"Apa aku akan disuruh menembak orang lain lagi?!"
Bayangan insiden penyerangan beberapa hari lalu tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Rasa takut langsung merayap di dadanya. Ia tidak punya bakat menjadi pembunuh bayaran atau gangster!
Sergio meletakkan pistol tersebut di atas meja, lalu menatap lurus ke arah Serena dengan sorot mata yang amat serius.
"Mulai sekarang, setiap hari pukul lima sampai jam enam pagi, kamu akan turun ke sini untuk belajar menembak."
"U... untuk apa aku harus repot-repot belajar senjata api segala?!" protes Serena histeris, suaranya melengking memenuhi ruangan tembak yang sepi.
"Aku ini istri seorang mafia, bukan anggota pasukan khusus militer! Aku cuma mau hidup tenang, belanja tas, dan masak di dapur, bukan jadi penembak jitu!"
Sergio menghela napas pendek, lalu berjalan mendekati Serena. Pria bertubuh tinggi besar itu menatap lekat-lekat ke dalam mata cokelat istrinya yang memancarkan ketakutan nyata.
"Kamu hidup di duniaku sekarang, Serena," ucap Sergio dengan nada suara yang perlahan melunak namun tetap tegas.
"Dunia bawah tanah tidak kenal ampun. Musuh-musuhku tahu keberadaanmu, dan suatu saat nanti, bahaya bisa datang kapan saja saat aku tidak ada di sisi untuk melindungimu."
Serena terdiam membeku mendengarnya. Kalimat itu menohok langsung ke dalam kesadarannya. Selama ini, di dalam pikirannya yang dipenuhi cerita-cerita novel fiksi romantis, ia selalu mengkhayalkan bahwa jika seorang gadis biasa menikah dengan pemimpin mafia, maka sang wanita akan dilindungi habis-habisan, dimanja, dan disembunyikan dari segala marabahaya tanpa harus menyentuh senjata.
Tapi kenyataan hari ini membantingnya telak ke dunia nyata. Dunia novel dan kenyataan ternyata jauh berbeda. Di dunia nyata seorang Sergio Maximilian Ziegler, jika Serena hanya berpangku tangan dan pasrah, nyawanya sendiri yang akan melayang dalam sekejap. Ia harus bisa bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri.
Melihat ekspresi Serena yang perlahan berubah dari protes menjadi termenung menyadari situasi, Sergio meredam auranya yang dingin. Pria itu mengulurkan tangan kanannya, mengambil alih pistol dari meja, lalu berdiri tepat di belakang tubuh Serena.
"Kemarilah," bisik Sergio pelan, menarik lembut lengan Serena agar mendekat ke arah meja sasaran.
Serena menelan ludah dengan susah payah, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut pada senjata lagi, melainkan karena kedekatan fisik mereka yang begitu intens. Punggungnya kini menempel erat pada dada bidang sang suami.
"Pertama-tama, kuasai dirimu dan hilangkan rasa takutmu," ucap Sergio sabar. Suaranya terdengar sangat dekat di dekat telinga Serena, jauh dari kesan galak atau otoriter seperti biasanya. Pria itu membimbing tangan kanan Serena untuk memegang gagang pistol dengan benar.
"Genggam erat pegangan pistol ini, tapi jangan terlalu kaku di bagian pergelangan tangan," instruksi Sergio sambil menuntun jari telunjuk Serena agar berada tepat di luar pelatuk.
"Posisi kaki harus dibuka selebar bahu untuk menjaga keseimbangan tubuh saat nanti senjatanya memantul ke belakang karena recoil."
Serena mencoba mengikuti setiap arahan dengan napas tertahan. Ia merasakan kehangatan tubuh Sergio yang mengurung tubuhnya dari belakang, membuat fokusnya sempat buyar ke mana-mana.
"Sergio... tanganku gemetar," cicit Serena jujur, merasa grogi luar biasa karena jarak mereka tidak ada jarak sama sekali.
Sergio menurunkan sebelah tangannya untuk menindih tangan Serena di gagang pistol, memberikan tekanan yang kokoh dan stabil.
"Jangan takut, aku ada di sini memegangmu. Fokuskan pandanganmu ke depan, lurus pada papan sasaran di sana," bisik Sergio lembut, mengabaikan debar jantung Serena yang semakin menggila.
"Tarik napas dalam-dalam... hembuskan perlahan... lalu bidik bagian tengah."
Serena mengikuti instruksi itu. Ia menarik napas perlahan, menenangkan degupan jantungnya, lalu memfokuskan matanya ke papan target berjarak lima belas meter di depan mereka.
"Sekarang... perlahan-lahan letakkan jari telunjukmu di atas pelatuk, dan..." Sergio mengarahkan pandangannya ke depan bersamaan dengan jari mereka yang mulai menarik pelatuk secara perlahan.
Dorrr!
Suara ledakan tembakan yang sangat nyaring memecah keheningan pagi di dalam ruangan tertutup itu. Serena terpekik kaget, tubuhnya sedikit tersentak ke belakang akibat hentakan senjata, namun langsung ditahan dengan kokoh oleh kedua lengan kekar Sergio dari belakang.
Asap tipis mengepul dari ujung laras pistol. Serena dengan mata terbelalak menatap papan sasaran di seberang sana. Peluru pertama mereka meleset sedikit ke sisi kiri lingkaran merah, namun itu sudah merupakan pencapaian yang luar biasa untuk percobaan pertamanya.
"Wah... aku berhasil menembaknya!" seru Serena antusias, rasa takutnya seketika menguap, digantikan oleh gelombang rasa bangga yang meluap-luap. Ia menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap wajah suaminya dengan senyum lebar.
"Kamu lihat kan, Max? Aku tidak meleset terlalu jauh!"
Sergio tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat langka dan memesona, membuat wajah tampan sang mafia terlihat jauh lebih lembut. Pria itu mengangguk pelan, menyetujui keberhasilan kecil istrinya.
"Bagus. Untuk percobaan pertama, itu sudah luar biasa, Serena," puji Sergio tulus, lalu mengulurkan tangannya untuk merapikan helaian rambut Serena yang sedikit berantakan di dahi.
"Sekarang, kita ulangi lagi dari awal sampai posisimu benar-benar sempurna."
Serena mengerucutkan bibirnya pura-pura kesal, meskipun hatinya berbunga-bunga mendengar pujian dari sang suami.
"Ih, baru juga sekali tembak, udah disuruh ulang lagi! Jariku pegal, tahu!" protesnya manja.
"Tidak ada kata istirahat sebelum waktunya jam enam pagi, Nyonya Ziegler," balas Sergio dengan nada dominan yang kembali bangkit, namun kali ini diiringi dengan tawa kecil yang rendah.
Dan di pagi yang dingin itu, di tengah aroma mesiu dan deru senjata, hari-hari latihan menembak Serena bersama sang suami resmi dimulai, membuktikan bahwa hidup di dunia mafia tidak selalu menyeramkan, terutama jika ada pria dingin berhati es yang dengan sabar membimbingnya untuk bertahan hidup.
Bersambung...
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔